IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
36 Sang Penerus


__ADS_3

Obor-obor yang menyala disekitar panggung menerangi keheningan disana. Arif tidak bisa mencerna keadaaan dihadapannya. Tubuhnya masih membeku.


Teman-temannya pun menatap dengan tidak percaya. Pemandangan di depan, siapa yang menyangka bisa jadi begini?


“Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.” Fasih berkata. Tidak ada jawaban, semuanya terdiam. Lelaki pemegang tombak di sebelah ketiganya pun bersujud kepada Arif.


Posisi ini sangat membingungan. Kenapa mereka bersujud, merendahkan diri kepada makhluk yang dikenal karena pembawa kesialan dan petaka. Manusia rambut putih. Kenapa?


Arif perlu jawaban.


Mereka terus bersujud, cukup lama. Dalam diam, hening, tanpa bergerak sesenti pun, ketundukkan yang murni. Apakah ada hubungannya dengan Die Hyang?


Pemikiran itu melintas di kepala Arif. Bersama dengan itu, tubuhnya kembali ambruk tanpa kesadaran tersisa.


@@@


“Arif, Arif, Arif.” Terdengar suara memanggil dari suatu tempat. Suara yang tidak asing. Ibu?


Arif membuka mata perlahan, sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, pegal, tidak nyaman. Kaku dan gemetaran. Apa yang terjadi?


“Arif sudah bangun, Arif sudah bangun.” Seru suara lainnya. Arif sangat mengenalnya itu suara Faga.


Kelima sahabatnya duduk melingkarinya dengan tatapan cemas. “D-dimana?” Suaranya terdengar sangat lelah. Keringat masih mengalir di wajah Arif.


“Kita ada di salah satu rumah orang-orang bertopeng itu.” Fasih menjelaskan dengan pelan. Arif mencoba mengingat, kepalanya terasa sangat sakit. Memorinya belum pulih.


Sahabat-sahabatnya lalu membantu Arif duduk. Arif memperhatikan ruangan itu, langit-langit kayu dengan dinding campuran dari tanah yang dibakar. Matanya yang lemah lalu melirik keluar jendela, banyak aktivitas yang sedang terjadi disana.


Perlahan-lahan ingatannya kembali.


“Bagaimana dengan pertunjukkannya?” Arif bertanya.


“Pertunjukkan yang hebat, suku ini sangat ahli menyambut tamu.” Pala yang menjawab.


Arif kebingungan dengan jawaban Pala. Dia menatap lelaki itu beberapa saat. Bukannya tadi malam aku yang menarikan Die Hyang. Batin Arif. “Pertunjukkan itu, masa kalian lupa. Aku menari diatas panggung.” Risau Arif.


Kelimanya saling pandang tidak mengerti. Sorot mata mereka nampak layu. “Mungkin kau terlalu lelah Arif, beristirahalan dulu. Kami akan keluar agar kau bisa beristirahat total.” Bara berucap. Terdengar kesedihan dalam kalimatnya. Kelima satu persatu keluar dengan merisaukan kondisi Arif.


Arif tertunduk, kecewa. Apa semua itu hanya mimpi. Kalau begitu apa yang terjadi. Banyak bertanya yang merasuk kepalanya dalam satu detik.


Arif tidak mau memikirkannya, itu menyakitinya. Arif memilih kembali tidur, menuju alam mimpi.


Waktu terus berputar. Arif terus berada di atas kasur sampai sore menjelang. Cahaya jingga yang menembus rumah itu membangunkan Arif. Pada saat Arif membuka mata di dapatinya wanita berwajah gagah duduk tidak jauh darinya.


Dia kenakan jubah hitam panjang dengan topeng wajah burung hantu diatas dahi. Dia sedang mengupaskan buah-buahan untuk Arif.


Adrenalin seketika terpacu. Arif langsung memasang mata waspada kepada wanita tersebut.


“Maaf, saya membuat Arif mengalami hal mengerikan.” Ucap Wanita itu dengan formal. Nada suaranya terdengar merendah kepada Arif. Arif bertambah bingung karena kalimatnya.


