IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
09 Bermain Petak Umpet


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Dokter Jago rutin mengunjungi Arif sekali dalam seminggu. Dokter Jago mengajak Arif bermain dan bersenang-senang. Membangun kembali dunia anak-anak yang sebelumnya hilang bersama dengan komanya Hanah.


Sampai sekarang ibunya belum bangun dari komanya. Itulah adalah kesedihan. Bibi Nilam juga tidak pernah berkunjung. Arif menceritakannya pada Dokter Jago. Dokter menjawab bahwa mungkin saja beliau sedang menghadapi masalah yang membuatnya tidak bisa datang.


Namun, lewat dorongan yang terus diberikan Dokter Jago, Arif tumbuh dengan dunia yang lebih baik. Dia memang masing sering mengurung diri di rumah, bahkan Dokter Jago meragukan kalau Arif bisa keluar hanya dengan keinginannya sendiri. Selama setahun terakhir ini, Arif keluar rumah dengan selalu di temani Dokter Jago.


Hal itu bukan masalah. Dokter Jago juga tidak mengharapkan gebrakan dari Arif, perlahan-lahan dan hati-hati itulah yang diinginkan beliau. Supaya Arif terus berada di jalan yang benar.


Selain Dokter Jago, Arif juga mendapat teman baru walau juga tidak sepantaran. Jarak umur keduanya adalah sepuluh tahun. Namanya Melati, remaja putri yang menyembunyikan persahabatannya dengan Arif.


Melati sudah sejak lama memperhatikan keluarga Arif. Dia sudah sejak lama menaruh simpati, tapi karena berbagai masalah simpati itu tidak pernah tersampaikan. Melati pun melakukan aksi nekat agar dirinya mau tergerak. Pemudi itu pergi menuju Desa Rakatta sendirian.


Desa Rakatta berada di Timur desa ini. Jauhnya adalah enam jam menggunakan kereta kerbau. Melati menyiapkan diri sebaik mungkin, walau ujungnya hanya berbekal keberanian yang selama berjalana terus goyah.


Dalam fase selanjutnya, Melati berusaha sesering mungkin untuk mengunjungi Arif. Remaja itu membantu Arif dalam mengekspresikan dirinya walau tidak sebaik Dokter Jago. Dia melati Arif berbicara, mengajari membuat anyaman terompah dari akar kering, dan juga menemaninya bermain di luar kalau kondisinya memungkinkan(bebas dari pantauan penduduk).


Melalui perjuangan kedua sosok tersebut, Arif tumbuh menjadi pribadi yang sekarang. Dia lebih terbuka walau masih sangat pendiam ketika dihadapan orang asing. Dia mulai sedikit demi sedikit belajar untuk keluar rumah sendirian, menyelinap agar tidak ketahuan penduduk, dan pergi untuk menikmati keindahan punggung Dewa Naga Bukit. Ya, dia pasti kesana. Panaroma itu selalu bisa merubah suasana hatinya.


“Ayo Arif, berikan lemparan terhebatmu.” Seru Dokter Jago dihapan Arif. Keduanya sedang bermain lempar tangkap di tengah hutan.


Bola dari akar anyaman akar kering segera di lempar dengan kekuatan penuh. Arif mengayunkan lengannya sekuat tenaga. Bola itu melesat cepat menghantarkan semangat Arif yang membara-bara. Sudah satu tahun terlewati dan Arif sudah membiasakan untuk selalu tersenyum sebagaimana Dokter Jago. Seorang anak cenderung meniru bapaknya, begitu Dokter Jago di mata Arif.


Dokter Jago melompat ke kiri. Tangan kirinya terulur ke udara, menghentikan lemparan penuh semangat Arif. “Hem. Lumayan.” Dokter Jago mengomentari. Raut Arif nampak tidak terima karena lemparannya selalu bisa ditangkap Dokter Jago, itu pun dengan satu tangan.


“Coba tangkaplah ini!” Kata Dokter Jago bersemangat, dia lantas membalas dengan lemparan mendatar. Arif berusaha menangkapnya, gagal. Bola berhasil melewatinya, masuk kedalam semak-semak. Arif segera mengambil bola tersebut.


Dibanding saat pertama kali bermain lempar-tangkap, Arif sekarang jauh lebih baik. Setahun yang lalu, dia masih kesulitan menangkap bolanya. Koordinasi tubuhnya buruk, Arif cepat sekali kelelahan, refleknya juga lambat. Itu mudah dipahami sesuai kondisinya saat itu.

