IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
25 Waktunya Terjun ke Lapangan


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Arif lebih terbuka kepada Haz maupun nenek. Arif pun semakin sering melatih lidahnya, bisa puluhan kali dia menatap cermin dan membuka catatan persahabatannya dalam sehari. Tekadnya sudah bulat untuk mendapat banyak sahabat.


Seminggu lagi berlalu, Arif benar-benar menyiapkannya matang-matang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Arif sadar dia harus memaksakan diri dalam hal ini jika pastinya akan terus-terusan tertunda.


“Jangan berniat berbalik dari sini, atau kau akan menyesalinya saat sampai di rumah.” Ucapnya dengan nada yang selalu dingin. Tidak bisakah sebagai seorang kakak Haz menyemangati adiknya yang sedang tertekan?


Ini terjadi, benar-benar terjadi. Arif menelan ludah dengan gelisah yang tertahan di tenggorokan. Tangan maupun kaki sangat kaku untuk digerakkan, harus dipaksa.


Arif menatap sekekeling, waspada. Sorot matanya melototi segala sesuatu. Hari ini akhirnya tiba. Terasa cepat sekali, padahal baru kemarin rasanya tinggal di rumah Haz. Lelaki berumur tigu puluhan itu mengajak Arif untuk memahami apa itu makna sosial.


Dan disinilah Arif, terjebak dalam kerumuan penduduk dan kecemasan dirinya sendiri. Harus dipaksa.


“Kita akan kemana?” Tanya Arif. Kalimat bergetar, jelas dia masih belum membiasakan terahadap ini. Tindakan ini sama saja melawan fobianya sendiri.


Arif selalu merasa desiran dingin di punggungnya seakan tidak lama lagi akan ada orang yang menikamnya dari belakang. Menakutkan.


“Pertama berkeliling. Aku akan mencari pembeli dan Arif, cobalah untuk membiasakan ini semua. Lagi pula tidak akan ada yang curiga kau manusia rambut putih.” Jawab Haz dengan mendekatkan wajahnya kepada Arif.


Arif menguatkan hati. Itu benar. Tidak ada yang perlu ditakutkan atau dicemaskan. Rambutnya sudah dihitamkan, Arif pun sudah berkaca berkali-kali agar tidak salah bahwa rambut, alis, dan bulu matanya tidak putih lagi.


Namun, berbeda ketika praktik di lapangan, kecemasan ini datang berkali-kali.


Harus bagaimana?


Arif dan Haz menumbus kerumunan orang-orang. Keduanya sekarang berada di pasar. Lapak-lapak beratapkan kain-kain merah panjang berdiri. Buah-buahan segar dan sayuaran hijau tersebar di semua lapak.


Para penjual menawarkan harga, memberikan informasi mengenai produknya, dan menjamin-jamin bahwa produknya yang terbaik. Sedangkan para pembeli menilai, kejelian sangat diperlukan disini. Tidak sedikit para penjual ada disini.


Haz pun segera bergabung dalam keramaian itu. Dia menuju salah satu tempatnya biasa berjualan. Meletakan tas kayunya dan menggelera tikar hijau lebar. Harus mulai memindahkan barang-barangnya dari tas kayu miliknya.


Bermacam ramuan, obat, dan salep herbal yang dia pelajari dari Guru Jago ada disana. Haz terlihat sangat menghayati perannya sebagai pedagang. Gigih.


Beberapa kali dia memburu konsumen kemudia menawarkan dengan harga bersahabat. Kesannya sedikit kaku dan dingin, itu kekurangannya. Itu memang sifat bawaan Haz.


Tanggapan konsumen bermacan. Ada yang meminta maaf karena tidak butuh, ada yang mengajaknya bercerita panjang lebar tentang produknyan buatannya, ada juga yang tidak menaggapi apa-apa, tidak peduli.


Arif memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan Haz. Matanya merekam kata-kata yang Haz ucapkan sedangkan jemarinya mencatat kalimat yang diperlukan dalam catatan persahabatan.


Arif jadi teringat dulu ketika masih menjual ketela. Dia tidak bicara sama sekali atau hanya sedikit. Arif lebih kepada menunggu pembeli datang dari pada memburu pembeli tersebut.


Dua jam berlalu dan matahari telah naik tinggi. Keadaan pasar yang ramai oleh lalu-lalang orang-orang membuat kondisi ini sangat panas. Gerah.


Keringat sudah membanjiri leher dan punggung Arif. Kabar baiknya, Arif mulai terbiasa dengan semua ini.


