IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
28 Kembali ke Lapangan


__ADS_3

“Coba lihat buatanmu Arif.” Sheiny menjulurkan telapak tangan yang terbuka.


“Ini.” Arif menyerahkan anyaman caping buatannya.


Dua bulan sudah berlalu sejak Arif dan Sheiny saling mengenalkan diri. Itu bukanlah waktu yang panjang, rasanya baru kemarin keduanya saling kenal.


Dalam waktu dua bulan, keduanya melakukan kemajuan hebat dalam hal berkomunikasi. Arif tidak segugup sebelumnya, paling tidak rasa gugup dalam bercakap dengan Sheiny dapat dia hadapi. Sedangkan Sheiny, kemajuannya bahkan melebihi Arif.


Sheiny cepat beradaptasi, Sheiny tidak lagi menganggap Arif orang asing. Arif kagum padanya.


“Ada ikatan yang kurang rapi. Juga disini, ada yang terlewati.” Sheiny membalik caping tersebut lalu menunjukkan bagian mana saja yang perlu di perbaiki. Arif memperhatikan sambil menganggguk mengerti.


Dalam hal ini Sheiny sangatlah teliti. Matanya peka terhadap bagian-bagin kecil yang baginya terkesan kurang pas di hati. Apalagi soal menganyam, Sheiny lebih dari sekedar ahli. Levelnya berbeda jauh.


“Omong-omong bagaimana soal Die Hyang-mu?” Tanya Sheiny sambil membenarkan pekerjaan Arif.


“Masih buruk. Pada tarian pertama saja masih banyak gerakan yang belum sempurna. Ternyata sangat sulit.”


“Ayah juga dulu sama sepertimu. Ayah kadang bercerita tentang pengalamannya berlatih Die Hyang bersama kakek kepadaku. Sangat susah.” Sheiny lalu tertawa pendek. Arif menimpali dengan senyumnya.


Kak Haz ternyata sama.


“Hei Arif, aku ingin tahu motivasimu untuk mempelajari Die Hyang. Ayah dulu pernah menunjukkannya padaku. Itu tarian indah sekaligus sulit, tapi kenapa kau mau mempelajarinya? bukannya kau bisa menolaknya?”


Arif menatap langit-langit kamar sembari mengingat kejadian itu. “Aku berpikir kalau aku mengusainya mungkin akan sangat hebat. Selain itu Kak Haz juga terlihat senang saat aku mau mempelajarinya dan ini adalah kesenian warisan leluhur. Jadi melesatarikannya adalan tindakan yang mulia.”


Sheiny tersenyum kecil. “Benar-benar. Seharusnya itu tanggung jawabku malah kau yang menanggungnya. Tolong ya, Arif. Aku sangat berterimakasih.”


Arif menggelengkan kepala kuat-kuat kemudian menepuk wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan. “Tida boleh-tidak boleh-tidak boleh Arif. Tenang-tenang, atur pernafasanmu.” Batin Arif.


“Ada apa?” Sheiny bertanya penasaran.


“Bukan apa-apa hanya......ha.....hanya sedikit gugup. Ayo lanjutkan lagi pekerjaan kita masih banyak.” Kalimat Arif terdengar bermasalahn.


“Baiklah, mari bersemangat!” Teriak Sheiny.


@@@


“Angkat sedikit pergelanganmu Arif.” Kak Haz menaikkan pergelangan tangan Arif.


Berlatih Die Hyang menjadi rutinitas baru Arif. Setiap pagi dan sore, Haz menyempatkan sedikit waktunya untuk melatih Die Hyang. Ditengah kesibukannya akan pekerjaan yang menumpuk-numpuk, Kak Haz tetap menyempatkan waktu untuk melatih Die Hyang.


Dalam perkara ini beliau sangat gigih dan serius.


“Kuda-kudamu kurang lebar sedikit Arif.” Kak Haz mengoreksi lagi. Arif langsung melebarkan kuda-kudanya.


“Segini.”


“Ya cukup. Lanjutkan pada gerakan berikutnya.” Arif melanjutkan gerakan berikutnya yaitu lompatan pendek.


Keringat berjatuhan, nafas tidak beraturan, lelah meringkup sekujur tubuh, dan tiap gerakannya masih dalam katagori perlu banyak latihan. Patah-patah dan sangat kaku.


Meskipun begitu, Arif bisa merasakan sensasi hebat di dalamnya. Dia masih bisa menari dalam waktu yang lama.


