
Enam tahun terlewati. Desa Rakattan maupun Arif mengalami banyak perubahan.
Sepulang dari Hutan Mimpi, Arif sadar betapa penting posisinya seabagai penerus Die Hyang dan banyaknya ancaman yang akan datang di masa depan. Demi mengatasinya, Arif pun belajar bela diri.
Sejatinya sebagian besar gerakan Die Hyang adalah beladiri tapi tetap tanpa seorang guru Arif tidak akan berhasil. Kak Haz pun tidak bisa mengajar banyak, dia hanya tahu sedikit. Maka dimulailah pencarian seorang guru bela diri yang bermuara pada bapak Wira.
Beliau adalah petualang hebat, petarung yang tanggung, sekaligus bapak paling buruk. Begitu di mata Arif. Saat pertemuan pertama Arif langsung tahu mengapa putranya seringkali bersikap kasar. Namun, mau tidak mau Arif harus menahan dan menerimanya. Ini demi yang terbaik.
Pala dan Fasih merantau jauh dari desa. Pala sudah membangun keluarga, kabar terbarunya bahkan putra keempatnya baru saja lahir. Keluarga Pala pasti sangat ramai.
Sementara itu, Fasih memilih untuk mengasah otaknya. Dia mengundi nasib dengan memasuki akademi dengan akreditasi terbaik.
Akademi Pandawa, begitu Fasih menyebutnya. Saingannya adalah orang-orang dari seluruh penjuru negeri sekelas bangsawan dan pangeran. Bagi rakyat jelata seperti Fasih masuk Akademi Pandawa hampir-hampir mustahil.
Kabar baiknya dia diterima disana. Hebatnya lagi, Fasih menjadi salah satu siswa terbaik.
Bara dan Faga pun memilih jalannya. Keduanya mendaftar pada organisasi bernama Pasukan Pelindung Matahari. Arif tidak begitu tahu detail organisasi tersebut, yang Arif tahu organisasi tersebut memiliki tugas kemiliteran. Menyelamatkan orang dan menjalankan berbagai tugas kepahlawanan.
Arif sedikit tahu dari nenek. Beliau juga mantan anggota Pasukan Pelindung Matahari.
Wira juga ikut mendaftar pada Pasukan Pelindung Matahari, hanya saja dia gagal dalam tes. Arif sadar Wira sangat terpuruk akan hal itu.
Yang terakhir adalah Hamka. Takdirnyalah yang paling menyedihkan.
Hamka selalu lari dari pertanyaan yang menyangkut keluarganya. Hanya Pala yang tahu itu, tapi demi janjinya kepada Hamka, Pala pun tidak pernah buka mulut.
Hamka dan kakak perempuanya adalah anak terbuang. Orang tuanya bercerai dan Hamka tidak punya ingatan tentang bapak-ibunya. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Itu adalah masa-masa terberat bagi kakaknya.
Kakak Hamka tidak menyerah. Dengan kasih sayang penuh dia melanggar kodratnya sebagai wanita untuk melakukan pekerjaan berat demi memenuhi kebutuhan sanga adik.
Sampai keduanya tiba di Desa Rakatta dan di terima baik oleh penduduk. Perjuangan sang kakak menemui balasannya.
Sebab itulah Hamka sangat menyanyangi kakaknya bahkan Hamka menganganggap alasannya hidup adalah untuk merawat kakaknya hingga akhir hayat. Itulah yang terjadi tiga bulan setelah Arif dan yang lain pulang dari Hutan Mimpi.
Hamka melihat kakak perempuannya menghembuskan nafas terakhir. Sahabat-sahabatnya ada disana namun tiada satu pun yang berani bicara. Suasana hening dan menyedihkan terus berlanjut. Semua wajah tertuduk, semua senyum telah luntur.
Setelah pemakanan kakaknya, Hamka memutuskan menjadi pengembara. Alasannya karena kakaknya ingin melihat berbagai tempat dan pemandangan. Dengan dirinya mengembara, kakaknya mungkin bisa melihat tempat-tempat hebat.
Hamka yakin, penglihatannya dan kakaknya terhubung meski berbeda alam.
Fasih dan Faga sempat mencegahnya. Fasih bahkan mengatakan Hamka sudah gila dengan mengembara sendiri. Itu sangat berbahaya dan tidak rasional. Sama saja bunuh diri.
