IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
69 Tabir yang Terbuka


__ADS_3

“Tunggu dulu, bagaimana tuan bisa menyimpulkan demikian_”


Lelaki berambut merah bata itu menangkat tangan, membuat kalimat Pala terpotong. “Saya tidak tertarik dengan basa-basi atau kebohongan. Ini adalah perintah langsung dari raja, tangkap Arif si manusia rambut putih.”


Arif bisa merasakan getaran kuat yang mulai merambati dirinya layaknya tanama sulur.


“Arif lari.” Bisik Pala. Arif mengatupkan rahang, bila itu adalah keinginan sahabatnya, maka akan dia lakukan.


Arif langsung berbalik dan lari secepat mungkin. Pala menjadikan tubuhnya dinding sehingga lelaki berambut merah bata itu tidak bisa mengejar. Dia berikan tatapan mengancam, “Pergilah!” Itulah teriakan yang disampaikan lewata sorot matanya.


“Eh...” Mendadak pemandangan di depan Pala menjadi miring. Tubuhnya lantas terbanting keras di tanah.


Lelaki berambut merah bata itu berlari cepat mengejara Arif. Tubuhnya yang telah di tempa dengan latihan militer rutin membuat fisiknya melebihi rata-rata manusia.


Dalam sekejap, tangannya berhasil mencengkram pergelangan tangan Arif. Menariknya dengan kasar lalu melakukan gerakan pengunci untuk melumpuhkan target.


Tubuh Arif terjatuh ke tanah. Kepala di tekan sampai pipinya menyatu dengan tanah yang kotor. “Cukupkan akting ini Arif.” Ancam lelaki berambut merah bata tersebut.


Kekuatanya sangat besar, teknik menguncinya membuat Arif tidak mampu berkutik. Melawan sekuat apapun gagal karena perbedaan kekuatan yang sangat jauh.


“Menyerahlan. Ini peringatan.”


Arif tidak menjawab, dia hanya terus meronta dan melawan.


Dua anak buahnya pun sampai disana tidak berselang lama, mengamankan Arif dan mengikatnya dengan tali.


Para penduduk yang melihatnya tidak berani campur tangan. Keberanian mereka menciut ketika salah satu prajurit mengancam dengan bilah pedang jika berani mencampuri urusan ini.


“Bawa dia.” Perintah laki-laki berambut merah bata.


“Siap jendral.” Kedua anak buahnya memberi hormat dan segera membawa Arif yang tetap melawan. Mereka berikan beberapa pukulan di wajah dan punggung Arif agar laki-laki itu berhenti melawan.


Seketika wajah lebam dan memar karena menerima pukulan dari sarung tangan yang terbuat campuran besi.


Para penduduk menatap miris peristiwa itu.


Salah satu tetangga mereka di pukul kejam sementara mereka hanya bisa diam memperhatikan. Sedih sekaligus kecewa menyatu dalam dada.


Namun, apalagi yang bisa di lakukan?


Pedang mereka yang tersarung bisa kapan saja mencabut nyawa kalau ikut campur.


Menyedihkan.


Sore yang seharusnya tenang dan indah menjadi mencekam karena peritiwa itu. “Berhenti.” Pala merentangkan tangannya, menghadang jalan ketiga pendatang tanpa tata krama itu.


Di wajah dan lengannya terdapat bekas pukulan. Sejauh ini hanya dirinya yang memberanikan diri untuk menyelamatkan Arif.


Si kembar Yan dan Yun memperhatikan ayah mereka dengan miris, ada air mata yang keluar di sudut mata keduanya ketika ayah mereka berjuang mati-mati demi sahabatnya.


“Tolong minggir tuan. Ini adalah perintah raja, kami tidak bisa mengingkarinya.” Salah satu perajurit kembali mengingatkan.


“Raja? Jangan bercanda kalian. Selama hidupku aku tidak pernah mendengar ada raja yang mengurus wilayah ini. Raja kalian hanyalah khayalan. Palsu.” Amarah yang meletup-letup. Serangan kejutan menjadi tindakan Pala selanjutnya.


BUG


Pukulan itu tepat mengenai telapak tangan. Prajurit di hadapannya dengan mudah menahannya. Pala menggeram, dengan marah yang bertambah-tambah dia luncurkan pukulan berikutnya.


BUG


Pala menahan sakit di perutnya. Pukulan musuhnya lebih dahulu mengenai, membuatnya jatuh bertekuk lutut dengan memeluk perut. Rasa sakit sekali, air mata hampir saja keluar.


“Sudahi perjuangmu.” Gertak prajurit tersebut kepada Pala yang berada di depan kakinya.


