IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
71 Datangnya Sang Penghancur


__ADS_3

Kumpulan anak-anak itu menghadang jalan dengan polosnya, mengabaikan bahaya yang bisa datang kapan saja.


Koko dan Jendral Jim saling bertukar pandang serius.


Suasana hening dan mencekam. Koko tidak menyadari baru saja menarik keluar seekor harimau dari sarangnya.


“Punya Nyali juga kau bocah. Jika aku menolaknya apa yang akan kalian lakukan.” Jendral membusungkan dada seraya menatap rendah kepada anak-anak itu, hanya Koko yang terlihat masih memiliki keberanian untuk tetap disana. Sisanya mulai ragu dengan rencana awal.


Warga yang masih berada di sana semakin cemas dengan keselamatan Koko, tapi sayang tiada keberanian untuk menolong. “Koko pergilah. Jangan memperkeruh masalah!” Perintah Arif.


Bukannya di jawab, Koko malahan melakukan aksi tidak teduga.


PLOK


Jendral Jim meraba dahinya. Ada sesuatu yang lengket dan basah di dahinya. “Telur, kau coba main-main denganku.” Terdengar amarah di ujung kalimatnya.


“Jendral, mohon tenang. Lebih baik tidak_” Kalimat itu terpotong oleh hujan telur busuk.


“Serangan teman-teman.” Perintah Koko. Itulah mengapa dia dijuluki Sang Penghancur oleh penduduk desa.


Sebelas bocah di bawah komando Koko segera mengeluarkan amunisi. Tangan mereka dengan cekatan melempari ketiga kesatria kerajaan itu dengan telur-telur meski Arif juga ikut kena imbasnya.


PLOK PLOK PLOK


Kedua belas bocah itu nampak asik sekali melakukannya seakan itu adalah hiburan. Hujan telur bertambah deras, membasahi badan ketiganya yang penuh dengan kuning telur, putih telur, dan cangkangnya. Ketiga kesatria itu hanya diam melindungi diri dengan lengan.


Penduduk yang memperhatikan tingkah ke dua belas bocah itu menyadarai sesuatu. Mereka mulai membuka mata akan pemahaman baru.


Penduduk pun bersatu demi Arif. Pala, Silvi, Sheiny, Kak Haz, dan BiBi Nilam yang ada disana menatap semua itu dengan takjub. Hanya karena dua belas bocah super jahil di desa bisa membuatnya semuanya merubah sudut pandanganya terhadap Arif.


Satu persatu penduduk mulai memungut kerukil di sekitarnya kemudian melemparnya ke arah ketiganya seraya berteriak, “Kembalikan Arif. Dia adalah tetangga kami!!”


Semakin lama semakin banyak, semakin membuat ketiga kesatria itu kerepotan. “Bagaimana ini Jendral?”


Jendral Jim menggretakkan rahang. Emosinya mulai meluap.


Di tariknya bilah pedangnya yang patah, menarik kerah Arif secara kasar dan mengarahkan bilah pedangnya tepat ke tenggorokan Arif. “Silahkan lanjutkan tindakan bodoh kalian jika ingin tetangga kalian pulang tanpa kepala.” Ancam Jendral Jim.


Dalam sedetik, ancaman itu membuat seluruhnya diam membisu.


“Jendral, tapi_”


“Percayalah padaku.” Anak buahnya mundur satu langkah.


“Pasanga telinga kalian. Manusia Rambut Putih itu hanya membawa kesialan dan petaka. Kenapa kalian kukuh mempertahankannya? Apa kalian ingin langit menurunkan petaka untuk kalian.” Teriak Jendral Jim.


“Itu tidak benar!” Jawaban itu muncul dari seberang dan sangat keras. Koko dan kawan-kawan memiliki satu suara. Arif adalah kakak kami yang baik, tidak ada kesialan yang kami dapat selama bersamanya.


“Selama ini desa kami aman-aman saja walau Arif di samping kami.” Seorang lelaki gempal berkumis angkat bicara.


“Dia selalu baik padaku, bahkan memberikan pengobatan gratsi saat aku tidak punya penghasilan.” Seorang ibu rumah tangga menyuarakan pengalamannya.


“Kak Arif selalu menamani kami bermain.”


“Iya jangan bawa Kak Arif. “


“Kembali Arif. Dia adalah keluarga kami di desa ini.”


Riuh.


Suara penduduk yang menyerukan untuk dikembaliknya Arif kedalam pelukan mereka. Tanpa Arif sadari suara-suara itu membuat air matanya berlinang. Arif tidak pernah membayangkan seluruh warag desa mau menerimanya yang merupakan manusia rambut putih.


“Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir. Nenek benar.”

__ADS_1


Jendral Jim meruncingkan alis. Dia menurunkan bilah pedangnya dan menendang Arif ke depan, menyerahkannya kepada penduduk.


