
Cuaca cerah pagi itu. Semalam adalah salah satu malam paling hebat bagi keenam sahabat tersebut.
Kini keenamnya menyiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju rumah.
Sambil memperhatikan sahabat-sahabatnya yang sedang bermain-main, Arif duduk memikirkan banyak hal mengenai Die Hyang.
Ucapan Dewi Mimpi membuatnya tahu betapa pentingnya posisinya sebagai penerus Die Hyang. Ini tanggung jawab berat bahkan Arif ragu bisa memikulnya sendirian. Hal itulah yang membuatnya terlihat lebih pendiam pagi ini.
“Memikir banyak hal Arif?” Dewi Mimpi muncul di samping Arif. Dia mengenakan busana yang sama seperti kemarin. Kain hitam panjang yang menutup seluruh tubuh.
“Dewi, aku merasa aku tidak cocok dengan tanggung jawab ini.” Arif berkata dengan nada lemas.
“Kenapa? Takdir sudah memilihmu sebagai penerus Die Hyang.” Dewi Mimpi duduk disamping Arif.
“Aku adalah manusia rambut putih. Aku dibuang oleh penduduk waktu kecil, semua menghinaku. Hanya karena aku menghitamkan rambutku semua berubah. Tapi tetap saja aku adalah manusia rambut putih yang dikutuk semua orang. Tidak ada yang mengharapkan seorang sepertiku menarikan Die Hyang.” Arif mengucapkannya seraya tertunduk.
“Berhentilah berfikir negatif, Arif. Jika memang demikian mengapa Haz susah-susah mengajarimu Die Hyang. Lebih baik dia meneruskannya kepada orang yang lebih layak, tapi mengapa dia memilihmu? Itu karena kau memiliki nilai. Mungkin kau dikutuk dunia, tapi bukan berarti dunia tidak akan mengharapkanmu. Untuk tumbuh, tanaman butuh tanah, air, dan cahaya. Hilang satu saja tidak akan ada tanaman yang tumbuh.”
Arif memikirkan kalimat tersebut. Benar, Arif terlalu berpikir negatif sampai dia pun buta terhadap kebenaran bahwa ada banyak orang yang selalu mengharap kehadirannya.
“Terimakasih, dewi. Percakapan ini membuatku merasa lebih baik.” Arif tersenyum tipis.
“Ikutlah denganku, ada yang ingin kutunjukkan pada penerus Die Hyang.” Dewi Mimpi berdiri dan mulai melangkah.
Arif mengikuti tanpa bertanya.
Kedua memasuki hutan yang lebih rimbun dan menuju tempat lain. Sepanjang jalan Arif menoleh kanan dan kiri, ada banyak totem-totem yang berdiri disini.
Semakin masuk, hutan semakin lebat. Bermacam tanaman tumbuh dan pepohon lebih rimbun. Arif terus mengikuti Dewi Mimpi di jalan setapak itu.
Keduanya sampai dihadapan sebuah pohon paling tinggi disana. Tingginya mungkin tiga puluh meter dengan dedaunan hijau lebat di puncaknya. Batang utamanya besar dan terdapat banyak tulisan di permukaanya.
Pohon besar itu di tumbuhi lautan bunga berwarna biru, merah muda, dan ungu. Langkah harus hati-hati agar tidak menginjaknya.
“Silahkan, Arif.” Dewi Mimpi menyerahkan sebuah batu yang diasah lancip. “Ukirlah namamu di pohon tersebut.” Dewi menunjuk pohon raksasa tersebut.
Arif mengangguk dan maju.
Arif memperhatikan batang pohon itu sesaat. Banyak sekali ukiran nama di atasnya namun banyak tulisan yang tidak dia mengerti. Nama-nama ini pasti sangat penting. “Penerus Die Hyang?” Arif menebak-nebak dalam hati.
Arif mencari tempat kosong di batang tersebut. Dengan memberikan tekanan pada ujung lancip batu, Arif mulai menuliskan namanya.
