
“Tunggu-tunggu, aku bisa menjelaskan.”
“Aku tidak perlu penjelasanmu Wira.”
Wira menelan ludah. Tubuhnya mematung, dalam satu detik semua pandangan yang tertuju padanya seakan sedang memandang penjahat.
Wira tertunduk seraya meremas jemari.
Matahari sore semakin hilang cahaya. Perlahan-lahan kegelapan melahap segala hal. Hutan menjadi sangat petang. Pandangan menjadi samar-samar dan Keping Harapan bercahaya hijau indah.
“Karena aku tahu, kau adalah orang yang baik.” Jawab Arif dengan memasang senyum. Wira merasa salah dengar.
“Kenapa?” Tanpa sadar kalimat itu keluar dari Wira yang masih mematung.
“Kenapa? Tentunya karena kita sahabat. Bicaralah kalau ada masalah ya.” Arif menepuk punggung Wira dan berdiri.
“Keping Harapan sudah ketemu. Tapi karena hari mulai gelap, ayo bersiap untuk bermalam.” Ucap Arif gembira.
Sahabat-sahabatnya lalu mengerumi Arif dan bertanya banyak tentang Keping Harapan. Arif menjawab dengan senang hati.
Aneh, tidak biasanya Keping Harapan menyala. Batin Arif.
Wira masih dalam posisinya, dia menepuk kedua pipi keras-keras untuk menghilangkan lamuan. Namun, hatinya masih cemas akan banyak hal. Bagaimana pendapat Arif nantinya? Apa Arif berusaha menyembunyikan kemarahannya?
Segenap pikiran negatif memasuki benak membuat Wira beberapa saat bimbang.
Wira mengakui dalam hati bahwa perbuatannya sangatlah salah. Mencuri benda paling berharga milik sahabatnya sendiri, tidak salah jika menyebutnya penghianat.
“Tidak, tidak, tidak.” Wira menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Perjalanan ini harus tetap berlanjut.” Wira mengangkat tasnya dan bergabung dengan yang lain.
Wira bertekad untuk meminta maaf walau pada akhirnya dia tetap tidak bisa menyampaikannya. Wira adalah seorang dengan aura misterius. Bagi yang tidak terbiasa, duduk disebalahnya saja terasa tidak nyaman.
Namun, karena dia sedikit bicara, Wira pun memiliki masalah dalam komunikasi. Sampai sekarang pun penyakit itu masih mengakar dalam dirinya.
@@@
“Hooom.” Bara menguap lebar dan meluruskan badannya. Matanya menatap sekitar yang masih gelap. Pandangannya samar-samar. Hanya Faga yang sudah bangun dan siap dengan perjalanan.
“Pagi sekali kau bangun, padahal tubuhku masih sedikit pegal.” Kata Bara sambil memasukan kantung tidurnya ke dalam tas.
“Seorang pemimpin harus memastikan anggota dalam kondisi baik.” Kata Faga, suaranya pun sudah terdengar semangat. Tidak loyo seperti baru saja bangun.
“Heh, kau memang luar biasa. Tidak kau coba bangunkan yang lain?” Bara menyarankan sambil mengusap-ngusap wajah untuk menghilangkan kantuk.
“Tidak, kurasa mereka masih butuh istirahat. Khususnya Fasih, Arif, dan Wira. Aku yakin keduanya kemarin mengalami perang batin yang cukup menyakitkan.”
“Perang batin. Apa maksudmu?” Bara duduk disebelanh Faga yang menatap ke kejauahan.
“Ini hanya opiniku. Kau tahu bukan latar belakang keluarga Wira. Kupikir hal itu ada kaitannya dengan benda bernama Keping Harapan milik Arif. Entah apa yang sedang Wira pikirkan, aku yakin dia tidak mau menampakan masalah yang sedang dia hadapi.”
“Tidak pernah berubah ya.” Bara berpendapat.
