IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
57 Pahlawan II


__ADS_3

“Bagaimana cara menjadi pahlawan?” Tanya Faga cilik dengan raut penasaran yang imut.


Hari itu adalah pagi yang cerah, tidak begitu panas dan angin senantiasa berhembus. Faga cilik dan ibunya sedang berjalan-jalan di kebun belakang rumah. Kebuh kecil yang dirawat ibu Faga sebelum Faga lahir.


Kebun tersebut di tanaman tomat yang tomatnya mulai merah-merah. Faga nampak senang ketika mengelus tomat-tomat tersebut. Anak-anak memang selalu ingin tahu dan sangat polos.


“Ada banyak cara menjadi pahlawan, Faga.” Ibunya mulai menjawab. Keduanya mengambil selembar daun kering yang lebar sebagai alas duduk di kebun tersebut.


“Bisa Faga lihat semut-semut di itu.” Ibu Faga menunjuk barisan semut yang memanjang. Faga lantas menoleh kearah yang ibunya tunjuk.


“Wah banyak sekali semutnya.” Faga ingin melihat kemana semut-semut itu mengarah. Namun, sebelum itu Faga teringat akan pertanyaan.


Wajah imutnya lalu dialihkan kepada ibunya.


“Hubungannya dimana bu?”


“Semut-semut itu bekerja. Mereka mencari makanan untuk diserahkan kepada ratu mereka. Dengan begitu berarti semut-semut itu suka menolong bukan.”


Faga mengangguk-angguk, perlahan dia mulai paham. Matanya sesekali menatap barisan semut tersebut.


“Jadi cara menjadi pahlawan adalah suka menolong?” Tanya Faga seraya memiringkan kepalanya. Dalam kepalanya ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi malah lupa apa itu.


“Apa Faga tahu cara menolong orang lain?” Kini ibunya bertanya. Faga menunjukkan raut berpikir.


“Membantu orang lain, meringankan pekerjaan orang lain, membuat orang lain senang.” Jawab Faga bersemangat. Wajahnya berbinar senang.


“Benar dan masih banyak lagi. Apapun pekerjaanya itu bisa menjadikan Faga pahlawan.”


Faga cilik merasakan energi yang menaglir deras dalam dirinya. Senyumnya semakin lebar dan bercahaya.


“Kalau begitu Faga akan menjadi pahlawan paling hebat.” Seru Faga, berdiri dan mengangkat tangan. Memasang pose paling keren.


Ibunya pun tertawa memperhatikan Faga. Faga cilik hanya tersenyum polos dan mulai berulah layaknya pahlawan menurut definisinya.


Masa kecil memang sangat berwarna dan indah. Semua cita-cita dan impian terasa begitu dekat sampai-sampai bisa kapan saja kita raih. Namun, dengan bertambahnya umur, bertambah pula kesibukan dan berkembang pola pikir kita.


Impian dan cita-cita yang awalnya terasa di sebelahnya kita menjadi begitu jauh diraih. Rasa-rasanya larus melangkahi lautan duri terlebih dahulu untuk mencapai impian tersebut.


Begitu berat dan melelahkan.


Namun, apa salahnya dengan itu. Kesal, lelah, malas, senang, semangat, dan banyak lainnya. Itu semua sangat manusiawi. Semua sifat itu membentuk individu bernama manusia, karena sifat-sifat itulah kita bisa memahami dan mengenal diri kita sendiri.


Tidak peduli sebarapa banyak kau tersandung dan jatuh. Selama kau memilih untuk berdiri maka saat itulah kau menjadi pahlawan bagi impianmu.


Itulah yang Faga percayai. Itu pula pesan yang ibunya sampaikan. Terus berdiri, terus berjuang, dan tentunya mengembang senyum.


“Arif, Wira. Pergilah. Kalian yang muda masih memiliki impian yang harus duraih.” Dengan susah payah Faga berdiri seraya mengangkat pedang.


Faga nampak kesulitan menegakkan tubuh. Pasti itu karena lukannya. Arif maupun Wira tidak mampun berkata-kata di depan kesungguhan Faga. Keduanya mematung.


“Sangat kokoh Faga. Aku tidak tahu apa motivasi dan tindakanmu dengan terus maju, tapi bagiku itu sangatlah bodoh.”


“Tubuhmu sudah hancur, kau tidak memiliki kesempatan menang. Pilihan terbaikmu adalah bergabung denganku. Jadilah kuat bersamaku, kau bisa menjadi apapun Faga!” Tawar Qocakau lagi. Dia tidak pernah menyerah terhadap hal itu.

__ADS_1


Faga tidak memberi jawaban, hanya mengacungkan mata depan kepada Qocakau. “Kenapa kau sangat kuat dalam keputusanmu. Menjengkelkan. Padahal aku sudah susah-susah menawarkan.” Terdengar amarah di penghujung kalimat Qocakau.