“Sudah Dewi.” Arif menyerahkan batu tersebut.
“Pohon ini sudah ada lama sekali ada bahkan sebelum aku lahir. Yang terukir di batangnya adalah nama-nama penting. Pahlawan, dokter, raja, ksatria, pemimpin, petualang dan banyak lainnya. Mereka adalah orang-orang yang perjuangannya mampu mengubah dunia dan mulai sekarang kau adalah bagian dari mereka. Jadi siapkanlah diri sebaik mungkin.” Dewi Mimpi tersenyum kepada. Sebuah senyuman bersemangat.
Arif membalas dengan senyum serupa.
“Aku ada dua permintaan pada Arif.”
“Ya dewi.”
“Bisa berhenti memanggilku dewi. Sebenarnya aku kurang suka panggilan itu. Panggil saja Viola, terdengar lebih bersahabat.”
“Baik. Viola, begitu?”
“Ya itu terdengar lebih baik. Kemudian permintaan keduaku, setelah kau mengusai keempat puluh satu tarian Die Hyang, menarilah di Altar Pertemuan. Kami pasti datang untuk menyaksikannya.”
“Pasti, aku akan memberi kabar setelah menguasai keempat puluh satu tariannya.” Seru Arif sambil mengacungkan jempol.
@@@
“Viola, apakah aku boleh mengambil bunga-bunga disini?” Arif berjongkok seraya memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran indah di hadapannya.
“Boleh saja selama kau tidak merusaknya.”
__ADS_1
“Terimakasih.” Viola menoleh pada Arif yang sedang sibuk memetik bunga-bunga itu. Wajah Arif terlihat gembira sekali, tersenyum lebar.
Setelah terkumpul cukup banya, Arif mulai fokus merangkai bunga-bunga tersebut. Menyatukan satu dengan yang lain. Arif tidak menoleh sedikit pun dari pekerjaannya, dia sangat fokus.
“Apa itu hadiah untuk orang yang kau sukai?”
Angin berhembus cukup kuat, menggoyangkan kelopak-kelopak bunga yang indah. Bersama dengan itu Arif mematung dengan wajah yang memerah. Arif seketika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ketahuan.
“Jangan malu-malu begitu. Hal semacam itu tidak akan membuatku menertawakanmu.” Ucap Viola dengan nada meledek.
“Benarkah itu.” Arif membuka wajahnya, Viola terlihat menahan tawa. Ternyata dewi pun bisa begini. Gumam Arif.
“Maaf-maaf.” Viola coba menghilangkan tawanya.
“Daripada itu, apa aku boleh tahu siapa orang yang akan menjadi pasangan penerus Die Hyang.” Viola kembali meledek, suaranya kali ini lebih menyebalkan.
Wajah Arif semakin merona merah. Arif menggeleng kuat-kuat dan fokus pada pekerjaan. Arif berusaha menutup telinga dari ledekan Viola.
“Santai Arif, perasaan seperti itu normal. Tapi kau harus tahu diri.” Nada suara Viola berubah serius. Arif menoleh dengan perasaan tidak enak.
“Jika ingin menjalin hubungan dengan orang yang kau sukai, jalinlah dalam ikatan suci. Takdir sudah membuktikan betapa banyak pasangan yang bercinta dalam ikatan yang tidak sah. Pada akhirnya meraka jatuh dalam dosa dan urusannya dengan Dewa Petaka semakin panjang. Ini nasihat kecil dariku Arif.” Sorot mata Viola terlihat sangat serius.
Arif menelan ludah. Ternyata dirinya masih terlalu polos untuk menjejaki ranah ini.
“Jika kau sudah yakin dengan perempuan yang kau pilih, cepat-cepatlah buat ikatan suci. Banyak orang yang mengaku mencintai pasangannya namun tidak berani menyucikan hubungan mereka karena banyak hal. Itu adalah tipe orang-orang yang paling kubenci. Dan untukmu Arif_” Viola mendekat dan menepuk pundak Arif kuat-kuat.