Seluruh penduduk pun berlari kearah Arif, tapi bukan itu saja yang Jendral Jim lakukan. Dia angkat pedangnya tinggi-tinggi. Bersamaan dengan munculnya mega merah di ufuk barat, Jendral Jim tebaskan pedangnya kearah punggung Arif.


“Arif!!” Teriak penduduk histeris.


“Aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian. Ayo kita tinggalkan desa kotor ini.” Ucap Jendral Jim dingin diikuti oleh kedua anak buahnya.


Penduduk mendekat dengan perasaan sedih menunmpuk-numpuk. Terlebih Sheiny, dia tidak menyangkan kepergian Arif akan secepat ini.


Namun, bukan itu yang sebenarnya terjadi.


Arif mengerjap-ngerjapkan mata. Semua orang menatapnya dengan sorot sangat terkejut, bagaimana Arif selamat? Itulah pertanyaan yang berikan sorot mata mereka.


Arif merasa tangannya bisa digerakkan dengan leluasa. Ternyata yang Jendral Jim tebas adalah ikatannya bukan punggungnya. Tebasan yang sangat teliti, tidak sedikit pun melukai kulit dan punggung Arif.


“Sebenarnya apa tujuan Jendral Jim?” Batin Arif.


Tidak berselang lama, Sheiny melompat ke arahnya dan memeluk Arif erat-erat disertai air mata. “kenapa Kak Arif sangat bodoh. Kenapa Harus mengorbankan diri sendiri. Kami pasti memahami kalau Kak Arif menjelaskan semuanya.” Ungkap Sheiny di tengah isaknya.


Arif menatap wajahnya istrinya lalu mengelus kepalanya beberapa kali. “Terimakasih.” Mata Arif lalu menatap penduduk yang kini mengerumuninya.


“Maaf selama ini aku berbohong. Aku selalu takut untuk membuka identitas ini.” Ungkap Arif dengan wajah sedikit tertunduk.


“Kami juga minta maaf Arif. Kami selalu saja mempercayai bahwa manusia rambut putih itu membawa petaka, tapi nyatanya tidak. Kehadiranmu bahkan membawa berkah.” Jawab kepala desa. Itu adalah Bapak Faga.


“Sekali lagi kami minta maaf karena terlembat mempercayaimu.”


Arif tersenyum bahagia mendengar jawaban indah itu. Jawaban yang mewakili seluruh penduduk.


PLOK


Arif merasa sebelah jawaban terpukul. Ada sesuatu yang lengket dan bau disana. “Telur?”


“Kena wajah Kak Arif. Seratus untukku.” Salah satu sahabat berseru bangga dari seberang. Penduduk langsung memperhatikan mereka bertingkah.


Alih-alih kena wajah Arif, malahan kena wajah kepala desa.


“Wah kita dapat masalah nih. Kabur.” Kedua belas bocah itu lari dari tanggung jawab. Seluruh orang disana pun teratwa lepas termasuk kepada desa dan Arif.


@@@


“Bagaimana dengan perintah Raja?”


“Tugas sejati seorang raja adalah mengabdi pada rakyatnya. Maka sudah seharusnya suara rakyat lebih unggul dari suara raja.” Balas Jendral Jim sambil meneruskan langkah.


“Kalian bisa lihat penduduk itu kan. Mereka sangat mempercayai Arif. Mereka seakan mau berkata, aku bersedia menerima petaka selama Arif tetap menjadi tetangga kami. Itu membuatku kagum. Ikatan yang sangat kuat sudah terjalin diantara mereka. Kita tidak selayaknya merusak ikatan tersebut.” Kedua anak buah Jendral hanya mengagguk paham.


“Lagi pula aku sejak lama sudah curiga dengan keadaan dalam istana, terlalu banyak kebusukan hingga aku ingin menjauh sejauh-jauhnya.” Jawab Jendral Jim kemudian menghentikan langkahnya.


“Terimakasih kerja samanya, Wira, Fasih. Akhirnya aku paham sepenuhnya alasan kalian mempercayai Arif. Aku pasti membalas bantuan kalian dan kebaikan Pasukan Pelindung Matahari.”


“Tidak perlu sampai begitu Jendral.” Balas lelaki yang dipanggil Fasih.


“Benar, kami melakukan ini pun atas dasar keputusan kami. Lebih baik kita susun rencana untuk menguak kebusukan pihak kerajaan.” Lelaki yang dipanggil Wira menyaut.


“Kalian memang sahabat terhebatku.”


Ketiganya lalu menyatukan kepalan tangan.


@@@


Hari-hari yang normal berlanjut. Kehidupan rumah tangga Arif dan Sheiny sebentar lagi mencapai puncaknya. Menurut seorang ahli bidan, dalam waktu dekat Sheiny akan melahirkan putra pertamanya.

__ADS_1


Berita yang sangat menggembirakan bagi semua orang, terkhusus Arif akhirnya dia bisa bertemu dengam menusia rambut putih selain ibunya.


