
“Angkat kepalamu! Jangan perlihatkan kelemahan kepada musuh!” Teriak lelaki tinggi besar. Rambut hampir sepenuhnya memutih. Wajahnya mengerikan, terdapat luka gores besar yang memanjang dari pipi ke dahi.
Lelaki itu melepas pukulan kuat tepat mengenai perut Arif. Arif menahan sakit di perutnya, mendadak dia ingin muntah sebelum akhirnya jatuh bertekuk lutut dihadapan lelaki itu.
Arif sudah banjir keringat sejak awal. Nafasnya patah-patah dan dengan darah yang mulai keluar dari ujung bibir. Pandangan memburam dan berkunang-kunang. Latihan ini seperti penyiksaan.
“Berdirilah, kau hanya istirahat ketika pingsan atau mati.” Ucap lelaki itu sambil berdiri sombong dihadapan Arif. Dalam bola matanya tidak ada satu pun toleransi.
Arif berusaha menahan sakitnya mati-matian. Dengan bantuan telapak tangan kanan Arif berdiri sempoyongan. Hanya perlu satu pukulan lagi dan pingsan pun datang. Arif akan menuntaskannya dan sebelum itu dia akan memberi pukulan kepada lelaki kurang ajar ini.
Arif menggeram keras, urat-urat di wajahnya timbul. Pukulan terbaiknya mluncur di udara, mengincar sisi wajah lelaki itu.
Gagal. Gerakan Arif terbaca denagn mudah. Giliran lelaki tersebut.
Dengan tatapan dingin dia lepaskan kepalan kuat kearah Arif. Tepat mengincar dadanya.
Gawat-gawat-gawat. Tidak, aku tidak akan mengulang kesalahan.
Arif menarik nafas kuat-kuat, tubuhnya terasa sangat panas. Sel-selnya seakan mau meledak.
Kakinya menolak di saat kritis, pukulan mematikan hanya menyentuh permukaan pakaiannya. Tangan kiri Arif lantas meluncur, mengincar korban yang berada dalam jangkauangnnya. Sebuah pukulan yang terselaput benci.
BUG
Keras sekali hantaman itu mengenai perut korbannya. Arif terkapar oleh hantaman tak terduga itu.
“Jangan hanya fokus pada tangan. Selain untuk kelincahan, kaki pun dapat di gunakan sebagai senjata.” Ucap lelaki itu dengan tatapan bengis.
Arif menatap wajah lelaki itu sebelum benar-benar pingsa. Dialah bapak Wira. Lelaki paling brutal di desa.
Bapak Wira melangkah, meninggalkan Arif yang terkapar tanpa daya. Latihan kali ini selesai dengan kegagalan lagi. Menyentuh Bapak Wira dalam pertarungan adalah sesuatu yang mustahil, apalagi mengalahkannya.
“Arif, Arif.” Terdengar suara memanggil. Sosok remaja yang buta sebelah matanya mendekat. Arif tahu itu Wira. Dia membawa sekantung air mineral.
Namun pingsan mendahului.
@@@
“Kemari Arif. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu.” Ucap Dokter Jago.
Arif baru saja pulang dari latihan melelahkannya. Rutinitas setiap sore, Die Hyang. Arif segera mendekat kearah keduanya.
“Langsung saja. Aku berencana pergi ke tempat jauh untuk mendapat Bunga Purnama. Bunga itu kuperlukan untuk membuat obat. Arif, aku ingin mengajakmu. Jika kau setuju, aku jamin akan merasakan pengalaman luar biasa.” Ucap Dokter Jago tepat di depan Arif.
Beberapa saat dokter memperhatikan wajah remaja yang sudah seperti putranya itu. Dokter mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan Arif.
Serasa dialiri energi besar, Arif pun tersenyum lebar. Petualangan adalah hal yang seru dan menyenangkan. Bahkan kalau kesempatan memperbolehkan Arif ingin menjadi seorang petualang yang menjelajahi banyak tempat.
Sebagaimana Hamka, Arif ingin melihat ujung dunia.
“Tapi itu kalau Kak Haz menginjinkan.” Arif menambahkan. Kedua pasang mata pun segera mengarah kepada Haz.
__ADS_1
“Bagaimana? Arif setuju kan.” Ucap Dokter sambil menaiki sebelah alisnya.
“Baiklah. Aku tidak akan mencegah. Tapi ini petualangan berbahaya Arif. Jadi berhati-hatilah.” Pesan Kak Haz.
“Tidak apa-apa. Arif dan teman-teman biasa membahaya diri sendiri. Hehehe.”
