IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
58 Pahlawan III


__ADS_3

Lelaki itu memilih gugur tanpa diketahui siapapun.


Arif melihat ketika pilar cahaya itu meredup. Pandangan matanya terus tertuju kesana seakan ada magnet kuat diantara kedunya.


Wira memasang raut aneh. Ada apa dengan Arif. Begitu batinnya.


Sedetik kemudian Wira menangkap sesuatu yang aneh muncul dari diri Arfi. Tanda lahirnya yang seperti luka terbakar itu bercahaya, aneh. Pemandangan itu membuat Wira terpaku, tidak mampu berkata-kata.


Sejak lama Dokter Jago sudah menduga ada yang aneh dengan tanda lahir Arif. Ditambah lagi anak itu adalah keturunan Manusia Rambut Putih dari jalur ibu. Variabel-variabel tidak jelas menutup semua jalan menuju jawaban.


Siapa sebenarnya Arif?


Tubuh Arif pun telah dilatih dengan gerakan Die Hyang. Pada dasarnya gerakan demi gerakan dalam tarian itu membuka gembok-gembol aliran Energi Gelap dalam tubuh manusia. Di tengkuk, di dahi, di pergelangan, di dada, dan di banyak tempat lain.


Maka ketika aliran Energi itu membanjiri tubuh yang terdampak tanda lahirnya, sesuatu yang tidak bisa di akal mulai terjadi pada Arif.


Setengah meter darinya bercahaya biru terang, tanda lahirnya bercahaya semakin terang, dan tubuh Arif perlahan-lahan melayang.


Wira semakin tidak bisa berkata-kata. Dia sampai hilang keseimbangan karena kejadian luar biasa itu.


Butir cahaya biru semakin menyelimuti Arif. Dalam kepalanya hanya ada kalimat, “Selamat Faga.”


Cahaya biru itu meletup, terurai menjadi serbuk cahaya yang lebih kecil dan menghilang sebelum jatuh di tanah.


Bersamaan dengan itu tubuh Arif pun menghilang dari hadapan Wira. Tanpa satu pun jejek.


Arif muncul tepat di hadapan Faga yang berdiri dalam kuda-kuda lemah. Tubuhnya berdarah-darah, wajahnya tertunduk penuh lebah, tapi genggaman tangannya masih mengangkat pedang. Arif menatap dengan meringis sedih.


Pandangannya lalu dialihkan ke Qocakau. Monster itu telah memerintahkan para Grinsektannya bergerak. Gelombang Grinsekta yang sangat besar datang.


Mereka memenuhi langit dan darat. Tidak ada satu pun tempat yang Arif lihat kecuali disana ada Grinsekta. Arif mengatup rahang. Tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan mengalir di selutuh tubuh. Keringat dingin telah membasahi punggung dan kening.


“Jangan mundur!!”


Arif menegakkan badan. Menatap tajam dan merentangkan tangan, menjadikan tubuh tameng hidup untuk melindungi sahabatnya.


“Karena Faga sudah melindungiku, giliranku yang melindunginya!” Arif memantapkan dalam hati.


Qocakau hanya menatap rendah padanya.


“Bodoh seakali.”


Gelombang raksasa itu datang. Suaranya sangat bising. Mereka datang layaknya tsunami yang siap menggulung kota besar.


Barisan taring dan cakar tak terbatas di depan. Bagaimana rasanya tubuh ini mencicipi rasa sakit luar biasa itu?


Para Grinsekta itu sudah melingkup seluruh jalan lari. Tidak ada kesempatan lagi.


Arif menutup mata rapat-rapat.


Cahaya emas kembali bersinar di celah-celah udara. Menghempaskan ribuan Grinsekta kedalam kematian mereka. Barisan kekuatan besar itu tumbang dalam sekali serang.


Suara gemuruh yang luar biasa, angin berhembus kuat, tanah beterbangan karena kemuculan cahaya misterisu tersebut.


Arif membuka mata perlahan-lahan.


Dalam nanguan cahaya emas itu dua puluh sosok berkepala elang hadir sambil merendahkan tubuh kepadanya. Mereka berlutut seraya menundukkan kepala kepada Arif.


Arif tidak mampu berkata-kata. Kejadian ini membuat sebagian akal sehatnya hilang. Arif terus diam dihadapan ketiga sosok tersebut.


“Terimakasih telah mempercayakan tugas ini kepada kami.” Ucap salah satu dari mereka lalu berdiri bersamaan.

