IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
62 Tanpa Keraguan


__ADS_3

“Hey kau murung sekali?” Tanya suara yang muncul dari belakang.


Arif terkejut dari lamuannya, nyaris saja dia tersedak air yang sedang diminum. Arif sedang beristirahat di tepian sungai setelah olahraga pagi ini.


Matanya menangkap sesosok lelaki tinggi berambut perak.


“Oh kau....” Ujung kalimat Arif terdengar tanpa tenaga.


“Oh kau? Ada masalah? Coba ceritakan padaku. Mungkin aku bisa memberi solusi.”


Arif nampak berpikir beberapa saat dengan sorot mata yang lemah. “Ini tentang tanda lahirku.” Ungkap Arif lirih.


“Tanda lahir, memangnya ada apa dengan itu?” Lelaki berambut perak itu mendekat pada Arif, memperhatikan wajah Arif lamat-lamat.


“Tidak bisakah kau melihat betapa mengerikannya wajahku ini?” Ucap Arif sambil membungan muka.


Lelaki berambut perak menarik tubuhnya. Dia menjauh sedikit dari Arif, mungkin Arif sedang ingin sendiri, batinnya.


Telapak tangan di bawah dagu, mata terpejam dan sesekali menatap langit yang mulai terang. Dia sedang memikirkan sesuatu terhadap Arif.


“Bukannya penduduk tidak masalah terhadap itu.” Arif hanya mengangguk.


“Kalau begitu kenapa murung. Orang-orang bisa memakluminya kan?”


Arif sedikit mendongakkan kepala. Arif baru saja sadar terhadap hal tersebut. Kak Haz nampak tidak begitu memperhatikan tanda lahirnya, begitu pun juga Sheiny. Orang-orang di desa pun tetap menyapanya dengan ramah.


Tidak ada yang memberikan kesan tidak suka.


“Mereka tetap menganggapku Arif apa adanya.” Batin Arif dalam lamuannya.


Lelaki berambut perak tersenyum tipis. Nampaknya masalah kecil ini sudah selesai. “Yah intinya sayangilah dirimu sendiri. Setiap orang punya penilaian masing-masing, dan mereka tidak menilai wajahmu buruk. Kau hanya terlalu khawatir.” Ucapnya kemudian berdiri menatap permukaan sungai.


“Mau lanjut?” Ajaknya untuk berjogging.


Arif pun mengangguk dengan semangat yang terpulihkan.


@@@


Surya semakin naik. Gerah dan panas memenuhi ruang ini. Udara yang seharusnya segar pun terasa panas saat membelai kulit, untuk pertama kalinya Arif berkunjung ke klinik Kak Haz.


Klinik ini sudah berdiri dua tahun yang lalu. Kepercayaan dan relasi yang Kak Haz bangun terhadap penduduk membuatnya memiliki biaya untuk membangun sebuah klinik.


Ukurannya lima kali lima meter, tidak begitu tinggi dengan beratap genting. Alasnya berupa pasir untuk memangkas pengeluaran. Kak Haz tidak merasa masalah dengan itu, para konsumennya pun tidak ada yang protes dengan alas pasir.


Di dalam klinik itu hanya ada satu ruang. Antara konsumen dan Kak Haz dipisahkan meja kayu besar, meja kasir. Sementara di belakang meja kasir berdiri rak besar berisi obat-obatan yang sudah dibungkus.


Di halaman belakang klinik berdiri sebuah gubuk. Di gubuk itulah tempat meletakan bahan-bahan yang nantinya akan dibuat obat.


Hari ini, Arif bertugas meja kasir. Dia yang nantinya mencatat keluhan para konsumen dan mewarkan obat, Arif sudah belajar banyak dari Kak Haz sehingga itu bukanlah suatu masalah. Di tangan kirinya pun ada catatan mengenai penyakit dan obat yang harus di berikan.


Sementara Kak Haz sekarang ada di belakang, dia sedang mengeringkan daun-daun dan akar tanaman apotek hidup.


Arif sedikit grogi. Meski sudah belajar banyak mengenai komunikasi sosial, ini tetaplah pengalaman pertama. Ada kesan baru yang tidak bisa dihilangkan.


Arif mengambil nafas pendek, menyiapkan diri. Pandangannya menatap depan, ada seorang wanita yang melangkah masuk.