“Bisakah jelaskan apa yang terjadi.” Pinta Arif.


Wanita itu menyelesaikan kegiatan mengupasnya dan mendekat pada Arif. “Saya akan menjawab pertanyaa tersebut secara lebih personal.”


Jemari telunjuk wanita untuk menyentuh dahi Arif. Dua detik kemudian muncul cahaya putih menyilaukan. Tubuh keduanya terbungkus cahaya itu, hangat dan nyaman.


Pemandangan berganti, sebuah lapangan hijau yang sangat luas. Lapangan itu tidak terlihat tepiannya. Tidak ada tanaman selain rerumputan sejauh mata memandang namun tercium bau harum bunga, aneh.


Cakrawala biru cerah melukis angkasa. Ketika Arif memperhatikan langit, ternyata ada sesuatu yang tidak biasa disana.


Sebuah bola besar seperti matahari yang bercahaya sangat terang. Bola matahari itu dikelilingi oleh bola-bola bening yang lebih kecil. Bola-bola kecil itu memiliki lintasan yang beragam dengan jumlah sangat banyak.


Angkasa dipenuhi bola-bola bening tersebut, bergerak dan berputar tanpa saling menganggu. Pemandangan itu mirip kumpulan ikan yang berenang bersamaan. Menakjubkan.


Arif pun mendapati tubuhnya tidak sakit lagi. Dia bisa bergerak bebas bahkan berlarian. Arif tidak paham apa yang terjadi, tapi tidak ada salahnya untuk menikmati keindahan itu terlebih dahulu.


“Selamat Datang di Hutan Mimpi, Arif.” Arif menoleh kearah wanita tersebut. Matanya penuh pertanyaan.


“Saya akan menjelaskan.” Ucapanya tetap formal.

__ADS_1


“Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Krommas. Dewi Mimpi. Sebagai manusia saya biasa dipanggil Vioala.” Arif menyimak baik-baik.


“Saya adalah putri Dewa Takdir, Fatih. Tugas saya adalah memberikan mimpi indah dan memerangi Pangeran Kegelapan.” Viola menghela nafas pendek.


“Hutan Mimpi adalah tempat tujuan banyak petualang. Sejak ratusan tahun lalu, hutan ini telah disinggahi banyak orang-orang hebat. Namun, diantara mereka ada yang juga berniat jahat. Menggunakan kekuatan delapan pilar batu untuk kepentingan tidak masuk akal.” Arif mengangguk.


“Demi mengatasi hal itu, kami melakukan pembatasan terhadap para petualangan. Sebagai Dewi Mimpi, saya memiliki kuasa untuk memberikan mimpi-mimpi dan melalui mimpi tersebut saya menyeleksi mereka. Itu pula yang saya lakukan padamu, Arif.”


“Jadi sejak kami memasuki hutan, semua itu adalah mimpi.”


“Hampir tepat, kalian sudah memasuki mimpi sejak menyeberangi sungai itu.”


Arif cukup kaget mendengar kenyataan tersebut.


Di kepalanya kembali melintas pertanyaan lain.


“Tapi kenapa hanya aku mengingat itu semua, kenapa yang lain tidak.” Wajah Arif terlihat cemas.


“Aku menghapus mimpi tersebut dari yang lain.”


Arif menatap sekitar, mengingat-ingat pertanyaan apa yang mengangguk benaknya.


“Lalu kenapa semuanya bersujud saat aku menarikan Die Hyang.”


“Untuk menjawab pertanyaan itu biarkan saya bercerita sedikit. Die Hyang adalah tarian suci dan termasuk dalam sembilan pusaka surgawi. Dewa Takdir menggariskan, dalam seribu tahun hanya ada tiga orang yang bisa menarikan Die Hyang.”


“Selain itu, Dewa Takdir juga mengatakan padaku bahwa akan datang masa dimana seseorang yang menguasai Die Hyang memasuki tanah ini dan kali ini perkataan beliau telah terjadi. Itulah dirimu, Arif.” Arif menahan nafas ketika mendengarnya.