__ADS_1


Dua puluh sosok berkepala elang itu mengenakan zirah emas di sebagian tubuh mereka. Kain berawarhan putih dengan garis biru menutup dada sampai kaki. Di punggung mereka ada sepasang sayap yang gagah.


Mereka merentangkan sayap bersamaan, lalu terbang tinggi ke angkasa. Kecepatannya sungguh luar biasa.


“Buruk. Para Manusia Elang itu datang. Padahal persiapannya belum sepenuhnya selesai.” Geram Qocakau dalam hati.


Belum selesai dia dengan kekesalannya, tubuhnya mematung oleh apa yang dilakukan oleh para manusia elang tersebut.


Dari masing-masing genggaman tangan mereka muncul segaris cahaya yang berubaha menjadi sebilah pedang. Mereka lalu mengacungkannnya ke langit dengan mempertemukan masing-masing mata pedang.


“Bilah kedua puluh tujuh. Kilatan Pemurnian.”


Cahaya emas segera mengembang besar dari mata pedang hingga melingkup kedua puluh Manusia Elang.


Dalam sekejap mata bola cahaya itu memunculkan ratusan kilatan cahaya yang menyambar ke segala arah. Menimbulkan badai petir dalam radius ratusan meter.


Suara guntur yang memekikkan. Tanah hangus, langit-langit runtuh, semuanya dilahap oleh kekuatan super dahsyat tersebut.


Tidak ada satu ekor pun Grinsekta yang berhasil menghindarinya, saat mereka sadar tubuh mereka sudah hangus terbakar tanpa nyawa.


Para Grinsekta berjatuhan layaknya hujan. Tidak ada celah antara satu dengan yang lain. Pandang hijau pun menjadi lautan mayat Grinsekta dalam hitungan detik.


Kedua puluh Manusia Elang turun di dekat Arif, mereka memberi hormat sebelum lagi. Setelah itu salah satu dari mereka mendekat kepada Faga.


Dia memperhatikan Faga yang masih terus berdiri setelah kematiannya. “Kisahmu akan kami wariskan. Faga Dwi, muridku.” Manusia elang itu lantas memberik hormat kepada Faga Dwi.


Arif memperhatikan semua kejadian itu dengan tegang. Semua ini terjadi begitu cepat. Dalam hitungan detik ribuan Grinsekta telah dimusnahkan.


Arif masih kesulitan mencerna semua ini. Satu hal yang bisa ia pahami.


“Kami menang.”


@@@


Pasukan Pelindung Matahari segera melakukan tindak darurat untuk menyelesaikan banyak perkara yang belum terpenuhi.


Di tengah kekacauan yang belum selesai itu, Faga, Wira, Yuvan, dan Faga datang bersama kedua puluh manusia elang.


Pasukan Pelindung Matahari memperhatikannya dengan terpana. Pertama kali bagi mereka melihat manusia elang secara langsung. Sosok-sosok legendaris yang bersemangat di nirwana. Prajurit-prajurit terhebat yang sejarah catat.


Manusia elang segera menjelaskan banyak hal terkait kedatangan mereka, tanpa memberitahukan identitas Arif yang seorang Penerus Die Hyang.


Alasan kedatangan mereka adalah untuk memusnahkan Si Penggenggam Matahari, Qocakau.


Qocakau sudah menjadi pemimpin seluruh Grinsekta di kedalaman sejak seratus delapan puluh tahun yang lalu. Dalam titik terdalam Arkkana di menyusun kekuatan Grinsekta yang tidak pernah terpikirkan siapapun.


Ada enam puluh ribu telur Grinsekta di perut Arkkana dan setiap telur Grinsekta bisa menetaskan empat sampai enam belas larva Grinsekta. Tidak terbayang jika semua telur itu menetas. Dunia pasti terancam bagi para manusia elang pun itu adalah sesuatu yang sulit di tangani.


Manusia elang itu menjelaskan bahwa semuanya berkat Arif. Tanda lahirnya secara unik menimbul sinyal yang memanggil para Manusia Elang.


Dengan begitu, para Manusia Elang bisa membereskan semuanya sebalum terlambat.


@@@


Arif, Wira, dan Dokter Jago tiba di Desa Rakatta bersama dengan jasad Faga.


Itu adalah kesedihan yang begitu mendalam. Warga desa mengenal Faga sebagai anak periang dengan rasa sosial tinggi. Semua orang tahu tentangnya. Itu berakibat pada banyak pelayat yang datang ke makamnya.


Banyak sekali. Orang-orang menangis dan mengelap air mata ketika jasad Faga telah di letakan di liang kubur.


