IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
45 Kesungguhan II


__ADS_3

Empat tahun yang lalu di halaman sebuah rumah yang kusam.


Hari cerah kala itu. Burung-burung bersiul, siap kembali ke rumah. Awan-awan putih menghias langit tanpa adanya pertanda mendung disana. Cahaya jingga memenuhi angkasa luas.


Arif kini menjalankan latihan beladiri yang dia tekuni sejak dua tahun terakhir. “Untuk berjaga-jaga bila suatu saat aku perlu membela diri.” Itulah motivasi yang dia utarakan kepada gurunya. Bapak Wira.


BUG-BUG-BUG


Seperti biasa. Bapak Wira tidak pernah menahan diri dalam melakukan sesuatu. Dia melakukannya maksimal bahkan dalam hal ini yaitu latihan, dia tidak segan-segan membuat anak didiknya sendiri babak belur.


Arif tahu itu dari pertemuan pertama dengan beliau. Selain kejam dan bengis, di mata Arif Bapak Wira adalah seorang bapak yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang kepada putra semata wayangnya.


Dengan alasan itu, Arif berusaha mati-matian menghajar Bapak Wira untuk memberinya pelajaran, walau menyentuhnya pun terasa sangat mustahil.


Arif berusaha menghindar dan menangkis semua pukulan Bapak Wira. Tetap saja, perbedaan kekuatan menyebabkan Arif terus tersudut. Lengan kakinya sudah membiru, luka-luka di wajahnya pun membengkak.


Jangan harap toleransi darinya.


BUG


Pukulan lainnya datang. Tepat mengenai dada. Arif berteriak keras, dalam beberapa detik dia merasa dadanya tertindih batu besar dan kesulitan bernafas sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke tanah.


Arif berusaha berdiri, tapi setiap kali tubuhnya bergerak rasa sakit ketika datang bagaikan ombak. Sakit sekali. Rasa-rasanya sebentar lagi tulang-tulangnya patah. Bukan cuma itu, tangan dan kakinya pun sudah terlalu lelah untuk bergerak. Rasanya berat hanya untuk mengangkat ujung jari.


“Bangkitlah” Ucap Bapak Wira dengan nada sinis.


Dia letakan telapak kaki di ubun-ubun Arif, kemudian dia injak sekuat mungkin.Mata Bapak Wira menatap tajam kearah remaja umur berumur delapan belas tahun tersebut.


“Bangkitlah! Di pertarungan sesungguhnya kau yang selemah ini hanya akan menjadi pupuk yang hina! Bangkit. Jangan pura-pura tuli, bangkitlah!” Ucapan Bapak Wira semakin keras dan mengancam. Telapak kakinya pun menekan lebih keras.


Wajah Arif yang penuh lebam terasa semakin sakit oleh tindakan Bapak Wira. Dengan sekuat tenaga, lengannya yang sudah memunculkan urat-urat dipaksa mengangkat tubuh yang penuh luka. Lebih, lebih, lebih, lebih kuat lagi. Gema itu menyala dalam hatinya.


“Terlalu lamban.” Bapak Wira segera mengangkat kakinya dilanjutkan dengan teknik pukulan yang amat keras. Pukulan itu meluncur tanpa Arif sadari dan tepat mengenai sisi wajahnya, membuat remaja itu tergelatak tanpa kesadaran.


“Buruk. Buruk sekali. Dua tahun kau belum menunjukkan perkembangan berarti.” Mata Bapak Wira masih menatap Arif yang sudah tak bergerak.


Pandangannya lalu beralih kearah lain, Wira putranya ada disanan. Menonton latihan Arif dengan tubuh yang gemetaran. Tidak ada yang lebih menakutkan baginya, kecuali bapaknya sendiri.


“Urus sisanya Wira. Temanmu ini membuat banyak waktuku terbuang.” Kata Bapak Wira sambil menatap putranya sendiri.


Bapak Wira langsung pergi darisana dengan langkah kesal. Sebagaimana perjanjian yang Arif buat dengannya. “Apapun yang terjadi padamu, aku tidak mau bertanggung jawab.”


Sorot matanya dingin dan kejam, lebih mengerikan dari Wira yang memiliki wajah preman. Luka besar yang menggores di wajahnya menyempurnakan sosoknya yang seperti bos mafia jaringan internasional.


Wira segera menghampiri Arif secepatnya. Menggendongnya dan merawatnya sebaik mungkin. Sifat kerasnya hilang ketika disekitar bapaknya. Wira menatap Arif yang pingsan di atas kasur dengan tatapan sedih.


