
Pagi hari yang sebagaimana pagi-pagi kebanyakan. Sudah berbulan-bulan berlalu sejak Arif unjuk gigi di depan masyarakat. Berjalan di tengah mereka, memaksa diri untuk menyapa, dan berusaha sok kenal. Itu tidak mungkin, soal berkomunikasi dirinya terlihat mustahil menguasainya.
Arif memilih jalannya sendiri. Setelah bersih-bersih dan berdoa untuk ibunya, Arif menuju ke ladang. Disanalah tempat Arif meniti hidupnya. Bergelimang dengan terik matahari, keringat, dan tanah. Tangan kakinya terus di gerakkan untuk mencangkul dan menanam ketela milik ibunya.
Sebelum-sebelumnya, ketika Dokter Jago dan Melati masih berkunjung Arif pun menggarap ladang milik ibunya walau tidak sesering sekarang. Dia belajar cara yang baik berladang dari Melati. Remaja putri itu adalah anak kepala desa, dia punya ladang paling luas di desa ini.
Arif menyeka peluh di dahi, meletakan cangkul yang sejak dua jam lalu terus diangkat. Dirinya duduk menyadar salah satu pohon di tepian ladang. Mata Arif memperhatikan ladangnya, masih ada dua baris lagi yang harus digarap. Meski melelahkan dan kadang menyebalkan, konsistensi Arif dalam melakukan ini sudah menghantarkannya ke level dimana dirinya bisa menikmatinya.
Arif menegak kantung air, membasahi tenggorokan yang terasa kering dengan air menyegarkan. Setengah habis, Arif menutup muncong kantung air tersebut Itu adalah barang peninggalan bapaknya, Wangsa. Hanah menceritakan Wangsa selalu membawa itu ketika sedang berladang. Arif menerima itu lima tahun yang lalu.
Serangga-serangga hutan menyerukan suaranya di telinga Arif. Kalau tidak salah Hanah mengatakan namanya adalah tongeret. Tidak hanya serangga, kicauan burung-burung hutan yang hingga di ladang Arif menambah orkestra alam. Arif menikmati. Ini menyenangkan.
Cangkulnya kembali diangkat, sepuluh menit beristirahat sudah cukup. Arif menatap dua baris lagi yang akan di garap. Nafasnya di tarik kuat-kuat. Ayo bersemangat.
@@@
__ADS_1
Selain berladang, Arif juga menekuni dunia dagang. Setelah ketela panen, Arif membagi menjadi tiga bagian. Satu untuk dia simpan, dua untuk di jual, tiga untuk dia berikan cuma-cuma. Arif merasa dengan melakukannya dapat memperbaiki posisinya di desa. Semoga saja.
Jarak pasar dengan tempat tinggal Arif lumayan dekat, sekitar setangah jam jalan kaki. Namun demi menghidari keramian, Arif memilih jalan memutar. Bisa kalian bayangkan ketika anak yang dicap bisa membawa petaka tiba-tiba muncul di tengah masyarakat? Semuanya bisa panik. Alhsil butuh waktu lebih banyak untuk sampai di pasar.
“Kau pergilah! Bisa rusak semua daganganku!” Kurang lebih itulah teriakan yang dia terima atau yang senada ketika memulai berdagang.
Kalau menuruti keinginan pribadi, Arif akan memukul wajah orang itu sekuat mungkin. Ini bukan sekedar cacian menyedihkan, cacian ini menghujamnya layaknya hujan, bertubi-tubi dan beruntun. Berkali-kali dan berulang-ulang.
Arif memiliki cara tersendiri untuk meredam amarahnya. Setiap kali dia keluar rumah dan pulang membawa benci, dia akan pergi ke halaman belakang. Berdiri di hadapan pohon yang tinggi berbatang kokoh, lantas memukul-mukul sambil berteriak layaknya orang gila.
