IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
56 Pahlawan


__ADS_3

Di sebuah teras yang sejuk. Angin berhembus pelan disana, menghantarkan kesegaran. Sinar matahari pagi yang bersinar membawa kehangatan bagi siapapun. Terdengar bisik tongeret dari hutan sebelah.


Diatas teras kayu itu nampak seorang ibu dan putra laki-lakinya yang imut. Wanita itu berambut hitam legam dan panjang terurai hingga punggung. Dia punya sorot yang teduh dan menyenangkan. Sementara dalam pangkuannya sang putra terus saja melemparkan pertanyaan yang membuat siapa saja tersenyum padanya.


Di pagi cerah itu sang ibu sedang menceritkan dongen pada putranya. Di tangan kanannya ada sebuah buku tua yang lumayan tebal.


“...orang tua itupun sangat berterimakasih kepada Raiya. Berkat semua baktinya, si orang tua bisa hidup berkecukupan bersama keluarganya. Dia mengucapkna banyak terimakasih pada Raiya dan memberikan banyak imbalan. Namun, Raiya tidak mengambilnya. Dia melakukannya semata-mata karena ingin membantu. Raiya pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya.”Sang ibu menutup buku kemudian memandang wajah putra kecilnya.


“Raiya sangat hebat. Raiya adalah pahlawan!” Seru si anak kegirangan. Senyumnya seakan bercahaya bersama kalimat itu.


Sang ibu bertambah bahagia menganggapinya. “Apakah Faga mau jadi seperti Raiya?”


“Mau, mau sekali. Faga ingin menjadi pahlawan seperti Raiya.” Ucap Faga cilik bersemangat. Dia sampai keluar pangkuan dan melompat-lompat saking girangnya.


“Menurut Faga, apa itu pahlawan?” Ibunya melemparkan pertanyaan.


Faga mendekat dan duduk di hadapan ibunya. “Orang yang hebat. Orang paling keren. Orang yang senang menolong!” Jawab Faga keras-keras menandingi suara tongeret yang nampaknya terusik dengan teriakan Faga.


Suara tongeret pun menghilang.


Ibunya tersenyum simpul. Wajahnya mudanya terlihat menawan dan cantik. Beliau adalah ibu muda yang berusaha menyiapkan masa depan terbaik untuk putra-putranya.


“Faga benar sekali.” Balas sang ibu seraya merentangkan kedua lengan.


Melihatnya Faga Dwi segera berlari kearah ibunya dan memeluknya erat-erat. Keduanya segera terlarut dalam canda-tawa yang sangat menyenangkan. Itu adalah masa-masa paling indah.


Beberapa tahun setelah itu pada sore hari yang berawan mendung. Penduduk desa Rakatta berkumpul untuk suatu acara. Faga bersama kakak dan ayah pun terlihat dalam barisan penduduk itu, menghantarkan sebuah tandu berisi jasad paling dicintai.


Tandu itu kemudian di letakkan di dekat lubang galian. Dengan penuh kehati-hatian jasad mulai itu dipindahkan oleh beberapa orang ke dalam lubang tersebut. Setelah jasad di tutup dengan papan, lubang itu pun ditimbun dengan tanah.


Orang-orang terjatuh menekuk lutut. Isak tangis terdengar dimana-mana. Doa-doa dipanjatka, juga ketidak relaan akan takdir yang Tuhan gariskan terdengar beberapa kali disana.


Air mata meleleh, mengeliri pipi dan jatuh di tanah tempat ibu Faga dikuburkan.


Beliau adalah sosok luar biasa. Jasanya begitu besar terhap Desa Rakatta. Kepergiannya adalah sebuah kesedihan bagi seluruh penduduk.


Kilat terlihat beberapa kali menyambar dalam lautan awan gelap. Kala itu langit pun seakan ikut bersedih.


Wanita yang mengabdikan diri untuk kemaslahatan semua orang telah pergi.


Orang-orang mulai melangkah pulang dengan wajah tertunduk. Satu persatu hingga tinggal Faga seorang saja.


Dia tidak bisa menghentikan tangisannya. Air matanya terus mengalir keluar. Dia bertekuk lutut di hadapan pusaran ibunya sampai berjam-jam. Dalam kepalanya terputar semua memori indah tentang ibunya.


“Sudah Faga. Ibu tidak akan kembali. Mari kita pulang. Hujan semakin lebat.” Ucap kakaknya seraya menepuk pundak Faga.


Faga lantas berdiri diantara jutaan butir air hujan yang turun dari langit. Pakaiannya basah kuyup oleh air hujan, begitu pun hatinya. Basah kuyup oleh kesedihan.