Sorot mata keduanya saling bertemu.
Itu membuat Arif merinding.
“Aku mendukungmu. Namanya Sheiny. Aku yakin dia bisa menjadi ibu yang baik.”
Arif bisa menarik nafas lega.
“Hey Arif, kemana saja kau. Kami menunggumu lama.” Fasih yang pertama kali menyapa.
Arif memperhatikan kelima sahabatnya. Semuanya sudah siap. Sesuai jadwal hari ini adalah waktunya pamitan. Arif berdiri di samping sahabat-sahabatnya.
“Hayo apa yang kau lakukan bersama kepala suku?” Fasih meledek Arif.
“Tidak, kami hanya bercakap kecil.”
“Hati-hati Arif, tindakanmu bisa saja memancing kemarahan penduduk.” Faga berkata. Nadanya serius, begitu juga dengan sorot matanya.
“Itu benar, kau bisa menjadi bulan-bulanan penduduk nanti.” Bara menambahkan.
“Semoga kau selamat sampai rumah.” Pala pun ikut-ikutan meledek.
“Hey itu tidak benar, kami hanya membicarakan beberapa hal. Loh ada apa Wira?” Arif memandang Wira di depannya yang menjulurkan tangan kanan.
“Berikan tasmu. Jadi kau tidak akan kesulitan lari.” Ucapa Wira dengan nada datar. Sampai dia pun ikut-ikutan juga.
Pamitan itu pun berlangsung dengan bahasa isyarat. Para penduduk melambaikan tangan dan mengatakan dengan bahasa mereka, “Kapan-kapan mampir ya.” Ramai sekali.
"Aku sudah melihat masa lalumu. Jangan biarkan perasaan sebegai manusia rambut putih menghempaskanmu. Kini saatnya membuka lembaran baru. Kau harus percaya pada dirimu sendiri. Buktikanlah bahwa manusia yang dikutuk sekalipun mampu menjadi pahlawan paling hebat." Itulah nasihat yang Viola berikan.
Dan ternyata kejutan belum cukup sampai disitu.
Dari langit muncul hempasan angin kuat. Empat lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan seragam putih emas turun dari langit. Mereka memiliki kepala elang dan sayap indah di punggung. Tubuh mereka gagah dan kuat. Masing-masing membawa tombak perak.
Keempat Manusia Elang itu tunduk dihadapan Dewi Mimpi. Mereka berlutut dan meletakan senjatanya.
Kedatangan keempatnya membuat suasana menjadi gaduh. Langkah pulang keenam sahabat itu pun terhenti untuk menyaksikan hal yang belum pernah terbayang oleh mereka. Setiap mata melihat dengan terpana tanpa berkedip.
“Kami dari tim pengintai, siap melapor.” Salah satu manusia elang berucap dengan nada tegas. Arif dan yang lain tidak bisa memahami bahasa mereka
__ADS_1
“Maaf, bisa kita lakukan setelah ini. Kondisi tidak begitu genting bukan.”Pinta Dewi Mimpi kepada keempatnya.
“Baiklah Dewi.” Jawab mereka serempak, setegas sebelumnya. Manusia Elang itu sangat patuh.
“Aku ingin mempertemukan kalian pada penerus Die Hyang. Namanya Arif, seorang manusia rambut putih.” Dewi Mimpi menunjuk Arif. Wajah keempat Manusia Elang seketika berubah terkejut.
“Mungkin Sang Penerus dan sahabat-sahabatnya akan senang jika diantar kalian pulang.”
“Itu adalah sebuah kehormatan bagi kami.” Keempat manusia elang kembali menundukkan kepalanya.
Keempat berjalan mendekat pada Arif. Itu membuat Fasih gemetaran, firasatnya tidak baik. “Tenang, para Manusia Elang ini baik. Mereka ingin mengantar kalian pulang.” Ucap Dewi Mimpi kepada Arif dan kawan-kawan.
Keempatnya berdiri dalam formasi disekitar Arif dan teman-temannya. Sedetik mereka memperhatikan Arif kemudian fokus pada tugas kali ini.
