IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
46 Jurang Besar


__ADS_3

Dalam tenda yang pengap dengan sebuah lampu minyak sebagai cahaya. Di atas pembaringan seorang pria berumur lima puluh tahunan berusaha membuka matanya.


“Bagaimana perasaan, senior?”


Senior Tein menghadapkan wajahnya kearah suara yang memanggil. Seorang perempuan berusia belasan tahun. Rambutnya coklat kehitamannya terurai sampai kepundak. Dia berikan sebuah senyuman selamat datang.


“Berapa lama aku pingsan, Avin?” Tanya senior Tein berusaha bangkit. Seketika rasa nyeri dan sangat merambatinya bagai pasukan semut.


“Jangan memaksakan diri senior. Tubuh senior sangat kritis. Berbaringlah dahulu sampai bantuan datang.” Avin membantu senior Tein berbaring dengan tatapan cemas. “Senior pingsan sekitar satu setengah hari.” Tambah Avin lirih.


“Selama itu. Aku memang perlu istirahat ya.” Senior Tein mencoba tersenyum kecil.


Matanya berkaca-kaca.


Demi kesopanan Avin memilih diam terhadap kepanasarannya dan menundukkan kepala.


“Jika kau penasaran aku tidak masalah memberitahu.” Ucap senior Tein tiba-tiba. Avin segera mendongak kepadanya. Sebagai seorang yang ahli medis Avin merasa perlu tahu banyak hal mengenai pasiennya.


Avin menganggukkan kepala. Melihat antusiasme Avin, senior Tein menghadap langit-langit tenda dan mulai bercerita lirih.


“Mendekatlah dan tolong rahasiakan ini dari yang lain.” Pinta senior Tein. Avin segera mendekatkan telinga kepada senior Tein.


“Arif. Motivasinya akan sesuatu terlalu kokoh. Menurut penilainku, dia memiliki hal besar yang dia rahasiakan. Di perpustakaan organisasi apa kau pernah membaca tentang Keping Harapan?” Senior Tein menoleh setelah melempar pertanyaan tersebut.


Avin mengangguk.


“Benda yang mampu menghubungkan orang hidup dan yang telah mati. Benda ajaib itu hanya dimiliki oleh manusia rambut putih. Dan entah mengapa pemikiran itulah yang terbesit dalam benakku. Anak itu tidak bisa terus bangkit kecuali dengan dorongan yang kuat.” Senior Tein menarik nafas pendek dan menoleh kembali kepada Avin.


“Bagaimana menurutmu?”


“Saya tidak ragu dalam hal ini senior. Yang saya tahu dari Arif adalah dia adalah anak yang memiliki masa kecil yang keras. Ketua Faga yang menceritakan latar belakang Arif kepada saya.”


“Kehidupan yang keras ya. Mungkin itulah yang menempa mentalnya. Anak itu melebihi ekpetasiku.” Dengan menahan semua kesakita senior Tein mendadak bangun dari tempat tidurnya. Sontak Avin panik dan meminta senior Tein berbaring kembali.


“Omong-omong dimana si otak udang?” Tanya senior Tein dengan wajah menahan perih. Meski berusah di sembunyikan, Avin pun tahu senior Tein sedang menahan rasa perih yang menjadi-jadi.


“Dia berada di tenda yang lain, menjalani perawatan. Mungkin sekarang sudah sembuh.” Jawab Avin dengan nada cemas.


Senior Tein turun dari kasurnya, telapak kakinya mulai melangkah di permukaan tanah.


“Maaf mengkhawatirkanmu Avin. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada si otak udang sebelum tim medis menjemput.” Kata senior Tein.


Avin bisa menangkap sebuah permohonan di bola mata senior Tein. Avin pun menuruti permintaan senior Tein walau sebagian dirinya merasa berdosa melakukannya.


“Terimakasih.”


Senior Tein mengambil pakaiannya yang telah compang-camping dan mengenakannya sebagai jubah. Sekujur tubuh yang penuh perban dan rasa perih itu dia paksa berjalan ke sudut tenda untuk mengambil pedang miliknya.


Beberapa saat senior Tein terpaku menatap pedangnya. Dia mengambil dan mulai berjalan keluar tenda, tertatih-tatih.


Anggota lain yang melihat aksi nekat senior Tein segera menghampiri dan memintanya untuk beristirahat saja. Senior Tein hanya menatap mereka sesaat dan mengucapkan, “Aku ada urusan penting.”


Setelah itu senior Tein langsung meninggalkan mereka yang keheran dan cemas terhadapanya.