Seorang pahlawan telah beranjak dari kehidupan Faga Dwi.


“Ibu bangga punya putra sepertimu.”


Secara aneh kalimat itu tersebit dalam kepala Faga. Membuatnya mematung untuk menahan tangis yang siap meledak.


Kakaknya hanya menatap putranya dengan sedih. Baginya pun ibu adalah sosok yang begitu luar biasa.

__ADS_1


Seorang pahlawan sejati.


@@@


Tubuh Faga di hujam seribu luka. Rambutnya acak-acakan, seragamnya tidak lagi terlihat seperti seragam. Jubang merahnya juga mulai robek.


Arif maupun Wira memperhatikan Kapten Faga dengan miris.


Wajah Faga dipenuhi darah yang mengalir dari keningnya. Tangan kanannya sangat sulit digerakkan karena luka bakar dan banyak pukulan yang Qocakau berikan.


Perut terasa sangat sakit, beberapa organ dalam mengalami luka sangat fatal. Akibatnya untuk berdiri saja terasa seperti menusukkan mata tombak kearah perut.


Beberapa tulang Faga juga sudah patah. Ajaibnya otot-otot dan persendiannya masih mampu untuk menggerakkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang. Rasanya memang sangat nyeri, luar biasa nyeri. Membuat siapapun pasti berteriak jika merasakannya.


Namun, tidak untuk Faga dwi.


Sejak awal masuk organisasi, Faga dwi memang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebebasan umat manusia dari bermacam ancaman.


Meski raga diterjang bermacam luka sampai mustahil untuk di gerakkan. Faga dwi akan tetap memegang prinsipnya kokoh-kokoh.


Berjuang hingga akhir dan terus tersenyum.


Untuk kesekian kali yang tidak terhitung Faga kembali berdiri. Dia angkat pedangnya dengan tangan kanannya. Gerakkan sudah kaku dan tidak lagi normal. Setiap lukanya sudah mempengaruhi teknik bertarung Faga.


“Sungguh membingungkan. Dari semua pertarungan yang kulakukan, hanya kau seorang yang bisa terus bangkit berulang kali sambil tersenyum. Apakah kehebatanmu terletak pada kekokohan hatimu Faga dwi?”


Qocakau membuka sebuah topik pembicaraan. Dia silangkan kedua lengan di depan dada. Tidak terlihat satu pun luka di tubuhnya. Seluruh luka telag selesai di regenerasikan.


“Mungkin saja.” Faga menjawan dengan suara menahan perih.


“Teman-temanku mengatakan aku memiliki hati yang kuat. Tapi aku sendiri tidak begitu paham definisi hati yang kuat. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Memenuhi kewajibanku dan terus bangga terhadapa apapun yang kuperoleh.” Berkata Faga dengan suara yang berapi-api.


Qocakau lantas tersenyum puas. Dia tidak sabar untuk melanjutkan pertarungan ini.


Faga berusaha menegakkan tubuhnya yang gemetaran karena sakit. Otot di lengan dan kaki di perkuat. Sorot di pertajam dan fokus yang semakin dipusatkan.


Dari gerak-geriknya, nampak Faga ingin menyelesaikan pertarungan ini dalam satu serangan kuat.


Qocakau menanggapi dengan memesang kuda-kuda terkuat. Sekujur tubuhnya seketika di aliri energi gelap dengan jumlah sangat besar. Qocakau memfokuskan dalan kepala tangan.


Sedetik kemudian muncul hempasan api kuat yang muncul darinya. Sekujur tubuh Qocakau menampakkan urat-uratnya. Jelas sekali dia sedang berkonsetrasi maksimal.


“Teknik Penghangus. Penciptaan Tinju Neraka.”


Seketika muncul api ganas dari tubuh Qocakau. Api yang melahap segala sesuatu, menggulung dan mencipatkan lautan api disekitarnya. Wira dan Arif harus menjauh terlebih dahulu untuk menghindari perubahan suhu ekstrim.


Api-api itu lantas berkumpul dan berputar dalam dua tinju Qocakau. Qocakau lantas memasang posisi siap melepaskan pukulan mematikan.


Dihadapannya Faga juga mengeluarkan jurus pamungkasnya. “Akan kuakhiri pertarungan.” Batin Faga.


“Bilah Kesembilan. Terbitnya Fajar Baru.” Letupan enegi dahsyat terjadi disekitar Faga kemudian. Energi cahaya itu berkumpul dalam bilah pedangnya dan berputar layaknya tornado. Teknik menghasilkan cahaya yang amat terang layaknya fajar yang siap terbit.


