IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
41 Kota Arkkana II


__ADS_3

BUM.


Taring mengenai udara kosong.


“Lari Arif. Lari!” Teriak Wira kepada Arif. Sorot mata Arif terlihat mati. Semua ini sangat membebani kepalanya.


“Dasar, merepotkan.” Wira seketika menarik lengan Arif kuat-kuat dan membawanya menjauh dari jangkauan kelabang. Wira tidak bisa berlari kearah dokter karena kelabang itu menghang jalan.


Kelabang raksasa itu nampaknya semakin marah. Dia mengeluarkan bunyi aneh antara mendesis dan berteriak. Kencang sekali.


Kelabang itu lebih cepat. Kecepatannya tidak wajar.


Hanya dalam hitungan detik, dia telah muncul di hadapan Wira dan Arif. Wira menatap sekitar dengan cepat. Celaka, tubuh kelabang itu telah menutup semua jalan keluar. Kedunya sempurna terjebak.


Debaran di dada semakin terasa. Banyak kematian semakin jelas. Inikah akhrinya?


Tidak, tidak boleh berhenti disini. Aku akan mendapat Bunga Purnama. Wira meyakinkan dalam hati sambil menarik senjatanya dari tas. Sebuah pedang pajang dengan bilah yang sangat tajam. Senjata utama Pasukan Pelindung Matahari.


Semenjak dia berkeinginan menjadi Pasukan Pelindung Matahari, Wira berusaha mati-matian berlatih teknik berpedang. Lebih dari dua tahun. Tangannya sudah menjadi kasar karena itu. Kini waktunya melihat hasilnya.


Si kelabang raksasa melihat lawannya dengan remeh. Liurnya berjatuh dengan mulut yang terbuka semakin lebar. Giginya berhasil mengoyak keberanian Wira.


“Tahan aku bisa! Aku bisa melakukannya!” Teriak Wira mengumpulkan keberanian.


Wira menggenggam pedangnya lebih kuat. Tubuh gemetaran hebat. Keringat dingin pun mengalir. Detik-detik penentuan tiba.


Kelabang raksasa menaikan kepala, menunjukkan betapa besar dirinya, kemudian kepalanya meluncur jatuh, memberikan serangan cepat dan mematikan. Kali lebih beringgas, taring-tarimg beracunya membuat siapapun gentar.


Wira menggertakkan giginya.


Pedang yang telah tergenggam dengan kedua tangan segera diayunkan. Bilah bedang memantulkan berkilau memantulkan cahaya siang.


“AAAAAAAAAA!” Wira berteriak sekencang mungkin seraya menganyunkan bilah pedang secara diagonal.


Pedang dengan keinginan menyelamatkan dan taring dengan ambisi memburu. Manakah yang lebih kuat?


TANG


Bunyi dua benda logam berbentur terdengar. Si Kelabang raksasa menarik kepalanya karena kesakitan, membuat tebasan Wira mengenai udara kosong.


Terlihat cairan merah yang mengalir dari punggungnya.


Di depan ada lelaki lain. Dia juga membawa pedang yang baru saja melukai tubuh si kelabang raksasa. Aksi yang sangat heroik.


Wira jatuh tertekuk lutut di samping Arif. Dalam beberapa detik dia merasa sangat dekat dengan kematian. Jantungnya berdegub sangat kencang. Menyakitkan. Kini ketakutan itu pergi bersama dengan bergantinya mangsa si kelabang raksasa.


Dia kembal mengeluarkan bunyi aneh.


Kelabang raksasa sangat marah. Dia bergerak dengan kecepatan tidak wajar kearah mangsa barunya. Melepaskan Arif dan Wira begitu saja.


Tubuhnya mampu meliuk seperti ular meski memilki banyak kaku. Otot-otot perutnya sungguh luar biasa membuatnya bisa bergerak seperti itu.


Kepala si kelabang berputar di udara kemudian meluncur cepat kearah mangsa kedua.


BUM.