Senior Tein memasuki tenda berbeda. Di dalamnya cukup luas karena tenda itu adalah tempat pengumpulan pemetaan daerah sekitar. Terlihat di dalamnya, Arif dan Wira yang sibuk mendengarkan penjelasan Yuvan. “Ternyata disini kau otak udang.”

__ADS_1


Mendengar suara yang tidak asing, semua wajah langsung menoleh kepadanya. “Senior Tein.” Ucap Yuvan lirih ditambah terkejut.


Sebenarnya Yuvan ingin meminta senior Tein kembali berbaring tapi perbedaan posisi keduanya membuat mulut Yuvan terkunci. Sama halnya dengan yang lain, Yuvan menaruh penghormatan yang tinggi terhadap sosoknya.


Tidak hanya Yuvan, Arif dan Wira pun diam seribu bahasa. Tubuh keduanya sedikit gemetaran ketika sorot mata bertemu. Kedunya sudah mendengar betapa hebatnya sepak terjang senior Tein.


“Otak udang, kemarilah.” Setelah mengucapkan tiga kata itu senior Tein langsung keluar tenda, menuju ke hadapan api unggun.


Arif menelan ludah, berusaha menahana kepanikannya dan melangkah pelan mengikuti senior Tein. “Hati-hati Arif, jangan sampai kau terbunuh ya.” Canda Yuvan yang diikuti tawa pendek.


Arif tidak begitu menghiraukannya.


Arif duduk dihadapan senior Tein. Keduanya dipisahkan sebuah api unggun yang menghangatkan tubuh. Sorot mata keduanya bertemu.


“Aku tidak suka berbasa-basi jadi langsung saja. Seluruh tindakanku kemarin adalah untuk mengetesmu.” Arif menunjukkan raut terkejut.


“Jadi semua itu hanya pura-pura?” Arif bergumam pelan.


“Pura-pura? Aku tidak suka berpura-pura. Seluruh pukulan yang kuberikan penuh dengan niat mencelakai. Ditambah lagi kau terlalu tangguh sehingga aku ingin melihat betapa jauh ketangguhanmu itu.” Senior Tein terlihat sangat puas mengatakannya.


“Selain daripada itu, apa kau mengenal Raiyan?” Nada suara senior Tein berubah.


“Saya tidak mengenalnya, senior.” Jawab dengan menahan kepanikannya.


“Oh jadi memang aku yang terlalu berharap.” Senior Tein tersenyum kecil.


Suara kayu kering yang terbakar memenuhi keheningan disana. Senior Tein melirik kebelakang, tebakannya benar. Percakapannya sedang dimata-matai.


“Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Jika ingin melihat keluarlah. Kali ini tidak akan melarang.” Yuvan dan Wira keluar dari tempat persembunyian dan duduk disamping Arif dengan tubuh bergetar.


Tinggi ketiganya sama ketika duduk berjejer.


Arif menerima dengan bergetar.


“Tidak usah berpikir yang macam-macam. Aku memberikannya karena aku tidak layak lagi mengangkatnya dan karena kebodohanmu tidak membawa senjata apapun ke dalam Arkkana.” Senior Ten menambahkan.


Arif menatap pedang itu dengan takjub, kemudian membukanya sedikit untuk melihat bilahnya yang begitu tajam. “Waw.” Arif terpana. Pertama kalinya dia menyentuh pedang asli.


“Reaksimu terlalu berlebihan otak udang.” Arif masih terpana memperhatikan pedang itu. Wira dan Yuvan pun demikian. Ketiga memperhatikan pedang milik salah satu pejuang terhebat.


“Yang muda tak boleh terkalahkan. Itulah yang kupercayai. Semoga pedang ini membantu dalam pencarianmu.” Senior Tein tersenyum lebar. Mata Yuva segera membulat lebar, itu adalah momen-momen paling langka.


@@@


Tidak lama kemudian tim medis datang untuk menjemput senior Tein. Dia diangkat pada sebuah kasur empuk. Ketika berbalik rombongan itu terlihat seperti arak-arakan. Cukup lucu.


Kepulangan senior Tein mengundang kelegaan untuk semuanya. Dengan begitu pencarian Bunga Purnama dapat berjalan lebih baik.


Waktunya melipat lengan baju dan memasimalkan usaha.


Kedua belas orang itu bekerja keras, menembus kegelapan, berhati-hati, dalam setiap langkah, dan selalu siaga mengangkat senjata. Kelemahan penglihatan kitq dalam kegelapan membuat petualangan ini semakin menantang. Begitu semangat yang digelorakan Faga.


Dia tidak pernah mengendorkan motivasinya dan rekan-rekannya.


Satu hari kemudian, jurang besar itu akhirnya di temukan.