__ADS_1


Arif mendapatkan bolanya. Dia mengambil ancang-ancang, sekujur otot lengan segera dikuat dan otot pergelangan. Arif pernah mendapat pengajaran cara melempar bola yang baik dari Dokter Jago, kali ini dia akan memparktikannya.


Dokter Jago memasang posisi siap, kali ini dia merasakan hawa semangat yang lebih kuat memancar dari Arif. Hawa itu mengepul-ngepul dalam posisi Arif yang siap melempar bola. Dokter menajamkan mata, menyiapkan kedua telapak tangan, kali ini mungkin dia tidak akan mampu menangkap hanya dengan satu tangan.


“Aarrrrrg!” Arif berteriak keras. Itu mengejutkan, pertama kalinya Arif menunjukkan semangatnya sampai-sampai berteriak.


Arfi melepaskan lemparan terbaiknya. Bola melesat kuat dari telapak tangan, menukik tajam ke tanah, dan mendarat disana. Dokter Jago yang melihat itu terpaksa menahan tawa, kejam rasanya menertawakan Arif.


@@@


Dalam pengasuhan Dokter Jago dan Melati, Arif tumbuh menjadi remaja yang lebih periang. Satu tahun lagi terlewati, ibunya belum juga bangun dari komanya namun Dokter Jago dan Melati selalu ada untuk menemaninya. Hasilnya Arif mampu mengekspresikan dirinya maksimal di hadapan keduanya, berbeda dengan orang asing. Hampir-hampir Arif membatu.


Dalam segi emosi, Arif yang sekarang memiliki pengendalian yang lebih baik. Tidak seperti sebelumnya yang bisa lepas kendali dan tidak stabil. Emosinya tidak seperti anak-anak kebanyakan. Namun sekarang Arif menjadi murah senyum dan aktif dihapadan Dokter Jago dan Melati, bahkan dia pun melakukan kemajuan hebat.


Kini diusianya yang sembilan tahun, Arif berani untuk keluar rumah sedirian. Tentunya dia masih menghindari kontak langsung dengan masyarakat, itu akan mengundang perkarang paling merepotkan.


Hari ini adalah hari yang cerah. Langit biru dan awan yang melaju menawan dilangit. Sinar mentari terasa hangat membanjiri permukaan kulit. Belum lagi hari ini Melati dan Dokter Jago sama-sama datang ke rumahnya untuk mengajaknya bermain. Arif menyambut dengan senyum melintang, sangat bersemangat.


“Bagaimana kalau petak umpet?” Melati mengajukan sebuah permainan.


“Petak umpet?” Tanya Arif penasaran.


“Permainan tentang cari-mencari. Satu orang mencari dan lainnya bersembunyi. Si pencari akan menghitung sampai sepuluh sementara yang lain memilih tempat bersembunyi. Jika si pencari menemukan semua yang bersembunyi artinya dia menang. “ Dokter Jago menjelaskan sambil tersenyum lebar. Itu sudah menjadi kebiasaanya bila berhadapan dengan Arif.


Sebenarnya permainan ini sudah tidak cocok lagi bagi Melati. Perhatikan saja, di usia sekarang Melati seharusnya memfokuskan diri untuk menyiapkan rumah tangga. Sementera Dokter Jago, jangan tanyakan. Benar-benat tidak cocok.


Permainan petak umpet dimulai dengan Melati yang bertugas menjaga. Ketiganya bermain jauh dari jangkauan penduduk, di dalam hutan. Tenang saja, biarpun baru sembilan tahun Arif sudah membiasakan diri. Sebelum menuju tempat favoritnya, Arif selalu melewati hutan ini sehingga dia hafal betul rute-rute disini.

__ADS_1


Melati menutup mata, menghadap pohon, dan mulai meneriaki angka-angka sampai dengan sepuluh. “Satu.....dua.......tiga..” Melati mengeraskan suaranya.


Arif dan Dokter Jago langsung bergerak, berpencar mencari tempat bersembunyi masing-masing. Arif melangkah cepat, dia dengan lincah menghindari akar-akar pohon yang menjalar kemana-mana. Matanya melihat sekeliling, menilai tempat manakah yang cocok untuk bersembunyi. Anak ini sangat bersemangat.