Arif mengepalkan jemari kuat-kuat. Jangan menunda lagi atau tidak akan pernah terlaksanakan.


Arif mendekat pada Haz yang sedang beristirahat. Dia duduk diantara barang dagangannya dengan mata yang sibuk membaca buku catatan tebal yang dibawa, entah buku apa itu tapi Haz terlihat tidak ingin diganggu. Arif jadi sungkan untuk meminta ijin.


“Katakanlah Arif. Jangan sungkan.” Ucap Haz tanpa menoleh, dia membuka lembaran baru. Meski dingin, kakaknya ini memang sangat peka. Arif tersenyum kecil.


“Arif mau ijin mencari sahabat.”

__ADS_1


“Sekarang ya. Silahkan, tapi kembalilah kesini sebelum matahari terbenam atau aku akan kesulitan mencarimu.”


“Terimakasih.” Arif mengangguk dan segera balik kanan. Dia berlari sambil membawa semangat yang mengepul-ngepul.


Beberapa saat Haz memperhatikan punggung adiknya itu. Dua minggu yang lalu dirinya sangat ketakutan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dia lebih memilih menghindar. Namun, sekarang dia malah mencari sahabatnya. Terdengar aneh dan terlalu tiba-tiba.


Arif memang patut dibanggakan. Walaupun tidak ada hubungan darah. Aku akan berusaha menjadi kakak yang terbaik untukmu, Arif. Batin Haz.


Senyumnya terkembang.


@@@


Ini ternyata lebih sulit dari perkiraan Arif. Berjalan sendirian dan diluar pengawasan Haz terasa lebih menekan dibanding saat tadi memasuki pasar. Harus ditahan, harus ditahan.


Arif memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam. Lawan ketakutan itu. Aku bisa, aku bisa, aku bisa, aku bisa. Dada mulai terasa penuh oleh ketakutan.


Lawan Arif!


Arif membuka mata, dua detik seakan pemandangan dihapannya bergerak lambat. Arif terpaku di tempat.


Di pusat keramaian, Arif menemukan targetnya. Terlihat seorang anak laki-laki seumurannya. Dia kenakan kaos putih. Anak laki-laki sedang mengakat barang-barang cukup besar, mungkin membatu bapak-ibunya di pasar.


Arif ingin maju namun mendakak kakinya membeku. Sekujur tubuhnya merinding setiap kali terbesit niatan untuk berkenalan dengan anak laki-laki itu. Arif mematung cukup lama.


Sayangnya, mundur menjadi pilihannya. Arif membungan kesempatan pertama.


Dia mengepalakan jemari, kali ini harus lebih baik lagi. Arif kembali menembus kumpulan orang-orang. Matanya sangat fokus dalam mencari orang yang menurut penilaiannya bisa menjadi sahabat. Keringat menderas bersama degub jantung yang semakin keras ketika dia mendapat target ke dua.


Kesempatan kedua, terbuang.


Harus mencari lagi.


Arif tiba di lapangan sebelah pasar. Disana terlihat lagi anak laki-laki yang mengenakan topi lebar. Dia memegang sebuah tongkat sambil duduk di atas kerbau besar. Anak itu sedang mengembala.


“Ayo Arif jangan sia-siakan kesempatan ini.” Arif menyemangati dirinya. Dada dibusungkan, kaki dilangkahkan kuat-kuat untuk mengusir takut. Berhasil, berhasil, berhasil!


Arif semakin dekat kepada anak pengembala itu.


Mendadak Arif menghentikan langkahnya lagi dengan tatapan tertunduk.


“Bagaimana kalau aku mengganggunya? Dia mungkin sibuk mengurusi gembalaannya dan akan menyuruhku pergi karena mengganggu.” Arif mulai pesimis dan untuk ketiga kalinya ia memilih balik kanan.


Arif beberapa lama duduk di tepian pasar untuk melamunkan kegagalannya. Kenapa keberhasilan sulit sekali diraih ketika datang di depan mata?


Arif melakuka hal sia-sia itu cukup lama sampai sore menjelang.


Langit berubah oranye, para pedagang mulai berkemas untuk pulang. Arif tersadar dari lamuannya ketika ada seseorang yang meminta untuk menyingkir karena menghalangi jalan.


Seketika Arif teringat dengan alasannya mengapa ada disini. Kepanikan langsung mengerumi bagaikan pasukan semut yang mengerumi gula, kemudian meledaklah kepanikan itu.


Kalian tahu yang kemudian terjadi?

