IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
63 Pasangan Baru


__ADS_3

Kabar bahagia itu tersebar luas. Melalui mulut ke mulut, seluruh penduduk dari Desa Rakatta pun mendatangi Arif dan Sheiny untuk memberikan selamat kepada keduanya. Lalu ada sahabat-sahabatnya yang jauh-jauh datang demi memberikan selamat dan bercakap banyak hal.


Hari itul Arif melihat dunia dengan pandangan cerah. Seakan fajar emas terbit di depannya, fajar paling indah.


Waktu-waktu setelah itu Arif manfaatkan sebaik mungkin. Sheiny dan Kak Haz memberikannya kekuatan untuk terus melanjutkan hidup, maka demi membalasnya Arif melakukan segalanya dengan lebih baik. Lebih bersemangat.


Sinar surya yang belum begitu terang, udara dingin yang senantiasa bertiup. Itu hal biasa yang Arif jalani setiap pagi.


Sebagaimana hari-hari yang lalu, Arif mengerjakan rutinitasnya setiap pagi. Mengumpulkan baju kotor, pergi ke sungai untuk mencuci baju, dan menjemurnya, tapi kali ini ada yang sedikit berbeda.


“Sini biar Sheiny bantu.” Ucap perempuan itu sambil dihadapan Arif.


Arif yang belum terbiasa dengan serangan dadakan seperti ini, membuat wajahnya merona merah. Sheiny sekarang memang sudah menjadi pasangan sahnya, tapi Arif belum terbiasa jika Sheiny berusaha untuk membantunya.


Arif menarik nafas pendek, menenangkan diri.


“Terimakasih.” Balasnya dengan mengalihkan wajah yang memerah. Sheiny mendekat dan tersenyumm lebar padanya.


Keduanya lalu mulai menaikkan pakaian basah ke atas jemuran. Beberapaka kain yang masih terlalu basah lalu di peras sebelum dinaikkan ke jemuran. Kedua pasangan itu nampak serasi melakukannya, diselingi percakapan ringan, pekerjaan itu selesai lebih cepat.


Sheiny lantas berdecak pinggang sambil membusungkan dada. Dia nampak senang sekali membantu. Akhir-akhir ini kondisinya semakin membaik, hanya saja Sheiny belum bisa melakukan pekerjaan yang terlalu berat.


“Kak Arif, apakah setelah ini kakak mau ikut Bapak ke klinik?” Tanya Sheiny bernada sedikit kecewa.


Arif merasa menerima pukulan keras di dada. Sejak dua hari yang lalu, Sheiny mulai menambahkan kata kakak atau kak sebelum memanggil namanya. Anehnya, panggilan itu membuat Arif serasa lemas dan kehilangan sebagian tenaga.


Begitu pun kali ini. Arif tahu maksud Sheiny untuk mengajaknya mengisi masa-masa awal sebagai pasangan baru. Namun, di lain sisi Arif merasa perlu untuk menjalankan kewajibannya.


Jadi apa yang harus di pilih?


“Hari ini kau bersama Sheiny saja. Biar aku yang urus. Kalian pasangan baru, seharusnya kalian melakukan hal-hal indah bersama.” Suara dari balik pintu belakang rumah. Kak Haz muncul dengan segala kesiapan menuju klinik.


Tentunya Arif tidak bisa menolak. Sebagian hati pun setuju untuk memenuhi masa-masa awal ini bersama Sheiny, belahan jiwanya.


Arif lantas menatap Sheiny, memeriksa bagaimana pendapatnya terkait ucapan bapaknya. Perempuan itu malah menerjang dan memeluk Arif erat-erat. “Yay, hari ini Sheiny bersama Kak Arif di rumah.”


“Heh........” Arif tidak bisa bergerak, tubuhnya serasa mendidih. Tangannya terangkat dengan wajah yang sangat memerah. Mulut terbuka, tidak tahu harus bereaksi apa.


Ketika Sheiny melepaskannya, Arif seketika hilang keseimbangan dan tenaga, nyaris saja jatuh ke tanah.