“Benar, tidak pernah berubah. Dan daripada itu, lebih baik kita berikan kejutan pada junior kita dengan mempersiapkan semuanya sebelum perjalanan.” Faga berkata cukup lantang.
“Junior. Oh ya umur kita kan yang paling tua.”
“Benar.” Faga berdiri, bersiap membereskan sisa-sisa bermalam.
“Bicara soal umur membuat iri dengan Pala-lapa. Mengapa dia laku duluan?” Kata Bara sambil menghadap Faga. Nadanya suara terdengar kesal.
“Jodoh siapa yang tahu? Dari pada memikirkan itu lebih baik kau fokus pada dirimu untuk menjadi lebih baik. Ayo bantu aku beres-beres.”
“Baiklah kapten.” Bara maju dengan separuh semangatnya yang menguap.
“Kapten, kita akan mulai sepagi ini.” Fasih mengucek matanya yang masih merah. Jejak-jejak kengantukan masih bersisa di wajahnya.
__ADS_1
“Tentunya, kita semua pasti ingin cepat melihat wujud Hutan Mimpi. Tidakkah kau bisa merasakan debaran ini.” Balas Faga bersemangat, kalimatnya menyala-nyala.
“Dalam hal ini kita sedikit berbeda kapten.”
“Oh begitu. Yang lain bagaimana, apa sudah siap.” Pala-lapa, Arif, dan Wira sudah menyiapkan diri. Khusus Wira, Faga memperhatikannya sedikit lebih lama.
Wajahnya sudah kembali beku tanpa eksprei. Semoga dia baik-baik saja.
Kelompok enam orang itu melanjutkan perjalanan. Rute bertambah sukar. Pohon-pohon tinggi berdaun lebat, segala tanaman sulur dan rambar, suara-suara binatang hutan yang terdengar mencurigakan. Semua itu bisa mengundang kecemasan tersendiri.
“Jadi ini sungainya?” Fasih memastikan tidak salah lihat. Matanya kembali menatap peta tua.
“Tidak salah lagi, rintangan terakhir kita sebelum mencapai Hutan Mimpi.” Faga berucap sambil meruncingkan alis.
“Apa ada yang punya saran untuk menyeberang?” Semuanya terlihat memikirkan hal tersebut.
“Beri aku waktu.” Fasih masuk dalam mode berpikir keras.
Rintangan terakhir sebelum mencapai Hutan Mimpi.
Sungai besar berarus kuat. Panjang antara tepiannya mencapai tiga puluh meter. Suara deburan arus sungai terdengar keras. Itu cukup untuk menggambar seberapa kuat arus sungai ini, cukup kuat untuk menghayutkan batu besar atau batang pohon raksasa.
Sungai itu pun penuh dengan batu-batuan, kalau terseret arus pastinya akan membentur batu-batu sungai tersebut. Kalau sudah begitu pilihannya ada dua pilihan untuk si korban, berpulang ke rumah atau berpulang ke sisi Tuhan.
“Jangan jadi penakut.” Suara itu terdengar cukup keras, memecah keheningan. Itu kalimat Pala-lapa.
“Kita sudah pernah terjun dari puncak air terjun tertinggi di Rakatta. Kau Bara, pernah menunggangi **** hutan besar. Arif, wajahmu yang paling banyak menahan tendangan bola, dan Faga. Aku tahu kau pernah berdebat dengan kepala desa_”
“Wajarlah bapak dan anak berdebat.” Batin Faga.
“Kita adalah anak-anak pemberani. Anak-anak alam. Dan pasti kita akan mencapai Hutan Mimpi setelah melewati rintangan ini.”
“Hahaha, itu keren sekali Pala.” Bara mendekat, menanggapi.
“Tapi pastikan kau selamat atau_” Bara lantas berbisik pada telinga Pala. Wajah Pala seketika memerah. Dia mulai salah tingkah.