Masing-masing Manusia Elang menghentakkan mata tombak perak ke tanah. Dua detik kemudian, dari bawah kaki enam sahabat itu muncul angin yang berputar. Angin itu membentuk bola dan mengambang di udara.
Arif dan yang lain sekarang berada dalam bola udara dengan diameter delapan meter. Di dalam bola udara itu terasa segar dan nyaman. “Hebat, luar biasa.” Faga mengomentari dengan semengat.
Arif memperhatikan sekeliling bola udara tersebut. Ini bahkan melebihi imajinasinya.
Keempat lelaki elang mulai mengepakan sayap, bersiap terbang. Bola udara pun mengambang semakin tinggi. Setelah cukup tinggi di udara, keempat manusia elang itu mengepakkan sayap kuat-kuat dan meluncur cepat di udara.
Bola udara dalam penjagaan mereka pun ikut meluncur.
“Kita benar-benar beruntung. Aku pasti selalu mengingat ini.” Fasih tersenyum lebar.
“Haha, akhirnya aku merasa bisa terbang.” Pala dan Bara berucap bersamaan. Keduanya lantas tertawa.
Tidak perlu berlama-lama, jarak puluhan kilometer terpenuhi dengan cepat.
Manusia Elang menurunkan mereka di dekat desa agar tidak menarik kecurigaan. Viola juga menyuruh untuk merahasiakan hal ini.
Keenamnya mengucapkan banyak terimakasih pada Manusia Elang kemudian pulang ke rumah masing-masing. Keempat Manusia Elang memberikan hormat pada Arif sebelum pergi. Arif pun membalas penghormatan tersebut.
Ini adalah pengalaman paling luar biasa dalam hidup.
Sesampainya di rumah Arif menceritakan perjalanannya. Nenek, Kak Haz, dan Sheiny menyimak baik-baik. Arif tidak menceritakan semuanya, hanya hal-hal menyenangkan dan yang tidak mengundang pertanyaan tidak jelas.
Bisa timbul perkara rumit nantinya.
“Ini Sheiny.” Arif langsung memasangkan mahkota bunga buatanya di kepala Sheiny.
Butuh keberanian maksimal untuk melakukan ini. Jujur saja, sekujur tubuh Arif gemetaran saat memberikan kejutan tersebut.
Sheiny sangat terkejut. Beberapa detik wajahnya merona karena tingkah Arif. Arif yang mengetahui hal itu merasa baru saja melakukan hal yang salah.
Nenek dan Kak Haz yang masih di kamar Sheiny pun cukup terkejut dengan tindakan Arif. Anak asuh mereka sudah berubah banyak. Keduanya tersenyum.
“Terimakasih.” Ucap Sheiny lirih. Wajah Arif pun ikut-ikutan tertunduk dan memerah.
@@@
Bertahun-tahun telah terlewati. Banyak hal yang berubah, baik Desa Rakatta ataupun Arif dan sahabat-sahabatnya.
Pagi hari seperti biasanya, ketika udara paling segera menyelimuti bumi dan cahaya matahari belum begitu terang. Ini adalah waktu terbaik untuk melatih Die Hyang dan itulah yang sedang Arif lakukan sekarang.
Arif telah sampai pada tarian ke tiga puluh. Perkembangan yang sangat cepat mengingat-ingat dia cukup kesulitan dalam menghafal banyak gerakan.
Arif melakukannya dengan sangat serius. Meski dingin, keringatnya sempat menetes. Postur tubuh, gerakan, dan tempo setiap tarian harus benar-benar mirip demi menjaga kemurnia Die Hyang. Itulah yang membuat Die Hyang begitu sulit dikuasai.
“Halo Arif, lama tidak bertemu.” Arif yang sedang beristirahat menyadar pohon menoleh ke asal suara.
Matanya melebar penuh rindu menatap sosok di depannya.
Dokter Yang Menaklukan Kematian kembali.
__ADS_1