IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
70 Menyerahkan Diri


__ADS_3

Di bawah semburat cahaya jingga, Arif melangkah lemas. Sepanjang perjalanan kedua pundaknya terasa sedang di tindih batu besar. Menyakitkan dan melelahkan.


Dia berusaha sebisa mungkin menatap depan tanpa menoleh, mengabaikan orang-orang desa yang ia lalui. Arif tidak mau menoleh, wajahnya lurus menatap depan.


Orang-orang di sekitarnya pun memberi jarak, melangkah untuk menjauh dari sosok yang mampu menjatuhkan kesialan. Hal pertama yang mereka perhatikan adalah rambut putih Arif, rambut yang menandakan dekatnya kematian atau kutukan.


Orang-orang pun berlarian histeris, “Manusia rambut putih! Manusia rambut putih!” Teriakan itu sampai ke telinga Arif.


Bersautan-sautan, merantai-rantai sampai menghebohkan penduduk sekitar. Beberapa lelaki berbadan kekar segera mengambil tugas mereka.


Mereka pergi ke gudang, mempersenjatai diri dengan benda tumpul dan tajam, lalu berdiri di beranda rumah sambil mengarahkan senjata mereka kepada Arif dengan memasang raut benci.


“Pergilah, jangan mendekat!” Arif bisa mendengarnya tanpa memeriksa.


Segenap pikiran negatif berhamburan di benaknya bagaikan hujan badai. Mencabik keyakinan dan merobek keberanian. Arif tetap menguatkan langkah.


Arif menggigit bibir, kedua jemarinya meremas. Tiap langkahnya terasa semakin berat. “Anak Laknat!”


Arif menghembuskan nafas berat, terus menyambung langkah dengan ketakutan yang mengisis hati. “Iblis-iblis, menjauh. Pergi darinya!”


Rasa-rasanya, hatinya akan meledak. “Manusia rambut putih! Manusia rambut putih datang! Petakan segera tiba!”


Arif ingin berteriak pada dunia, tapi sebagian dirinya mencegah hal itu. Ketidak adilan yang diterima, memang itulah takdir yang harus Arif penuhi.


Terlahir untuk di benci dan mati untuk di benci. Arif meremas lebih keras hingga darah mengalir dari sela-sela jemarinya.


Arif berlari, lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat. Keringat dan air mata pun berjatuh.


“Dengan begini seluruh derita akan terhapus.”


Di hadapannya penduduk berkumpul mengerumuni tiga prajurit tersebut. Arif menghentikan langkahnya tepat di belakang penduduk yang mengerumuni sesuatu.


Sang Jendral berdiri diatas kotak kayu, menghadapkan kepada penduduk. Matanya menoroti sekeliling mencari keberadaan tarhetnya. Belum ada.


Kedua anak buahnya berjaga di dekatnya dalam posisi berdiri siap. Keberadaan mereka yang membawa pedang cukup untuk membuat penduduk tidak memiliki keberanian melawan.


“Nama saya Jim Balzac. Kami adalah utusan dari Kerajaan Valley yang mendapat tugas untuk menangkap manusia rambut putih bernama Arif. Mohon untuk di mengerti, ini adalah tugas langsung dari yang mulia Raja_”


Penduduk langsung saling tatap terkejut. Mereka tidak pernag menyangka kalau Arif adalah manusia rambut putih. “Tapi bukannya rambut Arif berwarna hitam?”


“Iya-iya, selama ini pun tidak ada kesialan yang kita dapat.”


“Tapi kenapa prajurit itu mengatai Arif adalah manusia rambut putih. Bukannya disini hanya ada Arif menantu Dokter Haz?”


“Benar itu, ini membingungkan.”


Kumpulan ibu-ibu mulai berbisik sambil saling lirik.


Tidak hanya ibu-ibu, para lelaki yang sempat mengumpul disana pun berdiskusi dengan topik yang sama. “Tidak ada Arif lain disini selain Arif menanti Dokter Haz.”


Suasana sangat ramai. Di bawah cahaya jingga yang semakin menggelap, Jendral Jim mengangkat tangan, membuat barisan penduduk seketika diam.

