IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
48 Kecurigaan


__ADS_3

Semua orang menatap empat pendatang dengan sorot menyelidik sekaligus waspada. Terlihat diantara mereka berbisik-bisik satu sama lain.


Arif tidak memperhatikan itu.


Pandangannya terfokus pada Faga dan seorang nenek yang bungkuk. Mengetahui nenek itu memiliki bahasa yang sama adalah hal yang cukup mengejutkan. Apakah penduduk yang lain juga.


Jika benar bahasa antara penduduk permukaan dan penduduk kedalaman Arkkana sama, apakah penduduk kedalaman Arkkana berasal dari permukaan yang memilih untuk menatap di dalam bumi?


Bagi Yuvan hal itu adalah sesuati yang patut untuk ditelusuri. Dia senang sekali memecahkan masalah. Mungkin sudah termasuk hobinya. Otaknya sudah terasah dalam kegiatan navigasi, ya walaupun itu hanya dalam ruangan. Jarang-jarang Yuvan turun ke lapangan.


“Sudah lama kami tidak bertemu penduduk permukaan. Hai, apa kabar. Bagaimana kabar dari permukaan.” Nenek berpakaian ungu tersebut berkata. Wajahnya penuh keriput mulai mengembang senyum. Suaranya terdengar sedikit berat dan serak.


Seluruh rambutnya telah memutih. Lengan dan kakinya menampakkan banyak jejak kerja keras beliau. Faga tetap tersenyum lebar, dia nampaknya tidak terlalu terkejut dengan semua ini.


Faga lantas menjawab, “Kabar kami baik sekali. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”


“Kami datang dengan damai. Sebelumnya kami sedang menjelajahi kedalaman Arkkana, tidak disangkan kami jatuh ke dalam jurang besar. Beruntung kami selamat dan tiba disini.” Faga menceritakannya.


Nenek berpakaian ungu itu nampak memikirkan sesuatu. Mungkin saja beliau masih menaruh kecurigaan terhadap keempatnya. Ditambah lagi cerita Faga yang terasa sangat mustahil di terima otak.


Bagaimana bisa selamat setelah jatuh ke jurang?


“Silahkan memperkenalkan diri. Tamu-tamuku.” Nenek berkata. Senyum ramahnya kembali di tunjukkan. Kalimatnya pun terasa hangat, tidak ada tanda-tanda permusuhan.


“Nama saya Faga Dwi. Saya adalah anggota tetap Pasukan Pelindung Matahari. Yang berdiri di belakang saya adalah Arif, Wira, dan Yavan.” Jari telunjuk Faga menunjukka ketiganya satu-persatu.


“Kami datang kesini karena sebuah urusan yang sangat penting. Kami mencari Bunga Purnama.” Ungkap Faga.


Ketika Bunga Purnama disebut, wajah nenek dan seluruh penduduk sedikit berubah.


Dua detik kemudian nenek mengambalikan rautnya seperti biasa lalu menatap Faga dan ketiga rekannya dengan sorot bersahabat.


“Nama saya Ni minah. Saya adalah kepala desa disini. Mampirlah ke desa kami terlebih dahulu. Bunga Purnama masih lama menuju mekarnya.” Jawab Nenek Ni minah gembira.


Bunga Purnama masih lama menuju mekarnya. Kalimat itu masuk dalam benak Wira dengan cepat. Dia menangkap sesuatu dalam kalimat tersebut.


“Apakah benar-benar ada padang Bunga Purnama disini?” Gumamnya.


“Ayo Wira. Jangan ngalamun. Kita beruntung sekali bisa diterima disini.” Yuvan menepuk pundak Wira dan mengikuti langkah Faga. Wira menggelengkan kepala dan segera bergabung.


Desa ini unik jika dibandingkan dengan desa-desa di permukaan.


“Rumah-rumah terbuat dari tanah yang dibakar, memiliki atap dari daun-daun yang dikeringkan dan berpondasikan batang-batang pohon yang kokoh. Mayoritas berbentuk kubus. Sebuah arsitektur yang sederhana.

__ADS_1


Arif, Wira, Faga, dan Yuvan memasuki desa tersebut. Rumah-rumah berjejer di kanan dan kiri. Beberapa terlihat saling menyatu dan menumpuk satu sama lain, menghasilkan rumah yang lebih besar dan luas.


Anak-anak yang semula bermain-main di jalanan desa menghentikan permainan mereka. Para ibu rumah yang sibuk dengan pekerjaan pun mempehatikan para tamu tersebut.


Dalam sekejap, keempatnya menjadi bahan perhatian. Arif merasa aneh dengan semua mata yang menatapnya.


“Nek, mereka siapa?” Seorang bocah berumur enam tahun menghampiri Nenek Ni minah. Wajah penasarannya lucu dengan kulit sedikit gelap. Di tangan kanannya ada sesuatu seperti batok kelapa.


Nenek mendekatkan wajahnya lalu meyentuh hidung bocah tersebut. “Mereka adalah tamu dari permukaan.”


Raut bocah tersebut seketika berubah, sangat terkejut. Mata bulat besarnya menatap keempat tamu permukaan seperti melihat mainan paling hebat. Dia nampak sedikit ketakutan ketika bertatap dengan Wira.


“Wira.” Arif menyikut pinggang Wira. “Apa, ada malasah dengan wajahku.” Jawab Wira lirih. Wira memang tidak menyukai anak-anak karena mereka selalu salah sangka terhadap wajahnya.


