IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
50 Orang-orang yang cemas


__ADS_3

Tanah yang terbakar. Asap hitam mengepul, pekat. Teriakan demi teriakan yang terdengar di medan tempur.


Bunyi bilah pedang yang membentur zirah tulang. Bubuk mesium yang meledak. Tidak disangka, nasib Arkkana berubah drastis.


Para Grinsekta dengan bermacam ukuran mendadak bermunculan dari tepian kegelapan. Menyerang secara membabi buta tanpa pandang bulu. Kedatangan mereka bagaikan awan gelap, menyerbu dalam jumlah besar seakan di organisir oleh seseorang.


Pasukan Grinsekta segera menguasai banyak tempat di Arkkkana. Mereka memenuhi banyak tempat seperti air hujan yang mengisi sungai kering. Tidak ada lagi tempat untuk sembunyi.


Medan perang semakin tidak terkendali.


Salah satu Grinsekta kumbang menyerang dari langit. Tubuh raksasanya dijatuhkan dari ketinggian lalu menghantam, menyebabkan kerasukan parah pada lawan-lawannya. Tubuhnya yang sangat keras membuat mata pedang selalu patah.


Seekor Grinsekta belalang sembah menggunakan kedua lengan pedangnya untuk memotong tubuh lawan-lawannya. Dengan gerakan gesit dan akurasi tinggi, dia menjadi salah musuh paling ditakuti. Tubuh hijaunya datang bersama serangan menyilang.


Sementara di udara monster berwujud kupu-kupu mengobrak-anbrik formasi dengan cairan asam. Secara fisik dan kecepatan, Grinsekta ini lemah. Namun, cairan asam yang dia hasilkan mampu untuk mengikis bebatuan dalam sekejap, apalagi sampai terkena kulit.


Api peperangan yang semakin berkobar. Pasukan Pelindung Matahari tidak akan mundur. Mereka yang bersenjatkan pedang berlari, menggenggam kehormatan dan kematian dalam satu tangan. Mereka ayunkan bilah yang telah ternoda darah.


Tubuh mereka persembahkan.


Di garis belakang, para wanita dan lelaki yang membawa senapan laras panjang berada. Mereka saling bahu membahu menyediakan bubuk mesium dan peluru dari logam khusus. Api dinyalakan, bubuk mesium meledak, dan peluru tertembak menuju targetnya.


Itu bukanlah pekerjaan mudah.


Nyawa-nyawa semakin berhamburan. Tumpukan mayat dari kedua pihak membuat siapapun yang melihat ingin muntah. Sungai darah pun telah mengaliri permukaan Arkkana.


Dokter Jago adalah salah satu yang paling sibuk dalam perkara ini. Dia membuat banyak sekali penawar dan obat untuk racun sampai luka-luka yang diakibatkan serangan Grinsekta. Untunya permukaan Arkkana di tumbuhi tanaman yang ia kenal. Dengan begitu dia bisa membuat obat.


Masalahnya adalah korban yang terlalu banyak membuat pekerjaan ini sangat berat. Keringat sudah membanjiri tubuhnya. Dokter Jago bekerja non-stop selama empat puluh delapan jam penuh demi menghadapi semua ini.


Teriakan dan jerit kesakitan pasiennya terkadang membuat sebagian kewarasannya hilang. Bahkan dalam kondisi tertentu dia akan mengakhiri nyawa pasiennya sendiri karena luka yang tidak lagi terobati. Ironis sekali.


Bahkan dokter yang menaklukan kematian tidak mampu menghadang gelombang serangan Grinsekta.


Di tenda utama, terlihat para atasan telah berkumpul. Empat lelaki dengan dua orang perempan. Dua orang dari mereka telah mencapai tingkatan Pembebas. Sorot mereka sangat tajam satu sama lain. Mereka menatap kearah meja, pada sebuah gambar peta terbaru.


Mereka terlihat sangat serius membahas ini.


Serangan dadakan dari para Grinsekta ini membuat seluruh tim pencari di tarik mundur. Tidak boleh ada yang menentang, semuanya harus ke permukaan demi keselamatan.


Avin dan yang lain tidak pernah sependapat dengan itu. Pemimpin mereka, Faga Dwi dan tiga anggota yang lain terjatuh dalam jurang besar. Meninggalkan mereka seperti melakukan pengkhianatan paling jahat.


