
Pertarungan yang begitu cepat. Tige ekor Grinsekta gugur tepat ketika Arif melihat wujudnya dengan jelas.
Kulit mereka nampaknya keras sekali, terlindungi pelat-pelat layaknya tulang yang menonjol keluar. Hanya sebagian kecil dari tubuh mereka yang terbuka dari zirah tersebut dan para ahli pedang ini bisa melakukannya.
Mereka melompat dan menebas tanpa ragu. Keyakinan mereka yang begitu kuat membuat Arif semakin kagum. Hebat sekali.
“Luar biasa. Kita menyelesaikannya dengan cepat.” Komentar Faga. Wajahnya terlihat sangat bersemangat. Dia langsung sarungkan kembali pedangnya.
“Laporkan kondisi. Apa ada yang terluka.” Faga berkata. Semuanya saling lirik. “Lapor, tidak ada.”
“Ayo lanjutkan perjalanan. Waktu itu terus berputar.” Faga mengomando. Sebelas orang segera mengikutinya. Tiga lampu minyak di raih untuk pencahayaan dan jasad tiga monster di tinggalkan begitu saja. Tidak ada yang bisa dimanfaatkan dari tubuhnya.
Langkah Arif masih gemetaran. Dia tetap memaksakan langkah, menstabilkan nafas, dan membangun kembali keberanian. Selama di kelompok ini seharusnya dia aman.
Kelompok dua belas orang itu melajutkan penjelajahan. Tujuan utama mereka adalah ujung dari kegelapan ini. Menurut pemetaan yang telah di buat kelompok wilayah bawah, di ujung sana ada sebuah jurang besar.
Secara aneh jurang itu bercahaya terang sehingga muncullah pendapat akan adanya Bunga Purnama disana. Satu sifat dari Bunga Purnama yang diketahui adalah tumbuh di daerah terang.
Selain itu, menurut informasi tambahan ada dua jalan di sekitar jurang besar. Dua jalan itu belum dipetakan. Kelompok ini juga bertugas memetakan dua wilayah tersebut dan mendirikan tenda disana agar penjelajahan dapat dilakukan lebih dalam.
Dalam kegelapan ini bahaya bisa mengancam kapan saja. Kedua belasnya tidak bisa melepaskan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Cahaya lampu minyak hanya menerangi beberapa meter di sekitar. Artinya musuh hanya dapat terlihat jelas jika sudah didekat mangsanya. Itu berbahaya.
Namun, penglihatan para prajurit disini adalah penglihatan yang sangat terlatih. Penglihatan mereka biasa bermain dalam gelap sehingga perlahan-lahan akurasi mata mereka meningkat, melampaui orang-orang biasa.
Tidak hanya penglihat. Panca indra lain pun terasah, menuju tingkatan yang lebih tinggi.
Sebagai hasil dari pecapain itu, maka tentunya nyawa dipertaruhkan.
“Ada prajurit terluka.” Salah seorang berseru dari belakang. Arif dan yang lain segera menoleh kearahnya. Avin bertindak gesit, tugas memanggilnnya.
Tidak disangka, setelah cukup menembus kegelapan masih tersisa prajurit yang bertahan hidup dalam kondisi kritis. Dia adalah lelaki dari tim wilayah bawah.
Kondisinya mengenaskan. Arif merasa enggan untuk menatapnya lama-lama.
Kondisi pakaiannya rusak tercabuk-cabik. Tubuhnya penuh luka benda tajam. Lengan kiri dan beberapa tulang rusuknya patah, dan kaki kirinya sudah tidak ada.
Nafas yang kembang-kempis dan wajah seperti menerima siksaan setiap kali Avin berusaha membersihkan dan memperabarui perban luka.
Faga pun segera menulis surat dan memasukkan ke dalam kotak merpati penyambung kabar. Itu adalah hewan yang dilatih Pasukan Pelindun Matahari. Sebagaimana namanya, merpati penyambung kabar bertugas untuk menyampaikan informasi-informasi dari tempat jauh.
Setelah dielus beberapa kali oleh Faga, merpati itu terbang melintasi gua gelapa dan menuju tempat pertemuan untuk meminta kedatangan tim medis.
Perjalanan ini pun terhenti cukup lama. Kali ini semuanya harus bermalam disini.
Semua meletakan perbekalan dan segera membangun tenda darurat. Beberapa terlihat sibuk menyiapkan makanan malam sedangkan yang lain fokus menatap kejauhan untuk memprediksi kedatangan musuh.