Kak Haz meliburkan Arif dan pekerjaannya dan Bibi Nilam pun mengajari Arif bermacam hal tentang menjadi bapak rumah tangga yang baik.


Bibi Nilam mengajarinya memasak, pekerjaan yang selama ini Arif belum bisa menyanggupi. Di dorong dengan sorakan Sheiny, Arif memasak banyak sekali masakan yang sebenarnya masuk dalam standar gagal.


Arif tidak menyerah.


Demi menjadi bapak rumah tangga yang baik. Dia siap memenuhi tanggung jawabnya.


“Ada yang ingin kutunjukkan.” Kata Arif sambil membantu Sheiny berjalan.


Perut istrinya itu sudah membesar, disanalah putranya kadang menendang-nendang dan berulah. Meski menyakitkan bagi Sheiny, menyadari bahwa sebentar lagi keduanya akan memiliki putra adalah kebahagian yang besar.


Memotivasinya terus bertahan hingga hari bersalin.


“Nah, Sheiny duduk disini.” Pinta Arif membantu Sheiny duduk di teras belakang rumah.


Warisan nenek ini telah menjadi taman bunga indah. Bermacam bunga dengan mahkota warna-warni memenuhi tempat. Para kupu-kupu dan lebah hingga disana, mentedot nektar seraya membatu sang bunga dalam proses penyerbukkan.


Setelah mengelus dan berdoa untuk putranya, Sheiny menatap ke depan, ke arah Arif sekarang berada.


Di tengah-tengah taman bunga itu, Arif akan mempersembahkan tarian yang sejak lama dia latih. Die Hyang tarian ke dua puluh delapan, ke dua puluh sembilan, dan ketiga puluh.


Masing-masing tarian secara berurutan memilki nama, Kelopak yang Ditiup Angin, Teratai yang Mengarungi Samudra, dan Gugurnya Daun ke Tiga puluh.


Ketiga tarian ini adalah yang terbaik menurut Arif pribadi, karena itulah ia memilihkan yang terbaik untuk pasangannya.


Sheiny bertepuk tangan gembira. Pertunjukkanya siap di mulai.


Arif memejamkan mata diikuti dengan menggerakan kedua lengannya dengan halus dan ringan layaknya tiupan angin. Gerakan berikutnya adalah menggerakkan tubuh dan kaki. Perlahan-lahan wilayah geraknya semakin luas dengan bertambahnya anggota tubuh yang digerakkan.


Tarian ini berkesan lambat dan lembut. Arif melangkah kaki secara hati-hati agar tidak menginjak taman bunga, hal itu malah memperindah tariannya.


Tarian yang halus dan menenangkan.


Bunga-bunga, kupu-kupu, dan para lebah di sekitar seakan mengikuti gerakan tariannya. Indah sekali. Sheiny menatap takjub, tidak mampu berkedip.


Syukur pun terucap dari lisan. “Terimakasih Tuhan, telah mempertemukan hamba dengan lelaki bernama Arif.”


@@@


Akhirnya kisah itu mencapai klimaksnya. Di tengah malam yang sunyi, Arif mendengar teriakan kesakitan Sheiny.


Arfi langsung terbangun dan keluar untuk meminta bantuan bidan bersalin.


Hari yang gelap dan dingin ia lalui. Sepanjang jalan lisannya terus berdoa kepada Tuhan demi keselamatan istri dan putranya. Setiap langkah, setiap helaan nafas, Arif tidak lupa untuk terus mengucap doa dan pengagungan kepada Tuhan.


Beruntung bidan bersalin tersebut mau menerima ajakan Arif meski tengah malam begini. Tanpa basa-basi keduanya ambil langkah seribu.


“Sheiny, bertahanlah. Sedikit lagi.”


Namun, Sang Penghancur mendahului.


Darah. Darah. Darah.


Darah yang terciprat pada dinding yang memiliki goresan makhluk buas, darah yang mengalir di lantai, dan darah yang menggenangi dua sosok yang amat dicintai.


Kak Haz dan Bibi Nilam. Tidak ada nafas yang keluar dari keduanya. Tidak ada detak di pembuluh nadi keduanya. Tubuh Arif bergetar hebat dan terjatuh tanpa daya.


“Sheiny.” Nama itu ia panggil dengan lirih.


Arif langsung berlari ke kamarnya. Tidak ada. Dia pergi ke semua tempat mencari keberadaan Sheiny, belahan jiwanya. Dalam Linangan air mata dan doa, Arif terus menerus berharap.

__ADS_1


Dan Arif pun berhenti ketika tiba di suatu titik. Halaman belakang.


Di tengah taman bunga indah itu terbaring jasad yang bersimbah darah. Cahaya bulan menyinari dan memperjelas sosok yang ada disana. Arif jatuh bertekuk lutut, diikuti teriakan keras dan air mata yang mengalir deras.


__ADS_2