Qocakau mengacungkan tangan kanan, membuat gemuruh di bawah telapak kaki Arif dan Wira. Arif berfirasat sangat buruk. Akan ada kekuatan dahsyat yang datang.


Tanahpun merekah dan memunculkan segerombolan besar Grinsekta yang memiliki sayap memenuhi udara. Suara gemuruh terdengar bersamaan dengan datangnya gelombang Grinsekta.


Kepakkan sayap mereka menimbulkan hembusan angin kuat, juga dengan suarnya yang sangat bising di telinga.


Dari tepian kegelapan Grinsekta lain pun menampak diri. Laba-laba, kelabang, belalang, ulat, dan banyak lainnya. Jumlahnya tidak terhitung, langkah kaki mereka menciptakaan gempa yang kuat. Wira sempat terjatuh karena hilang keseimbangan.


Siapapun yang melihat barisan kekuatan itu pastilah tertunduk. Dilihat dari manapun, kelompok Faga tidak punya kekuatan melawan.


Kekuatan ribuan Grinsekta tidak mungkin ditandingi oleh tiga orang, bahkan untuk para Pembebas. Kemenangan telah berat sebelah. Qocakau berada di atas angin.


“Arif, Wira, pergilah. Kalian harus tetap hidup.” Ucap Faga menandingin suara gemuruh dari kedatangan barisan kekuatan Grinsekta.


Pemandangan di depan membuat keduanya kesulitan dalam mencerna kalimat Faga. Arif terjatuh dengan menekuk lutut disertai mata yang berair.


Tidak akan ada hari esok.


“PERGI!!” Teriak Faga membuyarkan angan-angan Wira dan Arif.


Arif dan Wira memandang Faga cukup lama. Keduanya tetap tidak bisa mecerna maksud dari kalimat Faga.


“PERGI SEKARANG JUGA!!” Teriak Faga lebih keras. Itu membuat luka di tubuhnya semakin terbuka. Faga meringis, manahan perih yang begitu menghujam setiap jengkal tubuh.


“Tapi Kapten bagaimana?” Teriak Arif dengan mata berair. Dia mulai mengerti maksud ucapan Faga.


Wira disebelahnya sudah menarik pundak Arif. Dia sangat sadar pilihan Faga dan demi menghormatinya Wira memilih tidak protes dan melaksakannya sebaik mungkin, meski hatinya menolak betul keputusan tersebut.


Mata Arif beralih keseberang. Menatap ribuan Grinsekta yang siap dilepaskan membuat hidup ini terasa tidak lagi bermakna. Tidak ada kesempatan lari, tidak ada kesempatan sembunyi. Semua harapan mengabu.


“Aku sudah katakan untuk menjamin keselamatan kalian bertiga sampai kepermukaan.” Faga menahan sakitnya dan berusaha berdiri.


“Kali ini aku akan memenuhinya. Tolong pergilah. Ini adalah permintaan terakhirku. Maaf aku tidak bisa memberikan perpisahan yang bermakna.” Terdengar suara yang kesakitan dan memohon dalam kalimat Faga.


Arif meremas jemari dan mengigit bibir.


Arif lalu memperhatikan punggung Faga yang penuh luka. Jubah merahnya sudah mengabu, seragamnya pun tinggal barisan helai yang tidak layak disebut seragam.


Meski begitu, Faga tetap menjalankan kewajibannya. Dia tidak pernah lari dari kewajibannya. Nyawa yang dia pertaruhkan untuk setiap keputusan yang dia ambil.


“Ayo Arif. Jangan menyusahkan kapten.” Bisik Wira dengan air mata yang mulai mengalir di pipi.


Gejolak batin yang meledak-ledak. Air mata Arif sudah mengalir banyak. Dadanya terasa sangat sakit untuk menerima semua ini.


Salah satu orang terhebat yang dia kenal dalam hidup akan pergi.


Arif bangkit berdiri, membalikkan badan dengan wajah yang basah oleh air mata. Arif dan Wira berbalik dan segera lari secepat mungkin, memenuhi permintaan terakhir kaptennya.


“Terimakasih telah mengizinkan Arif dan Wira tetap hidup.” Ucap Faga kepada Qocakau.


“Anggap saja ini sebagai balasan karena memberiku pertarungan hebat. Lagi pula rencanaku akan tetap berjalan tanpa hati Sang Penerus Die Hyang.” Balas Qocakau.

__ADS_1


“Dan...bagaimana kau akan menangani ini semua, apakah ada kejutan lainnya Faga Dwi?”


“Benar. Aku masih punya satu teknik yang belum kutunjukkan.” Balas Faga terengah-engah. Rasa sakitnya semakin menjadi.


“Tunjukkanlah.” Qocakau menyeringai lebar. Dia nampak antusias terhadap tindakan Faga.