Jawaban itu adalah konfimasi kesetujuan Arif.
Petualangan baru di tentukan. Dokter Jago bermalam di rumah Haz sekaligus menjelaskan panjang lebar kepada Arif perihal perjalanan ini. Dari Grinsekta sampai kegunaan Bunga Purnama. Mengetahui bahwa perjalanan ini mempertaruhkan dua orang yang dicintainya, Arif semakin bersemangat.
“Bunga Purnama adalah bunga eksotik. Bunga Purnama tumbuh sembarang dan hanya mekar sekali setelah tumbuh. Seperti namanya, Bunya Purnama hanya mekar ketika mendapat siraman cahaya purnama. Setelah malam mekarnya, bunga ini akan langsung layu dan mati.” Arif menyimak penjelasan Dokter Jago baik-baik.
Dengan pecahayaan lampu minyak, Dokter Jago melanjutkan penjelasannya.
“Kelopak Bunga Purnama sangat ajaib. Kelopak bungamnya memiliki kandungan luar biasa. Aku bisa mengatakannya bahwa kelopaknya adalah bahan dasar obat segala penyakit.”
“Wooh.” Arif menyaut, kagum.
“Tapi hanya kelopak bunga yang telah mekar. Entah bagaimana caranya, cahaya bulan purnama memiliki kekuata tersendiri yang menyebabkan proses tidak biasa dalam kelopak Bunga Puranama. Aku selalu bingung terhadap hal ini. Sangat ajaib.”
“Kenapa dokter tidak membudiyakan Bunga Purnama?” Arif bertanya.
“Pertanyaa bagus. Jawabannya karena Bunga Purnama tidak bisa dibudidayakan. Aku tidak tahu apa penjelasannya. Yang pasti Bunga Purnama akan langsung mati kalau dicabut atau dipindahkan ke medium lain meski dengan tanah yang sama. Aneh kan.”
Arif mengangguk-angguk mengerti. Percakapan itu berlanjut hingga larut malam. Arif juga giliran bercerita tentang banyak. Tentang dirinya dan teman-temannya, juga tentang kebenaran bahwa dirinya menjadi penerus Die Hyang.
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Bula sabit yang mengantung di langit mengintip. Angin berhembus dari fentilasi. Waktunya istirahat dan tidur.
Dokter Jago juga membawa bermacam bahan herbal. Daun kering, akar, ranting, dan biji-bijian. Beliau memasukan itu semua dalam tas berbeda untuk membuat obat disana. Menurut penjelasan dokter, beberapa jenis Grinsekta memiliki racun yang tidak main-main.
Maka penawar sangat diperlukan disini dan untuk seorang yang berjuluk dokter yang menaklukan kematian, meramu obat dalam hitungan detik bukanlah hal yang sulit. Dokter bahkan bisa membuat obat sambil melakukan pekerjaan lain. Hebat.
@@@
“Nenek, nenek bagaimana tubuh nenek sekarang?” Suara Arif terdengar memelas. Dikamar beliau Haz, Arif dan Dokter Jago duduk mengelilingi seorang wanita paruh baya.
Nenek tahhu kecemasan di wajah Arif. Begitu pun dengan Haz dan Dokter Jago. Nenek yang sudah berumur dan berpengalaman beberapa kali mengalami adegan seperti ini. Hanya saja kali ini neneklah yang mengalaminya langsung.
Dulu sewaktu masih aktif dalam organisasi Pasukan Pelindung Matahari, neneklah yang menghibur anak-anak korban perang ketika orang tua mereka terbaring di ranjang, bersiap menjemput ajal. Kini kondisi terbalik, kematian yang senantiasa diragukan semakin jelas di depan mata.
Nenek berusaha memasang senyum, itulah yang seharusnya dilakukan orang yang lebih tua. Membuat juniornya tenang dan terlepas dari khawatir. Bahkan nenek akan senang jika semuanya tidak mengkhawatirkannya.
“Nenek tidak apa-apa. Nenek sangat sehat.” Balas nenek dengan tersenyum. Dari suaranya pun nenek jelas sekali berbohong.
Suasana menjad hening beberapa saat. Arif tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur nenek. Dalam kondisi ini otaknya malah buntu.
“Arif, Haz, dan Jago. Nenek akan bicara terus terang.” Ucapan nenek terdengar lemah lembut.
Tiga pasang telinga bersiap menyimak. Haz yang sedari awal terus menunduk, mendongakkan wajahnya untuk memperhatikan nenek. Dalam hal ini dia merasa serba salah karena tidak mampu menolong pasien paling spesial.
