
Dibawah ancaman mata tombak, Arif dan yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang bertopeng itu mengikat keenamnya dengan tali dan memaksan berjalan. Kasar sekali mereka melakukannya seakan Arif dan yang lain adalah binatang.
Keenamnya dibawa masuk ke dalam hutan dengan langkah tertatih-tatih. Jika mencoba berhenti sedetik saja, mata tombak langsung diacungkan ke batang leher. Orang-orang ini benar-benar serius dengan tindakan mereka.
Mereka saling berkomunikasi dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.
Orang-orang dari suku pedalaman itu hanya mengenakan bawahan berupa kain tipis dan sabut kelapa sebagai tambahan. Di dada mereka tergambar bentuk-bentuk rumit dengan warna putih, ungu, dan kuning. Mungkin itu simbol tertentu dari suku pedalaman ini.
Topeng kayu yang mereka kenankan memiliki ukiran wajah tidak bersahabat, ekspresi marah. Beberapa dilengkapi dengan bulu-bulu panjang hitam dan yang lain dilukis dengan warna hitam dan merah. Dilihat sepintas sudah menakutkan.
“Kau punya ide untuk lolos dari sini.” Arif berbisik kepada Fasih dan berusaha tidak menarik kecurigaan orang-orang bertopeng itu.
“Sekarang tidak.” Fasih menjawab dengan nada lirih, masih terdengar kelelahan dari kalimatnya.
“Kemungkinan terburuk adalah kita akan langsung dipenggal atau dibakar, tapi pasti akan ada celah disana. Aku akan berusaha mencarinya. Lalu bersama-sama kita akan lolos.” Kalimat Fasih serius dan lirih. Keringat mengalir dari wajahnya.
“Bisakah berikan kabar yang baik-baik saja.” Arif berbisik lagi.
Kurang dari sedetik setelah Arif menyelesaikan kalimatnya, salah satu mata tombak terarah dianatara Arif dan Fasih.
Arif menahan nafas, memperhatikan tombak super tajam itu. Dengan ketajam itu pasti sangat mudah untuk menguliti sapi atau kerbau.
Arif menelan ludah, lantas menatap kearah orang yang mengacungkan mata tombak. Dia mengarahkan wajah kepada Arif seakan tahu apa yang sedang Arif pikirkan. Tenang, tenang, tenang, Arif.
Badan Arif gemetaran, keringat dingin mengalir.
Sepanjang jalan Fasih berusaha mati-matian menemukan jalan keluar. Nyawa dipertaruhkan disini. Fasih menggeram kesal, setiap idenya musnah diujung mata tombak suku misterius ini
Sesuai dengan catatan milik bapak Wira. Hutan Mimpi memiliki pohon-pohon tinggi dengan sedikit daun. Beberapa pohon bahkan tidak memiliki daun sama sekali. Semakin masuk, kabut pun mulai menyelimuti. Kabut itu terus bertambah tebal, hingga jarak pandang tidak sampai satu meter.
Kombinasi keduanya menimbulkan suasana horor yang pekat. Ditambah dengan aura membunuh yang muncul dari tiap orang bertopeng itu, maut berikutnya akan datang.
Kabut tebal menghilang dan rombongan itu sampai pada sebuah perkampungan kuno. Tenda-tenda dari kain dengan motif unik berdiri. Tenda-tenda itu tersusun melingkari sebuah menari api besar.
Diatas pohon-pohon nampak rumah-rumah dari kayu. Rumah sederhana berbentuk kubus dengan bahan dasar kayu yang diikat satu sama lain.
Sebuah tempat lapang yang hijau. Terdengar suara anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran, suara gonggongan anjing, dan suara aktivitas lain. Perkampungan tua itu lumayan ramai. Wanita dan pria mengenakan kain coklat pasir dengan motif yang sama. Mereka juga mengenakan topeng dengan sebuah bulu yang tertancap disana.