Arif membuka mata lebar-lebar, sahabatnya kembali berdiri untuk membawanya pulang. Pemandangan yang menyedihkan, di detik-detik berikutnya Arfi melihat bagiaman prajurit itu memukuli Pala secara beruntun karena tetap melawan.

__ADS_1


Tubuhnya melebam dan membiru, darah yang mengalir di sudut bibir, tubuhnya melemah dan penuh akan kesakitan, tapi dia tetap memaksakan berdiri demi sahabatnya.


“Bagaimana ini jendral.”


“Musuh harus dihabisi sampai akar-akarnya.” Lelaki berambut merah batu bertukar posisi dengan lawan bicaranya.


Tangan kanannya menggenggam hulu pedang dan menariknya, membuat seluruh penduduk seketika panik dan berlarian tanpa arah.


Bilah pedang itu memantul cahaya matahari, kejatamannya tidak diragukan lagi.


Laki-laki merah berambut bata itu menunjuk batang leher Pala dengan mata pedang. “Ini adalah tugas kami, kami harus memenuhinya apapun yang terjadi. Jika ada yang menghalangi kami tidak akan segan-segan menggunakan cara menyakitkan.” Ancamnya.


“Tidak hanya kalian_” Pala menjawab dengan suara lirih sambil terbatuk kesakitan. “Aku pun punya tugas untuk melindungi sahabatku.”


“Oh persahabatan.” Laki-laki berambut merah bata itu menarik bilah pedangnya ke samping.


“Ini peringatan terakhir.”


Dalam kondisi tubuh seperti ini Pala tidak mungkin menghindari tebasan ini kalau tetap melawan, jadi apa yang akan kau putuskan, Pala?


“Keputusan bodoh.” Sang jendral mengayunkan pedangnya, mata pedang itu meluncur menuju batang leher targetnya.


Arif dan si kembar menutup mata, tidak tega melihatnya.


Dipenghujung gerakan menebas itu, Sang Jendral menyadari bilah pedangnya patah. Matanya lantas beralih pada lelaki dengan bekas luka mengerikan di wajah.


“Memotong bilah pedang dengan tangan kosong, kau bukan manusia.” Komentar Sang Jendral kepada Bapak Wira.


“Memenggal seseorang di depan umum tanpa alasan, kau juga bukan manusia.”


Sorot mata kedua petarung bertemu, sorot mata yang tidak mengenakan.


@@@


“Bicara begitu di depan orang yang lebih tua, kau tidak punya sopan-santung prajurit.” Komentar Bapak Wira dengan meruncingkan alis.


“Mari selesaikan secara pria.” Ancam Bapak Wira. Jemarinya yang diremas mengeluarkan bunyi.


“Setuju.” Balas Sang Jendral. Dia lalu melempar pedangnya jauh-jauh dan melepas baju besinya.


Kedua belah pihak lalu menyiapkan kuda-kuda, memantau sekitar, menilai situasi, dan berusaha membaca pikiran lawannya.


Para penduduk menyaksikan peristiwa itu dengan menahan nafas.


Tap tap tap


Suara langkah cepat dari kedua pihak. Kedua-duanya langsung meluncurkan pukulan pertama, membuat kedua kepalan beradu kuat.


Pukulan pertama saling menjauh, di susul pukulan kedua yang kemudian saling bertemu kembali. Terus begitu, pukulan demi pukulan yang dia lepaskan terus beradu hingg memunculkan bunyi keras.


Bapak Wira menunduk tubuh, berhasil mengelak pukulan ke dua belasan musuhnya. Dia maju dengan langka rendah dan memberikan pukulan vertikal yang nyaris saja mengenai dagu Sang Jendral.


Bapak Wira melakukan lompatan untuk mendekati lawannya. Kaki kanannya lantas terangkat dan memberikan tendangan diagonal setelah menghindari pukulan lurus Sang Jendral.


Sang Jendral sempat terdorong oleh tendangan itu, tapi dia berhasil mengamankan kepalannya dengan tameng lengan kiri.


“Tendangan yang sangat bertenaga.” Batinnya. Dia bisa merasakan betapa besar energi yang mengalir dalam tendangan tersebut. Cukup untuk meninggalkan bekas di batang kayu tebal.


Keduanya lantas menlanjutkannya. Segenap teknik bertarung di tunjukkan. Semakin lincah dan semakin akurat. Kedua belah pihak menerima pukulan dan tendangan dengan tubuh mereka.


