
Arif membuka mata yang berat, pandangannya masih samar-samar. Langit sedang tidak bersahabat. Angin kencang berhembus beberapa kali. Cahaya matahari terhalangi, tidak sedikitpun menyinari Arif.
Seluruh tubuh Arif terasa pegal dan sakit. Lengan dan kaki terasa aneh, tidak bisa digerakkan. Rasa perih juga menghujam seluruh tubuhnya. Ada apa ini?
Arif terbelalak ketika pandangannya kembali normal. Tepat di depannya puluhan orang terlihat menghadapnya dengan tatapan benci dan jijik. Mereka melemparinya dengan segala sesuatu yang hina. Kotoran, batu, buah-buahan busuk, dan benda-benda lainnya kepada Arif.
Tidak kurang juga umpatan-umpatan menghina yang tidak pantas ditujukan pada manusia.
Arif tidak fokus pada itu. Arif sibuk meronta-ronta, namun tidak bisa, tangan-kaki terikat kencang sekali. Arif terus berusaha, tidak bisa. Ikatan ini terlalu kuat.
Arif menatap depan dengan penuh putus asa. Air matanya sudah dialirkan dengan sorot paling menyedihkan yang pernah dia pasang. Dirinya sekarang diikat di tengah kota pada sebuah tiang kayu besar.
Bangunan tinggi-tinggi berdiri mengelilinginya dan langit nampak tidak sedang menunjukkan keceriannya. Dimana ini?
Seruan demi seruan benci menghantui telinga. Arif mencoba menutup telinga, sayang kedua tangannya terikat kua.Dengan wajah tertunduk malang Arif harus menelan semuanya, rasanya kepala dan tubuhnya akan pecah, tercerai-berai.
Rasa perih di tubuh pun kian bertumpuk. Selama diikat, Arif tidak mengenakan apapun kecuali celana pendek kusam. Sementara bagian tubuh lainn dibiarkan terbuka dan menjadi target lemparan batu-batu penduduk.
Arif meringis, ini sakit sekali. Tubuhnya sudah berdarah-darah terkena bagian tajam batu-batu itu.
Arif menemukan banyak tumpukan kayu dibawah telapak kakinya. Dia berfirasat buruk terhadap hal itu, apa yang akan terjadi padaku. Dalam pusaran tanpa harapan dan kegelapan itu, Arif mendadak meraih harapan dalam kepalanya.
“Nenek, Kak Haz!” Arif meneriakan kedua nama itu sambil mendongak. Matanya membesar dan berbinar. Tangis kesyukurannya meleleh.
Namun kenyataan tidaklah begitu.
Alasan mengapa Arif berada dalam posisi ini, terikat, dihinakan, dan siap diesksekusi, tidak lain adalah karena dua sosok itu.
Dalam barisan orang-orang yang melemparinya dengan buah-buahan busuk, keduanya berdiri dengan tatapan sinis kepada Arif. Tidak ada tanda-tanda kasih sayang dari keduanya.
Apa semua kebaikan itu hanya kebohongan?
Dalam satu detik semua memori indah yang dibentuk bersama keduanya beberapa hari yang lalu tumpah layaknya air bah. Arif tidak mampun berkata-kata, mulut dan lidah membeku.
Dalam kondisi normal Arif pasti pasti akan berteriak-teriak, berubah menjadi brutal. Namun posisi ini membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Segenap cahaya harapan sudah meredup dan musnah. Tiada lagi lentera untuknya. Satu-satunya pilihan adalah hanyut dalam takdir yang kejam ini.
Para penduduk seketika diam ketika datang seseorang berpakaian megah. Dikepalanya ada sebuah mahkota emas dan dalam genggemannya ada tongkat emas yang dipuncaknya api besar menyala. Sosok itu mendekat dengan langkah gagah kearah Arif.
Lelaki yang mengenakan mahkota itu kini sudah tepat dihadapan Ari. Arif bisa melihatnya, wajah keriput yang terselaput dendam dan mata yang puluhan tahun membendung benci . Lelaki itu mulaui berpidato dihadapan rakyatnya.