Penduduk yang sedang beraktivitas segera menoleh kearah Arif dan lainnya. Mereka memperhatikan sambil berbisik dengan bahasa yang tidak bisa dipahami. Sikap mereka waspada bahkan beberapa mempersenjantai diri dengan benda tumpul.
Arif meremas jemari, “Apakah kami akan mati disini?” Tubuhnya gemetaran memandang orang-orang bertopeng itu.
“Apa yang akan kalian lakukan pada Faga dan Bara. Lepaskan! Lepaskan!” Terdengar teriakan Pala dari belakang.
Sesuai dugaan Arif, Bara dan Faga yang pingsan dipisahkan. Mereka dibawa masuk ke dalam tenda paling besar. Pala terus meronta-ronta terhadap tindakan mereka itu, ketakutannya sudah menguap.
“Kembalikan! Kembalikan! Atau aku akan menghajar kalian! Kembalikan!” Kata-kata Pala tidak dianggap sama sekali. Sementara Wira dan Fasih telah sampai ujungnya. Pala tetap meneriakan perlawan yang membuat para penduduk menjauh.
Tidak ada solusi, tidak ada ide, tidak ada jalan keluar. “Diamlah Pala, lebih baik kau simpan tenagamu untuk meloloskan diri, atau kita akan benar-benar kalah disini.” Fasih berbicara tanpa menoleh sedikit pun. Bola matanya memandang kematian.
Pala mendadak marah dengan sahabatnya itu. “Mana bisa begitu! Kita tidak akan mati disini! Kau, jangan bilang kita akan berakhir disini atau_” Kalimat Pala terpotong oleh mata tombak.
Mata tombak itu menyentuh batang leger Pala, membuat darah sedikit demi sedikit mengalir. Pala sempurna tutup mulut. Tinggal satu gerakan kecil dan Pala tidak akan melihat hari esok.
Orang bertopeng itu berbicara pada Pala dengan bahasa aneh. Mungkin memperingatkan agar diam. Mata tombak di turunkan dari batang lehernya beberapa saat kemudian. Pala bisa bernafas lagi.
Keempat remaja itu lalu diikat pada sebuah batang kayu besar, ikatannya kuat sekali dan menyakitkan. Mereka menjadi tontonan penduduk yang penasaran.
Empat lelaki yang menyandang tombak juga ada disana. Menghadap Arif dan yang lain sambil mengacung tombak. Terasa maut yang mengintai setiap detik, tekanan disini sangat kuat. Saking kuatnya sampai membuat jantung ingin melompat keluar dari mulut.
Empat lelaki bertombak sedang menunggu sesuatu.
__ADS_1
Setelah itu apa yang akan terjadi? Apa mereka akan menusuk kami dengan membabi buta, ataukah memenggal kami?
Fasih yang biasa memikiran dua-tiga langkah kedepan mendapat perkiraan tersebut. Setiap kali terpikir demikian perutnya terasa teraduk-aduk, Fasih ingin muntah. Kedua-duanya adalah pilihan terburuk. Jika memang kematian yang menanti, Fasih memilih mati dengan cara kedua.
“Apa benar-benar tidak ada jalan keluar.” Arif berbisik pada Fasih. Suara kecilnya terdengar sangat ketakutan.
“Aku tidak menemukan celah. Mungkin disinilah hidup kita akan berakhir. Jadi siapkan mental saja.” Balas Fasih tidak peduli. Dia tidak bisa diharapkan lagi.
Mata Arif menatap tanah dibawahnya, gerahamnya saling beradu. Hari mulai gelap, dinginnya malam akan datang bersama dengan kematian.
Tanpa diduga wajah orang-orang yang disayangi muncul di kepala Arif. Dokter Jago, Melati, Ibu, Kak Haz, nenek, Sheiny, dan semunya. Arif meremas jemarinya lebih kuat. Aku tidak akan mati!
Aku tidak akan menyerah!