Itu Arif lakukan setiap kali hatinya sangat kesal sebagai bentuk pelampiasan. Kesepuluh jemarinya sampai berdarah-darah karena melakukannya. Pastinya hal itu sangat sakit dan merugikan Arif. Dia tidak bisa melakukan aktifitas yang melibatkan jemari. Bahkan tidak bisa beraktifitas yang melibatkan jari-jari sampai beberapa minggu. Meskipun begitu, Arif masih melakukannya sampai sekarang. Entah motivasi apa yang dia miliki atas dasar tindakan tidak rasional tersebut.
Namun dalam lingkaran ketidak adilan tersebut, Arif memilih terus bangkit. Berusaha memasang topeng kepalsuan berupa senyum. Semua itu di lakukan demi membohongi dirinya dan menolak kenyataan bahwa hasrat membunuh telah berkecambah dalam jiwanya.
Siang ini Arif menetap di tempat biasa, di pojokan pasar yangs sepi agar tidak terkena omelan pedangn lain. Menunggu pembelian adalah salah satu hal paling membosankan. Semua orang di pasar selalu memberinya tatapan yang mengesankan jijik dan tidak suka. Tidak ada yang mendekat, di hadapannya pun tidak ada satupun konsumen yang berlalu-lalang.
__ADS_1
Para konsumen yang membeli pun nampaknya orang-orang yang menyembunyikan simpatinya kepada Arif. Mereka orang-orang yang datang ketika tidak ada orang yang memperhatikan sambil menutup wajah ketika melakukan jual-beli dengan Arif. Meskipun aneh dan menyindir Arif, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Meski kehidupannya begitu tidak adil, Arif merasakan perkembangan di tengah semua itu. Tekadnya untuk membaur dengan masyarakat mengajarkan tentang rasa takut, keraguan, dan cara mengatasinya. Setiap kali menjajakan dagangan, setiap kali duduk menunggu pembeli, semua itu ia lalui dengan tekanan batin yang kuat. Arif merasa bukan tidak mungkin orang-orang akan mengeroyoknya.
Tapi dalam hal berkomunikasi, Arif masih benar-benar buruk. Semua bentuk komunikasi dengan masyarakat selama ini disebabkan motivasinya untuk meniti hidup, untuk berdagang, mencari penghasilan. Sementara komunikasi untuk mendapatkan teman, Arif merasa tertimpa batuan masih lebih ringan.
Sinar matahari kian panas, menghangatkan kulitnya, dan membuat keringat keluar dari pori-pori kulit. Arif memperhatikan langit, menatap awan-awan yang berarak dan saling tumpuk disana.
Awan-awan itu bisa bergerak bebas. Bergerak tanpa hambatan. Bisa berubah bentuk sesuka hati. Berbeda dengan Arif yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Dia harus mematuhi banyak aturan yang mengekang bila mau di terima di masyarakat. Salah satunya adalah seperti ini, berdagang di tempat sepi.
Arif menghempus nafas jengkel. Arif melamun, memikirkan makna untuk apa ia lahir dan untuk apa ia hidup. Jika kehidupannya terus berjalan seperti ini, maka kehidupan **** hutan pun masih lebih baik dari pada dirinya.
“Kau, kau, kau!” Terlihat lelaki setengah baya menunjuk-nunjuk kearah Arif dari kejauhan. Arif yang sedang memperhatikan hal lain tidak menyadari ada pria dengan amarah meledak-ledak menuju kearahanya.
Pria berpakaian coklat yang sedikit gempal itu mendekat dengan langkah panjang. Wajahnya dipenuhi aura marah. Berkerut dengan alis meruncing sambil mendengus kesal. Semakin dekat dengan Arif, suara langkah kakinya yang menghentak makin terdengar.
__ADS_1
Arif pun mengalihkan pandang kesana, mengetahui ada yang salah dengan pria itu. Arif cepat-cepat berkemas. Dia tinggalkan lapaknya begitu saja. Bercermin dari pengalaman beberapa bulan yang lalu, Arif tidak mau ambil resiko. Arif hanya memasukan sedikit ketela kedalam bakulnya untuk dibawa pulang.
Arif berfirasat sangat buruk.