Kak Haz dan Sheiny tertawa melihatnya.


@@@


Di dalam ruang yang tidak begitu luas. Setelah melakukan rutinitas pagi, pasangan itu duduk berhadapan, berbincang mengenai kegiatan apa saja yang akan di lalui bersama.


Keduanya nampak ceria, saling melempar senyum bahagia. Masa-masa yang diidam-idamkan banyak orang.


Namun, tidak!! Keduanya malahan saling menundukkan kepala, menghadap lantai tanpa ada satu pun kalimat yang terucap.


Suasana yang lenggang dan canggung.

__ADS_1


Sheiny lebih banyak diam dan menunduk wajah, tidak seperti pagi hari tadi. Mungkin dia sama dengan Arif, belum bisa menghadapi kondisi ini. Tanpa kehadiran Kak Haz, atmosfer ini pun tidak terhindarkan.


“Bagaimana kalau_”


Kedunya mengangkat wajah dan berucap bersamaan.


Dalam dua detik sorot keduanya bertemu. Tindakan selanjutnya, memalingkan wajah yang memerah kuat-kuat.


“Silahkan duluan Kak Arif.” Kata Sheiny dengan nada yang bergetar dan terbata-bata. Wajahnya semerah kepiting rebus.


“Tidak-tidak, Sheiny duluan.” Balas Arif dengan tubuh yang gemetar hebat.


Keheningan itu pun berlanjut untuk waktu yang lama.


“Bagaiaman kalau Sheiny buat sarapan?” Tanya Sheiny terbata-bata.


“Tapi kan kita baru sarapan tadi.” Jawab Arif, juga dengan suara terbata-bata.


Sheiny yang semula ingin beranjak jadi terduduk kembali. Badannya langsung mematung, malu luar biasa. Atmosfer tegang di sini membuatnya sampai lupa telah sarapan bersama Kak Haz.


“Bagaimana kalau jalan-jalan?” Tawar Arif memecah keheningan. Pandangannya masih menatap lantai, jemarinya terkepal, berusaha melawan gugup yang menggebu-gebu.


Sheinya mengangguk untuk memberikan respon iya. Namun, karena keduanya saling menunduk, Arif tidak tahu kalau Sheiny ingin jalan-jalan bersamanya.


Jalan pikir keduanya tidak bisa dipahami.


@@@


Sontak Sheiny terkejut dan hampir saja membuat panci berisi bubur melayang dari tempatnya.


Arif tersenyum puas, berhasil membalas tindakan Sheiny tadi pagi.


Perlu keberanian super untuk melakukannya, bahkan Arif sudah merencanakan kalimatnya sejak empat hari yang lalu,tapi karena kelemahannya, kalimat itu pun tidak pernah tersampaikan. Syukur baginya bisa tersampaikan hari ini dan Arif pun menerima efek baliknya.


Sedetik setelah mengucapkannya, wajahnya kembali memerah dan tubuh melemas. Arif kembali ke meja makan dengan langkah tanpa tenaga.


“Kenapa aku merasa bersalah?” Batin Arif. Benaknnya menggambarkan kejadian ketika panci berisi makan siang keduanya yang hampir saja terbang karena kejahilannya.


“Ini.” Tidak berselang lama Sheiny menyodorkan bubur hangat kepada suaminya. Nada bicaranya tercampur kesal.


Arif menatap makan siangnya dengan heran.


Satu karena porsinya kebanyakan, dua karena hanya ada satu piring. Tidak ada makan siang untuk Sheiny sendiri.


“Loh makananmu?” Tanya Arif keheranan.


Sheiny lantas mengambil posisi duduk di samping Arif. Mengambil sendok kayu dan menatap Arif lekat-lekat.


“Normal bukan untuk suami-istri makan satu piring.” Balas Sheiny tersenyum kecut. Dia mendekatkan posisi duduknya terhadap Arif.


Serasa sebuah ledakan besar terjadi di dalam dadanya. Tubuh Arif mematung, membeku beberapa lama. Sheiny berhasil meluncurkan serangan berikutnya. Membuat lawan bicarannya itu tidak bisa berkutik beberapa lama.