“Pasti ada, pasti ada cara, pasti ada cara.” Arif membatin dengan emosi tak terkontrol. Keinginan untuk tetap hidup membutakannya akan realitas.
“Pasti bisa, pasti bisa. Ayo-ayo lebih kuat.” Arif berjuang melepaskan diri dari ikatan dengan merenggangkan lengannya. Tindakan super bodoh.
Dilihat dari sisi manapun, dengan kekuatan yang sekarang Arif tidak mungkin lolos. Arif terlalu berharap.
“Yakinlah kau bisa Arif.” Alis Arif meruncing, urat-urat di lengah dan wajahnya timbulnya. Keringatnya berjatuhan dan lengannya terasa sangat sakit. Arif hanya berusaha mematahkan tulangnya sendiri. Namun, Arif tetap maju.
Perhatian penduduk terfokus padanya. Terheran
“Ayo lebih kuat Arif!”
“Arif!” Ketiga sahabatnya berteriak panik. Wajah mereka sangat ketakutan.
Tubuh sempurna kehilangan tenaganya. Pandangan mata menatap kekosongan. Tepat disebalahnya, mata tombak menggores teling, nyaris membuat lubang diantara dua mata Arif.
Arif tidak merasakan perih, melainkan keputusasaan tiada ujung.
Cahaya harapan meredup, hilang.
Ketakutan ini, membunuh perlahan-lahan.
Seseorang wanita mendadak muncul, dia bukanlah pahlawan. Wanita itu berada di pihak seberang.
Wanita itu mengenakan kain hitam panjang dengan motif sebagaimana yang lain. Dikepalanya ada topeng kayu berbentuk wajah burung hantu yang dilengkapi banyak bulu.
Berbenda dari yang lain, wanita itu tidak menutup wajahnya. Dia menampakkan paras tiga puluhan yang perkasa.
Pemimpin suku telah datang.
“Selamat datang di Hutan Mimpi.” Wanita itu berucap.
Keempatnya tersentak kaget. Dia memiliki bahasa yang sama.
“Jarang sekali hutan ini menerima tamu. Hari ini kami menerima tamu anak yang masih polos. Cukup mengejutkan. Mari lupakan soal basa-basi ini. Aku tahu kalian ini bebas bukan?” Wanita membuat seringai jahat.
“Kalian akan bebas setelah memberikan kami persembahan.” Wanita itu menatap keempatnya satu-persatu dengan tatapan tajam. Aura yang mengerikan.
Wanita ini tidak bisa dipercaya.
“Berikanlah pada kami persembahan hebat. Jika kalian beruntung kami akan langsung melepaskan kalian.”
“Maaf, saya ingin bertanya.” Fasih dengan nada bergetar memberanikan diri bersuara.
“Iya. Silahkan.” Wanita itu mendekat pada Fasih.
“Apakah persembahan yang dimaksud adalah memberikan nyawa?”
__ADS_1
Mendengar jawaban Fasih wanita itu tersenyum lebar. “Benar sekali, memangnya persembahan apalagi yang lebih bagus selain tumbal manusia.” Nada suaranya sangat gembira.
Tekanan semakin kuat. Berubah menjadi jarum yang menusuk setiap jengkal tubuh. Keempatnya saling berpandangan, siapa yang akan ditumbalkan?
“Bagaimana kalau barang? Kami membawa banyak barang. Kami bisa memberikannya sebagai persembahan.” Pala giliran berkata dengan wajah pucat.
“Barang? Barang-barang kalian sama sekali tidak berguna. Tidak bernilai.” Jawaban wanita itu membuat semuanya tutup mulut. Tidak ada jalan lain.
“Cepatlah jawab, atau prajuritku akan membuat lubang di kepala kalian.” Ancam wanita itu.
Apakah tidak jalan lain selain mengorbankan sahabat?
“Ma-ma-af s-sa-saya ingin ber-tanya.” Kalimat itu keluar dengan tergagap. Ketakutan sempurna menyelimutinya.