@@@
__ADS_1
Hari sudah berganti, meski matahari tidak terlihat disini, para prajurit memiliki kecakapan untuk menentukan waktu melalui kode-kode alam. Lumut-lumut yang tumbuh di dinding-dinding disini memiliki keunikan sebagai penanda waktu.
Tenda darurat telah berdiri, karena kondisinya yang tidak begitu luas membuat sebagian anggota tidur di luar. Itu tidak masalah. Mereka sudah terbiasa.
Di dalam tenda itu terjadi percakapan antara Arif dan lelaki yang kemarin mereka selamatkan. Percakapan itu membahas sesuatu yang berat.
“Kenapa kau mau membahayakan nyawamu. Tindakanmu sudah lebih dari gila.” Ucap lelaki dengan tatapan layu itu kepada Arif. Suaranya terdengar berat dan tidak bersahabat. Umurnya mungkin sekitar akhir lima puluh tahunan.
Dia adalah anggota yang kemarin di temukan dalam kondisi kritis.
Dihadapannya, Arif hanya diam mendengarkan. Setiap kata-katanya menyudutkan. Terasa menusuk sekali dalam dada.
“Asal kau tahu. Disini kita semua mempertaruhkan nyawa. Bahkan dalam kondisi tertentu kita harus bersikap egois bahkan melepaskan kewarasan dengan bertahan hidup.” Ucapnya dengan nada tidak menyenangkan.
Arif tidak begitu paham maksud lelaki bermata layu ini, yang pasti Arif terlalu polos disini. Arif tidak mengerti apa-apa. Penjelajahan ini lebih dari sekedar mencari Bunga Purnama.
Arif terlambat menyadarinya.
“Kau sudah mengerti sekarang.” Ucapnya lagi sekali menjelaskan panjang lebar mengenai di mana saja letak kesalahan Arif. Kali ini Arif tertunduk dengan sorot menahan ketakutan.
Keputusasaan tergambar dalam wajahnya.
“Senior Tein, tolong jangan takuti sahabatku. Dia punya tujuan mulia untuk mencari Bunga Purnama.” Dari samping Arif, Faga muncul.
Lelaki yang di panggil senoir Tein oleh Faga menyaut. Matanya menatap Faga, merasa sedikit terganggu.“Aku hanya mengucapkan kebenarannya. Semuanya tahu betapa berbahayanya Kota Arkkana. Jujur melihat anak yang dengan lugunya menganggap ini karya wisata membuatku jengkel dan muak.”
“Tapi tolong jangan rusak motivasinya senior. Sebagai sahabatnya, saya bisa melihat nilai lebih dalam diri Arif.”
“Maaf jika kalimat saya menyinggung, tapi saya tahu lebih banyak tentang Arif. Meski tidak berpengalaman dalam hal ini dan pastinya akan merepotkan, instingku mengatakan Arif akan membantu dalam pencarian Bunga Purnama. Aku yakin itu.” Jawab itu membuat hati Arif lebih nyaman.
“Kita butuh kepastian dalam hal ini Faga. Mengandalkan insting. Aku baru saja mendengar kalimat yang sangat bodoh. Jangankan dirinya, kita saja kesulitan menghadapi kondisi ini. Anak ini hanya akan berakhir di pencernaan monster-monster itu.”
Arif menelan ludah. Semua perkataan senior Tein benar.
Tatapan Tein kemudian mengarah kepada Arif. Sebuah sorot mata yang menusuk.
“Hei nak. Jika kau benar-benar serius dengan penjelajahan ini. Jangan pernah berharap bisa pulang dengan bahagia. Disinilah tempat perjuangan dan pengorbanan. Camkan itu dalam otak udangmu.” Ucapan senior Tein mengancam. Arif masih dalam kondisi tertunduk. Tubuhnya bergetar ketakutan.
Seniora Tein lantas berusaha berdiri dengan menopang tongkat kayu dan pergi meninggalkan Arif dan Faga.
“Sebagai ketua kau juga seharusnya tidak mengijinkan orang luar Faga. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran komandan, tapi kali ini aku benar-benar membenci keputusannya. Pemimpin ekspedisi seharusnya paham tindakan apa yang harus diambil terhadap Arif.” Ucap Senior Tein tanpa menoleh.
Dia melanjutkan langkahnya, pergi ke tempat penyendirian.
