IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
68 Campur Tangan


__ADS_3

Hari itu Desa Rakatta kedatangan tamu-tamu.


Nampak tiga sosok yang mengenakan busana yang sangat tidak biasa. Seragam mereka bewarna biru dengan garis-garis putih. Lengan dan kaki mereka tertutup oleh zirah besi. Kepala mereka juga tertutup helm besi berat, hanya satu dari mereka yang tidak mengenakan helm tersebut.


Dia yang berambut merah bata dengan tatapan mata serius. Orang-orang menatap mereka keheranannya, khusus lelaki di tengah tersebut. Dibanding dua lainnya, penampilanya cukup berbeda dengan jubah yang biru lebar yang ia kenakan.


Dua anak buahnya berjalan seraya awas kanan dan kiri. Helm besi yang keduanya kenakan membuat wajah keduanya tidak terlihat jelas. Ketiganya membawa pedang yang tersarungkan di pinggang.


Entah apa tujuan benda tajam itu di bawa masuk ke dalam Desa Rakatta, yang pasti hal itu langsung menjadi buah bibir seluruh penduduk.


Ketiganya berjalan santai, membelah jalanan desa dan membuat orang-orang menyingkir karena penampilannya. Anak-anak yang bermain bola di jalanan pun ikut menyingkir, tidak mau dekat-dekat dengan mereka.


Suasana mendadak tegang ketika si lelaki berambut merah bata menoleh kepada penduduk. “Jadi ini Desa Rakatta.” Ucapnya menghadap salah satu anak buahnya.


“Benar Jendral. Berdasarkan peta yang kita dapat, seharusnya inilah desanya. ” Jawab salah satu anak buahnya.


“Apakah kita akan langsung mencarinya Jendral?” Tanya prajurit yang lain.


Lelaki yang mereka panggik jendral mengangkat tangan kanan, memberikan isyarat tidak. “Kita akan berkeliling desa dahulu, memetakan daerah pencarian sekaligus mengumpulkan informasi. Barulah setelah itu kita tangkap manusi rambut putih tersebut.” Ucapnya gagah kemudian melanjutkan langkah.


“Mulai dari sini kita berpencar dan usahakan untuk tidak membuat kepanikan yang tidak-tidak.” Perintah Jendral.


“Dimengerti.” Ucap kedua bawahannya.


Tiga laki-laki berzirah itu berpencar ke tiga arah berbeda, mengingat-ingat setiap sudut dan posisi bangunan sambil mengumpul informasi sebanyak-banyaknya terkait misi ini.


@@@


“Wah teh ini luar biasa.” Komentar Pala gembira. Dia menghabiskan segelas teh herbal itu dalam dua kali tegukan.


“Pelan-pelan sayang, jaga sopan santun.” Ucap perempuan berambut pirang di sampingnya. Dia adalah istri Pala, namanya Silvia. Perempuan itu nampak sibuk mengurus keusilan anak-anaknya.


Pala punya lima putra. Dua perempuan dan tiga laki-laki. Tidak terbayang betapa ramai dan sibuknya dirinya sebagai orang tua.


“Tidak apa-apa kami tidak pernah mempermasalahkannya.” Seru Arif kepada Silvia. Dia mencoba memasang senyum kepada tamunya itu.


“Dengar Silvi, tidak apa-apa.” Jawab Pala, Silvi pun memukul pundak suaminya itu.


“Jangan bercandalah. Kita ini tamu sekarang.” Balas Silvi mengeraskan suaranya.


“Boleh minta lagi.” Pala menghadap Arif sambil menyodorkan gelasnya yang sudah kosong. Arif pun mengambil gelas tersebut dan mengisinya kembali dengan teh herbal.


“Aw.”


Silvi memukul suaminya lebih keras karena tidak memperhatikannya. Silvi lantas mendengus kesal sementara Pala memasang wajah tanpa dosa.


“Kalian akrab sekali ya.” Komentar Sheiny.


“Begitukah, kupikir aku ini terlalu sering marah.” Balas Silvi sambil menggoyang-goyangkan putra bungsunya dalam sapihan.