“Nenek akan senang kalau kalian semua berhenti mengkhawatirkan nenek.” Nafas nenek kembang kempins.
__ADS_1
“Nenek tahu ini berat untuk kalian, tapi janganlah takut terhadap kenyataan tersebut. Semuanya akan mengalami akhir kisahnya. Nenek merasa sebentar lagi adalah giliran nenek.” Kalimat itu muncul diselingi senyum bersinar.
Arif mengepalkan kedua jemarinya kuat-kuat. Matanya yang berkaca-kaca berusaha untuk menahan luapan air mata. Arif menggigit bibir, jika ada satu hal saja apa saja untuk menolong nenek. Arif pasti melakukannya.
“Untuk perjalanan itu, nenek mengijinkannya Arif. Lakukanlah hal membanggakan. Jadilah mausia seutuhnya. Lihatlah, sekarang kita punya rambut yang sempurna sama.” Nenek tertawa kemudian tersenyum lebih lebar.
Semuanya memandang nenek dan berusaha membalas tersebut.
Nampak pula diujung mata Arif. Ada sebuah cairan bening yang meluncur ke pipi.
@@@
“Jadi sudah semua?” Dokter Jago memastikan. Tas super besar sudah berada di punggungnya. Dia kenakan juga rompi dan celana panjang penjelajah. Itu adalah pakaiannya ketika beliau masih sering melakukan penelitian bersama Haz.
Sementara Arif meminjam pakaian dari Haz. Pakaian yang sama persis. “Sudah, dokter. Aku sudah mengeceknya berkali-kali. Tidak ada yang tertinggal. Aku pun sudah menghitamkan rambut.” Jawab Arif sambil keluar rumah.
Keduanya berada di halaman depan dengan persiapan lengkap. “Kau terlihat keren Arif memakai itu.” Komentar Haz.
“Ya. Kupikir pakaian ini cocok untukku.” Arif tersenyum lebar.
“Tenang kak. Bunga akan itu kami dapatkan. Nenek dan Sheiny pasti sembuh.” Ucap Arif bersemangat, jempolnya teracung kepada Haz.
“Ya aku nantikan itu.” Balas Haz dari ambang pintu.
“Ayo Arif.” Dokter sudah melangkah.
“Baik dokter. Tunggu saja kak Haz.” Arif segera berjalan disamping dokter.
Haz melambaikan tangan kepada kedunya seraya menyampaikan doa keselamatan. Melihat keduanya mengingat Haz pada kenangan masa lalu.
“Dokter, Arif masih bingung dengan cerita dokter kemarin malam tentang orang-orang yang menerima kutukan.” Tanya Arif sambil jalan.
“Ada cara kuno untuk meniadakan bala atau bencana yaitu dengan menimpakannya secara khusus kepada perseorangan. Dengan begitu bencana yang terjadi tidak akan meluas kemana-mana.” Jawab Dokter Jago sambil menatap sekitar Desa Rakatta. Matanya merindukan kampung halaman.
“Aku masih tidak paham dokter. Tapi kalau begitu bukannya itu sangat jahat untuk orang yang menerima kutukan tersebut.” Nada suara Arif terdengar sedikit sedih.
“Benar, cara itu memang kejam. Tapi sebagian orang beranggapan mengorbankan diri untuk orang lain adalah tindakan mulia. Orang-orang yang menganggap hidup mereka adalah untuk orang lain. Bagiku terdengar bodoh dan juga mulia. Jika kau memilih untuk selalu menyelamatkan orang lain, lalu siapa yang akan menyelamatkanmu? Pertanyaan itulah yang selalu ada dibenakku setiap kali membayangkan keluarga Haz.”
TAP
Terdengar suara langkah kaki dari hadapan keduanya. Arif dan Dokter Jago menoleh kepada orang yang menutup jalan keduanya.
“Ijinkan saya ikut bersama kalian.” Lelaki itu menundukkan kepalanya, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Arif akan muncul dari lelaki berwajah preman. Wira.
“Saya juga ingin mendapat Bunga Purnama. Tolong ijinkanlah saya ikut.” Sambung Wira. Dia masih dalam posisi menundukkan kepala.
“Nak, kau sedikit berlebihan. Kalau mau ikut ikutlah. Petualangan akan semakin seru jika banyak orang. Ayo. Selalu ada kursi untuk ekspedisi Bunga Purnama ini.” Balas Dokter Jago.
“Terimakasih banyak.” Wira segera bergabung di belakang.
Sungguh ini sangat tidak terduga.
__ADS_1
Tapi, untuk apa Wira mencari Bunga Purnama?