Arif hanya bisa tertunduk dengan tatapan mati.
Tongkat emas ditangannya diangkat tinggi-tinggi. Beberapa orang dengan pakaian seragam lalu datang dengan membawa minyak yang ditumpahkan kepada Arif beserta kayu-kayu kering di bawahnya.
Kematian sudah jelas, ajal yeng begitu kejam. Mati dalam lalapan api yang menguluti nyawanya perlahan-lahan. Arif tidak mau menerimanya atau membayangkannya. Arif berharap kematian yang lebih baik dari itu.
Mahkota emas itu jatuh bersama dengan tumpahnya darah pertama. Melihat kondisinya membuat perut Arif teraduk-aduk dan muntah. Darah segar segera menggenang di hadapannya, sementara tongkat emas berada dalam genggaman orang lain.
Jerit dan teriakan langsung memenuhi penduduk. Orang-orang saling bertubrukan, berlarian panik dan ketakutan. Baru saja mereka melihat bagaimana pemimpin mereka di penggal tepat di depan mata.
Arif menoleh kearah penyelamatnya. Seorang lelaki berbadan kekar. Kulitnya sedikit gelap, hanya celana panjang dan kaos tipis ketat yang dia kenakan. Itu membuat tubuh berototnya terlihat sangat jelas. Otot-otot yang sudah dilatih puluhan tahun.
Dipunggung kaosnya tergambar simbol matahari gelap dengan api putih. Namun, bukan itu yang mencuri perhatian Arif, melainkan rambutnya yang putih sebagaimana dirinya.
Tongkat emas yang berada dalam genggamannya dia buang sembarang arah. Belum sampai tongkat itu menyentuh tanah, lelaki itu melesat layaknya kilat. Mata Arif tidak bisa mengikuti.
Terlihat di depan sana, empat orang langsung jatuh tanpa kepala. Sosok itu lantas melompat jauh dan menghadang barisan paling depan. Kaki kanannya menyetak tanah dengan kuat, menimbulkan tenaga dorong yang hebat. Dia melesat menuju kerumunan dan melangsungkan tarian darah.
Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah Arif lihat. Banjir darah dimana-mana, jasad-jasad hancur berantakan. Hanya dalam hitungan detik, sosok itu membereskan puluhan orang hanya dengan tangan kosong dan tanpa satu pun goresan luka di tubuhnya.
__ADS_1
Hanya bersisa satu orang, Ibu Haz. Disekitarnya, mayat orang-orang berserakan bagaikan sampah, aroma darah tercium dimana-mana. Nenek mundur dengan tatapan penuh keputusasaan. Tinggal beberapa detik sebelumnya nyawanya tercabut.
Dengan gerakannya yang tidak bisa ditangkap mata, kepalan itu melesat tanpa suara, dan membuat lubang mengerikan pada tubuh korbannya.
Ketika sosok itu mencabut tangannya, tubuh Ibu Haz ambruk bersimbah darah. Lelaki berambut itu lantas menginjak kepala Ibu Haz yang tidak lagi bernyawa. “Kalian tidak layak menjadi manusia.
Selesai dengan tugas, dirinya mendekat pada Arif.
Lelaki berambut putih itu menghadap Arif setelah ikatannya ia lepas. Dari dekat terlihat sesuatu yang janggal dari dirinya. Sebuah tanda layaknya luka bakar di wajahnya, tidak jauh beda dengan tanda lahir milik Arif.
Namun, Arif tidak mampu untuk memikirkan itu. Semua kengerian ini membuat akalnya berhenti bekerja.
“Arif, saatnya menjemput takdirmu.” Ucapaya. Nada suaranya sedikit berat. Arif belum bisa mencerna kalimatnya.
“Kita adalah golonga minoritas yang selalu ditindas. Kita tidak pernah mendapat keadilan bahkan kebahagian yang kita miliki selalu mereka injak-injak.” Nada suaranya berubah geram.
“Jadi, karena mereka membuang dan mengutuk kita, mari berikan apa yang mereka inginkan. Menjadi eksistensi yang dibuang dan terkutuk. Iblis.”