Wira sadar. Bunga Purnama harus ia dapatkan demi bapaknya.

__ADS_1


@@@


Meski dalam kondisi terburuk sekalipun, perbedaan kekuatan Arif dan senior Tein layaknya langit dan bumi.


Arif yang terkapar di tanah mencoba bangkit kembali. Keringat darah telah nampak di tubuhnya yang kelelahan. Dua kali pandangan mata Arif memburam karena lelah.


“Sungguh suatu yang menjengkelkan. Kenapa kau terus berdiri demi suatu kepalsuan. Impianmu untuk menyembuhkan nenek dan Sheiny tidak akan pernah terwujud.” Ucap Senior Tein dengan mendekatkan wajahnya pada Arif yang terjatuh di tanah.


Wajah yang sangat jahat.


“Tidak akan!” Arif berteriak lantang sambil mengbibaskan lengan kanannya.


“Aku pasti mendapat Bunga Purnama lalu menyembuhkan nenek dan Sheiny. Itu pasti!”


Orang-orang yang mengerumuninya seketika memusatkan pandangan pada Arif. Semangat anak itu belum pudar. Suatu yang tidak biasa.


“Pahami kataku ini otak udang.” Senior Tein mendekat kembali dengan aura yang sangat gelap. Atmosfer ini mulai terasa mencekik.


“Alasan mengapa keduanya tidak bisa sembuh karena kau tidak akan melihat keduanya lagi. Kedalam Arkkana akan melahapmu sebelum kau kembali. Kenapa kau begitu bebal memahami hal sesederhana ini. Daripada menjemput mautmu lebih baik kau pulang dan penuhi waktu-waktu terakhir mereka.”


Beberapa saat Arif terdiam. Sebagian dirinya mulai membenarkan perkataan senior Tein. Pikiran-pikiran negatif dengan cepat mengusai benaknya. Arif berusaha angkat bicara, tapi langsung dipotong oleh senior Tein.


“Dengan kerja keras dan keyakinan maka segala sesuatu akan menjadi nyata. Begitu? Kebodohanmu sudah terlalu menggunung otak udang. Kau butuh lebih dari sekedera kerja keras dan keyakinan untuk bertahan hidup, bahkan terkadang kau harus melepas kemanusianmu. Bertindak layaknya binatang buas tanpa akal.”


Tubuh Arif mendadak membeku.


Arif segera menggeleng kuat-kuat, mengusir segenap pikirna negatif. Arif kemudian berlari kearah senior Tein untuk memberikan beberapa pukulan dan tendangan, menunjukkan betapa seriusnya dirinya dalam perkara ini.


Alisnya meruncing, ada kemarahan dalam setiap pukulan yang dia berikan.


“Sebesar itukah rasa ingin tahumu? Baiklah aku keceritakan pelan-pelan.” Semua pukulan Arif mengenai udara kosong. Meski hanya memiliki satu kaki, kecepatan mengelak senior Tein tetap tidak terkalahkan.


“Bukannya semakin baik, hari-hari setelah membunuh rekan terakhirku bertambah buruk. Grinsekta muncul satu persatu. Mereka menyerang dan terus menyerang. Sampai akhirnya aku pun mengamputasi kaki kiriku karena racun mereka.” Senior Tein bercerita sambil terus menghindari. Mudah sekali dia melakukannya.


Arif tidak peduli. Cerita senior Tein dia anggap sebagai angin lalu. Tangan kakinya terus memberi pukulan.


“Bukan hanya itu. Tubuhku sudah sangat sakit, tidak ada makanan dan tempat bermalam. Mau tidak mau aku harus memaksakan tubuh lemah ini merasakan semua derita itu. Mungkin kematian lebih baik, itulah yang terpikir dalam benakku. Sampai pada suatu titik, aku mengambil mayat rekan-rekanku dan menjadikannya umpan agar para Grinsekta menjauh. Aku seorang iblis sejati kan.” Ujung kalimat itu disambung tawa pendek.


Pukulan Arif pun terhenti bersama berakhirnya kalimat tersebut. Bola matanya terlihat mati dengan seluruh tenaga yang seakan runtuh dari otot-ototnya.


“Apakah ini terlalu mengejutkan untukmu, otak udang? Ini hanya sebagian kecil dari sisi kelam Kota Arkkana. Jika ada seseorang memakan bangkai saudaranya sendiri setelah jatuh dalam kegelapan Arkkana, aku percay itu. Arkkana akan mengambil seluruh kewarasanmu dan menjadikanmu binatang buas.”


