
Arif masih mematung dalam posisinya. Arif berusaha mencerna keadaan, dia memastikan tidak salah dengar ataupun salah lihat.
Apakah ini mimpi?
Ataukah kenyataan?
Ada suatu perasaan yang coba menyusup ke dalam hatinya. Perasasaan yang membuat sekujur tubuh membeku namun begitu nyaman.
Bagi seorang Arif yang hidup di bawah diskriminasi tanpa sahabat, mendapat kejutan seperti ini layaknya memasuki negeri dongeng yang penuh keindahan. Sesuatu yang sederhana namun sangat kuat dan tidak terkalahkan, persahabatan.
“Hei Arif. Ada apa?” Faga menepuk pundak Arif, membuatnya terkejut dan keluar dari lamuan.
“Tidak apa-apa. Aku tidak pernah berpikir akan memperoleh hal seperti ini. Terimakasih teman-teman.”
“Hei-hei-hei, jangan bilang kau masih cemas tentang rambut putihmu.” Salah seorang yang hanya mengenakan celana pendek maju. Lelaki itu lantas memeluk pundak Arif dengan lengan kanannya.
Namanya Bara. Dia punya sorot mata preman seperti Wira. Tubuhnya kekar berotot dan penuh keringat. Meski tampangnya mengerikan, Bara adalah sahabat yang baik. Hanya saja tampanganya itu membuat sebagian orang salah sangka terhadapnya.
“Sudah jelaskan, jangan permasalahkan rambut putihmu. Kalau bersama kami, jadilah dirimu sendiri. Mengerti.” Bara memberi semangat.
Arif mengangguk.
“Baik, saatnya melanjutkan permainan kita.” Wira langsung menuju ke tengah lapangan untuk mengambil bola. Bicara soal olahraga, dialah yang paling maniak.
“Ayo Arif.” Fasih menepuk punggung Arif kemudian berlalu bersama teman-teman yang lain.
Arif merasakan dadanya penuh akan sesuatu yang menyenangkan. Arif lantas berlari untuk bergabung bersama yang lain.
“Intinya, permainan ini adalah soal memasukan bila ke gawang lawan.” Fasih menjelaskan panjang lebar kepada Arif. Kedua berada di kubu yang sama.
Sedangkan di kubu seberang terlihat Faga, Bara dan empat orang yang lain. Faga menjadi kiper dan Bara adalah penyerang. Menurut penjelas Fasih, Faga memiliki reflek mengerikan untuk menangkap bola. Sedangkan Bara dia mahir dalam mengumpan sehingga pertahanan lawan dapat di terobos.
Arif mengangguk mengerti. Semakin lama mendengar penjelasan Fasih, Arif merasa lawan-lawannya ini benar-benar tangguh.
“Tenang saja, kita juga punya pemain unggulan. Wira, dia itu ahli dalam mencetak angka. Tendangannya bisa melengkung tajam dan sangat keras. Tapi dia cukup egois dalam mengumpan. Jadi hati-hatilah ketika di dekatnya.”
Selesai penjelasan itu, Fasih segera mundur untuk mengisi perannya yaitu seorang kiper. Arif di tempatkan sebagai pemain pertahanan. Tugasnya sederhana, membuang bola ke depan.
“Sudah selesai Fasih.” Bara berteriak semangat dari tengah lapangan hijau. Fasih memberi konfirmasi jempol.
“Bagus, kita bisa memulainya.”
Bola di mulai dari tim Bara. Dia yang menerima umpan pertama. Bara menerima dengan kaki bagian dalam lalu menggiring bola dengan kecepatan sedang.
Keahlian Bara selain umpan akurat adalah kontrol bolanya yang bagus. Dia sudah bisa menggiring tanpa melihat laju bola sehingga matanya terus fokus kepasa lawan di hadapannya tanpa disibukkan mengepaskan kaki dengan posisi bola.
Dua orang dari tim Fasih maju. Salah satunya adalah Wira. Keduanya menghadang jalan Bara, membuatnya terhenti beberapa detik. Namun sebelum bola terebut, kaki Bara sudah bergerak untuk memberikan umpan pada rekan tim. Umpan tinggi pada titik yang kosong.
Rekan timnya menerima dengan kontrol dada yang baik kemudian menggiringnya dengan kecepatan tinggi dari tepian lapangan. Namanya adalah Pala-lapa. Namanya terdengar unik, seunik orangnya. Dia memasuki wilayah Arif, membuat sekujur tubuh Arif bergetar.
Arif tesenyum menyambutnya. Dalam dadanya terasa hawa panas semangat. Arif maju, berlari. Menutup jalur.
Arif baru sadar, Lapa menggiring bola menggunakan kaki kiri.
Arif di lewati dengan mudah. Itu wajar, pemain baru.