__ADS_1


Arif berlari-lari untuk mencari seorang yang menurutnya mampu untuk menjadi sahabat. Kepanikan yang mencekik memaksa Arif untuk melakukannya segera.


“Jika tidak dilakukan hari ini, esok pun akan terjadi sama seperti ini.” Begitu menurutnya.


Arif menelusuri segala sisi desa yang mulai sepi. Dia berlari dengan keringat yang berkali-kali menetes. Arif benar-benar serius kali ini. Tidak akan aku lepaskan.


Cukup lama berlarian di pasar tanpa menuai apapun Arif jadi teringat satu hal. Sore hari biasanya anak-anak seumurannya akan pergi ke lapangan untuk bermain bersama. Itu dia.


Arif segera berlari ke lapangan dimana dia menemukan anak pengembalan itu. Tebakannya seratus persen benar.


Di lapangan itu terlihat tujuh anak laki-laki yang sedang bermain bola. Wajah tiga diantaranya tidak asing bagi Arif. Ketiganya adalah anak-anak yang sebelumnya sempat Arif temui untuk di ajak berkenalan.


Arif menguatkan langkah dan hatinya sekali lagi. Kali ini harus berhasil, harus berhasil. Jangan biarkan ketakutan dan keraguan menghalangi. Berani dan yakinlah!


Arif melangkah dengan kaku, siapapun yang melihat pasti akan menilainya aneh. Kedua tangannya terkepal untuk menahan ketakuan dan karaguan disana. Dadanya berusah dibusungkan dengan tatapan tinggi untuk menunjukkan harga dirinya.


Matahari semakin dekat dengan peraduannya. Cahaya langit berubah jingga. Waktunya tidak banyak dan pastinya Arif tidak mungkin berbalik dari sini.


Di dapannya ke tujuh anak laki-laki itu sudah selesai dengan permainan mereka, bersiap untuk pulang. Sekarang ketujuhnya memperhatikan Arif dengan tatapan aneh. Sorot mata mereka seakan menusukkan mata pedang kepada Arif.


Keringat dingin mengalir, kaki, dan tangan bergetar. Tekanan ini sungguh sangat kuat.


“Kenalkan, namaku Arif! Maukah kalian menjadi sahabatku! “ Teriak Arif. Sambil menundukkan kepala dan menutup mata. Tangan kanannya terulur dalam posisi bersalaman.


“Orang aneh.” Ucap si botak bermata preman.


Arif tahu hal ini akan terjadi. Hati ini terasa sakit. Arif masih mematung dalam posisinya.


“Ayo teman-teman tinggalkan dia. Hari mulai gelap.” Si Botak bermata preman melanjutkan.


“Tidakkah kejam menyebutnya begitu. Kau berlebihan.” Si anak pengembala menanggapi kalimat sahabatnya.


“Hei dia memang aneh, apa salah kalimatku. Lihat saja, berkenalan saja sampai minta ijin dan berteriak. Dia orang paling aneh yang pernah kutemui. Ayo cepat aku tidak mau kenal marah bapakku lagi.”


Ketujuh anak itu pun membubarkan diri dari hadapan Arif, meninggalkanya sendirian di taman tersebut. Arif menelan ludah, ini berakhir buruk sekali.


“Usaha yang bagus. Aku menghargaimu.” Bisik salah seorang anak. Dia menepuk pundak Arif untuk memberinya semangat.


Ketujuh anak itu segera pulang ke rumah masing-masing. Arif mengigit bibir, meski ditimpa banyak sekali kegagalan, paling tidak Arif menemukan tunas-tunas persahabatan yang mungkin akan tumbuh. Walau menyedihkan, ini sudah lebih dari cukup.


Beberapa saat kemudian Haz datang menjemput Arif. Keduannya pulang ke rumah. Hari ini adalah salah satu hari paling menegangkan dalam hidup Arif. Hasilnya memang tidak sesuai harapan, toh ini langkah pertama juga Arif juga berhasil menghadapi ketakutannya.


Sekarang waktunya merebahkan diri di atas kasur yang empuk.


Esok hari datang dan berjalan layakny hari-hari biasa. Tidak dengan Arif.


Anak itu merasakan semangat yang mengalir deras dalam darahnya. Setelah kejadian kemarin hari, Arif merasa tubuhnya lebih enteng dan nyaman.


Arif bersemangat sekali menyapu halaman depan.


“Aku ingin mengenalkanmu pada putriku, Arif.” Kata Haz yang membuat Arif menghentikan gerakan menyapunya. Terpaku dengan kalimat Haz.

__ADS_1


“Heh?”


__ADS_2