Si kembar Yan dan Yun sekarang berada di pundak Pala, mereka selalu suka di tempat tinggi. Sementara dua putrinya duduk sopan disamping ibunya.


Sifat mereka sangat menggambarkan bagaimana sikap Silvi dan Pala.

__ADS_1


“Benar, istriku memang sering sekali marah-marah.” Ledek Pala. Pukulan ketiga pun dilepaskan, kali ini lebih keras.


“Kau, jaga ucapanmu.” Ancam Silvi sambil menunjuk hidung suaminya


Yan dan Yun pun turun, takut mendapat tatapan tajam dari ibu mereka. Kedunya langsung menurut untuk duduk sopan.


“Begini kan lebih baik.”


“Anda luar biasa dalam mendisiplinkan. Saya rasa perlu belajar banyak dari anda.” Sheiny berkomentar senang.


“Itu harus, peran istri adalah menuntun anak-anak dan suami kearah yang benar. Kita harus kuat dan teguh pendirian.” Jawah Sheiny berapi-api.


“Mulai lagi deh.” Batin Pala sambil mengeluarkan bunyi, “Puh” dari mulutnya.


“Nyonya Silvi, bagaimana rasanya mengurus lima putra?” Tanya Sheiny mendekatkan wajahnya pada perempuan berambut pirang itu.


“Saya saja masih belum terbiasa mengurus pekerajaan rumah tangga, apalagi mengurus putra.” Ujung kalimat Sheiny di sambung tawa renyah. Arif di sampingnya menatap Sheiny denga senyum lebar, dia senang Sheiny bisa langsung akrab dengan Silvi.


Silvi meletakan segelas teh herbalnya kemudian menjawab, “Memang bukan perkara mudah, tapi pasti akan terbiasa. Kita anggap berat karena seberanya kita tidak tahu apa-apa.” Silvi meneguk segelas teh herbalnya lagi.


Pala benar, teh ini luar biasa.


“Perempuan adalah penentu kemajuan masyarakat.” Tambah Silvi bersemangat. Sheiny dan Arif mendengarkan baik-baik.


“Kalau kita bisa menjadi istri dan ibu yang baik, maka suami dan anak-anak kita pun akan menjadi baik, kemudian ketika mereka akan memberikan pengaruh baik di masyarakat yang nantinya akan melahirkan masyarakat yang kuat.” Silvi melanjutkannya, tanpa sadar tangan kanannya sampai terkepal dan terangkat saking semangatnya.


“Eh....maaf.”


Sebelum Silvi melanjutkan, Pala menepuk pundaknya. “Aku dan Arif akan berkeliling desa.”


“Jangan lama-lama.” Jawab istrinya sedikit kasar. Dia nampak masih marah dengan kelakukan Pala sebelumnya.


Arif dan Pala pun beranjak dari ruang tersebut. Yan dan Yun membututi dari belakang.


“Nyonya, bukannya itu tadi sedikit berlebihan.” Sheiny mengingatkan.


“Oh ya ampun.” Silvi menyentuh mulutnya, mulai merasa bersalah karena meneriaki suaminya.


“Tidak apa-apa, nanti Sheiny temani minta maaf.” Sheiny berpindah tempat di samping Silvi.


“Putri-putri ibu imut sekali.” Kata Sheiny sambil bermain-main dengan kedua putri Silvi.


Silvi dan Sheiny pun bermain bersama keduanya dengan putra bungsu Silvi yang tertidur di sapihannya.


Silvi lalu menceritakannya pengalamannya menjadi seorang ibu, mengurusi anak-anak, dan melakukan bermacam pekerjaan rumah tangga yang rumit. Bersaam dengan percakapan, kedua putri Silvi pun bermain-main dengan keduanya.


Semuanya tersenyum, semuany tertawa, pemandangan indah.


@@@


Tidak hanya Silvi dan Sheiny, pihak laki-laki pun tidak mau kalah.