Orang-orang menatap takjub termasuk Arif dan Pala, bahkan kedua prajurit tidak bisa berkata-kata ketika menyaksikan pertarungan tersebut. Level mereka sangat berbeda.


Bapak Wira akhirnya melihat celah itu.


Bapak Wira menggeser tubuhnya satu langkah untuk mengelak pukulan lawannya. Kepala itu melaju tepat di depannya. Bapak Wira dengan sigap menangkap lengan itu. Tangannya yang lain dengan cepat menyentuh tubuh lawannya.

__ADS_1


Dalam detik yang sangat cepat, dia lakukan teknik membanting kepada Sang Jendral. Tubuh yang membentur tanah menghasilkan bunyi keras.


Kedua anak buahnya menatap tidak percaya, mematung, dan membuat kewaspadaan melemah.


Bapak Wira langsung berlari ke sisi mereka dan menjatuhkan keduanya hanya dengan satu pukulan keras tepat di wajah.


Arif yang masih terikat langsung beliau angkat dan bawa pergi.


@@@


“Kita akan aman disini.” Ucap Bapak Wira kepada Arif yang tidak lagi terikat.


Keduanya kini berada di salah satu perkebunan penduduk. Tertutup oleh pohon-pohon, semak lebat, dan jauh dari jangkauan para kesatria itu, sangat bagus untuk tempat bersembunyian.


“Terimakasih banyak guru.” Balas Arif.


“Lain kali latihanlah lebih rajin. Kau merepotkan.” Balas Bapak Wira asal. Arif menunduk penuh rasa bersalah. Wajahnya tetap murung.


“Ada apa dengan wajahmu.”


“S-saya mencemaskan penduduk.” Jawabnya dengan kepala yang menghadap tanah.


“Mencemaskan penduduk? Bisa kau jelaskan.” Pinta Bapak Wira. Dia membenarkan posisi duduk dihadapan Arif.


“S-saya cemas kalau mereka malahan mengancam penduduk demi_”


Bapak Wira langsung mengangkat kerah baju Arif tinggi-tinggi, mendekatkan wajahnya pada mimik penuh amarah.


“Jadi kau ingin menyerahkan diri dan membuang pengorbananku dan Pala. Kau tidak lagi peduli dengan Sheiny ataupun dengan Haz, begitu?” Pukulan keras segera mendarat di pipi Arif.


Arif berusaha menahan sakit dan bangkit kembali.


“Katakan lagi jika kau berani.” Bapak Wira menarik kerah Arif lagi, mendekatkan wajah keduanya.


“S-saya akan menyerahkan diri.” Jawab Arif sedikit ragu seraya menahan sakit di tubuhnya.


BUG


Pukulan keras mendarat di wajah Arif hingga membuatnya terguling.


Bapak Wira lantas mengangkatnya dengan cara mencenkram lehar Arif. Arif kesulitan bernafas dan berusaha melepas cengkraman menyakitkan tersebut.


“Coba katakan sekali lagi agar aku punya alasan untuk mematahkan batang lehermu.” Ancam Bapak Wira. Sorot matanya tidak main-main. Sedari dulu itulah sifat alami Bapak Wira.


Dia pun menguatakn cengkramannya, membuat Arif semakin kesulitan bernafas. Kedua tangannya terus berusaha melepas diri dari cekikan tersebut.


Sulit sekali.


“Saya tetap akan menyerahkan diri.” Teriak Arif penuh yakin.


Tubuhnya lantas terkulai jatuh dengan leher yang masih utuh. Arif terbatuk beberapa kali sambil memegangi leheranya yang memerah karena bekas cekikan Bapak Wira.


“Kalau memang seteguh itu, pergilah. Jangan hadapkan wajahmu padaku.” Bapak Wira membuang muka dan berlalu pergi.


Arif masih sempat menatap punggungnya yang gagah. “Terimakasih guru atas semua pelajarannya.” Gumam Arif.


Arif kemudian memetik beberapa helai daun, menghancurkannya dan mencampurnya dengan bahan obat yang selalu dia bawa di saku.


Hari semakin sore, cahaya jingga menembus celah-celah pohon, dan Arif terus fokus meracik.


Setelah racikan berhasil, Arif menggosok-gosokkan di rambutnya yang hitam, meratakan hingga semua helai rambutnya terkena racikan tersebut.


Arif lalu pergi ke tepian suangai untutk membasuh rambutnya. Empat kali basuh, Arif berhenti untuk melihat pantulan dirinya di atas permukaan sungai tersebut.


Arif si manusia rambut putih.

__ADS_1


Arif menelan ludah, inilah keputusannya.


Tidak boleh lari.


__ADS_2