Terdengar sangat Hebat meski sebagian besar Arif tidak memahaminya.


Sesuatu yang membingungkan kembali melintasi kepala. Dipilih semesta?


“Aku cukup terkejut karena yang menerimanya dari keturunan manusia rambut putih. Hal ini tidak pernah terjadi. Tapi hal itu tidak ada hungannya sama sekali. Sekarang kaulah yang menjadi Penerus Die Hyang, Arif. Kau akan meletakan dasar baru terhadap dunia.”


@@@


Viola menuntun Arif kepada sahabat-sahabatnya. Terlihat disana mereka sedang asik bermain dengan anak-anak. Komunikasi? Tentunya menggunakan bahasa isyarat. Lucu sekali saat Wira melakukannya.


“Halo Arif, bagaimana kondisimu.” Faga yang pertama menyapa. Suara selalu kuat dan bersemangat.


“Baik sekali. Aku sudah kembali prima.”


“Kau membuat kami khawatir, Arif. Kalau pingsan bilang-bilanglah dulu.” Fasih bercanda. Semua sahabatnya lalu tertawa, kecuali Wira.


“Arif, ayo bergabunglah dalam permainan kami.” Tawar Bara.


Arif mendekat dan memperhatikan. “Apa yang sedang kalian lakukan?”


Berawal dari pertanyaan itu, Arif pun bergabung pada keseruan hingga lupa waktu.


Matahari telah terbenam, cakrawala merah telah menghilang bersama datangnya gelap. Bulan mulai terlihat dan terdengar nyanyian hutan.


Tangan Faga di tarik oleh anak-anak kampung dengan antusias. Dalam sekejap Faga sudah memiliki tempat di hati anak-anak tersebut. Selama permainan itu, mereka pasti menganggap Faga adalah kakak yang baik.


Arif, Bara, Wira, Pala, dan Fasih mengikuti dari belakang.


Tidak hanya anak-anak yang berkumpul di tempat itu. Semua orang dari suku itu berkumpul dan tanpa mengenakan topeng kayu, pasti ini adalah acara penting.


Mereka duduk melingkari sebuah batu tua besar. Batu itu bersih dari lumut dan kotoran. Penduduk pasti merawatnya dengan baik.


Dipermukaan batu terpahat mural yang rumit dan tidak begitu jelas. Tidak bisa terbaca.


Semua orang bercakap-cakap disana sambil duduk menghadap batu tersebut. Arif dan yang lain juga ambil bagian disana. Mereka duduk disekitar anak-anak yang selalu ramai.


“Ada yang bisa menjelaskan akan apa kita disini.” Fasih membuka topik.


“Kupikir melihat sesuatu yang keren.” Jawab Bara asal.


“Bara benar. Kita akan melihat bagaimana keinginan kalian terkabul.” Jawab Viola. Mendadak dia sudah berdiri di samping mereka.

__ADS_1


“Halo, para tamu. Bagaimana sambutan penduduk.” Viola bertanya dengan memasang senyum di wajah.


“Sangat baik. Penduduk sangat ahli menjamu tamu.” Fasih menjawab.


“Terimakasih, kuharap para penduduk bisa paham pujianmu. Fasih.”


“Boleh saya bertanya, apa yang dimaksud dengan melihat keinginan terkabul?” Pala giliran bertanya.


“Bukannya itu tujuan kalian kemari. Di delapan titik, cahaya emas menyatu, dan mimpi pun menjadi nyata. Seingatku aku menulis begitu.” Jawab Viola.


“Silahkan nikmati sajian ini.” Viola lantas maju ke depan batu bermural tersebut. Dia mulai menyerukan banyak hal di depan semua orang.


Setelah Viola menyelesaikan kata-katanya, dia duduk di hadapan batu tersebu. Hening cukup lama sampai datanglah garis cahaya emas di atas kepala penduduk. Menakjubkan.


Munculnya garis cahaya itu diikuti dengan muncul garis cahaya kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai kedepan. Garis cahaya itu mengarah tepat ke batu bermural yang membuat batu itu bercahaya terang.