Hamka tidak mempedulikan. Tidak ada yang bisa menghentikannya untuk menjadi seorang pengembara. Itulah hari terakhir Hamka terlihat.
Setelah enam tahun pun tidak ada surat atau kabar tentang dirinya.
@@@
Arif tidak percaya ini. Dua detik tubuhnya membeku karena kedatangan pria itu. Rambutnya mulai memutih dengan jenggot tipis di dagunya. Kerut di wajah bertambah tapi tidak bisa mengurangi karisma yang muncul dari wajah itu.
__ADS_1
Pria tinggi besar itu mendekat pada Arif dan duduk disampingnya.
“Bagaimana kabarmu, Arif. Pastinya sangat baik.” Ucap Dokter Jago dengan senyum lebar.
Senyum itu, senyum yang tidak pernah luntur. Dokter Jago adalah pria yang selalu tersenyum.
“Sangat baik. Arif diterima baik di keluarga Haz.” Balas Arif bersemangat. Matanya membulat besar.
“Hey coba lihat rambutmu. Sudah hitam, pasti Haz melakukan sesuatu ya.” Arif mengangguk kuat-kuat. Semangatnya mengepul-ngepul dalam percakapan ini.
“Kak Haz membuat racikan penghitam rambut.” Arif menjawam antusias.
“Hebat, mungkin dalam hal ini aku akan belajar padanya.” Mata Dokter Jago lalu tertuju pada tanda lahir Arif.
Tanda lahir yang seperti luka bakar itu semakin besar, hampir memenuhi seperempat wajah Arif. Bagi Dokter Jago itu sangat mengkhawatirkan. Dalam penyelidikannya terhadap manusia rambut putih sepuluh tahun terkahir, beliau dapat menyimpulkan bahwa manusia rambut putih sangat ajaib dalam berbagai hal.
Hampir setiap manusia rambut putih memiliki keajaibannya sendiri. Keajaiban yang tidak bisa dijelaskan, melebihi segunung pertanyaan mengenai energi gelap.
Satu contoh, bagaimana Keping Harapan terbentuk?
Menurut catatan kuno benda itu terbentuk dari memori dan tekad dari manusia rambut putih yang saling menyatu kemudian kehendak untuk mewariskan. Masalahnya tekad dan memori adalah dua hal yang tak berwujud, lantas bagaimana manusia rambut putih mampu menjadikan benda kasar?
Dan untuk kasus Arif yaitu tanda lahirnya, entah mengapa Dokter Jago selalu berfirasat buruk.
Di masa depan kelak, tanda lahir itu menjadi sesuatu yang amat buruk bahkan mengancam umat manusia. Ini Hanya tebakan tanpa dasar dan Dokter Jago tidak pernah meremehkan tebakannya.
“Ada apa dokter?” Terlihat pertanyaan dalam mimik Arif.
“Kupikir juga iya. Kadang Arif merasa risih dengan tanda lahir ini.”
“Dari membicarakan sesuatu yang kurang menyenangkan, bagaimana dengan keluarga Haz. Khususnya Sheiny, kudengar dia sekarang sangat ceria ya.” Tubuh Arif terasa menghangat ketika nama itu disebut.
Tidak jangan begini.
“Keluarga Haz baik-baik saja. Hanya nenek yang terlihat kurang sehat. Dan untuk Sheiny dia tumbuh menjadi perempuan ceria.” Arif sedikit kesulitan mengucapkan perihal Sheiny. Tiba-tiba lidah seakan menjadi kaku.
“Omong-omong bagaimana tarianmu, Die Hyang.”
“Arif baru sampai tarian ke tiga puluh. Dokter, kupikir aku sangat cocok dengan tarian ini. Tubuhku selalu bersemangat untuk menarikannya.”
“Itu kabar bagus. Kau pasti mampu menyelesaikan keempat puluh satu tariannya.” Dokter Jago menepuk pundak Arif dan berdiri. Senyum Arif bertambah lebar karen pujian beliau.
“Ada beberapa yang ingin kubicarakan dengan Haz. Aku duluan ya.” Dokter Jago melambaikan tangan dan mulai berjalan menjauh.
Arif memperhatikan beberapa saat punggung orang yang dikaguminya.