“Iya silahkan anak muda.” Wanita itu tersenyum kepada Arif.
“Ba-ba-bagai-mana dengan pertutunjukkan?” Arif memaksakan kalimatnya untuk keluar.
Bulu kuduk Arif meremang ketika mata pisau mendadak menetap disamping batang lehernya. “Sudah kukatan bukan, persembahannya adalah nyawa. Jangan coba merubah keinginan kami.” Suaranya marah. Wanita itu menatap Arif dengan aura membunuh.
Arif merasa separuh nyawanya sudah lenyap.
“Jika kau bisa menghibur kami, mungkin kami akan berubah pikiran.” Wanita itu berbalik kepada prajuritnya dan memerintahkan mereka dengan bahasa yang tidak dimengerti.
Para prajuritnya segera membawa Fasih, Wira, dan Pala ke tempat jauh. Ikatan Arif pun dilepaskan.
Arif seketika jatuh ke tanah. Kakinya bergetar sampai-sampai kesulitan untuk berdiri. “Bangun!” Perintah wanita itu dengan kasar.
Setelah Arif bangun wanita itu memerintahkan rakyat menepi. Kedua tangan wanita itu lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Matanya terpejam sambil merapal sesuatu yang tidak jelas. Gerakan aneh itu diakhiri dengan wanita berjubah hitam menatap sekitar lalu menghentakkan kaki kanannya keras-keras ke tanah.
Tiba-tiba tanah bergetar, merekah dan memunculkan cahaya menyilaukan.
Retakan di tanah semakin besar dan menyebar cepat layaknya gempa. Tanah kemudian naik dan bertindak tidak wajar. Terpotong, mengambang, terbang, menyusun, dan saling menyatu. Dari empat sisi di hadapan Arif muncul dinding tanah tinggi juga mengalami hal serupa.
Ketika Arif membuka mata, kondisi kampung sudah berubah total. Tanah di kampung mengalami transformasi. Dalam hitungan detik panggung telah terbantuk. Konstruksi luar biasa.
Arif tidak bisa berkata-kata.
Panggung yang sangat besar. Arif mendapati teman-temannya di tempat jauh. Nyawa mereka berada dalam ancama tombak-tombak tajam. Arif harus benar-benar serius.
Arif menarik nafas perlahan-lahan untuk membentuk ketenangan. Sulit sekali.
Atmosfer disini membuatnya ingin muntah. Semua mata tertuju padanya dan pertunjukkan ini mempertaruhkan nyawa sahabat-sahabat. Posisi yang sangat tidak baik untuk mental. Arif berusaha mati-matian untuk tenang.
“Lakukan.” Perinta sang wanita, suaranya memaksa. Dia duduk jauh di depan Arif bersama rakyatnya.
Arif menghela nafas sekali lagi dan menutup mata, berusaha untuk konsetrasi maksimal. Arif bersiap menarikan Die Hyang.
Arif mulai bergerak, membawakan tarian pertama. Keajaiban Seribu Tahun.
Arif sudah berlatih Die Hyang ratusan kali dan telah menguasai sampai tarian kedelapan.
Tangan dan kaki bergerak indah. Tubuh manari luwes diatas panggung. Arif banjir keringat. Dia sangat kelelahan karena banyak hal. Pandangan mengabur, keringat berjatuh di atas panggung. Nafas Arif sudah patah-patah. Tubuhnya ambruk di tarian kelima.
Perjuangan yang menghancurkan diri sendiri.
Arif berusaha bangkit dengan tenaga terakhir. Nyawa teman-temannya dipertaruhkan disini.
Harus, harus, harus lebih kuat lagi!
Arif mengangkat tubuhnya yang terhujam seribu lelah.
__ADS_1
Arif memasang kuda-kuda, bersiap masuk tarian ke enam. Arif menepuk wajahnya untuk menjernihkan pandangan. Tubuhnya mematung seketika.
Wanita berjubah hitam dan seluruh penduduk bersujud padanya.