Kalimat itu merasuk cepat kedalam hati dan pikiran. Sebagian diri Arif membenarkannya dan sebagian kecil masih ragu-ragu.
Membunuh dan menghancurkan, apakah keduanya bisa dibenarkan karena alasan membela diri?
Menyadari keraguan dalam diri Arif, lelaki melakukan tindakan aneh. Telapak tangannya datang, meligkup wajah Arif. Apa yang akan dia lakukan?
“Pilihlah..... segera!”
Aaaarrrrgggg!
Arif bangun dari tidurnya dengan keringat yang deras. Kasur lipatnya sampai basah kuyup oleh keringantnya. Degub jantung tidak beraturan, kencang dan cepat. Beberapa detik Arif kehilangan koordinasi tubuhnya.
Tenang-tenang, itu hanya mimpi.
Semenjak tinggal di rumah Haz, Arif menerima mimpi-mimpi yang tidak biasa. Semua mimpinya terkait dengan kehadiran lelaki berambut putih yang memiliki luka bakar di wajah. Di semua mimpinya, lelaki itu meminta Arif untuk meninggalkan kemanusiaanya dan menjadi iblis untuk menjemput takdir.
Arif sadar itu adalah jalan yang salah, bahkan dia kadang merasa masa depan seperti itu benar-benar menanti di depan matanya.
Demi mencegahnya, Arif berusaha melakukan segalanya sebaik mungkin. Itulah alasan yang menjelaskan mengapa akhir-akhir ini tindakan Arif terkesan berlebihan. Dia ingin menjadi “baik”
Namun mimpi kali ini benar-benar berbeda. Kehadiran Haz dan ibunya dalam mimpi Arif mengundah gelisah tak berujung. Apa keduanya akan bertindak begitu?
Alhasil beberapa hari ke depan, Arif memilih diam dan menghindari percakapan. Arif tetap melaksakan rutinitasnya tapi tanpa bercakap dengan keduanya sedikitpun, jika terpaksa bicara Arif hanya akan menjawab ya atau tidak.
Seminggu sudah aksinya itu ia lakukan. Bukannya bertambah baik, Arif malah merasa dirinya jatuh ke titik nol. Segela kemampuan komunikasinya yang telah ia latih lenyap, Arif tidak berani lagi bertatap muka bahkan dengan Haz dan nenek.
Rasanya seperti dunia perlahan-lahan mencekiknya.
Maka untuk melepaskan diri, Arif harus melawan.
Pada suatu sore yang tenang, Haz dan ibunya nampak bercakap-cakap di taman belakang rumah. Arif maju kesana dengan langkah bergetar.
Dalam pandangannya sekarang, Haz dan ibunya adalah orang asing. Hampir tidak ada bedanya dengan penduduk yang membuangnya. Namun, demi menyelamatkan dirinya, Arif harus berusaha lebih. “Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Arif terus menggemakan kalimat itu dalam hati.
Ketika sampai di hadapan keduanya Arif benar-benar kehilangan semua kata-katanya. Sekujur tubuhnya bergetar. Keringat dingin mengalir. Haz dan ibunya menoleh padanya dengan tatapan bertanya.
“Maafkan Arif.” Kata Arif sambil membaca catatannya, untung dia sempat menulis kalimatnya. Suara Arif gagap dan gemetaran.
“A.....ri..f i...ngin ber...ber...tanya, a....a..pakah Ha...z dan ne...ne...k tega menja..ha....ha..ti A...rif?” Ucapnya tergagap. Mata Arif sudah berkaca-kaca.
“Menjahati? Apa maksud Arif.” Kalimat nenek terdengar kaget dan bersimpati, ada nada kesedihan di dalamnya.
__ADS_1
“Mendekatlah Arif. Katakan pada kami apa yang terjadi.” Haz giliran berucap.
Getaran di tubuh Arif semakin terasa, untuk maju lebih dekat dari ini rasanya tidak mungkin. Bayang-bayang dimana Haz dan nenek menangkap dan membawanya kehadapan semua penduduk menghantui kepala. Wajah cemas nenek seakan berubah menjadi senyuman setan.