__ADS_1


Sheiny pun sekuat tenaga menahan malunya. Setelah mengatakan kalimat itu, sebagian hatinya merasa menyesal dan ingin menariknya.


Hasilnya dia tetap menahana rasa malu yang timbul dari tindakannya.


Pasangan baru itu makan bersama dalam satu piring dengan canggung.


@@@


Hari berikutnya, Kak Haz mengatakan bahwa dia ada janji dengan salah satu konsumennya, karena itu dia akan pergi jauh.


Tentunya berita itu mengundang kecemasan baik untuk Arif maupun Sheiny. Entah bagaimana rumah tangga keduanya kalau Kak Haz tidak ada, kehidupan yang sangat kaku layaknya batu.


“Arif ikut.” Ucap Arif mengeraskan sedikit suaranya.


“Terus Sheiny bagaimana?” Tanya Kak Haz.


Pandangan Arif lalu mengarah kepada Sheiny yang menatap kesal kearahnya. Bisa-bisanya seorang suami meninggalkan istrinya sendirian di rumah! Begitu bentakkan yang Arif terima dari komunikasi pandang antara keduanya.


Arif mengurungkan niat dan terhanyut dan rasa bersalahnya sendiri.


Tindakan Arif itu di dasarkan oleh keinginan untuk menjauhi Sheiny untuk sementara. Ya, memang terdengar aneh untuk pasangan baru. Arif merasa perlu melakukan itu untuk membiasakan diri. Logika yang aneh sekali.


Dia merasa sebagai seorang imam baru, masih perlu untuk banyak belajar. Arif sering khawatir kalau-kalau ada kalimatnya yang tidak sengaja melukai hati Sheiny. Ditambah lagi Arif bukanlah lelaki yang terbiasa dengan wanita.


Sejauh ini wanita seumuran yang Arif kenal hanyalah Sheiny. Dia tidak punya pengalaman apapun terhadap wanita, baik itu persahabatan atau hubungan yang lebih khusus. Perpaduan itu melahirkan sosok Arif yang sangat payah terhadap kaum hawa, terkhusus Sheiny.


Lisan membeku, suhu tubuh meningkat. Grogi luar biasa, gugup yang tak tertahan. Keempatnya selalu menghantui Arif setiap kali bercakap dengan Sheiny.


Arif merasa buruk sekali. Maka demi menanggulanginya, dia berusaha untuk memberikan sedikit jarak untuk melatih diri. Meski pun itu tidak akan membantu apapun dan Arif tidak pernah menyadari hal itu.


Suasan lenggang beberapa saat, ketiganya nampak memikirkan solusi dari masalah yang Arif timbulkan.


Arif jadi teringat sesuatu. Dia ingat permintaan Sheiny kemarin yang ingin jalan-jalan. “Bagaimana kalau mengajak Sheiny saja?” Batinnya.


“Sheiny pasti senang bisa jalan-jalan.” Gumam Arif, tersenyum simpul.


“Kak Haz, bagaimana kalau mengajak Sheiny?” Ungkap Arif tiba-tiba.


Kak Haz lalu menatap Arif dengan tatapan heran. “Caranya? Putriku tidak bisa terlalu lelah. Perjalanan ini sangat jauh. Seperti yang kukatana sebelumnya, paling tidak kita menginap dua malam disana.”


“Aku akan menggendong Sheiny.” Jawab Arif angkat diri dengan tatapan mantap.


Sheiny merasa ada yang meletup di wajahnya.


“HAHAHHA. Bagus sekali saranmu Arif.” Kak Haz pun tertawa lebar mendengarnya. Belum pernah beliau tertawa selebar itu.


“Eh...” Gumam Arif. Lelaki itu baru sadar salah bicara.


Arif langsung membuang muka dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya sangat memerah dan mendidih.


Arif dan Sheiny, pasangan suami-istri super nggak jelas.

__ADS_1


__ADS_2