Debu dari tanah mengepul. Serangan itu meninggalkan jejak yang dalam namun tanpa sasaran.


Lelaki itu lebih dahulu melompat jauh kekanan, menghindar. Dia seketika memasang kuda-kuda kokoh. Matanya menatap tajam kearah Kelabang raksasa. Pedangnya siap melepaskan tebasan kedua, kali ini ada yang berbeda.


Arif yang telah mendapat kembali kesadarannya pun takjub dengan pemandangan di hadapannya. Begitu pun dengan Wira. Pemandangan di depannya benar-benar sulit di percaya.


Si lelaki memejamkan mata, berkonsetrasi penuh. Dari permukaan kulitnya muncul banyak ratusan gelembung bening yang mengeruminya. Saking banyaknya gelembung sampai terlihat seperti lapisan tameng. Si kelabang raksasa mundur satu meter karena merasakan ancaman besar dari gelembung tersebut.

__ADS_1


Si lelaki mengenggam pedangnya lebih erat dan mengangkatnya lebih tinggi. Gelembung itu berkumpul dan menyatu pada bilah pedangnya. Perlahan-lahan warna bilah pedang berubah menjadi biru keabu-abuan. Menakjubkan.


Si kelabang yang merasa diremehkan melepaskan serangan terlebih dahulu. Lebih cepat, lebih kuat, lebi mematikan. Taring yang penuh air liur mengincar bagian tubuh atas si lelaki.


Pemandangan yang sangat menegangkan ketika jarak maut dengan si lelaki kurang dari dua meter. Dengan insting yang sangat terlatih dan perhitungan tajam, kaki kanan si lelaki melangkah ke samping diikuti dengan tubuhnya yang mengikuti.


Serangan kelabang raksasa kembali mengenai udara kosong.


Dengan satu tarikan nafas kuat bilah pedangnya melepaskan serangan mematikan. Sebuah tebasan setengah lingkaran yang anggun. Tebasan luar biasa, sangat halus seakan pisau yang memotong kertas.


Dua detik kemudian, tubuh dan kepala kelabang raksasa terpisah. Darahnya terciprat dan memenuhi lantai hutan. Kemanangan mutlak dia raih. Si lelaki mengibaskan pedangnya untuk menghilangkan bercak darah sebelum menyarungkannya.


Si lelaki segera mendekat kepada Arif dan Wira.


“Kalian baik-baik saja?” Tanya lelaki tersebut. Kharismanya yang sangat pekat membuat Arif dan Wira hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Baguslah kalau begitu. Hei tunggu dulu. Arif! dan kau, Wira!” Teriak lelaki itu antusias.


Arif masih kesulitan mencerna keadaan diakibatkan ketegangan yang baru saja terjadi. Butuh beberapa saat agar otaknya dapat mencerna semua yang terjadi. Wira juga mengalami hal yang sama. Mengingat lelaki di hadapannya menjadi pekerjaan yang sulit.


“Hei masa kalian lupa?” Suara sok kenal. Telinga Arif tiba-tiba mendengar logat yang dikenal.


Pandangan Arif kemudian menatap lelaki tersebut. Sedikit demi sedikit mentalnya kembali terbangun.


Arif menelisik lelaki itu beberapa saat. Tubuhnya besar, mampu mengeluarkan gelembung dari tubuh dan cara berpakaian dengan hanya menggunakan celana.


“Eh, Bara. Itukah kau?” Ucap Ari dengan nada ragu.


“Benar. Hehe.” Bara langsung mengalungkan lengan kananya ke tengkuk Arif.


“Hahaha, sudah lima tahun. Tidak kusangka kita bisa bertemu di tempat tidak terduga ini.” Bara menepuk-nepuk kepala Arif.


“Jangan bilang kau lupa denganku Wira. Aku bisa tahu dari wajahmu yang khas itu hahaha.” Bata tertawa lagi. Dia jadi sering tertawa.


