
Semilir sore berhembus di atas bahu Arif. Dalam kamarnya yang luas ini, dirinya sedang disibukkan dengan suatu hal. Sebuah benda terlihat dalam genggamannya.
Arif duduk bersilah sambil mengamati Keping Harapan buatan ibunya. Benda dengan bentuk seperti pecahan kristal berwarna hijau. Tembus pandang terhadap cahaya dan sangat keras.
Sejak memperoleh dari ibunya Keping Harapan selalu mengundang penasaran bagi Arif. Mulai dari bagaimana cara ibunya membuatnya sampai bagaimana bisa benda seperti ini bisa menghubungkan orang hidup dan mati.
Kalau begitu seharusnya Keping Harapan memiliki kekuatan magis, tapi kenapa sejauh ini tidak pernah terjadi apa-apa?
Arif sudah melakukan banyak hal terhadap benda tersebut. Diremas, ditempelkan pada dada, di pasang di telinga, menepuk-nepuk Keping Harapan yang malah membuat telapak tangan Arif terluka, dan sebagainya.
Tidak ada yang terjadi.
Haz pun tidak mau memberi tahu apa sejatinya Keping Harapan. “Kupikir akan bagus jika kau menguak hal itu sendiri.” Jawabnya, jawaban yang menjengkelkan.
Arif beralih pada posisi tiduran, dia masih memperhatikan benda hijau tersebut. Memutar-mutar untuk melihat berbagai sisi benda itu dalam jemarinya.
Sebenarnya apa benda apa ini?
“Boleh aku merasakan kekuatan magis itu?” Batin Arif. Setiap kali menyentuh Keping Harapan, Arif yakin itu bukanlah benda biasa.
“Ibu.” Mata Arif terbelalak dengan tubuh yang mematung.
Baru saja, dalam sepersekian detik yang sangat cepat Arif melihat benang-benang memori milik seseorang. Seorang anak perempuan berambut putih.
Mungkinkah Hanah? Arif tidak bisa memastikannya, wajahnya tidak terlihat jelas.
Arif segera bangun dari posisinya. Memori-memori yang baru saja terbuka membuat sekujur tubuhnya gematar, aneh. Nafasnya juga menjadi tidak beraturan dan keringatnya mulai terlihat.
Sensasinya seperti tubuh di tarik paksa menuju lubang yang sangat kecil. Benar-benar tidak nyaman, perut taraduka-aduk dan membuat ingin muntah.
__ADS_1
Arif bersauha menahannya.
Benaknya masih memikirkan peristiwa itu. Kepalanya sempat merekam beberapa gambar disana. Dengan latar kehitaman seorang anak perempuan berambut putih bermain bola sendirian. Tidak ada satu pun selain dirinya dan bola tersebut. Bagi Arif sendiri, gambaran itu terlihat menyedihkan.
“Arif.” Suara panggilan menepis lamuannya. Arif menoleh ke sumber suara. “Iya.”
“Kemari, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.” Ucap Haz dari luar rumah.
Arif beranjak dan meletakan Keping Harapan di tempat yang aman, dalam sebuah kotak yang dibuat sendiri.
Di halaman belakang, terlihat Haz dan nenek disana. Nenek nampak tersenyum-senyum memandangi kupu-kupu yang mampir ke kebun bunga miliknya, sementar Haz berdiri sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. Dia menunggu Arif.
“Ikuti aku.” Kata Haz, seperti biasa dia tidak pernah menjelaskan terlebih dahulu kemana akan pergi. Arif mengikutinya dari belakang.
“Jangan pulang terlalu malam ya.” Ucap nenek.
Keduanya berjalan menuju tempat yang tidak begitu jauh dari rumah. Tempat sedikit lapang, setara setengah lapangan bola dengan pagar pohon-pohon tinggi yang mengelilingi.
Hal unik lainya adalah keberadaan pohon berdaun lebat di tengah tempat tersebut. Pohon itu berbeda dari pohon-pohon disekitarnya, tingginya hanya dua kali tinggi Arif dengan batang dan dahan yang melengkung secara tidak wajar.
“Tempat ini disebut Altar Pertemuan.” Haz mulai menjelaskan. Arif tetap mendengarkan meski tidak paham kemana alur percakapan ini.
