
Hari demi hari terus berjalan, bulan demi bulan terlewati, dan tahun pun berganti. Tidak terasa lima tahun sudah berlalu. Waktu senantiasa berputar, tiada yang bisa menghentikannya.
Dalam putaran waktu yang rumit, ketujuh sahabat itu membentuk ikatan yang lebih kuat dari kristal, dan kali ini nampaknya mereka menginkan suatu hal yang besar sebelum melakukan perpisahan.
“Yang benar saja, Pala. Kau akan pindah sebulan lagi. Kenapa?” Fasih bertanya dengan sedikit gelisah.
Kumpulan remaja itu nampak membicarakan sesuatu yang serius. Mata mereka menatap tajam kearah Pala-lapa di lapangan hijau tersebut. Angin ringan berhembus, meniup Pala yang mulai merasa panas dengan percakapan ini.
“Bagaimana yang menceritakannya ya. Hmmm.....hmmmm...” Pala nampak mengibas-ngibaskan kepalanya yang sedang botak. Wajahnya nampak ragu.
“Ayo ceritakan Pala. Jangan buat teman-teman pensaran. Kalau ada masalah kami dapat membantu.” Seperti biasa Faga berucap dengan nada tinggi dan mantap. Jiwa pemimpin sudah bersemanyam dalam dirinya.
“Bukan begitu sih, hanya saja, ah sulit sekali.” Pala mulai mengacak-ngacak rambutnya.
“Pala akan menikah.” Dari tepian lapangan muncul Wira.
Faga, Fasih, Hamka, Bara, dan Arif tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Fasih menganga cukup lebar setelah mendengar perkataan Wira. “Benar itu Pala?”
“Sembarangan kau, Wira!” Teriak Pala dengan wajah yang nampak memerah. Sementar itu Wira duduk di sebelah Arif dan ikut memperhatikannya. Bedannya dia memasang wajah dingin tidak peduli.
“Selamat Pala, umurmu sekarang dua puluh bukan. Selamat-selamat. Sekarang memang waktumu untuk menuju dunia yang lebih luas.” Faga mendekat padanya sambil menyalami dan menepuk pundak Pala.
“Tunggu-tunggu, aku belum menjelaskan apa-apa.” Wajah Pala memerah dan panik.
“Siapapun tahu dengan melihat wajahmu kawan.” Kata Fasih sambil nyengir-nyengir tidak jelas kearah Pala.
Pala-lapa kehabisan kata-kata. Kalimat Fasih menguncinya dalam posisi yang menyebalkan. Suhu tubuh naik, debaran di dada sangat terasa. Keringat Pala pun mengalir. Dia luar biasa gugup.
“Pala ingat kata-kataku ini.” Giliran Bara yang maju sambil bersikap sok keren. Nada suaranya pun dibuat-buat seperti orang yang bijak. Pala mulai menatap sahabatnya itu dengan sorot aneh.
“Hati wanita itu rapuh dan seperti kaca. Jika kau menyakitinya sedikit saja, bisa membuatnya tidak mengakuimu sebagai pasangannnya. Jadi hati-hatilah.”
“Ucapanmu itu malah menakutiku, Bara. Sama sekali tidak membantu.”
“Selamat ya. Padahal rasanya belum lama sejak kau mengajakku ke kelompok ini Pala.” Ucap Hamka sambil menyalaminya. “Semoga kehidupanmu menjadi lebih baik.”
“Arif kau juga ikut-ikutan?” Ucap Pala saat Arif pun ikut mendekat padanya.
“Tentunya. Selamat ya. Aku bingung mau menyampaikan apa lagi tapi di kehidanmu yang baru jadilah pria yang hebat bagi seorang istri.” Kata Arif sambil mengepalkan tangan.
Lima tahun disini membuatnya sangat dekat dan melupakan sifat gugupnya yang lalu.
“Hey kenapa kalimatmu seperti Faga?” Arif tertawa kecil.