Seperti itulah ikatan yang terjalin dalam Pasukan Pelindung Matahari. Pekerjaan mereka sangat dekat dengan maut sehingga mereka sangat paham betapa harganya nyawa seorang rekan.


Namun, ego tersebut sejatinya malahan menghancurkan kekokohan Pasukan Pelindung Matahari. Anggota Pasukan Pelindung Matahari di tuntut tegar menghadapi kondisi paling buruk. Maka dari itu, menaati perintah atasan adalah solusi terbaik atas semua ini walau itu tidak akan pernah menyelamatkan Arif, Wira, Yuvan, dan Faga.


Avin menggeram di depan tiga lelaki dari tim penjemput. Merekalah yang menyampaikan kabar penarikan seluruh tim dari kedalam Arkkana.


“Tidak ada pilihan lain. Kita harus pergi ke permukaan.” Ucap lelaki berseragam hitam tersebut.


“Cepatlah, hanya kau yang belum memutuskan.” Ucap yang lain bernada mengancam.

__ADS_1


Avin semakin ragu akan pilihannya. Kondisi yang semakin geting dan menjeput membuat otaknya tidak bisa berpikit jernih. Belum lagi kepanikan yang datang layaknya hutan jarum.


Rasanya sangat menyakitkan meninggalkan orang yang dia kagumi sekaligus ia sukai. “Apa yang harus kupilih?” Gumamnya.


@@@


“Bilah keempat. Kemilau cahaya keadilan.” Faga mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Bilah pedang lantas bersinar sangat terang, membutakan siapapun yang melihatnya.


Grinsekta berbentuk laba-laba seukuran rumah langsung menghentikan serangannya. Matanya sangat perih.


Dari belakang, Wira meluncur dengan menebas lehernya secara vertikal ke bawah. Darah hijaunya pun terciprat dan membasahi Wira.


“Tidak buruk.” Komenter Faga dengan senyum bersemangat yang dia berikan pada sahabatnya. Wira menyarungkan pedangnya dan menepuk-menepuk bagian tubuhnya yang terciprat cairan hijau kental.


Tiga ekor Grinsekta berwujud laba-laba dikalahkan. Kemenangan yang sangat mengembirakan bagi penduduk, pasalnya para Grinsekta adalah musuh alami mereka yang mendiami perut Arkkana.


Kedatangan ketiga Grinsekta tersebut benar-benar tidak terduga. Ketiganya berhasil menghancurkan dua rumah dan nyaris merengut nyawa dua gadis cilik. Dengan kesiagaan maksimal, Faga berhasil menyelamatkan dua gadis tersebut.


Namanya pun semakin harum di kalangan penduduk.


Kendati demikian, ada salah satu yang tidak terselamatkan dari persitiwa ini yaitu semangat bertarung Arif.


Tubuhnya membeku total di hadapan Grinsekta. Dia nyaris saja kehilangan nyawa jika tidak di dorong salah satu penduduk. Latihan dan keadaan di lapangan sangatlah berbeda. Bapak Wira benar.


Bermacam gejolak batin membuat semua usaha sia-sia.


Dihadapan tiga mayat Grinsekta Arif terduduk dengan seluruh tenaga yang sudah runtuh. Faga datang sambil menepuk pundaknya. Faga lalu duduk disamping Arif.


Matanya bisa melihat ketakutan yang masih bersarang dalam diri Arif. Faga menepuk punggung Arif lebih keras. “Bersemangatlah. Seperti kataku sebelumnya, lawan yang paling layak kau kalahkan adalah dirimu sendiri. Kali ini kalahkan ketakutanmu, Arif!” Seru Faga lebih bersemnagat.


Faga beranjak dan berkumpul dengan penduduk.


Arif termangu beberasa saat. Dibanding yang lain, dirinya tidak ada apa-apa. Ini semua sangat berbeda jika dibandingkan dengan ejekan dan cemooh penduduk.


Dulu Arif merasa aman walau dikutuk oleh penduduk. Namun, disini Arif bisa merasakan kematian kapan saja.


Arif menarik nafas panjang untuk mengatur ketenangan. Berkali-kali, supaya jantung berdetak lebih baik.