“Ayolah, kau tetap pendiam seperti dulu. Tertawalah. Itu akan membuat hatimu lebih baik.” Bara melanjutkan tawanya.


Di lengan, di kaki, di dadanya. Bahkan ada jejak luka panjang yang membelah pinggang kiri sampai dada kanan.


Arif membayangkan, setelah melalui semua itu Bara tetap mampu terseyun dam tertawa. Luar biasa.


“Omong-omong sedang apa kalian disini.” Bara membenarkan posisi duduk dan meletakkan pedang yang sudah disarungkan.


“Mencari Bunga Purnama.” Jawab Arif. Begitu keluar kalimat itu Arif sadar telah melakukan kesalahan.


“Jangan sampai bertemu Pasukan Pelindung Matahari. Mereka tidak ingin ada pihak asing di Kota Arkkana.” Peringatan dokter terngiang dalam kepala Arif. Arif langsung memasang raut waspada.


“Tenang-tenang. Aku janji tidak akan memberitahu atasan. Misi kalian pasti sangat pentingkan. Sebagai sahabat aku akan merahasiakan ini.” Bara tersenyum lebar sambil menaruh telunjuknya di depan bibir.


Arif bisa bernafas lega.


“Arif, Wira kalian baik-baik saja?” Terdengar suara yang sangat cemas. Dokter Jago muncul bersama beberapa anggota Pasukan Pelindung Matahari.


“Tenang. Mereka baik-baik saja.” Bara berdiri dan memberi jawaban.


“Syukurlah. Aku sangat berterimakasih padamu.” Dokter lalu duduk disamping Arif dan Wira lalu mengecek kondisi keduanya.


Dengan wajah penasaram Wira mendekat kepada Dokter Jago.


“Maaf. Apakah bapak Dokter Jago. Dokter Yang Menakulkan Kematian?” Bara bekata dengan pandangan mata yang terpana.


“Tidak kusangkan ternyata aku seterkenal itu.” Balas dokter seraya tersenyum bangga.


“Waaah. Kejutan luar biasa. Saya adalah orang yang sangat menggumi dokter. Dokter adalah pahlawan umat manusia.” Ucap Bara gembira.

__ADS_1


“Itu terlalu berlebihan. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai dokter.”


Percakapan panjang pun berlanjut kemudian. Arif, Wira, dan Dokter Jago diantar menuju tempat perkumpulan seluruh anggota Pasukan Pelindung Matahari yang ditugaskan di Kota Arkkana.


Sebuah tenda besar dengan barisan tenda lainnya. Terlihat banyak sekali orang disana tentunya dengan berbagai keperluan. Sisi timur penuh dengan orang-orang yang mengumpulkan data dan menelitinya. Para peneliti. Sisi barat disesaki dengan para prajurit yang terluka, dan sisi tengahnya adalah tempat berkumpulnya semua orang.


Di tanah yang lapang itu kondisinya sangat ramai. Semua orang dengan pakaian hitam-hitam berlalu-lalang dengan bermacam kepentingan. Udara siang yang berhembus membuat kondisi semakin gerah dan panas.


“Benar-benar tidak terduga. Saya merasa sangat bangga dapat bertemu anda.” Ucap salah seorang lelaki bertubuh kekar. Dia tidak begitu tinggi dengan rambut berwarna hitam. Sorot mata maupun mimik wajahnya mengeluarkan aura yang sangat kuat.


“Saya juga merasa bangga dapat bertemu dengan Komandan Pasukan Pelingdung Matahari. Mungkin kita bisa melakukan kerja sama seperti dulu.” Tawa ringan kemudian terdengar di ruang tamu tersebut.


Disamping dokter, Arif dan Wira duduk terdiam. Suasana ini lumayan canggung.


“Saya dengan Dokter disini untuk mencari Bunga Purnama.”


“Benar sekali. Saya membutuhkannya untuk membuat obat.”


“Kalau begitu kita bisa menjalin kerja sama. Saya memiliki tim khusus yang bertugas mencari Bunga Purnama.”