“Kau siap Faga?” Tantang Qocakau dengan senyuman puas.


“Tidak perlu kujawab pun kau sudah tahu.” Balas Faga tegas.

__ADS_1


Keduanya melompat ke depan bersamaan. Membenturkan dua energi dahsyat yang meluluh lantahkan semua hal dalam jangkauan puluhan meter.


Pandang Bunga Purnama hangus tak bersisa. Pelepasan energinya memicu suara guntur memekikkan dan menciptkan angin yang nyaris saja menghempaskan Arif dan Wira.


Benar-benar pertarungan yang luar biasa.


Debu tebal mengepul, menyembunyikan sosok pemenang. Setelah beberapa lama menunggu situasi lebih baik, Arif dan Wira mendekat dengan hati-hati. Debu pasca benturan energi sangat menganggu pandangan.


Karena salah langkah Arif terpeleset menuju dasar cekuangan tempat padang Bunga Purnama yang sudah tidak bersisa. Matanya menatap depan dan terpaku.


Diantara debu yang mulai menghilang terlihat Qocakau yang sedang mengangkat Faga dengan mencekiknya. Pedang Faga tergeletak di tanah.


“Akhirnya pun kau akan mati, seluruh bakat dan kehebatanmu akan pergi bersama kematianmu. Kuberikan kau tawaran terakhir.”


Faga dwi meremas lengan Qocakau seraya memberikan perlawan sia-sia. “Seperti kataku sebelumnya. Aku bangga mati sebagai manusia.” Ucap Faga dengan susah payah. Dalam kondisi seperti itu pun senyumnya masih terlihat.


“Aku akan menyayangkan kepergianmu. Kau adalah lawan dengan semangat bertarung paling hebat yang pernah kutemui. Kekuatan fisik maupun mental, aku tidak akan menemukan yang sejajar dengamu. Faga dwi.”


“Terimakasih pujiannya. Namun, kekuatan umat manusia tidak hanya terletak pada fisik maupun mentalnya saja.” Nada bicara Faga terdengar aneh.


“Apa maksudmu?”


“Maafkan aku Qocakau. Ini bukan hanya pertarungan antara aku denganmu.”


Dari balik debu tebal Arif dan Wira muncul dalam posisi menebas. Qocakau sudah memprediksi hal tersebut sehingga dia bisa mengambil langkah darurat.


“Tidak akan kubiarkan.” Ucap Faga. Dahinya berkerut, alisnya meruncing. Kedua lengan Faga berhasil menggagalkan antisipasi Qocakau, mengunci gerakannya, dan membuat lehernya menjadi sasaran empuk Faga dan Wira.


“Kau!” Marah Qocakau, gigi-gignya saling menggretak.


Faga hanya dengan senyum menanggapinya. “Sebagaimana kata senior. Yang muda tidak boleh terkalahkan.”


Arif dan Wira melakukan tebasan paling kuat secara menyilang. Bilah pedang sempat beradu dengan leher Qocakau yang keras namun hasil tidak bisa dirubah.


“Aaaaaaa!!” Teriak Arif dan Wira bersamaan dengan memaksimalkan tenaga.


Arif dan Wira sukses melakukannya. Qocakau jatuh tanpa kepala bersamaan dengan jatuhnya Faga yang tidak punya tenaga lagi.


Wira dan Arif langsung menghampirinya. Melakukan pertolongan pertama sebisa mungkin dan segera membawanya ke tempat aman.


“Kalian berdua, luar biasa.” Komentar Faga.


“Jangan bicara dulu kapten. Kapten harus beristirahat total.” Balas Arif.


“Kami akan segera membawa Kapten ke desa. Pasti kapten selamat.” Ucap Wira sangat serius.


Faga menatap langit-langit dengan sangat gembira. “Terimakasih.”


“Loh kalian meninggalkanku begitu saja?”


Arif dan Wira langsung menghentikan langkah. Setiap detik atmosfer disana terasa seperti ditindih batu besar. Mata Arif terbelalak ketika menatap depan.


“Tidak mungkin.” Ucapan penuh nada keputusasaan.


Di depan ketiganya Qocakau bangkit setelah kematiannya. Dia berjalan sambil memegangi kepala yang sudah terpenggal di tangan kanan, kemudian memasangkan kepala di hadapan ketiganya.

__ADS_1


Qocakau menoleh-noleh, mengecek kepalanya apakah sudah terpasang sempurna, dilanjutkan dengan memasang senyum lebar.


“Kalian pasti sangat terkejut ya.”


__ADS_2