Menyadari bola melewatinya, Arif segera berbalik dan berlari secepat mungkin untuk menghentikan Lapa. Meski dia menggunakan kaki kiri, kecepatannya tidak berkurang sedikit pun.
“Ayo lebih cepat lagi, Arif.” Arif menyemangati dalam hati.
Bola lepas landas terlebih dahulu sebelum kaki Arif menyentuhnya. Kaki kiri Lapa menghantam permukaan bola dengan kuat. Bola berputar cepat di udara, membelah wilayah pinalti, dan menusuk kearah gawang.
Fasih sudah siap dalam posisi, matanya berhasil membaca gerakan bola. Telapak kaki kanan menyentak tanah, memberikan tenaga untuk melompat ke samping. Tangan kanan terulur mencoba untuk menghentikan bola.
__ADS_1
“Gol!” Terdengar seruan itu setelah Fasih gagal menghentikan bola. Padahal sedikit lagi, ruas-ruas jarinya sudah menyentuh bola.
Bola kembali ke tengah. Wira terlihat yang mengusai bola tersebut. Kakinya disiapkan untuk melepaskan tendangan pembuka.
Tim Faga lantas memasang wajah serius, memposisikan diri sebaik mungkin. Mata Bara manatap tajam kearah bola.
Wira menggunakan ancang-ancang pendek. Diawali dengan menghembuskan nafas panjang dan sorot mata kearah sisi gawang, Wir lalu bergerak. Faga yang bertugas sebagai kiper menguatkan kuda-kuda.
Kaki kanan Wira menyentuh bola. Arif memperhatikan adegan itu baik-baik. Seakan terjadi pelepasan energi ledak skala kecil, itulah yang terjadi pada tendangan Wira.
Bola melesat dengan tenaga penuh, membelah lapangan, melewati pemain lawan, dan mengincar gawang pada sudut kritis. Fasih benar, tendangan Wira mengerikan.
Tendangan Wira memiliki jalur lintasan melengkung tajam. Akibatnya Faga salah dalam membaca arah bola. Itu momen yang membuat Arif tidak bisa berkedip. “Hebat.”
GOL
Wira menyamakan skor dengan tendangan epiknya.
Rekan satu tim Wira langsung mendekat padanya, memberinya selamat. Wira hanya bersikap biasa saja, menganggap itu bukanlah hal besar.
“Seperti biasa, tendangan mengerikan Wira.” Bara mengomentari.
Bola kini di serahkan pada tim Bara. Baralah yang akan melakukan tendangan pembukan.
“Bukan hanya kau saja yang bisa menendang dengan keren, Wira.” Bara tersenyum semangat.
Seluruh tim Arif menyiapkan diri. Kesenangan itu pun berlanjut hingga sore menjelang. Burung-burung pulang ke sarang, cahaya jingga mulai berubah gelap. Dari cakrawala terjauh telah nampak mega merah.
Dewa Langit bersiap mengakhiri tugasnya hari ini.
“Terimakasih permainannya.” Ucap Arif kepada yang lain.
“Hahahah, menyenangkan bukan. Kau bisa kesini kapan saja.” Bara memberikan tos kepada Arif.
“Itu dia, semangat masa muda. Hahaha.” Bara dan Arif tertawa bersama.
“Bara cepat sekali akrab dengan bocah baru itu ya.” Di tepian lapangan Wira duduk memandangi kerumunan teman-temannya.
“Itu memang sudah jadi sifatnya.” Balas Fasih. Dia duduk menemani Wira.
“Hei Fasih, tindakanku hari ini sangat berlebihan bukan?” Fasih menoleh pada sahabatnya itu. Tidak biasanya dia meminta pendapat soal kelakuannya.
“Ya, tindakanmu sangat berlebihan.”
“Sudah kuduga. Mungkin aku terlalu terbawa emosi. Kenangan itu, tidak bisa kulupakan.” Ucap Wira dengan suara lirih, wajahnya memandangi rerumputan di bawahnya.
“Apa-apaan itu, kau curhat padaku.” Ejek Fasih dan dilanjutkan tawa pendek. Tawa yang terpotong oleh tinju yang tepa sasaran.
“Ini juga berlebihan, kau tidak perlu memukulku bukan.” Balas Fasih tidak terima. Dia sampai terjungkal ke samping karena pukula Wira.
Wira meniup kepalan tangannya. “Itu balasan karena mengejekku.”
“Kau ini, memang serba keras.” Wira membersihkan celananya dan berdiri. “Ayo berbabung dengan yang lain.”
“Setuju.”
@@@
“Bisa ceritakan pada nenek apa yang terjadi disana.” Senyum nenek terkembang bersama kalimatnya. Beliau bisa menangkap kecerahan yang terpancar dari wajah Arif.