Memori Arif terlempar ke masa yang jauh.
Dikala dalam rumah tua itu, dikala bermain bersama, dikala senyumn mulai berkembang. Itu benar-benar pengalaman terbaik.
__ADS_1
Semangat Arif kembali terkumpul. Dengan satu tarikan nafas kuat Arif kembali berdiri. Banyaknya keringat yang mengalir membuat Arif melepas atasan.
Dengan tubuh yang mulai terbentuk lewat latihan berat, Arif kembali menarikan Die Hyang. Lebih kuat, lebih menyala, lebih membara.
Keringat berjatuhan, daun-daun beterbangan. Tangan dan kaki, dengan gerakan hebat keduanya melaksanakan satu demi satu gerakan tanpa ada yang terlewati.
Sorot mata Arif sangat fokus. Dalam kepalanya terputar rekaman gerakan demi gerakan berikutnya.
Nafas mulai berat, tubuh terasa panas, tangan, dan kaki sudah kelelahan. Meski begitu Arif tetap melanjutkannya. Langit sore, angin, dan pepohonan di sekitar menjadi saksi kesungguhannya.
Di Altar Pertemuan ini, Arif menari sepenuh hati.
Arif jawab dengan sempurna panggilan sebagai penerus Die Hyang.
@@@
Kedatangan Dokter Jago adalah kejutan paling tidak terduga. Beliau datang tanpa bilang-bilang sehingga Haz belum melakukan persiapan. “Tidak apa-apa bukan berkunjung untuk meminum teh atau manisanmu Haz.” Nada suara Dokter Jago sangat serius.
Haz langsung paham akan hal itu. Ada sesuatu yang sangat penting yang akan disampaikan gurunya.
Keduanya berjalan menuju ruang tengah.
“Bagaimana kondisi ibu dan putrimu?” Dokter Jago membuka pembicaraan.
“Sheiny belum membaik sementara ibu mulai sakit-sakitan. Gejalanya sama dengan Sheiny. Aku merasa kututan itu nyata.” Haz berkata dengan sedikit tertunduk. Terlihat penyesalan di ujung matanya.
“Aku tahu Haz. Aku bisa mengerti perasaanmu dan tidak terlarut di dalamnya adalah pilihan paling bijak. Sebagai seorang guru aku punya kewajiban untuk membantu dan menuntun muridku. Usaplah kesedihan itu dan tesenyumlah.” Nada suara Dokter Jago mulai berubah sebagaimana bicara degan Arif.
“Terimakasih, guru.”
“Daripada itu, lebih baik kita melakukan persiapan sesegera mungkin.” Sorot mata Dokter Jago kembali serius. Atmosfer tegang kembali menyelimuti ruang ini.
“Dimana guru menemukan bunga itu?” Tanya Haz penasaran.
“Tempat yang jauh. Kota kuno bernama Arkkana. Menurut informasi dari kenalanku, disana bahkan tumbuh padang Bunga Purnama.” Tubuh Haz beberapa detik membeku. Matanya sekana melihat cahaya harapan baru.
Namun, sedetik kemudian cahaya harapan itu redup.
“Putri dan ibuku, perlu seseorang yang mengurus.”
“Hey, siapa yang mengatakan akan mengajakmu.” Dokter Jago menepuk pundak Haz kuat-kuat. Haz menatap gurunya dua detik.
“Aku berencana mengajak Arif, itu jika dia mau dan semuanya mengijinkan. Aku ingin menunjukkan banyak hal padanya, tentang kebenaran dunia ini dan kejamnya sistem dunia bekerja. Itu akan menjadi pengalaman penting untuk Arif.”
“Aku tidak bisa menjamin keberhasilan petualangan ini. Aku juga tidak bisa menjamin bisa pulang dengan selamat. Kota Arkkana berbahaya karena beberapa kali Grinsekta muncul disana.” Haz mengangguk sekali.
“Tapi kau paham aku orang seperti apa. Jangan coba untuk menghentikanku karena mencemaskanku. Jika begitu kau mencemaskan orang yang salah.” Dokter Jago memasang raut yakin.
Tiba-tiba senyum tipis terkembang di wajah yang selalu membeku.
__ADS_1
“Haha, akhirnya senyum itu muncul.”