IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
26 Sheiny


__ADS_3

Arif menganga beberapa detik setelah mendengar kalimat Haz.


Putri? Haz sudah seorang bapak? Tapi kenapa aku belum pernah melihatnya? Kepala Arif berputar mencari pemecahan dan serangan dadakan ini.


Tunggu dulu, mengenalkan? Jadi aku akan dapat sahabat baru? Batin Arif.


Seketika terasa degupan di dadanya menjadi sangat cepat . Tubuh memanas dan merinding ini begitu terasa pada setiap jengkal tubuh. Arif memasang tatapan bersemangat baru kemarin dan kali ini dia harus menyiapkan keberaniannya lagi.


“Santai saja Arif. Kalau kau begitu malahan kau menakutinya.” Ucap Haz.


“Ayo selesaikan pekerjaanmu.” Haz meneruskan. Dia lantas balik kanan dan kembali pada rutinitas hariannya, meracik obat atau membuat ramuan baru.


Gemeteran ini semakin kuat. Arif tidak bisa menahannya. Rasa senang dan gugup bercampur di dalam dada. Kalau ini adalah tempat kedap suara, Arif pasti akan berteriak karena saking senang.


“Oh, ya selesaikan dahulu.”


Arif melanjutkan menyapu dengan lebih semangat.


Sesuai intruksi Haz, dedaunan ituArif timbun dan yang lain di kumpulkan di halaman belakang rumah. Di halaman belakang Arif juga meletakan sapu lidi tersebut.


“Hari yang indah ya Arif.” Arif langsung menoleh ke sumber suara. Itu nenek. Beliau sedang mengayam untaian serat-serat kering menjadi terompah di gubuk.


“Iya, hari yang indah.” Jawab Arif sekenanya. Kegugupan yang Arif alami membuatnya tidak bisa berpikir seperti biasa.


“Ada apa, nampaknya terjadi sesuatu. Kalau ada masalah katakan saja.” Balas nenek. Beliau bisa menangkap kegugupan yang terselip dalam kalimat Arif. Arif rasa Haz dalam keluarganya memang sangat peka terhadap lawan bicara.


“Tidak-tidak nek. Tadi Kak Haz mengatakan mau mengenalkannya dengan putrinya.” Jawab Arif sambil menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


Nenek pun ber-o pajang sebagai tanggapan lalu beliau mengikutkan senyum mencurigakan. Itu membuat firasat Arif kian buruk.


“Semoga berhasil ya.” Balas nenek.


Arif lalu masuk ke dalam rumah dan menemui Haz di lantai dua.


Arif sungguh salut padanya, selalu saja dimana pun dan kapan pun Arif menemui Haz sedang mengerjakan pekerjaanya. Sebagaiamana saat ini, Haz menunggunya dengan melakukan hal itu.


“Sudah selesai?”


“Sudah.” Balas Arif yang kemudian menegakkan badanya. Mulai dari sini tekanannya terasa makin kuat.


“Ikuti aku.”


Haz berjalan lebih dahulu, Arif mengikuti.


Arif penasaran, bagaimana wajah putri Haz. Arif jadi teringat, kalau tidak salah nenek juga pernah menyinggung perihal cucunya yang artinya adalah putri Haz. Namanya Sheiny, iya benar Sheiny.


“Pelan-pelan saja Arif. Putriku cukup pemalu dan mudah gugup jadi bersikaplah dengan wajar.” Haz mengingatkan namun bagi Arif itu lebih terdengar seperti peringatan.


Degupan ini semakin menyakitkan.

__ADS_1


Saat Arif sadar, keduanya ternyata berada di hadapan kamar dekat dapur. Itu adalah ruang terlarang untuk Arif masuki. Arif seketika menoleh kepada Haz, meminta konfirmasi.


“Itu dulu Arif. Sekarang berbeda. Putriku juga kesepian, dia ingin punya teman seumuran.” Haz lantas mengetuk pintu kamar itu dua kali.