Perawakannya setinggi Arif, ramnbut panjang dan terurai ke belakang. Wanita itu membawa sebuah tas kulit kecil. Dia kenakan kacamata dan pakaian rok panjang. Dari pakaiannya mungkin dia adalah perempuan dari keluarga keluarga berada.


Dilihat dari parasnya, Arif menebak umurnya sekitar akhir tiga puluhan.


“Eh... tunggu dulu.” Arif merasa tidak asing.

__ADS_1


Wanita itu berjalan menuju meja kasir dengan langkah terburu-buru. Sementara itu Arif masih mengorek memorinya untuk menjawab, siapa wanita ini?


“Maaf atas tindakan saya yang kurang sopan.” Ucapnya di depan Arif, tergesa-gesa. Nafasnya patah-patah, mungkin saja dia kemari dengan berlari. Arif semakin bingung dengan wanita ini.


“Apakah Dokter Jag o bekerja disini?” Tanyanya.


“Maaf nyonya. Sayangnya Dokter Jago sudah lama pindah. Setahu saya, sekarang beliau sedang melakukan penelitian di situs kuno.” Jawab Arif sesopan mungkin.


Pandangan wanita itu kemudian tertunduk, ada cemberut di wajahnya. Entah mengapa Arif jadi merasa bersalah karena memberitahukan perihal Dokter Jago.


Mendadak sesuatu melintas di benaknya.


“Sebenarnya kami punya karyawan yang berguru langsung dengan Dokter Jago. Mungkin beliau bisa membantu.”


Mendengar kalimat Arif, wanita itu lantas mengangkat wajah, menunjukkan wajah cerah ekspresi senang. Wanita lantas mengangguk dan duduk di kursi kayu panjang di sudut runga.


Arif berjalan ke belakang. “Kak Haz, ada konsumen yang mencari kakak.”


Kak Haz yang masih sibuk meratakan daun-daun yang mulai kering segera masuk ke klinik. “Tolong selesaik sisanya.” Pintanya.


“Baik Kak Haz.” Jawab Arif sambil mengangkat jempol.


Arif menuju tempat pengeringan dan mulai meratakan daun-daun itu agar tidak saling tumpuk. Cuaca di luar ternyata lebih panas dan gerah. Belum lama keringat segera membanjir tengkuk dan wajah Arif.


Arif menyeka pelipis, “Sepertinya sudah.”


Arif melangkah masuk.


Ternyata wanita itu masih. Dia menceritakan banyak keluhan mengenai penyakit yang sedang dihadapi keluarganya. Kak Haz mencatat sembari beberapa kali melemparkan pertanyaan yang diperlukan.


“Jadi bagaiaman dok?”


“Apakah seminggu dari sekarang tidak apa-apa?”


Wanita itu berbalik dan segera pulang.


“Siapa nyonya itu?” Tanya Arif penasaran. Kepalanya masih mengorek memori, tapi tidak bisa menemukan identitas mengenai wanita tersebut.


“Panggilannya Melati_”


Begitu nama itu tersebut, semua benang merah di benak Arif segera menyatu.


Arif memasang wajah terkejut. Tidak disangka yang berkunjung ke klinik ini adalah wanita yang dulu pernah menjadi penyelamat masa kecilnya.


“Apa yang beliau sampaikan.”


“Ayahnya dalam kondisi buruk. Beliau sakit-sakitan sejak lama tanpa di ketahui apa penyebab maupun penyakitnya. Katanya berbagai tabib telah di panggil, tapi semua tidak bisa menyembuhkannya.” Ungkap Kak Haz.


Arif ber-oh.


Selain itu, juga tertinggal raut kecewa di wajah Arif. Ayah Melati adalah kepala desa yang dulunya mencelakai dan mengusirnya dari kampung halaman.


Arif ingat betul masa-masa kelam tersebut.


Ketika dirinya di lempar batu dan sampah oleh penduduk atas perintahnya hanya karena rambutny yang putih.


Sekarang mungkin akan berbeda karena Arif sudah punya racikan untuk menghitamkan rambutnya. Namun, hal yang sama mungkin terjadi jika Arif memperlihatkan identitas sebenarnya.


Sejauh ini tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah manusia rambut putih kecuali sahabat-sahabatnya, Kak Haz, nenek, Melati, Dokter Jago, Sheiny, Bibi Nilam, penduduk kampung halaman, dan Bapak Wira. Selebihnya Arif mengenakan topeng dihadapan semua orang untuk mencegah kebencian yang terarah kepadanya.