__ADS_1


Tim pencari wilayah bawah tidak berbohong soal jurang tersebut. Jurang besar itu memancarkan cahaya terang. Hebat dan spektakuler.


Bagi yang pertama melihatnya akan terpaku beberapa saat memperhatikan kemegahannya. Begitu pun dengan Arif, pemandangan ini luar biasa indah.


Jurang itu paling memiliki diameter seatus meter dengan kedalam yang belum diketahui. Ketika mata mencoba melihat dasarnya, hanya cahaya sangat terang yang di dapatkan. Mata manusia tidak mampu untuk berlama-lama melihatnya.


Ini fenomena unik sekaligus aneh. Darimana asalnya cahaya tersebut?


“Ayo dirikan tenda kawan-kawan!” Ucap Faga bersemangat, yang lain pun mengikuti semangatnya.


Kedatangan tim medis sebelumnya sangat menguntungkan kelompok ini. Selain menjemput senior Tein, mereka juga membawa banyak perbekalan sehingga kelompok ini dapat memperpanjang waktu penjelajahan sebelum kembali ke permukaan.


Arif membantu membuat api unggun bersama Bella. Perempuan itu menyediakan kayu kering dalam tas besarnya. Keduanya lalu sibuk menggesek ujung batu untuk memperoleh percikan api.


“Ada yang mendengar suara aneh?” Salah anggota menoleh pada rekan disampingnya. Rekannya hanya menggeleng, dia sedang fokus untuk beristirahat.


“Hati-hati ada serangan!” Teriakan mengggema di rungan tersebut. Dalam kegelapan, jejak musuh berhasil ditangkap. Grinsekta tipe pelompat.


Monster dengan kecepatan dan daya lompat tidak wajar. Meski lemah dalam hal pukulan, namun luka yang diakibatkan akan sangat fatal jika di kombinasikan dengan lompatan supernya.


Belum lagi kondisinya yang tanpa pencahayaan, membuat pandangan mata hanya dapat menangkap beberapa meter kedepan.


Arif dan lain semakin siaga. Arif pun mendengar suara hentakan kaki yang menekan bebatuan, juga beberapa bantuan yang terdengar runtuh. Tidak salah lagi. Musuh kembali datang.


“Semua tiarap!”


Terlambat, Grinsekta tersebut berhasil menangkap mangsa pertamanya. Yuvan.


Namun dia pun lupa, ada seorang ahli pedang disamping Yuvan.


Sebelum enam tangan Grinsekta itu sempurna menangkap Yuvan, bilah pedang Wira terlebih dahulu menebas tubuhnya. Kegelapan menghalangi pandangan, tapi tetap itu adalah sebuah adegan yang hebat.


Meski sudah mati, daya lompat Grinsekta membuat tubuhnya dan tubuh Yuvan berbenturan yang kemdian mendorong Yuvan hingga menuju bibir jurang besar.


Itu pemandangan yang memilukan. Kesebelas anggota terpaku, gagal mengejarnya.


Tidak. Bagi Wira.


Tangannya berhasil menangkap pergelangan kaki Yuvan sebelum keluar dari jangkauannya.Wira berusaha sekuat mungkin menariknya. Dengan keunggulan fisik, perlahan-lahan tubuh Yuvan mulai terangkat.


Arif yang paling dekat dengan posisi keduanya ikut membatu. Kedua tangannya menerima tangan kanan Yuvan dari tepian jurang. Menariknya keluar dari sana.


Benar-benar momen paling menegangkan.Semuanya dapat menarik nafas lega.


Awal dari petualangan yang lebih menegangkan.


Seekor Grinsekta yang memiliki sayap tiba-tiba muncul dari langit-langit. Keenam kakinya menghentak tanah disekitar Arif dengan keras, membuat tepian jurang itu retak dan jatuh bersama ketiga lelaki tersebut.


Tidak ada yang menduga hal ini terjadi. Semuanya membeku dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Ivan menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Pemandangan barusan membuatnya syok.


Terlebih lagi bagi lelaki disebalahnya yaitu Faga. Sebagai pemimpin, dia merasa perlu memperbaiki kegagalannya.


“Tolong sampaikan maafku pada yang lain.” Bisik Fag kedekat telinga Avin.


Avin yang masih syok terlihat bingung dengan kata-kata Faga. Avin menatap lelaki itu yang sedang tersenyum padanya. Sebuah senyum perpisahan.

__ADS_1


Tanpa penjelasan lebih Faga segera melesat cepat ke depan. Melewati rekan-rekannya dan melompat bebas ke jurang besar.


“Ketuaaaaaaaa!”


__ADS_2