Setelah lama berjalan-jalan mengelilingi desa mereka berkumpul dengan kumpulan anak-anak.

__ADS_1


Arif terkenal di kalangan anak-anak desa sehingga dia pun langsung di ajak untuk ikut bermain. Otomatis Pala dan kedua putranya ikut. Anak-anak itu berusia tidak jauh dengan kedua putra Pala sehingga mereka langsung akrab.


“Ambil ini!” Teriak seorang bocah laki-laki paling bersemangat diantara mereka. Namanya Koko. Dia adalah cucu dari Kakek Gunan, pemilik peternakan terbesar di desa.


Mereka berdelapan nampak gembira sekali, apalagi ditambah dua pendatang baru yaitu si kembar Yan dan Yun, putra Pala. Kegembiraan berlipat-lipat.


Arif dan Pala memperhatikan mereka dari tepian seraya mengingat masa remaja dulu yang tidak beda jauh dengan mereka.


“Rindu ya.” Ungkap Pala menoleh pada Arif.


“Ya, kuharap kita semua bisa berkumpul lagi.”


“Hey jangan sedihlah, Kapten tidak akan kemana-mana. Kapten selalu ada dihati kita.” Jawab Pala semangat.


“Benar.”


“Sudah selesai mainnya?” Tanya Pala kepada kedua putranya yang berdiri di depannya. Pala mengelap debu dan tanah di tubuh kedua putranya.


“Sudah, asik sekali.” Saut Yun.


“Besok-besok ayah harus ikut.” Tambah Yan.


Arif dan Pala tertawa melihat gelagat lucu si kembar tersebut.


Setelah cukup berkeliling dan bernostalgia, Arif dan Pala memutuskan kembali. “Desa ini hebat ayah.” Ucap Yun bersemangat.


“Orang-orang tua itu kuat-kuat, tidak seperti di tempat kita yang hanya duduk-duduk saja.” Yan berkomenter.


“Hus itu tidak sopan.”


“Tapi benar ayah, liha itu.” Yun menunjuk kepada seorang kakek yang membawa kayu-kayu potong di punggungnya.


Arif memperhatikan percakapan ayah dan anak itu. Arif jadi menantikan kelahiran putra pertamanya. Dia membayangkan betapa bahagianya bila hari itu tiba. Menurut ahli bidan desa, seharusnya empat bulan lagi putra pertamanya lahir.


Arif sangat bersemangat.


Arif mendengar langkah asing, langkah besi. Dia pun menoleh ke sumber suara. “Maaf menganggu.”


“Kami dari pihak kerajaan sedang mencari manusia rambut putih bernama Arif.” Ucap laki-laki berzirah besi itu.


Ada sentakan kuat dalam dada. Arif merasa keberadaannya kembali terancam. Harus mencari solusi, harus mencari solusi. Tenang-tenang Arif.


“Maaf kami tidak mengenal manusia rambut putih bernama Arif. Lagi pula menampilan tuan menakuti putra-putraku. Lihat mereka ketakutan.” Protes Pala menunjuk si kembar Yun dan Yan yang bersembunyi di belakang ayahnya.


“Kalau begitu maafkan saya. Terimakasih atas informasinya.” Laki-laki yang mengekana zirah tu menundukkan kepada dan berlalu, Arif pun menarik nafas lega. “Terimakasih banyak.”


“Bukan perkara sulit, soal berekting, akulah jagonya.” Bangga Pala sambil memberikan jempol pada dirinya sendiri. Si kembar pun mengikutinya.


Arif lalu menoleh ke arah lain dengan tiba-tiba. Dia mendengar langkah besi berikutnya. Sama seperti sebelumnya, tapi kali ini yang berdiri di hadapannya adalah laki-laki dengan aura berbeda.


Dia memiliki mata yang tajam dan teliti, rambut merah bata, dan postur yang kuat. Busananya tidak beda jauh dari prajurit yang baru saja menemuinya.


“Kalian tidak bisa membohongi saya.” Arif dan Pala menelan ludah.

__ADS_1


__ADS_2