Menyedihkan sekali bukan?

__ADS_1


Seseorang yang hidup dalam kepalsuan demi mendapat tempat di masyarakat.


Itulah sosok Arif.


Tenaganya terasa rontok, air matanya berontak ingin mengalir keluar. Kepalsuan ini sangat menyakitkan.


PLAK


Kak Haz menepuk punggung Arif keras-keras. “Hetikan lamuan itu. Kau masih punya banyak tugas disini.”


Kak Haz berlalu menuju rak obat di belakang. Arif menatap sedikit sebal padanya. Disana dia menemukan sebuah senyum yang melintang di wajah Kak Haz. Sesuatu yang teramat langka.


Arif mulai berfirasat tidak enak.


@@@


Pekerjaan hari ini selesai dengan baik. Tidak begitu banyak kedala, tapi cukup melelahkan.


Cahaya jingga melukis angkasa. Awan-awan berarak, berjalan harmonis di atas sana. Burung yang terbang berkelompok, menuju sarang masing-masing.


“Kami pulang.” Ucap Kak Haz sambi masuk kedalam rumah.


Dia lantas menuntun Arif ke ruang tamu. Disana terlihat Sheiny sudah duduk, nampaknya sedang menunggu kedatangan Arif dan bapaknya.


Seketika Arif merasa dadanya meledak-ledak. Ingin lari, tapi tidak bisa. Temperatur tubuhnya naik, badan Arif membatu, dirinya terasa sedang di kukus.


Arif menelan ludah, melihat Kak Haz dan Sheiny yang duduk menghadap dirinya. Arif merasakan getaran hebat dalam dirinya, apalagi ada Sheiny disana. Pandangnnya terus menatap ke lantai, tidak mau menatap Arif.


Ketika sorot keduanya bertemu, Sheiny langsung membuang muka, membuat Arif merasa dadanya ditusuk jarum raksasa.


Arif berusaha menstabilkan nafas, membuat semanya lebih baik? Tidak bisa!


Jantung berdegup sangat cepat, Arif bisa mendengar betapa keras jantung bekerja. Tangan-kakinya terasa mati rasa. Gugup yang menggebu-gebu.


“Sheiny.” Ucap Kak Haz seraya memberikan senyum kepada putrinya.


Sheiny menatap mata bapaknya beberapa saat. Dia sudah membulatkan tekad, karena sudah samapi sejauh ini tidak mungkin untuk berbalik.


Sheiny meremas jemari dengan wajah merona. Dia mengigit bibir, berusaha mati-matian untuk mengeluarkan kalimat dari lisannya.


Sementara Arif masin tertunduk menatap lantai. Dia masih luar biasa gugup dengan wajah yang juga memerah. Kondisi ini sungguh tidak pernah terduga.


“Arif.” Suara indah terdengar memanggil.


Arif memberanikan diri mendongakkan wajahnya yang kaku.


Sheiny lalu mencurahkan kata-kata dari hati terdalamnya. Kata-kata yang sangat indah dan tulus. Terdengar sangat lembut di telinga Arif.


Kalimat demi kalimat membelai hati Arif, membuat lelaki itu tidak sanggup lagi menahan sesuatu yang akan meledak dari dalam dirinya.


Sheiny menyelesaikan kalimatnya dengan langsung membuang muka. Arif membeku dalam posisi, tidak ada sepatah katapun yang bisa dia keluarkan.


Tangis bahagia pun pecah. Air mata kesyukuran mengalir.


“Saya bersedia.” Ungkap Arif tanpa keraguan.


Kak Haz pun tersenyum lebar melihat putrinya yang sudah bertambah dewasa. Pandangannya lalu terarah kepada Arif.


Ini adalah hari paling berbahagia dalam hidupnya.


Dulu Arif tidak pernah dimanusiakan, tidak ada satupun manusia yang mau menerimanya hanya kerana terlahir dengan rambut putih. Namun, kejadian hari ini membuahkan jawaban yang pasti untuknya.

__ADS_1


Rambut putih ini bukanlah kutukan atau laknat Tuhan. Rambut putih ini mendewasakan, menjadikan Arif pribadi yang kuat. Rambut ini pun menghantarkannya pada sosok-sosok hebat sampai mempertemukannya kepada Sheiny dalam ikatan suci.


__ADS_2