Faga berusaha memasang kuda-kuda kokoh. Tubuhnya yang sangat perih terus bergetar. Faga menggretakkan rahang, berusaha mengendalikan dirinya yang semakin dekat terhadap kematian.


Faga menarik nafas kuat-kuat. Pedang ia angkat tinggi-tinggi. Mata pedang tepat menunjuk langit.


Hembusan energi mulai berputar disekitarnya, semakin cepat dan semakin kuat, dan berubah menjadi cahaya emas yang membumbung ke langit.


Pelepasan energi yang luar biasa. Qocakau pun terpana melihatnya. Tidak disangka seorang yang tubuhnya sudah hancur masih menyimpan energi sebesar ini. “Pasti untuk mengakhiri seluruh pasukanku dalam sekali serang.” Batin Qocakau yang kemudian tersenyum puas.


Faga merasakan sekujur tubuhnya terkelupas. Tubuh yang sudah hancur menahan pelepasan energi yang begitu besar, itu sangat menyakitkan. Beberapa kali Faga batuk darah dan hilang keseimbangan.


“Aku tidak akan mundur.” Gertak Faga terahadap kelemahan dirinya.


Cahaya emas itu membumbung lebih tinggi hingga menembus jurang yang menghubungkan permukaan dan kedalaman Arkkana. Saking tingginya, cahaya emas itu bisa dilihat dari desa tempat Ni minah berada.


Tidak seperti penduduk lain yang memperhatikan cahaya emas itu dengan kagum, Nenek Ni minah berfirasat buruk terhadap hal ini. “Faga semoga kau baik-baik saja.”


Arif dan Wira pun bisa melihat cahaya emas tersebut. Layaknya cahaya yang memotong kegelapan malam. Indah sekaligus menakjubkan.


Tekanan energinya semakin kuat, Faag seraya ditindih gravitasi puluhan kali lipat. Darah di sudut bibirnya semakin deras. Tulang-tulang di lengan dan kaki Faga yang patah bertambah di karenakan mengangkat energi yang begitu besar.


Faga memejamkan mata dalam konsetrasi maksimal.


“Bilah Kesepuluh. Pilar Cahaya Kemenangan.”


Cahaya emas seketika semakin besar.


Qocakau tersenyum lebar. Dia rentangkan kedua tangan untuk menerima serangan terhebat Faga. “Majulah Faga dwi.”


Faga mengangkat pedangnya lebih tinggi, melangkahkan kaki kiri dan melakukan gerakan menebas. Pilar cahaya pun meredup dan terurai seketika, berubah menjadi serbuk cahaya yang memenuhi kedalaman seluruh Arkkana.


Qocakau menatap dengan tidak percaya kelakuan lawannya. “Apa-apaan ini Faga. Inikah serangan terhebatmu!” Teriak Qocakau tidak terima.


Faga berusah mengangkat tubuhnya yang kembali ambruk. Kali ini lebih sulit. Pelepasan jurus terkuat dari Teknik Perubahan Bilah membuat tubuh Faga semakin banyak mengeluarkan darah.


Pandangannya semakin berkunang-kunang. Kulitnya terasa terbakar.Setiap tarikan nafas seperti menusukkan mata pedang di dada.


Faga mengankat pedangnya lagi dalam posisi kuda-kuda. Kali ini tubuhnya terbungkuk, rambutnya kusut menutupi wajah yang babak belur. Kuda-kuda yang Faga pasang penuh akan celah, dilihat saja semua tahu itu karena Faga telah sampai batasannya.


Faga sedikit mendongak, dan melihat kejutan disana. Sebuah senyum yang dirindukan sejak lama.


Ibunya hadir disana dengan tubuh bercahaya. Beliau lantas memeluk Faga dengan pelukan hangat dan membisikkan kata-kata yang membuat air matanya mengalir. “Kau sudah menjadi Pahlawan Faga. Ibu sangat bangga padamu.”Air mata Faga pun mengalir dalam senyum.


Qocakau menatap lawannya dengan jengkel. Dia semakin kesal karena Faga hanya mematung di depan sana. Qocakau memutuskan mendekat dan mendapati sesuatu yangs sangat mengejutkan.


“Tidak ada detak jantung, tidak ada pernafasan.” Gumam Qocakau. Sorotnya manatap Faga yang dari kejauhan.


Faga gugur dalam posisi mengangkat pedang dan memasang kuda-kuda. Dipenghujung perjuangan pun Faga memilih untuk terus tersenyum dalam perjuangannya.

__ADS_1


Qocakau mengigit bibir. Dia merasa dihina karena Faga pergi begitu. Urat-urat di wajahnya yang memerah timbul.


Amarah yang mengepul-ngepul membuat Qocakau bertindak di luar kehormatan. Qocakau mengibaskan tangan, mengirim perintah pada anak-anaknya untuk segera menghancurkan jasad Faga tanpa sisa.


__ADS_2