Apakah aku harus maju?
“Arif bermimpi buruk! Nenek dan Kak Haz membawa Arif kehadapan semua orang untuk dibakar!” Kalimat spontan lagi-lagi keluar. Arif menutup mulutnya rapat-rapat, dia merasa baru saja melakukan hal salah.
Bagaimana ini?
Jika kemungkinan terburuk terjadi, Arif bersiap mengambil langkah seribu.
Beberapa detik wajah Ibu Haz terlihat sangat kaget. Di katakan jahat oleh Arif membuat hatinya sangat sakit. Seperti seorang anak yang tidak mau mengakui ibunya sendiri.
Namun, Ibu Haz sadar betul siapa yang sedang dihadapinya. Anak yang nyaris tidak memiliki masa lalu dengan kecemasan berlebih. Dirinya harus bijak menyikapi ini.
“Arif, sadar apa yang baru saja Arif lakukan?” Tanya Ibu Haz. Suaranya hangat dan bersahabat. Arif mendongak kearah beliau dan langsung membuang muka. Dia tidak berani bertatap muka.
“Arif baru saja melakukan kemajuan pesat dalam hal komunikasi loh.” Puji Ibu Haz.
Arif seketika mendongak dengan alis terangkat. Terkejut.
“Kemari duduklah, Nenek dan Haz berjanji tidak akan menjahati Arif.” Ucap Ibu Haz. Arif bertempur dengan keraguan dalam hatinya, cukup lama. Akhirnya Arif menurut pada ucapan nenek.
Arif duduk diantara Nenek dan Ibu Haz. Tubuhnya merinding menahan takut.
“Yang tadi itu namanya curhat, Arif. Artinya Arif menyampaikan masalah kepada kami. Bukankah ini pertama kalinya untuk Arif?”
Beberapa saat Arif memikirkan kalimat nenek.
Ibu Haz lantas meletakan telapak tangannya pada pundaknya, Arif sempat merinding dan sedikit keget.
Ini adalah hal sederhana, dengan meletakan telapak tangan kita di pundak lawan bicara bisa menyalurkan energi positif dan membuat lawan bicara lebih tenang. Hal itu juga terjadi kepada Arif, apalagi dibarengi dengan kalimat dan senyum yang lembut.
Kombinasi itu meruntuhkan dinding yang Arif buat antaranya dan nenek.
“Kami berjanji Arif. Bagaimanapun masa depan nanti, kami akan selalu berada di sampingmu. Kami berjanji tidak akan melakukan hal buruk terhadap Arif.” Kalimat Ibu Haz menyentuh hati yang membeku. Menghangatkan dan melelehkannya supaya bersinar kembali cahayanya.
Sungguh aneh, hanya dengan tiga kalimat itu kepercayaan terhadap Ibu Haz kembali terbangun. Mungkin inilah yang dimaksud ungkapan hati itu senantiasa terbolak-balik.
Arif terpaku di tempat. Hidungnya tersa basah, matanya terasa perih setelah mendengar kalimat Ibu Haz, kali ini air mata kesyukuran yang akan mengalir.
“Oh ya, hampir lupa. Kak Haz ingin memberikan hadiah padamu.” Nenek meneruskan. Arif melirik kearah Haz, sepertinya biasa raut mukanya membatu dan dingin.
“Coba tutup matamu, Arif.”
Arif menurut walau hatinya menjadi gelisah. Bayangan mengerikan itu datang lagi.
“Apa ini baik-baik.” Arif bertanya, cemas.
“Nenek janji, Arif pasti menyukainya.” Beberapa saat kemudian Arif merasa kepalanya digaruk-garuk perlahan.
“Lihat ke cermin Arif.” Haz mengangkat sebuah cermin tepat di depan wajah adiknya.
“Apakah itu, Arif?” Arif tidak bisa melanjutkan kalimatnya sehabis melihat bayangannya dalam cermin tersebut.
Ini kejutan paling tidak terduga.
Rambut, alis, dan bulu matanya berubah menjadi hitam.
__ADS_1