__ADS_1


“Kami tidak akan pergi tanpa membawa Arif si manusia rambut putih. Jadi siapa saja yang mengetahui keberadaan Arif si rambut putih tolong beritahukan kepada kami. Ini adalah tugas pen_”


“Tunggu dulu!” Seorang wanita muda dengan pakaian biru memberanikan diri memotong pembicaraan. Dia melangkah keluar dari kerumunan. Sahabatnya berusaha mencegah, tapi gagal.


“Apakah maskud kalian adalah Arif yang sebelumnya kalian pukuli!” Wanita itu menyambung penuh emosi. Wajahnya memerah.


Jendral Jim turun dari kotak kayu kemudian mendekat dua langakah. “Benar. Dialah Arif si manusia rambut putih.” Ucapnya dengan menyipitkan mata, memberikan intimidasi.


Ada gemetaran di tubuhnya, keringat dingin mengalir di tepian wajah. Dengan tubuh yang bergetar hebat, dia masih memberanikan diri menjawab. “Apa kalian buta! Dilihat saja sudah jelas kalau rambutnya hitam. Kalian jangan coba membohongi kami ya. Arif adalah tetangga kami yang berharga. Kami tidak akan membiarkan tangan kotor kalian membawanya.” Teriak wanita muda itu.


Jendral Jim mendekat ke arah wanita itu. Wanita berpakaian biru reflek melangkah mundur dan hampir saja jatuh.


Jendral Jim melototi wanita tersebut. Entah ekspresi apa yang sedang ia tunjukan, yang pasti wajahnya sangat mengerikan.


“Dengar nyonya, yang buta adalah nyonya sendiri. Lebih dari sepuluh tahun Arif si manusia rambut putih tinggal di desa ini dan tidak ada satupun yang menyadari dia adalah manusia rambut putih. Bukannya itu sangat aneh.” Jendral Jim meninggikan suaranya.


Kepercayaan mulai berat sebelah.


“Apakah para prajurit itu berkata jujur?” Pertanya yang serupa mengisi benak penduduk. Ditambah lagi ancaman bilah pedang yang mereka bawa. Sebagian penduduk mulai meyakini menyerahkan Arif adalah pilihan tepat untuk menghindari pertumpahan darah.


“Jangan percaya mereka. Mereka pembohong!” Teriak wanita itu sampai tenggorokannya terasa sakit. Dia mengedarkan pandangan kepada penduduk. Barisan penduduk bisa melihat adanya air mata di sudut matanya.


“Arif adalah tetangga kita, keluarga besar kita. Dia telah memberikan banyak bakti demi kesehatan kita bersama Dokter Haz. Dan selama ini pun tidak ada satupun kesialan yang menimpa desa kita. Sudah jelas, Arif bukanlah manusia rambut putih. Mereka berbohong. Mereka pembohong!”


Nafas wanita itu mulai patah-patah. Wajahnya yang pucat tidak bisa disembunyikan.


“Bagaimana ini Jendral, penduduk semakin tidak terkendali?” Salah satu anak buahnya berbisik.


Dia menarik bila pedangnya yang sudah patah dan mengarahkannya kepada wanita muda itu. Si wanita muda menelan ludah, dia merasa nyawanya sangat terancam di detik itu. Si wanita muda pun terjatuh dalam ketakutan, seluruh tenaganya runtuh seketika.


Para penduduk langsung membubarkan diri, berlarian tanpa arah. Saling bertubrukan tanpa peduli apapun.


Suasana langsung meramai. Atmosfer pun menjadi sesak dan mencekik. Itulah yang di rasakan wanita muda yang tergeletak tanpa daya.


Bilah pedang patah itu semakin dekat padanya, semakin mendekatkannya pada ajalnya. Tidak ada kata terucap, hanya ada bisu yang memenuhi lisan.


“Jendral. Ini sudah terlalu berlebihan.” Anak buahnya yang lain mengingatkan.


“Tolong jangan ganggu urusan pribadiku.” Jawab Jendral Jim. Matanya menatap anak buahnya dengan cara tidak biasa.


Kedua anak buahnya langsung paham dan mundur dua langkah.


“Inilah akibat keputusanmu. Terimalah dengan bangga.”


Jendral Jim mengayunkan pedangnya ke arah wanita muda itu.


“Tolong jangan ganggu Sheiny.” Ada sebuah genggaman yang menahan pedang itu mengenai Sheiny. Sheiny membuka mata perlahan, mata yang penuh akan air mata.