Sangat terang dan menyilaukan. Semua orang menutup mata.


Dua detik kemudian, masing-masing mata terbuka dan menyaksikan hal paling menakjubkan dalam hidup.


Masing-masing tubuh bercahaya, tanah tempat mereka duduk di tumbuhi bermacam bunga indah. Bermacam warna dan bau harumnya. Belum cukup, pepohonan yang berdaun sedikit menjadi rimbun, bahkan cakrawala yang gelap berubah cerah seperti siang hari tanpa panas.


Tempat itu seakan berubah total.


Semua orang segera bangun, menikmati keindahan luar biasa tersebut.


Setiap hati yang merasakannya tenang dan nyaman. Mengukir senyum di wajah dan jiwa pun bersyukur. Kebahagiaan ini tidak bisa digambarkan melalui kata-kata. Hanya orang-orang yang merasakannya langsung yang tahu.


Namun, kebahagian itu tidak menyentuh Arif. Kebahagian yang dia dapatkan membuka luka lama. Sebuah penyesalana terbesar dalam hidupnya.


“ Ada Arif? Mengapa wajahmu murung.” Viola duduk disebelah Arif.


“Jika ada masalahh katakan saja. Siapapun yang melihat cahaya ini berhak bahagia karena sejatinya kebahagian adalah keinginan terbesar manusia.”


“Aku-aku-aku..”Arif kesulitan mengeluarkan kata-katanya.


“Katakan saja Arif.” Viola memasang senyum hangat.


“Aku ingin bertemu, bapak dan ibu.” Ucap Arif dengan suara lirih.


“Apa itu bisa dilakukan? Aku tidak masalah walau lewat mimpi. Selama bisa bertemu, tidak apa. Tolong, tolonglah.” Air mata Arif nyaris meleleh. Suaranya memelas.


“Maaf Arif. Tapi kuasaku terhadap mimpi juga terbatas. Aku tidak bisa mempertemukan dengan orang yang belum pernah kulihat. Tapi selama kau punya ingatan terhadap bapakmu, aku masih bisa.” Jawab Viola,.


Arif tertunduk, dia pun tidak punya ingata terhapa bapak. “Jadi memang sudah takdirku untuk tidak bisa berjumpa dengan bapak.” Air mata Arif sempurna membasahi tanah di bawah.


“Arif, apa kau membawa Keping Harapan?” Viola bertanya. Arif hanya mengangguk mengiyakan.


“Boleh aku meminjamnya?” Arif menyerahkan batu hijau itu kepada Viola.


“Tersenyumlah Arif.” Arif menatap Viola beberapa saat. Viola terlihat menggenggam Keping Harapan erat-erat dengan mata terpejam.


Enam detik melakukan itu, Viola lalu mengembalikan Keping Harapan. Arif tidak paham dengan semua ini. Viola tersenyum dan berlalu dari hadapan Arif.


“Waaaaa.” Arif terkaget. Mendadak tubuhnya diangkat ke udara. Arif menoleh dengan air mata yang kembali mengalir. “Bapak-ibu.”


Bapak Arif kemudian menurunkannya. Arif menghadap kedua orang tuanya dengan wajah tertunduk. Arif bingung harus berbuat apa.


Dua manusia paling mulia dan paling dirindukan mendadak ada dihapannya.


“Arif jangan bersedih. Bapak-ibu ada disini.” Ucap Wangsa, bapak Arif. Suaranya begitu indah di telinga putranya. Senyumnya, kerutan di wajahnya, rambutnya yang sampai menyentuh pundak.


Inilah bapak.


Disamping Wangsa, ibunya pun memasang senyum yang tidak mungkin Arif lupakan. Segala usaha dan upaya untuk membesarkan Arif sendirian terngiang dalam kepala.


Arif langsung memeluk erat-erat kedua orang tuanya, menumpahkan segenap kerinduan bersama air mata.


Bapak-ibunya pun membuka tangan lebar-lebar, menyambut pelukan Arif dengan kehangatan. Keluarga kecil itu kembali disatukan.

__ADS_1


__ADS_2