Bocah itu seketika berbalik dan berlari, entah apa yang terjadi padanya setelah bertatap dengan Wira.


“Wajahmu menakutinya.” Arif berkata lirih.


“Benar itu.” Yuvan ikut-ikutan menyaut.


Wira hanya membuang muka. Tidak peduli, sementara dua sahabatnya terlihat puas mengerjainya.


@@@


Semua penduduk bahagia, bersuka cita dengan pencapaian tersebut.


Namun, kebangkitan Pangeran Kegelapan melenyapkan semua itu. Lebih dari setangah abad, Kota Arkkana menjadi kota mati tanpa satu pun tanaman yang dapat tumbuh. Penyakit dan wabah misterius pun menyerang penduduk yang tidak tahu menahu.


Demi menghindarinya, sebagian besar penduduk Kota Arkkana memilih untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Merantau jauh tanpa arah.


Sementara sisanya tetap bernaung di bumi pertiwi, tapi dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak ingin meninggalkannya sehingga memilih menatap di kedalaman Arkkana.


Dengan suatu cara yang tidak pernah terceritakan leluhur mereka, empat puluh penduduk yang tersisa pergi menuju kedalaman Arkkana.


Diluar dugaan, ternyata kedalaman Arkkana seindah bagian luarnya. Meski di dalam bumi, langit-langitnya memiliki warna cerah seakan ada matahari disana. Ada suangai besar yang bercabang menjadi sungai-sungai kecil, airnya tidak pernah kering.


Dengan kombinasi dua hal tersebut, bermacam tanaman pun dapat tumbuh. Para penduduk membangun peradaban perlahan-lahan. Mereka memulai dari nol.


Meski terputus total dari koneksi luar, penduduk kedalaman Arkkana tetap mensyukuri hidup mereka. Kehidupan yang sederhana dan bersahaja, jauh dari hiruk pikuk yang tidak jelas.


Mereka bertani, beternak, mengurus keluarga, dan melakukan bermacam hal bersama. Itulah kebagian yang selalu mereka idam-idamkan.


Sebuah utopian yang berhasil diwujudkan.

__ADS_1


Kurang lebih begitu yang Nenek Ni Minah yang ceritakan kepada keempat tamunya.


Arif, Wira, Yuvan, da, Faga dituntun mengelilingi desa. Memperhatikan hal sekitar, kebudayaan, kebiasaan penduduk, dan bermacam hal lainnya.


Nenek sedikit demi sedikit menjelaskan banyak hal mengenai desa.


Beberapa warga desa bahkan memberanikan diri menyapa, kebanyakan anak-anak. Mereka tertarik sekali dengan kehadiran manusia permukaan. Orang tua merekalah yang menceritakan kisah manusia permukaan dalam dongen pengantar tidur.


Namun, wajah Wira selalu sukses membuat anak-anak itu lari ketakutan. Yuvan menyikut Wira beberapa kali dengan memberikan tatapan aneh. Jelas sekali dia mencoba meledek. Wira memilih tidak peduli.


Nenek Ni Minah juga mengenalkan para tamunya kepada penduduk. Reaksi penduduk bermacam-macam. Ada yang diam saja, ada yang memandangi dengan kagum, ada yang memilih berkenalan langsung, dan banyak yang mengatai wajah preman Wira.


“Kau langsung terkenal di kalangan mereka.” Ledek Arif.


“Cobalah sapa, mereka pasti akan senang.” Yuvan menambahkan yang disambung dengan tawa keduanya.


BUK


“Hei.” Yuvan terjatuh ke tanah. Dia mengelus pipi kirinya yang terasa panas. Para penduduk nampak mundur dua langkah karena aksi Wira tersebut.


Arif pun menatap tidak percaya. Di kondisi ini pun, sifat aslinya tidak bisa dihilangkan. “Itu bisa merusak penilaian penduduk terhadap kita.” Bisik Arif kepada Wira.


“Maaf tanganku bergerak sendiri.”


“Bohong itu. Jelas sekali bohong.” Seru Yuvan tidak terima.


“Ya ampun kalian ini, masa-masa muda memang sangat berwarna ya.” Nenek Ni Minah menatap kepada ketiganya dengan senyum.


Ketiganya langsung membenarkan sikap dan berhenti bercanda yang tidak-tidak.


“Nenek jadi rindu masa-masa remaja.” Ungkap nenek seraya meneruskan langkah.


“Itu hal wajar nek. Tapi menurutku menjadi tua adalah hal yang hebat. Yang muda adalah penerus, sedangkan yang tua adalah teladan.” Balas Faga di samping nenek. Senyum semangatnya selalu terkembang.


“Terimakasih pujiannya nak Faga.”


Setelah cukup mengelilingi desa dan menyapa penduduk, Nenek Ni Minah mengantar ketiganya ke tempat Bunga Purnama tumbuh. Tentunya itu langsung disambut gembira oleh keempatnya.


Arif dan Wira tidak sabar untuk menemui bunga legendaris tersebut.


Namun, tidak untuk Faga. Sebagai seorang yang sering terjun di masyarakat, firasatanya mengatakan ada yang tidak beres disini. Kecurigaan tersebut berasal dari pertanyaan, “Mengapa nenek sangat terbuka?”


Faga meneruskan langkah tanpa mengendorkan kewasapadaan.

__ADS_1


__ADS_2