Kak Haz memperhatikan dari tepian Altar Pertemuan. Suasana dan atmosfer disini sangat mendukung dari pada melakukannya di halaman rumah. Angin lebih sering berhembus, mengusir lelah yang datang. Alasnya yang penuh dedaun membuat telapak kaki lebih nyaman ketika menapak.


Matahari semakin turun, cahaya oranye sore membungkus angkasa. Daun-daun tua berguguran tertiup angin. Kombinasi itu membuat tarian yang sedang dilakukan Arif bertambah indah meski tiap gerakannya masih sangat kaku dan tidak sinkron.

__ADS_1


“Hari ini cukup sampai disini saja Arif.”


“Heh, sudah selesai. Secepat ini. Aku masih bisa lagi Kak Haz.”


“Bukan itu masalahnya, besokkan kita ke desa. Jadi malam ini kuminta kau fokus dulu dengan latihan percakapanmu. Jangan bilang kau lupa.”


“Hehehe.” Arif menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Persiapkanlah baik-baik. Aku yakin besok kau akan mendapat banyak sahabat.”


@@@


Cuaca cerah bersahabat, sinar matahari pun teras lebih panas hari ini. Kicau burung-burung berparuh panjang terdengar diantara dahan-dahan tinggi. Suara serangga tongeret juga memenuhi telinga Arif. Sedikit mengganggu.


Arif terlihat sedang menghitamkan rambutnya di halaman depan. Racikan penghitam rambut buatan Haz berupa cairan yang sangat kental, seperti sampo.Cara pemakaiannya pun hampir sama dengan dengan sampo hanya saja tidak dibasuh dengan air dan setelah diratakan Arif harus berjemur di bawah sinar matahari.


“Sudah selesai Arif.” Haz muncul dari belakangnya sambil membawa tas kayu miliknya. Tas yang besar. Arif menoleh kepada Kak Haz.


Arif lalu meletakan telapak tangan pada rambutnya untuk memeriksa sudah kering atau belum. “Sudah.” Balas Arif sambil beranjak dari posisi duduknya.


“Ayo, segera siapkan dirimu.” Haz berjalan di depan, Arif mengikuti dengan membawa gugupnya. “Kukira aku sudah bisa mengatasinya.” Batin Arif. Dada Arif berdebar lebih keras.


Kondisi pasar masih sama sebagaimana terakhir kali Arif kesana. Ramai, riyuh, gerah, dan panas. Orang-orang dengan bermacam keperluan berlalu-lalang.


Lapak-lapak berdiri di mana-mana dan membatasi ruang gerak konsumen. Kegiatan jual-beli berputar deras. Pasar selalu sibuk.


Terlihat orang-orang berbadan kekar dengan kaos ketat berdiri di pinggiran. Mereka adalah pemberi jasa angkut barang. Otot-otot mereka benar-benar hebat, juga sorot mata mereka, sangat mengancam.


Arif menangkap sosok yang tidak asing diantara pria besar tersebut. Itu salah satu anak laki-laki yang dia temui di lapangan. Perasaan Arif seketika berbunga-bunga karena mendapat target pertama dan hancur dalam waktu bersamaan.


Salah seorang pria berbadan kekar menolah padanya, wajahnya mengerikan. Arif langsung membuang muka untuk menghindari kontak pandang.


Kegiatan dagang Haz berjalan. Beberapa pembeli maju, menanyakan perihal racikan dan ramuan yang dia buat. Merasa yakin dengan penjelasan Haz, para pembeli lantas memberinya.


“Lakukan apa yang perlu kau lakukan Arif.” Ucap Kak Haz di sebelahnya. Arif hanya menggangguk, kepala sedang memikirkan banyak hal seperti apa yang harus dia ucapkan nanti.


“Ayo, karena itu segera lakukan, kali ini jangan biarkan kecemasan mengalahkanmu lagi.” Kak Haz mendorong-dorong Arif yang mematung di tempat.


“Harus lebih baik dari pada dua bulan kemarin.” Kak Haz memberi jempol meski ucapannya tetap dingin dan kurang peduli.


“Baik, doakan aku.” Arif segera beranjak dari tempatnya. Tunas semangat mulai tumbuh di dasar hatinya.


Arif berlari menembus kerumuna orang-orang dan sempat tersesat. Tujuannya adalah lapangan itu. Mungkin ini masih terlalu dini, mungkin saja mereka tidak berkumpul sore ini, mungkin saja mereka malah menjauhinya setelah berkenalan. Bagaimana kalau identitasku sebagai manusia rambut putih terungkap?


Segenap kemungkinan-kemungkinan itu bermain-main dalam kepala Arif.


Bagaimana pun juga itu tetap kemungkinan. Bukan kepastian. Itulah adalah kata-kata lelaki berambut perak.