“Dia.” Bara menunjuk Wira. Wira menoleh dengan tatapan tanpa dosa. “Kau, sembarangan!”
Mereka pun tertawa bersama-sama.
“Jadi bagaimana, ada yang sudah dapa ide?” Fasih mengalih pandangan pada yang lain, suaranya beradu dengan suara aliran sungai. Semuanya menggeleng.
“Menurutmu bagaimana kalau menggunakan Kemampuan Semesta milikku.” Bara angkat bicara.
“Kemampuan Semesta? Tapi apa bisa digunakan dalam situasi ini.” Fasih nampak cemas menjawabnya. Mulai terasa akan ada pengorbanan disini.
“Jangan kira lima tahunku ini terbuang sia-sia. Aku melatihnya.” Arif yang sedang menyarakan rencana pada Faga beralih pada Bara. Begitu pun yang lain, ikut terfokus padanya.
“Bagaimana kau akan melakukannya?” Ucapan Fasih terdengar mengancam.
“Aku akan coba membelah sungaimya.”
Semua yang mendengarnya tentunya kaget. Sungai selebar tiga puluh meter dengan arus yang sangat deras. Kedalam belum diketahui dengan juga pemangsa apa saja tinggal di dalam sana, dan Bara mencoba membelahnya?
Faga beralih pada posisi fokus. Kedua matanya terpejam dalam posisi duduk bersilah di atas batu sungai besar
“Semuanya menjauh dari Bara. Beri Bara waktu untuk fokus.” Perintah Arif.
Arif sadar apa yang akan Bara lakukan. Matanya menatap kagum pada lelaki besar itu.
Sumber kekuatan Kemampuan Semesta adalah energi gelap yang terkunci dalam tubuh, dan kunci agar energi gelap dapat mengalir seperti aliran darah adalah dengan konsentrasi. Arif ingat betul perkataan itu.
Semuanya menutup mulut, hanya terdengar suara deburan aliran sungai yang seakan tidak menerima kedatangan keenam pemudah itu.
Setengah jam berlalu, tubuh Bara sudah penuh dengan gelembung bening. Keringatnya mengalir di dahi, wajah, punggung, dan lengan. Beberapa kali Bara terlihat menggeram untuk mencapai konsentrasi maksimal.
__ADS_1
Fasih sebenarnya ingin menentang hal tersebut, namun Faga menahannya. “Biarkan dia melakukan hal yang dia ingin lakukan.”
Keringat di dagunya menetes, burung-burung hutan beterbangan dari pucuk pohon, dan Bara membuka matanya lebar-lebar. Tangan kanannya teracung seakan memberikan perintah kepada sungai tersebut. Ekspresi Bara seperti di hujam sesuatu yang sangat kuat.
Tidak terjadi apa-apa.
“Kapten ini tidak akan pernah berhasil. Kemampuan Semesta itu sangat tidak logis.” Fasih protes lirih kepada Faga.
“Tunggulah sebentar lagi. Dalam kondisi tertentu kau harus percaya pada sahabatmu dan melepaskan logikanmu. Yakinlah pada Bara, dia sedang berjuang keras.” Bisik Faga pada Fasih. Fasih memilih diam lebih lama.
Setengah jam berlalu kembali dan akhirnya terjadi sesuatu yang mengejutkan. Dari depan tempat duduk Bara sampai seberang. Ditariklah garis lurus selebar dua meter yang mana air sungai tidak sedikitpun menyentuh daerah tersebut.
Pemandangan menakjubkan. Sungai membukakan jalan, kedua sisinya tersapu dengan anggun seperti kain yang disibakkan.
“Ayo cepat, jangan melamun.” Teriak Fasih.
Semuanya sudah siap dengan akar gantung yang diikatkan pada pinggang. Akar gantung itu diikatkan satu sama lain agar terhubung saat menyebrangi sungai. Demi keamanan.
