IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
07. Bola dari Akar Kering


__ADS_3

Pagi itu Arif seakan menerima sesuatu yang berkilau. Sosok Dokter Jago yang berdiri gagah di hadapnnya memberikan ketenangan padanya. Entah bagaimana, ucapan dan tindakan sosok yang tak dikenal itu mampu menumbuhkan sedikit keberanian dan memadamkan amarah Arif.


Dokter Jago mengambil semangkuk salep yang dibuat kemarin malam dan menyuruh Arif mendekat. Arif menghampiri dengan gugup dan duduk disamping Dokter Jago. Setelah menjelaskan perihal salep tersebut, Dokter Jago mulai mengusapkannya itu ke lutut Arif. Arif nampak meringis-ringis menahan perihnya.


“Sudah, selesai. Lain kali hati-hati nak Arif.” Dokter Jago lagi-lagi memberikan senyum. Dia senang sekali tersenyum kepada Arif. Arif hanya menunduk, tidak bisa menanggapi. Anak ini butuh latihan berkomunikasi.


Beberapa saat lenggang, Dokter Jago menunggu respon dari Arif atau menunggu Arif memulai topik pembicaraan. Di samping itu, Dokter Jago juga sedang mengamati pribadi Arif. Pertama kalinya Dokter Jago bertemu langsung dengan seorang anak dari keturunan manusia rambut putih.


Sedangkan Arif tidak merespon apapun, tubuhnya mematung dalam posisi memperhatikan ibunya. Ekspresinya pun ikut membatu, tidak jelas wajahnya menunjukkan kesedihan atau tidak terjadi apa-apa.


Dokter Jago memperhatikannya sedikit lebih lama lagi. Mengamatinya baik-baik dan memadukannya dengan pengalamannya mengurus anak-anak, sebagian pasiennya adalah anak-anak. Mengamati tingkah laku mereka dan mempelajari psikis anak-anak adalah suatu kesuakaan.


Beberapa lama, hanya ada keheningan. Arif tidak berpindah dari tindakannya, matanya tidak mau beralih dari ibunya. Bedanya kini mulai terlihat wajahnya yang sedih. Di kepalanya pasti sedang berputar bermacam perkara mengenai manusia rambut putih yang tidak di terima di masyarakat.


Selain itu, Dokter Jago sedang menimabang-nimbang, dia memutuskan untuk memberitahu Arif secepatnya mengenai kondisi Hanah. Dokter Jago merasa seperti memisahkan keduanya jika tidak segera memberitahu.


Masalahnya adalah, apakah Arif akan percaya. Seorang anak sepertinya yang tiba-tiba di datangi orang asing pasti memilih waspada, artinya Arif tidak akan langsung percaya. Di samping itu, bagaimana reaksinya?


Di posisi ini, Arif berada dalam fase dimana emosinya tidak stabil. Arif baru saja menyadari kenyataan bahwa dirinya tidak di terima oleh masyarakat, bisa saja itu menjadi trauma atau sesuatu yang lebih buruk lagi.

__ADS_1


“Ibumu sedang tidur sebentar Arif. Percayalah ibumu akan bangun.” Dokter Jago berucap dengan bahasa yang bisa Arif pahami. Sebenarnya Hanah sekarang sedang koma.


“Tapi, kenapa ibu tidur lama sekali.” Arif membalas sambil menunduk, matanya memerah. Dokter Jago merasa mengambil kata yang salah.


Itu tidak melunturkan senyumnya, Dokter Jago masih terus tersenyum kepada Arif. “Jangan risau nak Arif. Ibumu sudah bekerja sangat kesar, beliau kurang tidur, jadi sekarang biarkan beliau beristirahat dahulu.”


“Sampai?” Pertanyaan Arif menusuk Dokter Jago.


“Tidak ada yang tahu, sebagaimana malam ini, apakah turun hujan tiada yang tahu?” Balas Dokter Jago sambil menaik-naikan alisnya.


Arif kebingunan mencerna kalimat itu dan memang itulah tujuannya, agar Arif tidak bertanya-tanya lagi sekaligus memancingnya untuk memulai pembicaraan.


Mulut Arif bergerak-gerak, kali ini pandangannya tidak lagi terfokus pada ibunya. Dokter Jago menyipitkan mata dan mendekatkan telinganya pada Arif. Nampaknya ada yang ingin disamapaikan anak ini.


“Iya Arif.” Dokter Jago mencoba memancing Arif mengeluarkan kata-katanya lebih keras.


Arif semakin tertunduk dan lebih mengeraskan suaranya. “Ka....ka...kapan.......bermain?”


“Wah.” Dokter Jago merespon sedikit terkejut. Dia lupa kalau beberapa menit yang lalu mengajak Arif bermain.

__ADS_1


Dokter Jago terkejut bukan karena lupa untuk mengajak Arif bermain, melainkan Arif yang berani mengutarakan keinginan pribadinya. Mungkin hal itu di dorong naluri anak-anak yang senang bermain atau motivasinya ingin bermain dengan orang lain atau karena dirinya sebelumnya mengajak Arif bermain.


Namun apakah hal itu bisa terjadi pada anak yang lebih dari enam tahu terkurung dalam rumah dan tidak pernah berkomunikasi kecuali dengan ibu kandungnya.


Memikirkannya membuat Dokter Jago semakin tertarik dengan anak laki-laki ini. Dia unik dari segi mental maupun emosi. Kata-kata Arif yang menginginkan bermain membuat Dokter Jago merasa putra Wangsa ini bisa melakukan sesuatu tanpa motivasi, melakukan sesuatu tanpa dorongan.


Siapa yang tahu? Itu hanya spekulasinya.


“Baiklah.” Dokter Jago berdiri dengan semangat, kemudian kedua tangannya menyambar pinggang Arif dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Arif berseru, terkejut dengan kejutan Dokter Jago dan kali ini dia nampaknya menyukainya.


Akhirnya senyum itu terlihat, senyum yang dirindukan. Dokter Jago merasa lega, hal ini yang membuatnya selalu mencintai pekerjaanya. Dokter Jago menurunkan Arif di dekatnya dan beranjak menuju tas kayunya.


Di dalam tas itu terbagi atas beberapa rak. Rak itu berfungsi untuk menata barang-barangnya yang berupa racikan obat herbal, akar dan daun kering, dan barang yang dibutuhkan lainnya. Dokter Jago merogoh rak yang paling bawah, ada sebuah bola kecil dari anyaman akar-akar kering. Ukurannya setengah genggaman tanga, cocok untuk permainan lempar-tangkap.


Dokter Jago beralih menghadap Arif, “Siapkan dirimu, Arif. Kita akan bermain bola” Seru Dokter Jago dengan semangat sambil memainkan bola itu di telapak tangannya. Arif mengangguk dengan wajah masih ragu, itu lebi dari cukup untuk memastikan dirinya benar-benar ingin bermain.


Kehidupan anak-anak seharusya indah, maka dari itu kali ini Dokter Jago akan memujudkannya. Dokter Jago melangkah menuju ujung pintu, dia menoleh kebelakang, Arif tidak berpindah dari tempat. Anak itu diam sambil memainkan jemarinya.


Dokter Jago kembali mendekat pada Arif dan menyakan perihal masalahnya tidak mau keluar. Arif menjawab sambil menatap tanah disekitarnya.

__ADS_1


“ja...ja...janga...n di..........luar.” Suaranya terdengar lebih lemah dan gemetaran. Senyum itu seketika layu.


__ADS_2