Arif mundur dan Pala lantas menatap kepada Wira. “Kau, yang sudah membocorkannya tidak mau menyelamatiku.” Pala mengancungkan jemari kepada Wira.
Wajah Wira tetap terlihat tidak peduli.
“Selamat ya.” Ucapnya pendek.
“Hey, bisakah kau beri yang lebih berkesan.”
“Jadi_” Faga mulai berdiri. Semua pasang mata menuju kearahnya.
“Ayo manfaatkan waktu kita sebelum Pala menuju hidup barunya. Mari buat pengalaman paling berkesan. Aku punya ide untuk melakukan petualangan hebat.” Faga menyarankan.
Semunya mulai saling berpandangan, memikirkan renacana untuk membentuk kenangan paling berkesan sebelum Pala keluar dari ke kelompok tersebut.
__ADS_1
“Ya apa saramu, Wira.” Faga menunjuk Wira yang mengangkat tangan kanan.
“Bagaimana kalau ke Hutan Mimpi.”
Semuanya pun langsung memandangnya aneh. Hutan Mimpi, tempa apa itu?
“Bisa kau jelaskan Wira.” Pinta Faga.
“Kemarin-kemarin aku menemukan buku tua yang menjelaskan perjalanan bapakku bersama rombongan menuju Hutan Mimpi.”
“Bagaiman rupa Hutan Mimpi.” Faga ikut duduk mengerumi Wira, membuatnya tidak nyaman.
Dikerumuni dan menjadi perhatian adalah dua hal yang tidak disukai Wira.
“Hutan yang tertutup kabut dari luarnya. Tidak begitu rimbun tapi di tumbuhi pohon-pohon tinggi.”
“Apa tertulis sesuatu yang menarik dari Hutan Mimpi dalam buku itu?” Fasih bertanya. Wira menundukkan sedikit kepalanya sambil memejamkan mata, mencoba mengingat.
“Di dalam Hutan Mimpi, ada delapan pilar batu yang mampu bercahaya dan dijaga oleh Dewi Mimpi. Oh iya, juga tertulis jika kedelapan pilar batu disatukan oleh satu garis cahaya maka apapun keinginan bisa terkabul.”
“Woooh, hebat.”
“Bahkan terlalu hebat. Itu malah seperti cerita-cerita fantasi. Apa kau bisa mengofirmasinya Wira?” Fasih menunjukkan keraguan pada wajahnya.
Wira lalu merogoh sakunya, mengeluarkan kertas yang di kusam yang terlipat-lipat. Wira lantas membuka lipatan keratas tersebut. “Jangan bilang kau mencurinya Wira.”
“Aku mengambil tanpa izin.”
“Itu sama saja.”
“Lihat, disini ada sedikit penjelasan dan peta menuju Hutan Mimpi.” Semua orang berebut ingin melihatnya.
“Di delapan titik, cahaya emas menyatu, dan mimpi pun menjadi nyata.” Arif membaca kalimat tersebut dengan terpana.
“Ide bagus. Aku setuju, bagaimana dengan kalian?” Suara tegas Faga memecah kegaduhan teman-temannya yang masih memperhatikan kertas tua itu.
“Pastinya setuju. Aku bisa merasakan tantangan di dalamnya. Hahahah ini pasti sangat hebat. Ini pasti akan mendebarkan.” Bara yang pertama.
“Aku juga. Mungkin ini akan membuka wawasan baru bagiku. Menarik sekali.” Fasih yang kedua.
“Aku pun. Aku ingin melihat Dewi Mimpi dan bagaimana Hutan Mimpi itu.” Arif yang ketiga.
“Bagaimana dengan kalian Hamka, Pala?” Faga menoleh pada keduanya.
“Maaf sepertinya aku tidak bisa. Aku harus menjaga kakakku.” Ucap Hamka kecewa.
“Tidak apa-apa Hamka. Prioritaskan apa yang harus diprioritaskan.” Faga menyemangati Hamka.