“Sheiny ini Ayah. Ayah datang bersama Arif.” Ucap Haz dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Arif dan Haz menunggu jawaban, ternyata cukup lama. Mungkin Sheiny pun merasakan kegugupan yang sama sebagaimana yang Arif rasakan. Nampaknya sekitar dua menit Arif dan Haz berdiri di depan pintu itu.


“Ayah, Sheiny sudah siap.” Siapapun yang mendengar balasan itu tahu, bahwa Sheiny sedang gugup berat.


“Ayah buka.” Haz mendorong pintu tersebut, Arif mengikuti sambil sedikit menunduk. Arif tidak kuasa mengangkat pandangannya bahkan setelah di depan Sheiny.


Kamar itu lumayan luas. Punya dua jendela di salah satu dinding. Di pojokan ruang ada serat-serat alam kering dan beragam hasil anyamannya dengan bentuk-bentuk memukau. Anyaman-anyaman itu berukuran dari satu kepalan tangan samapi yang terbersar seukuran satu lengan.


Haz dan Arif lantas duduk dihadapan Sheiny sementara Arif masih menundukkan kepala.


“Kalian tidak sopan. Sebenarnya siapa yang berteman? Mana ada cara berteman saling membuangan muka.” Ucap Haz. Kalimat itu ditujukan untuk Arif dan Sheiny.


Arif mengumpulkan keberanian. Sepanjang ini, orang-orang yang ingin Arif ajak menjadi sahabat adalah laki-laki, sehingga ketika sebuah kabar mengenai dia akan memiliki teman perempuan datang, Arif kehabisan akal untuk menanganinya.


“Keberanina dan keyakinan. Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Diawali nafas yang ditarik kuat-kuat, Arif menancapkan kalimat itu dalam hati.


Arif kuat-kuat mengegakkan lehernya, mengangkat pandang. Matanya melotot karena saking gugupnya. Ternyat Sheiny pun melakukan hal yang sama.


Satu detik pandangan keduanya bertemu. Dua-duanya langsung membuang muka kembali.


“Kenalkan namaku Sheiny.” Katanya dengan nada lirih sedikit gemetaran. Arif mendengarnya sekaligus merasa sedikit kecewa karena kalah dalam mengenalkan nama terlebih dahulu.


Pelan-pelan Arif mengangakat wajahnya.


Beberapa detik Arif memperhatikan Sheiny yang masih tertunduk menghindar. Arif mungkin tahu alasan mengapa Haz menjadi seorang ahli obat dan alasan mengapa dirinya dilarang masuk kamar ini.


Sheiny, putri Haz memiliki tubuh yang lemah. Sejak dari lahir dia mengidap penyakit misterius yang berakibat pada lumpuhnya kemampuan motorik tubuh.


Sheiny hampir-hampir tidak bisa menggerakan tubuhnya, jadi untuk melakukan kegiatan sehari-hari dia perlu dibantu penuh oleh Haz atau nenek.


Kehidupan Sheiny pun hanya berputar di atas kasurnya. Itu teramat menyedihkan.


Wajah Sheiny juga terlihat sangat pucat. Beberapa saat memperhatikan wajah itu mengingatkannya pada ibunya, Hanah. Jujur saja, pemandangan itu nyaris membuat Arif menangis.


Arif cepat-cepat mengelap wajah dengan tangan. Tentunya Sheiny tidak ingin melihat teman barunya bersedih atas kondisinya.


“Nama saya Arif. Salam kenal.”Arif Akhirnya bisa mengucapkannya bahkan dengan nada mantap.


Sheiny lantas mengangkat wajahnya pelan-pelan.


Sheiny memiliki mata yang indah, bulat besar dan seakan bisa berkilau jika diperhatikan baik-baik. Rambutnya hitam legam dan dikucir ke belakang. Gerak-geriknya kaku dan bergetar, entah itu karena gugup atau karena penyakitnya.


Dua detik memperhatikan wajah lawan bicaranya, Sheiny sepertinya sedang melakukan sesuatu pada wajahnya.