Walau usaha Bara berhasil, tidak menutup kemungkinan tiba-tiba dinding air runtuh.
Dalam sekejap, kekaguman berubah menjadi kepanikan. Semua melintasi jalan yang dibuat Bara dengan hati-hati. Dada berdebar kencang. Tiap dari mereka yakin, jalan ini tidak bertahan lama.
Fasih yang berjalan paling depan, diikuti Arif, Pala-lapa, Wira. Paling belakang Faga menggendong Bara yang pingsan.
Langkahkan kaki dengan cepat dan hati-hati. Jangan sampai tersandung atau terjatuh. Jangan juga terlalu lambat atau dinding air di kanan dan kiri akan runtuh terlebih dahulu. Pengalaman yang sangat menegangkan.
Arif menahan nafas. Sedikit lagi.
Perjalanan menegangkan tiba di penghujungnya. Arif, Fasih, dan Pala sudah naik ke sebarang sungai.
Wira mengulurkan tangannya kepada Faga. Faga berusaha meraihnya tapi air sungai mendahului.
Wira berpegangan erat pada batu disebelahnya, sekujur tubuhnya langsung basah. Dia masih beruntung. Berbeda Faga sudah yang terseret arus sungai kuat, punggungnya membentur batu sungai sangat keras.
Namun akar gantung yang diikatkan padanya membuatnya terhubung sehingga Faga terseret tidak begitu jauh. Tetap saja ini luar biasa sulit.
Fasih, Pala, dan Arif yang sudah diseberang berusaha menarik. Sekuat mungkin. Arus sungai sangat kuat bahkan ketiganya beberapa kali terseret ke sungai.
“Pala kau ikatkan tali ini ke pohon.” Teriak Fasih. Pala segera menyanggupi.
Dengan tenaga maksimal, ketiga menuju batang pohon besar terdekat lalu Pala mengikatkan akar gantung disana. Pala memastikan berkali-kali, ikatannya ini sudah sangat kuat.
“Sudah.” Teriaknya memberi kode. Ketiganya seketika berlari kepada Wira.
Delapan tangan segera menarik akar gantung yang menegang.
Ikatan persahabatan bertanding dengan arus sungai. Siapakah yang akan menang?
“Pastilah kita berhasil. Teman-teman jangan menyerah tetap tarik akarnya sekuat mungkin.” Diantara air sungai yang sempurna membasahi ketiga suara itu menggema dengan kuat seakan kekuatan yang bangun dari tidur panjangnya.
Tidak ada yang menyangka kalimat itu keluar dari lisan Wira. “Semuanya lebih kuat!” Fasih ikut-ikutan.
Adegan tarik menarik it berlangsung cukup lama. Tangan-tangan mereka sudah lelah sementara arus sungai tidak pernah lelah untuk mengalir.
Kemudian terjadi ledakan udara disekitar enam remaja itu. Kuatnya ledakan sampai membuat air sungai terlontar ke langit.
Dalam sepersekian detik yang teramat cepat, keenamnya langsung berada di tepi sungai. Arif tidak sempat mencerna keadaan. Nafas tidak beraturan, jantung berdegup sangat cepat dan menyakitkan. Barusan terasa maut tinggal sehasta lagi.
Arif berusaha menguasai dirinya yang kelelahan. Nafas patah-patah dan air sungai banyak masuk ke tubuhnya. Arif memuntahkan air sungai yang masuk ke mulut.
Mata Arif menangkap sesuatu di depannya. Sorot matanya seketika berubah seakan melihat ancaman paling besar.
Sekumpulan manusia bertubuh tinggi dengan kulit gelap. Mengenakan topeng kayu dengan ukiran wajah kuno dengan goresan berseni tinggi.
Mereka mengarahkan mata tombak tajam kepada enam remaja tersebut.
__ADS_1
Arif menelan ludah, sambutan yang sangat tidak bersahabat.