Suara berkabung terdengar bersaut-sautan, bahkan untuk ayahnya yang tidak pernah peduli dengannya. Kepergian Faga adalah hal yang membuatnya menitihkan air mata cukup lama.

__ADS_1


Semua sahabatnya datang hari itu, mengikuti sampai semua orang pergi pulang.


Hanya tinggal Arif seorang yang masih menatapi pusaran sahabatnya itu. Arif sendirian dengan wajah basah oleh air mata.


Semua kenangan bersama Faga berputar cepat dalam benaknya. Rasanya baru kemarin mengenalnya, dan sekarang Faga telah pergi ke alam berbeda. Begitu cepat rasanya persahabatan ini terputus.


Lelaki yang gemar menyemangati, selalu menebar senyum, tidak pernah menyerah akan sesuatu.


“Faga-Faga-Faga_” Suara Arif terdengar lirih. Tubuhnya tertunduk lemah.


Jika Keping Harapan miliknya bisa mempertemukannya kembali dengan Faga Arif akan berusaha melakukannya.


Namun, sejauh ini tidak terjadi apapun. Nyatanya, Arif pun masih bingung dengan benda warisan ibunya ini.


Arif semakin tertunduk dalam sedih. Langit sore mulai mendung tanda sebentar lagi hujan datang.


Arif memilih beranjak dari sana, pergi dengan langkah berat, dan meninggalkan makam sahabatnya.


“Tolonglah, apapun itu. Pertemukanlah aku dengan Faga walau sekali saja.” Arif berdoa dalam hati.


Meski demikian bertemu orang mati adalah hal yang mustahil.


Arif berjalan dengan langkah yang lemah, keluar dari area makam.


Pandangannya lantas mendongak saat nampak sosok asing di depannya. Arif sedikit terkejut dengan kehadirannya, tapi keterkejutannya segera menguap oleh kesedihan menyayat ini.


Arif kembali tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


“Faga memintaku untuk menyerahkan ini kepada sahabat-sahabatnya.” Manusia Elang itu mendekat pada Arif dan memberikan selembar kertas tua usang.


Arif membacanya dengan malas. Semua hal ini membuatnya kehilangan banyak motivasi.


Namun, tulisan itu membuatnya tergugah dari kesedihan.


“Faga yang menulisnya?” Arif memastikan. Sebelumnya dia kurang jelas mendengarkan.


Manusia Elang itu mengangguk penuh wibawa.


Arif mulai membaca dengan lebih serius. Matanya perlahan-lahan mengeja kalimat demi kalimat tulisan sahabatnya itu.


“Teruntuk sahabat-sahabatku yang super. BERSEMANGATLAH! Kalian yang lebih muda harus lebih hebat. Kalau tiba waktu dimana aku harus pergi jauh, kuharap kepergiaanku tidak meninggalkan luka mendalam dan tangis. Kuharap kepergianku mampu menorehkan senyum untuk kalian. Mungkin menyakitkan, benar. Aku tahu perasaan itu. Tapi sebanyak apapun air mata yang kau keluarkan, tidak akan membuat orang yang mati bangkit kembali. MAJULAH! ANGKATLAH DADA, TEGAKKAN BADAN! Aku percaya, kalian pasti menjadi orang-orang paling hebat!”


Tulisan itu selesai. Beberapa kata penting ditulis tebal dan dengan huruf besar. Arif meremas sudut kertas dengan bergetar.


“Dasar Faga. Ini membuatku semakin_” Air matanya menetes tepat di kertas kusam tersebut.


Manusi Elang masih berdiri di hadapan Arif. Dia menunggu tanggapan dari Arif perihal surat tersebut.


Arif berusaha menghilangkan air matanya dengan mengelap wajah berkali-kali.


Tetap saja sulit, sulit sekali. Air mata ini tidak bisa dihentikan. Pada akhirnya Arif tetap mengalirkan air matanya, tapi dalam senyum sebagaimana yang selalu Faga lakukan.


Arif menolehkan kepala tiba-tiba. Rasa-rasanya baru saja ada yang berbisik disebelahnya. Aneh sekali.


Tanpa Arif sadari Manusia Elang itu tersenyum kecil dengan tingkah Arif tersebut.


Selesai dengan wasiat Faga, Manusia Elang itu lantas terbang tinggi, kembali menjalankan kewajiban di Nirwana.


Arif mengulangi kalimat yang dibisikkan ke kepanya tersebut.


“Tersenyumlah dan semesta akan tersenyum padamu."

__ADS_1


__ADS_2