Bagi Faga sendiri ucapan Senior Tein sangat membekas di dadanya. Senior Tein adalah salah satu orang yang Faga kagumi. Dia orang yang hebat, memiliki bermacam prestasi di organisasi. Dia salah satu anggota paling di tuakan. Pengalamannya tidak bisa dibandingkan.
Faga tidak pernah meragukan keputusannya seniornya tersebut.
__ADS_1
Namun, untuk kali ini Faga meragukan keputusannya. Ini mungkin karena persahabatan yang terjalin antaranya dan Arif atau mungkin juga bukan. Faga tidak tahu, tapi yang pasti dia tidak pernah menyesali memasukan Arif ke dalam ekspedisi ini.
“Tenang Arif_” Faga menepuk pundak kanan Arif pelan-pelan. “Senior Tein memang begitu. Dia menilai sesuatu dari sudut pandang kemungkinan terburuk. Tapi dia belum tahu siapa sejatinya Arif bukan. Bersemangatlah. Arif.” Faga menepuk punggung Arif lebih keras.
Sorot mata Arif masih tertunduk. Kata-kata senior Tein benar-benar menghancurkan mimpinya dan perlahan-lahan Arif pun setuju dengannya. Dari semua orang akulah yang paling lemah dan tak berpengalaman. Batin Arif.
“Jangan kebayakan ngalamun. Ayo bergabung, kita sedang membuat daging panggang yang enak.” Arif menoleh kepada Faga. Melihat senyum Faga yang tetap kokoh membuat Arif sadar terlalu jauh larut dalam kata-kata senior Tein.
Lupakan kata-kata itu sejenak. Mungkin senior Tein benar bahwa Arif hanya akan berakhir di pencernaan para Grinsekta, namun senior Tein tidak bisa membuktikan ketidakmampuan Arif untuk melalui semua ini.
Pemikiran itu membuatnya hatinya sedikit lebih baik.
“Ada apa Arif?”
“Hanya memikirkan banyak hal. Kata-kata senior Tein ada benarnya juga.” Ucap Arif dengan sedikit senyum.
“Jang terlalu di bawa kehati. Senior Tein memang orang yang sangat realistis. Ayo.”
Arif beranjak dari tempat duduknya dan bergabung bersama kegembiraan baru.
“Hey keman saja kau. Dagingnya sudah siap sejak tadi.”
“Apa ada sesuatu yang serius dengan senior Tein, ketua?”
“Ya, percakapan yang sedikit tegang. Senior nampaknya mulai meragukan kepemimpinanku.” Balas Faga duduk bergabung bersama yang lain.
Arif ikut duduk di samping Wira.
Kedua belas orang itu duduk melingkar pada sebuah kompor batu. Batuan jenis sangat mudah menyerap panas sehingg cukup untuk memanaskan daging. Dengan baluran bumbu rahasia dan daun-daun alam, bau harum tercium dari daging panggang tersebut.
Setiap gigitannya cukup keras tapi rasa lezatnya sangat berasa.
“Ini lezat sekali.” Faga mengomentari. Dia makan dengan lahap.
“Setelah berhari-hari tidak makan daging, rasa ini jadi sedikit asing.” Bella mengambil potongan daging lagi.
“Omong-omong dia mana senior Tein, dia tidak bergabung?” Tanya Avin. Matanya melirik ke semua arah.
“Apa beliau tidak kesini?” Arif melempar pertangannya yang dijawab oleh gelengan kepala.
“Mungkin senior sedang menyendiri. Sebulan di tengah semua ini pasti sangat membebani mental maupun fisiknya. Aku cukup terkejut dengan senior yang masih mampu mempertahankan kewarasannya. Apa yang senior rasakan pasti lebih dari apa yang kita bayangkan.” Ucap Yuvan. Dia lelaki dengan pengamatan dan daya ingat yang bagus.
Posisinya di tim sebagai navigator terhadap pemetaan.
“Lebih baik kita biarkan senior Tein sendiri dahulu.” Saran Yuvan. Semuanya setuju.
Di sisi lain tanpa mereka sadari, air mata seorang pembunuh di teteskan dalam kegelapan. Besarnya penyesalan yang dia rasakan membuat kedua lengan mendekatkan bilah pedang pada batang lehernya.
__ADS_1
Air mata terus berjatuhan dan membasahi pipi dan dagu.
Senior Tein, dia merasa tidak layak untuk hidup lebih lama.