“Terimakasih.”
“Kalau kau Pala, nampaknya kau sedikit ragu.”
“Aku sedikit cemas kalau ini menjadi perjalanan yang berbahaya. Tapi berbahaya sudah menjadi bagian dari aktivitas kita bukan. Aku setuju.” Balas Pala bersemangat.
“Baiklah, sudah diputuskan. Hutan Mimpi kami datang.”
@@@
__ADS_1
“Nenek.” Panggil Arif.
Setiba di rumah Arif langsung mencari beliau untuk meminta izin. Arif mendapat izin dari Kak Haz tapi dengan syaratnya nenek juga menginzinkannya.
Cahaya jingga menyiram rumah Haz. Burung-burung pulang ke sarang, dan suara-suara binatang malam mulai terdengar.
“Nenek.” Arif menuju gubuk belakang rumah. Tidak ada.
Mungkin di kamar Sheiny. Pikir Arif.
“Nenek?” Arif melirik ke dalam kamar Sheiny. Tebakannya benar.
Nenek dan Sheiny ada disana. Keduanya sedang bercakap-cakap sambil merapikan sisa-sisa anyaman. Terlihat di samping Sheiny ada empat anyaman bebek kecil dan satu induk bebek.
Nenek mengenakan kacamata dan setelan panjang berwarna merah ungu. Rambut beliau sudah sempurna putih, keriput memenuhi wajah, dan tenaga tidak sekuat dulu. “Arif? Duduklah.” Pinta nenek.
Arif mendekat dan duduk di sebelah nenek. Dihadapannya, Sheiny dengan rambut hitam legam yang dikucir kebelakang. Dia memasang senyum, membuat Arif beberapa saat salah tingkah.
Sheiny tumbuh menjadi perempuan ceria. Meski penyakit membatasi kehidupannya, kegemarannya pada dunia menganyam selalu bisa mengatasi kejenuhan hati. Dia perempuan hebat, tidak pernah murung terhadap nasibnya.
Bagi Arif sendiri, Sheiny adalah perempuan yang luar biasa dan cantik. Arif tidak bisa berbohong pada dirinya bahwa ada benih cinta mulai tumbuh di dasar hatinya.
“Ada apa Arif?” Nenek membuka pembicaraan.
“Sebenarnya, sebenarnya.....” Arif kesulitan menyampaikan.
Selama ini Arif belum pernah melakukan perjalanan jauh. Arif cemas bilamana nenek tidak sependapat dengan keinginannya.
“Arif dan teman-teman akan melakukan petualangan dan itu jauh sekali.” Arif berkata. Dia merasa sedikit bersalah.
“Lalu?”
“Mungkin akan sampai satu minggu. Tapi Arif janji akan pulang secepatnya.” Arif setengah berteriak mengucapkannya.
Suasana hening beberapa saat.
“Silahkan saja Arif.” Jawab nenek sambil tersenyum.
“Eh?”
“Kau sudah besar. Nenek tidak bisa selalu memaksakan kehendak nenek terhadapmu. Arif, kau berhak memilih duniamu sendiri. Selama itu tidak menentang moral, nenek setuju.”
Mata Arif membuluat besar. Tidak dia sangka akan semudah ini. “Terimakasih nek.” Ucap Arif sambil memeluk nenek erat-erat.
“Sebenarnya kau teman-teman akan kemana?” Sheiny pesaran.
“Ke Hutan Mimpi.”
“Hutan Mimpi, sepertinya hebat sekali. Aku jadi iri. Kau curang.” Wajah Sheiny terlihat lucu. Arif pun tertawa kecil.
“Hehehe, aku akan bawa oleh-oleh buat Sheiny. Tunggu saja.”
“Benarkah. Terimakasih.”
Nenek menyaksikan pembicaraan keduanya dengan senang. Namun tetap kecemasan tidak bisa dihilangkan dari wajahnya.
Hutan Mimpi.
__ADS_1