Setelah cukup jauh dari Melati dan dilanda sedikit kebingungan Arif memilih bersembunyi dibalik semak yang lumayan lebat. Arif yakin Melati tidak akan menemukannya disini. Sementara itu, Melati mulai bergerak. Pandangannya langsung menyisir semua sudut. Pohon-pohon, semak-semak, semuanya. Matanya dibuka lebar-lebar ke semua penjuru.


Meski sudah berumur, Dokter Jago ahli dalam permainan ini. Melati tidak pernah menyadari Dokter Jago berada tepat di dekatnya dan karena itu, Dokter Jago tidak akan pernah di temukan. Dokter Jago menahan tawanya ketika Melati melaluinya begitu saja. Dia merasa bernostalgia.


Melati melangkah dengan penuh hati-hati, dia berniat menemukan terlebih Arif dahulu dan mengagetkannya. Itu pasti seru. Melati menelusur lebih teliti lagi, dia membuka semak, memeriksa dahan-dahan dan lainnya. Tetap tidak ketemu, Melati terlalu meremehkan Arif.


Cukup lama dan merasa hampir menyerah, Melati merasakan dirinya disetrum sesuatu. Datangnya dari arah semak di hadapannya. Melati mengangkat alisnya tinggi-tinggi sambil tersenyum selebar mungkin. Pasti Arif dibalik semak itu. Hanya dugaan, tapi Melati yakin sekali.


Ketika jaraknya dengan semak itu tinggal satu meter, Melati melompat kedepan sambil berteriak sekencang mungkin, “Arif!”


“Loh kosong?” Melati ternyata salah. Dibalik semak itu tidak ada siapa-siapa.


Selain itu, Melati dapat mendengar sesuatu dari sana. Suara teriakan seseorang yang sedang marah-marah. Gerakan Melati membeku demi mendengar suara teriakan lelaki tersebut. Karena dirasa kurang jelas, perlahan-lahan Melati menuju sumber suara.


Matanya terbelalak ketika dari kejauhan dilihatnya peristiwa yang begitu memilikan. Aliran darah serasa berhenti menyaksikan pemandangan itu dan yang lebih parah lagi, Melati tidak bisa melakukan apapun. Diam dan hanya menonton. Kedua kaki dan seluruh tubuhnya sudah membatu di tempat.


Dihadapannya terlihat Arif, bersama dua orang yang sedikit asing di mata Melati. Itu Bibi Nilam dan suaminya, lelaki paling beringas di desa.


Wajah dan lengan Bibi Nilam penuh lembam, dia terduduk di sebelah suaminya karena tidak memiliki kekuatan untuk berdiri, beliau mendapat kekerasan dari suaminya. Suami Bibi Nilam memang begitu, sulit di mengerti dan kejam dalam berumah tangga. Rahasia hubungan Bibi Nilam dan Arif pasti telah terbongkar.


Arif semenjak awal nampak tertunduk ketakutan. Dia tidak menerima luka fisik, tapi hatinya pasti sangat terluka. Mendengar teriak demi teriakan suami Bibi Nilam saja membuat Melati bergidik ngeri, apalagi Arif yang sedang merasakannya disana. Tidak terbayangkan.


Matanya melototi Arif sembari telunjuk menunjuk-nunjuk, menghakimi Arif seenaknya. Melati mengepalkan jemari dari kejauhan, dia menggeram manahan marah. “Bergeraklah! Bergeraklah!” Melati menyemangati dirinya dan sayang itu tidaklah cukup. Suara mengerikan suami Bibi Nilam menghancurkan nyalinya.

__ADS_1


Hati Arif sekarang berteriak-teriak minta tolong. Dia menahan air mata dan amarahnya. Tubuhnya berdiri dengan lemah dan kepala tertunduk. Arif dipaksa mendengar kata demi kata yang tidak sepatutnya dia dapatkan. Kalau boleh, Arif ingin sekali merobek telinganya agar tidak mampu mendengar omongan lelaki di hadapannya.


Arif mengepalkan jemarinya kuat-kuat, kesabarannya sampai diujung. Dadanya terasa sesak, tubuh seperti mendidih. Tarikan nafasnya menjadi berat. Arif punya pilihan lebih baik. Menyumpal mulut cerewet itu dengan pukulan paling keras miliknya.


__ADS_2