Intimidasi yang begitu kuat.


Perlahan-lahan Arif kehilangan kekuatan untuk berdiri dan akhirnya jatuh menekuk lutut. Kisah yang dituturkan senior Tein menusuk berhasil membuat kehilangan semua daya. Akhir kalimat itu bagaikan barisan pedang yang menumpuk di punggung Arif.


“Jadi lupakan saja impianmu menyembuhkan mereka. Maut keduanya sudah digariskan.” Senior Tein mulai meninggalkan Arif. Dia raih tongkat kayunya dan mulai berjalan.

__ADS_1


Baru dua detik melangkah, senior Tein dikagetkan dengan Arif yang lagi-lagi bangkit. Sebuah pukulan cepat dia hindari tetap disamping wajah.


“Sungguh merepotkan. Kenapa kau begitu cepat turun dari ujung tanduk?” Komentar senior Tein dengan wajah datar.


Arif memlih diam dan kembali maju. Pukulan demi pukulan kembali melesat. Teknik beladiri yang dia asah bersama Bapak Wira dia tunjukkan. Lebih kuat, lebih cepat, lebih akurat.


BUG


Akhirnya pukulan Arif berhasil mengenai lawannya.


“Lumayan untuk ukuran amatir. Kau penuh kejutan otak udang. Mungkin aku akan sedikit lebih serius.”


Senior Tein menjatuhkan tongkat kayu, mengepalkan tangan kanan yang bisa difungsikan dan menatap tajam kearah Arif.


Sedetik tatapan mematikan itu menghantar hawa membunuh, bulu kuduk meremang.


Dengan satu kaki, senior Tein melompat kearah Arif. Tangan kanannya segera memberika pukulan beruntun, Arif hanya bisa menangkis dan beberapa kali hilang keseimbangan.


Senior Tein lalu menundukan tubuhnya, bertumpu dengan telapak tangan kanan di tanah, kaki kanannya berputar cepat di udara dan meluncurkan tendangan yang keras.


Arif terkena tepat di pipi, membuatnya mundur beberapa langkah, tapi keseimbangannya masih kokoh. Hal itu membuat senior Tein lebih brutal mengeluarkan teknik-tekniknya.


Delapan orang tim pencari terpana melihat adegan pertarungan itu. Tidak ada kata-kata yang keluar, semua diam, menghayati pertarungan di depan mereka.


“Aaarg...” Kali tubuh Arif berdebam di tanah setelah menerima tendangan vertikal senior Tein.


“Aku jadi penasaran, mengapa kau sekokoh itu dengan impian palsumu.” Senior Tein meraih tongkat, berdiri dan memasang posisi lebih santai.


Arif menyeka luka-lukanya dan berusaha bangkit lagi. Tubuhnya banjir keringat dan sangat kelelahan.


“Guru beladiriku berkata. Hidup adalah soal kapan kau bangkit. Semakin lambat kau bangkit, maka kau akan menyadari betapa banyaknya kerugian yang kau dapat.” Ucap Arif dengan nada patah-patah.


Tubuh yang terasa sakit dia paksa terus berdiri.


Senior Tein terpaku beberapa saat oleh kalimat itu. Kata-kata itu terasa tidak asing di telinganya. Dulu, seseorang pernah mengatakan hal yang sama padanya.


Arif yang sudah sangat kelelahan terjatuh di atas tanah. Kesadarannya masih utuh, semangatnya masih penuh tapi tenaganya sudah terkuras habis.


Arif sangat kaget dengan pemandangan yang dia lihat selanjutnya. “Raiyan, Sanzhu....” Kedua nama itu keluar dari mulut senior Tein dengan suara lirih. Ada air mata yang meleleh disana bersama dengan terputarnya memori ketika sahabat terbaiknya ia bunuh dengan tangannya sendiri.


“Sanzhu........maafkan.....” Tubuh senior Tein jatuh tanpa kesadaran sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


Arif melompat ke depan, cepat-cepat menangkap tubuh yang kritis itu. Dari dekat Arif bisa melihat berapa banyak luka senior Tein yang terbalut perban. Sungguh ajaib senior Tein masih bisa bergerak begitu hebat dengan luka seperti ini.


“Senior-senior-senior_” Suara cemas dan khawatir segera mengerumi Arif. Kedelapan orang berebut ingin memeriksa kondisi senior Tein.


Pertarungan ini berakhir dengan sebuah tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2