Harus, harus, harus kali ini harus bisa!


Ternyata Arif salah besar tentang kemungkinan yang dia buat. Mereka semua sudah berkumpul di lapangan, ramai sekali malah. Satu sama lain saling kejar-mengejar bola dan menendangkannya kearah gawang.


Nampaknya sangat seru. Namun kecemasan lagi-lagi menguasainya.


“Tenang, tenang, dan tenang. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Arif menggemakan motivasi itu lagi.


Arif benar-benar gugup, kakinya terus gemetaran. Atmosfer disini sangat pekat. Tidak apa-apa. Aku sudah berlatih selama dua bulan ini. Waktunya menunjukkan hasilnya.

__ADS_1


Arif berusaha memasang senyum bersemangat.


“Aduh!” Arif terjungkal kebelakang. Wajahnya mencium bola yang melesat cepat kearahnya.


“Hei kau tidak apa-apa. Maaf tadi itu tidak sengaja.” Salah satu dari mereka mendekat dan mengulur tangan kepada Arif.


Arif lantas mengusap wajahnya yang terasa panas. Tendangan itu membuat hidungnya mimisan.


“Heh, kau kan yang kemarin itukan. Eh...namamu Arif, benar?”


Satu detik Arif membuka memorinya. Itu adalah si anak pengemabala. Dari tutur kata dan parasnya, Arif menilai dia adalah anak yang bersahabat.


Sekaranglah waktu!


“Perkenalkan namaku Amar Fasih. Kau bisa memanggilku Fasih. Salam kenal.” Fasih dan Arif kemudian berjabat tangan.


“Maafkan temanku itu ya.” Fasih mengusap belakang kepalanya. Mungkin maksudnya si wajah preman itu.


“Ya tidak apa-apa.” Arif menjawab dengan nada tinggi, terlalu bersemangat.


“Hei kau sepertinya sangat bersemangat ya. Ayo bergabung, kami juga kekurangan satu orang.” Ajak Fasih.


Oh betapa beruntungnya aku. Batin Arif.


“Fasih, siapa itu.” Salah orang lelaki mendekat. Tubuhnya penuh keringat dan juga besar, lebih besar dari Arif. Arif jadi sedikit cemas.


Lawan Arif, Lawan!


“Oh, namanya Arif. Dia ingin bergabung. Kita punya kursi kosong untuknya bukan.”


“Benarkah itu, terimakasih. Pertandingan akhirnya bisa imbang.” Mendengar itu membuat hati Arif bermekaran.


“Oh ya, perkenalkan. Namaku Faga Dwi. Panggil saja Faga. Salam kenal.” Faga memberikan senyum dan tangan kanannya. Kalimatnya terdengar kuat dan kokoh, persis seperti seorang pemimpin.


“Arif.” Arif lantas berjabat tangan dengan Faga.


Kejutan belum selesai sampai disitu.


“Hei bukannya itu orang aneh yang minta ijin untuk berteman.” Dari tengah lapanga, lelaki paling tinggi mendekat.


“Minta ijin untuk berteman?” Pertanyaan itu saling bersahut-sahutan. Merantai satu sama lain dan membuat mereka semua mendekat kepada. Mereka penasaran terhadap anak yang meminta ijin untuk berteman.


Dalam sekejap Arif langsung dikerumi semua orang. Masing-masing dari mereka berkenalan dengan Arif dengan antusias. Situasi ini benar-benar tidak terduga. Kaki Arif bergetar hebat, jantung berdegung kencang. Dada berasa meledak-ledak. Debaran yang tidak tertahankan.


Jadi beginilah rasanya mendapat banyak teman. Sangat menyenangkan seakan menerima anugerah paling besar.


“Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Kalimat nenek kembali menggema dalam kepalanya.


Tanpa sadar Arif mengucapkannya juga.


“Apa katamu barusan Arif. Sepertinya telingaku mendengarkan kata yang sangat keren.” Faga mengomentari.


Bibir Arif mendadak mendingin dan membeku. Kalau sudah begini, aku tidak bisa mundur.


Arif Tidak pernah terpikir untuk melakukan ini.


Arif lantas mengepalkan tangannya dan mengangkatnya di udara sambil memasang pose paling keren. “Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Teriaknya.

__ADS_1


Sahabat-sahabat barunya pun tertawa dan bertepuk tangan untuk Arif. Senyum Arif semakin melebar dengan kesenangan yang kian tak terbendung.


“Apa kau dari keturunan manusia rambut putih, Arif.”Kalimat yang sanggup membunuhnya akhirnya terlepas juga.


__ADS_2