“Dulu di tempat ini sangat luas dan orang-orang dari berbagai penjuru bertemu untuk mempersembahkan pertujunkan seni akbar.” Arif semakin kebingungan ada kosakata yang tidak dia pahami dalam kalimat Haz.
“Pertunjukan seni apa yangdilakukan disini.”
“Bermacam kesenian. Semua itu dilakukan selama tiga hari tiga malam. Kakek-nenekku juga ikut andil dalam pertunjukkan tersebut.” Arif menyimak baik-baik, terlepas dari ketidak pahamannya Arif merasa apa yang di dengarnya adalah hal hebat.
“Pertunjukkan apa yang diberikan kakek-nenek Kak Haz?”
__ADS_1
“Kesenian Die Hyang.” Jawab Haz. Kebingungan bertumpuk-tumpuk dalam kepala Arif.
“Die Hyang adalah empat puluh satu tarian yang di kumpulkan menjadi satu. Tari-tarian itu ditujukan disini sejak ratusan tahun yang lalu.” Arif be-wah kagum dengan penjelasan Haz.
“Demi lestarinya Die Hyang, keluargaku menurunkan keempat puluh satu tarian tersebut ke generasi berikutnya, kemudan terus berlanjut sampai sekarang.” Arif merasa tahu kemana percakapan ini akan bermuara.
“Bagi keluargaku, Die Hyang adalah kesenian suci dan keramat. Siapapun yang sedang menarikannya tidak boleh diganggu dan akan mendapat berbagai kemuliaan. Selain itu sang penari juga bukanlah orang sembarang, sang penari adalah orang-orang yang sudah dinilai sanggup untuk mengangkat tanggung jawab Die Hyang dan Arif adalah salah satu dari orang-orang yang terpilih tersebut.”
“Aku.” Arif memastikan tidak salah dengar.
“Ya Arif. Jangan kira dua bulan disini kau tidak pernah diperhatikan. Aku selalu memperhatikanmu. Selain itu olahraga yang selalu kuperintah untuk dilakukan setiap pagi untuk membiasakan tubuhmu jika suatu saat kau menarikan Die Hyang. Dan kau lulus dalam keduanya Arif.”
“Tapi ini hanyalah keegoisansku.” Arif tidak paham dengan kalimat Haz sementar wajah Haz sedikit tertunduk. Dia seperti sedang merenungi sesuatu.
“Die Hyang seharusnya kuwariskan pada Sheiny namun jelas itu tidak mungkin. Karena itu aku mencari penerus dan itu jatuh padamu Arif. Kau berhak memilih Arif. Jangan memilih karena balas budi, aku tidak menyukai hal itu. Pilihlah sesuai kata hatimu.” Ucap Haz panjang lebar. Jarang sekali Haz membicarakan sesuatu panjang lebar kecuali itu adalah sesuatu yang penting.
“Tolong beri aku waktu memutuskanna.”
“Silahkan. Sambil memutuskan aku akan menunjukkan tarian pertama kepadamu.”
Haz maju ke dekat pohon berdaun lebat. Arif duduk di tempat.
“Die Hyang, tarian pertamanya bernama Keajaiban Seribu Tahun.” Ucap Haz sambil memasang posisi bersiap. Ari memperhatikan baik-baik.
Haz mengepalkan kedua jemari, meletekannya di samping pinggang. Kuda-kuda kuat kemudian dia buat. Tarian ini nampaknya seperti seni bela diri.
Haz lalu menyeret telapak kaki kanannya di atas tanah membuat daun-daun beterbangan. Tangan kanannya lantas terulur, melepaskan pukulan awal. Dilanjutkan dengan tangan kiri yang terayun-ayun di udara. Gerakan itu dilakukan dengan tempo yang lambat. Tenang.
Gerakan demi gerakan berlanjut. Semakin lama semakin komplek dan cepat. Arif berdecak kagum. Luar biasa.
__ADS_1
Bersama dengan berakhirnya tarian itu, matahari pun bersiap menuju peraduannya. Hari berakhir, berganti dengan hari yang baru dan Arif, dia baru saja memilih takdir besar dalam hidupnya.
Besok-besok, Arif akan sadar bahwa Die Hyang adalah penentu nasib umat manusia.