Jendral Jim memperhatikan lelaki di depannya. Dia bisa merasakan kekuatan besar dari genggamannya. Rambut ptuih itu, tanda lahir yang layaknya luka bakar di wajah dan lengan kanan. Tidak salah lagi.


Arif si manusia rambut putih.

__ADS_1


“Saya tidak mengijinkan Jendral menyentuh istri saya!” Teriakan Arif muncul bersamaan dengan tangannya yang melempar lengan Jendral Jim sembarangan. Pedangnya sampai terlepas dari cengkaraman. “Tenaganya lumayan juga.” Batinnya.


“Oh akhirnya si tikus masuk perangkap juga.”


Penduduk yang memperhatikan itu tidak bisa menghentikan keterkejutannya. Mata mereka tidak mungkin berbohong, di depan mereka tidak lain adalah Arif yang mereka kenal, tapi kenapa dengan rambut putihnya.


“Jadi selama ini...”


Arif lalu menatap Sheiny yang kini berlinangan air mata. “Terimakasih.”


Arif satu detik menatap tanah kemudian memberikan ekspresi terbaiknya. “Maaf ya.”


Sheiny paham sekali maksud kalimat suaminya. “Jangan-jangan-jangan-jangan Arif!” Sheiny melompat berusaha menangkap tubuh belahan jiwanya, tapi dicegah oleh Kak Haz.


“Tidak Sheiny, ini adalah keputusan Arif. Dia melakukannya demi kebaikan kita semua.” Kak Haz pun tidak bisa menyembunyikan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Di depannya, kedua pergelangan Arif telah diikat. Arif mulai di tuntun menjauh darinya. Menyadihkan sekaligus menyakitkan. Cahaya mentari semakin hilang dari langit, sebentar lagi malam tiba.


Kegelapan yang segelap hati Sheiny.


“Tidak ayah, tidak! Arif harus tetap disini. Pasti ada cara_”


Kalimat Sheiny terhenti karena wajah Arif yang kini berada di hadapannya kembali. Arif meminta waktu terakhir untuk berpisah dengan istrinya.


“Maaf Sheiny. Selama ini aku menjadi suami yang kurang baik.” Arif menahan sesuatu yang meledak dalam dirinya. Begitu pun Sheiny.


Arif lalu menatap perut Sheiny yang lebih besar dari normalnya. “Sebentar lagi adalah kelahiran putra kita.” Telapak tangan Arif berusaha menyentuh perut Sheiny, tempat putra pertamanya kini berada.


“Maaf aku selalu lupa untuk menyiapkan namanya. Sheiny, kuharap kelahirannya dalam menutup luka yang kuberikan ini.” Telapak tangan Arif menyentuh pipi istrinya dan mengelap air mata yang mengalir disana.


Sheinya membeku dengan mulut terbuka. Dia menyaksikan detik-detik perginya sang belahan jiwa. Lelaki yang pernah menemani suka dan duka, menghidupkan masa-masa remajanya, dan memilihnya sebagai ratu para bidadari.


Tidak ada protes yang lagi terucap atas kepergiannya, tapi tidak untuk air mata Sheiny.


“Dramatis sekali. Merepotkan.” Komentar Jendral.


“Sudah selesai?” Tanya Jendral Jim. Arif hanya memberikan anggukan sebagai konfimasi.


Arif pun di bawa pergi oleh ketiga orang itu. Meninggalkan Sheiny dan keluargnya. Semakin jauh sampai mata ini tidak bisa melihat punggungnya yang tak lagi bertenaga.


“TUNGGU!”


Arif dan ketiga kesatria kerajaan menghentikan langkah.


Sekumpulan bocah berusia enam sampai delapan tahun yang mengenakan ikat kepala dari kain usang menghadang jalan mereka. Salah satu dari mereka berdiri paling depan sambil mengangkat telapak tangan kanan, memberikan isyarat berhenti.


“Minggir anak-anak ini adalah urusan orang dewasa.” Anak buah Jendral Jim memperingatkan.


“Tidak sebelum Kak Arif kalian berikan.” Tantangan bocah yang berdiri paling depan itu. Tidak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya.


Dialah Koko putra juragan telur ayam, penduduk Desa Rakatta menjulukinya Sang Penghancur.

__ADS_1


__ADS_2