Tangan kirinya terkepal, marah terhadap ketakutannya yang mengakar kuat dalam hati. Arif seketika memukul sarung pedang pemberian senior Tein ke ubun-ubun.


“Aduh.”


Arif mengelus ubun-ubun yang sakit. Seseorang lalu duduk di sampingnya. Lelaki yang tingginya sepantara Arif.


“Memikirkab banyak hal? Sama denganku Arif.” Ucapnya. Wajah Yuvan terlihat bersedih.


“Sebagai Pasukan Pelindung Matahari aku sedih dengan diriku yang malah ketakutan di depan musuh-musuhku." Yuvan lalu membenamkan wajah pada kedua lengannya.


Arif memperhatika sahabatnya itu. Tidak hanya dirinya. Yuvan pun sama.


Stres karena memikirkan kegagalan adalah manusiawi dan sesuatu yang seharusnya dihindari adalah terlarut-larut di dalamnya.

__ADS_1


Kegagalan memanglah menyakitkan apalagi itu menyangkut sesuatu yang ingin diraih. Rasa sakit itu dapat berlipat-lipat.


Namun, bagaimana kalau menggunakan kegagalan tersebut sebagai titik balik?


Mungkin saja akan ada perubahan yang berarti. “Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Gumam Arif. Entah mengapa malah kalimat nenek yang terbesit di benaknya saat ini. Tidak mengapa. Hal itu malahan sedikit memekarkan senyum yang hilang karena ketakutan.


BUK


“Apa yang sedang kalian pikirkan. Berkumpulah dengan penduduk.”


“Hei, berhentilah memukul orang. Itu tindakan jahat.” Yuvan berseru tidak terima seraya memegangi pipinya yang terasa panas.


Berbeda dengan Arif. Setelah menerima pukulan Wira, wajahnya membeku.


“Hei Arif, ada apa?” Kata Wira pada Arif yang melamun.


“Arif, kau tidak apa-apa.” Wira melambaikan telapak tangan di depan wajah Arif. Meski wajahnya tetap datar, hatinya mulai cemas.


“Haha, pasti itu karena_”


BUK


“Kenapa kau melakukannya lagi.” Yuvan berseru lebih kesal. Dalam sehari dia kena pukul Wira dua kali. Wira nampak tidak memperhatikan.


“Anak ini memang penuh kekerasan.” Gumam Yuvan.


“Itu dia!” Seru Arif tiba-tiba sambil melompat berdiri.


Wira dan Yuvan nampak kaget dengan reaksi Arif.


“Gagal ada untuk berhasil. Marah ada untuk sabar. Sakit ada untuk kokoh. Takut ada untuk berani. Kenapa aku tidak pernah sadar hal sesederhana ini.” Wajah Arif sangat sumringah.


“Wira!” Arif mendekatkan wajahnya pada Wir seraya membawa pedang pemberian senior Tein.


“Tolong ajari aku teknik berpedang.” Pinta Arif bersemangat. Matanya membulat besar seperti bocah yang meminya mainan baru pada ayahnya.


Menyadari semangat dalam senyum sahabat membuat Wira tertular. Wira tidak bisa menolak permintaan tersebut. Lagipula dengan begitu, Wira bisa mengasah kemampuan berpedangnya melului latih tanding dengan Arif.


“Hei ajaklah aku.” Yuvan ikut-ikutan.


“Tentu saja, makin banyak makin baik.” Ungkap Arif.


Ketiganya segera berlari kearah Faga untuk memberitahukan hal tersebut karena dengan begitu seluruh urusan mengenai serangan Grinsekta akan jadi tugas Faga.


“Mengapa tidak? Lakukan yang terbaik. Kalian yang lebih muda harus lebih kuat. Biar urusan Grinsekta serahkan padaku dan penduduk.” Ucap Faga seraya menepuk dadanya dengan kepala tangan kanan.


“Terimakasih.” Ucap ketiganya serentak.


Faga lantas berbalik kearah lain, matanya tertuju pada seorang anak lelaki usia tujuh tahun yang murah senyum. Na adi.


Ketika sorot keduanya bertemu, senyum cerah Na adi berubah menjadi senyuman bengis.

__ADS_1


“Cukup menghibur untuk sebuah awal kehancuran.”


__ADS_2