Arif menyambung dengan senyum pula. “Sangat menyenangkan.”
Kedua duduk di kamar Sheiny. Sheiny yang sedari awal penasaran dengan cerita Arif juga mendekat, mendengar.
__ADS_1
Arif menceritakan dari awal sampai akhir. Dari dirinya yang mengakui sebagai manusia rambut putih sampai diajak bermain bola bersamangat.
“Ini hari paling luar biasa.” Ucap Arif sambil mengangkat tangan.
“Heh aku jadi iri.” Sheiny mengomentari.
“Teman-teman seperti apa yang kau dapat Arif?” Sheiny melanjutkan.
“Teman-teman yang hebat. Semua menyukai Arif. Tapi ada satu yang kurang nyaman dengan kehadiran Arif. Mungkin.”
“Siapa namanya?” Sheiny bertanya lagi, nenek mendengarkan.
“Wira. Dia memiliki sorot mata seperti preman dan ada luka sayat di salah satu matanya.” Arif menjelaskan sambil mempergarakan siapa itu Wira.
“Semoga kami bisa berteman baik.” Suara Arif melirih.
“Pasti bisa.” Balas Sheiny bersemangat.
“Terimakasih.” Keduanya melanjutkan percakapan.
Nenek memperhatikan keduanya. Kedua-duanya sudah seperti cucu baginya. Keduanya, Arif dan Sheiny, dulunya adalah anak yang sangat pendiam. Nenek bahkan merasa perlu mengurusinya hingga akhir. Tapi nampaknya itu tidak perlu.
Dengan pertambahnya usia Arif dan Sheiny, berkembang pula pikir kedunya, serta nantinya akan menemukan dunia masing-masing. Nenek tidak berhak untuk membatasi keduanya.
Nenek tersenyum diantara percakapan Arif dan Sheiny kemudian menyentuh dadanya yang kembang-kempis. “Semoga aku punya waktu melihat keduanya menjadi orang hebat.”
Percakapan panjang itu selesai dan Arif pergi menuju kamarnya. Hari ini terasa sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Mendapat teman baru dan bermain bersama teman baru. Luar biasa. Hebat.
Kebahagian tidak harus sesuatu yang mahal-mahal. Kalimat lelaki berambut perak itu berdengung dalam kepala Arif.
Arif lalu merebahkan diri atas kasur lipatnya. Menarik selimut dan menutup mata.
Satu, dua, tiga,empat...tiga ratus satu, tiga ratus dua, tiga ratus tiga_
Detik demi detik berlalu.
“Aku tidak bisa tidur.” Batin Arif.
Arif bangkit dari tempat tidur, mengucek kedua matanya, dan berjalan ke keluar halaman. Arif sempat menengok ke lantai dua. Terlihat lampu masih menyala disana. Semalam ini Kak Haz masih bekerja? Itulah yang Arif pikirkan.
Pergi keluar ketika malam hari adalah kegemaran baru Arif. Terkadang Arif tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal, maka dia memutuskan keluar rumah untuk menikmati malam sambil menunggu kantuk kembali datang.
Arif duduk cukup jauh dari rumah. Di salah satu tempat yang langit-langitnya terbuka dari kanopi pepohonan.
Samudra angkasa terlihat sangat indah dan menawan. Penuh taburan kerlip cahaya bernama bintang. Keindahan malam semakin sempurna dengan kahadiran bulan purnama dan tidak adanya awan-awan yang melintas.
Arif terpaku oleh semua itu. Pemandangan ini selalu saja menyihirnya, membuat hati terasa berbunga-bunga.
Kak Haz pernah mengatakan, “Menjaga, membentuk, dan melahirkan keindahan di semesta adalah tugas Dewa Rusa Bintang.”
Bintang-bintang yang bertebaran ini adalah hasil karyanya. Benar-benar luar biasa. Arif tidak pernah bisa membayangkan bagaimana Dewa Rusa Bintang bekerja sambil bertapa.
Menikmati malam yang cerah dan tenang adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan sters. Bagi Arif, nampaknya malam ini dia tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal hebat yang terjadi.
Arif memutuskan kembali ke rumah. Di tengah jalan penglihatannya menangkap sesuatu yang mengagetkan. Benar-benar mengagetkan.
“Aku tidak salah lihatkan.” Arif mematung di tempat. Pandangannya menatap kejauhan yang remang-remang. Meski begitu matanya bisa mengonformasi bahwa ada sosok lelaki dengan posisi tidak biasa di depan sana.
Arif mendekat untuk mengonfirmasi penglihatannya.
Arif menahan nafas. Nampak seorang lelaki yang sedang bertapa di atas batu besar, yang mengagetkan adalah antara dirinya dan batu ada jarak satu meter. Benar, lelaki itu mengambang di udara.
“Kak Haz!”
__ADS_1