__ADS_1


Dia memaksakan senyumnya di tengah kegugupan yang sedang melanda. Melihat itu pun Arif tidak mua kalah. Arif pun memberikan senyumnya.


Perkenalan sederhana itu berlanjut.


Dalam ekspetasi Haz, Arif yang sekarang mungkin akan mengajak putriny mengobrol atau apalah yang semacam. Mengakurkan diri.


Nyatanya tidak!


Prosesi perkenalannya habis diujung senyum keduanya.


Haz menghembus nafas. Setidaknya Arif dan putrinya sanggup untuk mengenalkan diri. Masalah akur tidak akur bisa sambil jalan.


@@@


Hubungan keduanya berjalan baik meski Arif masih saja gemetaran jika berniat menyapa Sheiny. Perlu latihan ekstra untuk bisa akur dengan perempuan. Percakapan dengan Sheiny terasa sangat berbeda daripada percapan dengan Kak Haz atau nenek.


Sheiny pun demikian. Setiap kali Arif berusaha menyapanya, dia langsung membuanga muka terlebih dahulu sebelum menjawab.


Posisinya benar-benar sama dengan Arif, tidak pernah keluar rumah dan nyaris tidak punya teman. Bagi Arif dan Sheiny, ini adalah kali pertama memiliki teman yang seumuran. Wajar jika keduanya kesulitan dalam mengakurkan diri.


“Bagaimana menurutmu masakan Kak Haz?” Ucap Arif kepadanya. Kali ini Arif datang sendirian dengan niat melatih lisannya terhadap Sheiny. Tetap saja masih kaku dan belum mengalir.


Sheiny memperbaiki posisi duduk, membenarkan rambutnya yang acak-acakan, kemudian menjawab pertanyaan Arif dengan sedikit gugup, “Lezat. Ayah sangat jago dalam memasak.”


Arif merasa buntu, dia tidak bisa melanjutkan topik ini, jadi harus mencari topik pembicaraan yang lain. Ayo berpikir, berpikir.


Arif punya rasa sensitif yang tinggi karenanya dia selalu berhati-hati dalam mengambil kata-kata. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan bilama lawan bicaranya risau karena kalimatnya yang tidak disengaja.


Akibatnya, Arif lebih sering diam dan hanya mengikuti alur pembicaraan.


“Oh ya, apa Sheiny sangat senang mengayam” Akhirnya Arif menemukan topik yang cocok.


“Suka sekali.” Jawabnya dengan nada bersemangat. Arif tidak lagi mendengar kegugupan dalam kalimat Sheiny. Pemilihan topik ini tepat sasaran.


“Aku sudah sejak kecil di ajari nenek mengayam. Menyenangkan bisa membuat bentuk bentuk indah apalagi sampai laku terjual. Sheiny sangat suka.” Lanjutnya.


“Apa Arif juga suka menganyam?” Kini gantian Sheiny yang bertanya. Itu cukup mengagetkan Arif karena selama ini hanya Arif yang selalu membuka pembicaraan. Percakapan tentang menganyam merubah total sikap Sheiny.


“Lumayan, tapi belum seterampil Sheiny. Aku kadang kesulitan dalam beberap hal.” Arif mengingat hari-hari yang lalu saat menganyam bersama nenek.


“Heh kalau kau mau, aku bisa mengajari.” Sheiny mengucapkannya dengan lebih bersemangat.


Dari matanya, Arif tahu Sheiny sangat menginginkan punya teman menganyam. Penyakitnya itu membatasi pergerakannya hanya sebatas lengan sehingga menganyamlah kegiatan yang paling sering Sheiny lakukan demi mengusir bosan.


Memikirkan hal itu membuat Arif merasa kehidupannya jauh lebih baik. Meski dihujat dan diinjak-injak, Arif tetap mampu berjalan dan melakukan banyak hal.


Berbeda dengan Sheiny.


Oleh karena itu Arif tidak memiliki alasan untuk menolak. Arif memberikan senyum dan berkata, “Tolong ajari saya guru.”

__ADS_1


__ADS_2