“Sungguh tawaran yang menyenangkan tapi sepertinya saya harus menolaknya.” Jawaban dokter menuai reaksi dari semua orang. Arif berfirasat buruk.


“Kenapa dokter. Bukannya dokter menginginkan Bunga Purnama?” Tanya komandan Pasukan Pelindung Matahari.


“Saya merasa terpanggil untuk membantu kegiantan medis disini. Tidak apa-apa karena dua anak ini yang akan menggatikan posisi saya.” Dokter menepuk punggung Arif dan Wira.


“Dua anak ini juga membutuhkan Bunga Purnama. Saya berjanji keduanya tidak akan merepotkan tim.” Arif dan Wira pun seketika menoleh kepada Dokter Jago.


Beberapa saat komandan Pasukan Pelindung Matahari terliha menimbang-nimbang. “Baiklah. Saya tidak keberatan. Bertambahnya pasukan akan semakin mempersingkat waktu menuju Bunga Purnama. Arif, Wira_” Pandangan lelaki mengarah kepada keduanya.


“Jika kalian berdua mau. Kami tidak keberatan memasukan kalian kedalam tim pencari Bunga Purnama.”


Dalam beberapa detik suasana berubah drastis. Arif merasakan ketegangan yang sangat kuat. Arif tidak pernah berpikir petualangan ini menjadi seberbahaya ini. Kalau kondisi lebih baik tentu Arif akan menolaknya.


Namun, bagaimana dengan Sheiny dan nenek?


@@@


“Dokter, Arif merasa tidak enak badan.” Arif menyesali jawabannya. Dia dan Wira setuju masuk ke dalam tim pencari.


“Jangan risau Arif. Meski kejadian di lapangan tidak terduga, aku bisa menjamin kualitas tim yang akan kau dapat. Aku dulu pernah bekerja sama dengan kelompok ini. Pencarian Bunga Purnama ini sangat penting bagi mereka, jadi paling tidak kau akan bersama orang-orang setingkat Pembebas.”


“Pembebas?”


“Benar. Di organisasi ini ada orang-orang terkuat yang dijuluki Pembebas. Menurut romor meraka adalah orang-orang yang telah melampaui batas kekuatan manusia. Baik secara fisik maupun secara mental.” Dokter Jago menjelaskan.


“Silahkan kalian berdua berkeliling. Cepat-cepatnya tugas kita akan di mulai besok. Ada beberapa hal yang harus kulakukan di ruang medis.” Kata dokter lalu berpisah.


“Bagaimana menurutmu Wira.”


“Kupikir petualangan ini akan lebih dari sekedar mempertaruhkan nyawa.”


“Hei. Jangan buat suasana semakin tegang.”


“Halo kalian berdua. Jadi bagaimana hasilnya.” Bara yang mendadak muncul dari kerumuan orang-orang mendekat kepada keduanya.


“Kami masuk tim pencari Bunga Purnama.”


“Waah, itu berbahaya. Jadi komandan mengijinkan. Tapi jangan khawatir. Kami memilih orang-orang terbaik untuk mencari Bunga Purnama. Jika ancamannya seperti tadi, kujamin kalian tidak akan sadar baru saja ada bahaya lewat.” Ujung kalimat Bara disambung tawa pendek.


“Sebenarnya siapa saja tim pencari itu?” Wira panasaran.


“Dua puluh tujuh orang-orang terpilih dan tiga orang setingkat Pembebas. Salah satunya adalah yang terbaik diangkatanku.” Bara menjelaskan dengan bangga.

__ADS_1


“Waw! Kejutan luar biasa. Sungguh pertemuan ini tidak terduga. Aku menjadi sangat bersemangat!” Terdengar suara keras dari belakang Arif. Ketiganya langsung memeriksa si pemiliki suara tersebut.


“Hahaha, malah langsung datang. Prajurit terbaik Pasukan Pelindung Matahari. Sang Pembebas, Faga Dwi.”


__ADS_2