IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
65 Hantu Masa Lalu


__ADS_3

Arif mengangkat tangan tinggi seraya menguap, meluruskan badan lalu mengucek mata yang masih menyisahkan jejak kantuk. Arif dan yang lain kali ini tidur di rumah Melati. Itu adalah kamar yang di sediakan untuk mereka bertiga.


Tangannya meraih tas kulitnya dan mengeluarkan sebungkus bubuk penghitam rambut. Rambuat Arif sekarang belum putih, tapi dengan begini dia tidak perlu khawatir kalau-kalau warna hitamnya mendadak luntur.


Dengan dicampur sedikit air, Arif mulai mengusap-usap dan meratakannya ke seluruh kepala. Rasanya segar.


Arif menoleh kepada Sheiny. Arif memandanginya beberapa lama. Wajahnya yang imut membuat semangat Arif cepat pulih. Perempuan yang memberinya alasan untuk terus menjadi lebih baik, Sheiny.


Arif tersenyum padanya seraya menyisir rambut Sheiny yang menutupi poninya. Arif lantas memberanikan diri untuk mengecup dahi istrinya, itu seharusnya menjadi hal wajar baginya, tapi sangat sulit untuk Arif lakukan.


Sebagai pasangan muda, Arif berharap bisa lebih dekat dengan Sheiny lebih dari ini.


Merasa ada kehangatan di dahi, Sheiny membuka mata perlahan. “Eh....” Arif langsung membeku dan cepat-cepat keluar kamar.


Sheiny yang masih separuh sadar tidak memahami kelakukan pasangannya itu.


Matanya lalu melirik ke ranjang di seberang. Bapaknya telah bangun terlebih dahulu. Selimut dan semua yang diatas ranjangnya sudah rapi. “Mungkin Arif ingin menyusul Bapak.” Gumam Sheiny bersiap merapikan kamar.


Udara masih terasa dingin, cahaya mentari pagi muncul dari pucuk-pucuk awan, membawa kehangatan dan semangat baru.


Orang-orang meninggalkan kamar dan mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kak Haz kali ini berada di salah satu perkebunan warga. Dia berjalan-jalan seraya menikmati udara pagi yang segar. Jadwal terbangnya belum di mulai, maka dia ingin menikmati suasana kampung ini terlebih dahulu.


Kedua lengannya menyilang di depan dada kemudian menarik nafas kuat-kuat. Dia tidak salah pilih untuk mengenakan pakaian lengan panjang, udara disini terasa lebih dingin dari pada di Desa Rakatta.


“Oh orang baru ya.” Sapa seorang bapak berkumis pendek di persimpangan jalan.


Die kenakan caping dan kaos putih polos. Kulitnya sedikit gelap dengan tubuhnya yang masih segar kekar. Otot-otot bukti kerja kerasnya timbul di sekujur lengan dan kaki. Dilihat nampaknya dia akan pergi ke sawah.


Kak Haz membalas dengan anggukan, “Saya dokter yang dipesan kepala desa.” Ungkap Kak Haz singkat.


“Oh jadi yang dimaksud para penduduk adalah bapak. Kepala desa sangat berjasa bagi kami. Banyak ahli kesehatan yang sudah dipanggil tapi tidak bisa menangani penyakit Pak Kades. Saya doakan keberhasilan bapak.” Balas bapak itu, dari nada bicaranya dia nampak langsung akrab dengan Kak Haz.


“Maaf saya tidak bisa lama-lama, saya perlu ke sawah pagi-pagi.” Kata bapak itu lagi kemudian meninggalkan Kak Haz.


Kak Haz berpikir sejenak, karena percakapan perihal kepala desa membuat Kak Haz tidak bisa tenang kalau tidak segera kembali ke pekerjaannya. Dia rogoh sakunya, sebuah salinan dari catatan yang dibuat Arif, tidak semuanya hanya yang baginya bisa dijadikan petunjuk untuk mendiagnosa penyakit Pak Kades.


Udara berhembus lebih kencang, daun-daun kuning dan hijau berguguran. Disampingnya Arif datang tiba-tiba dengan nafas memburu.


“Ada apa kenapa sangat buru-buru?” Tanya Kak Haz melirik Arif yang sedang mengatur nafas.


“Jangan bilang kau kabur dari Sheiny.” Tebak Kak Haz. Arif langsung membeku dan tertawa pendek. Tangn kanannya menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


“Menantuku ternyata payah sekali.” Ledek Kak Haz dengan menyipitkan mata.


Belum sempat Arif membalas, kalimatnya dipotong oleh Kak Haz.


“Aku tahu kau sangat buruk di depan perempuan, tapi belajarlah untuk dekat pada Sheiny. Dia sekarang pasangan sahmu, kau berkewajiban melindunginya dan itu tidak akan pernah bisa kau lakukan jika jauh dari Sheiny. Mengerti.” Kak Haz memberikan penekanan pada kata mengerti.


Semenjak Arif menjadi menantunya, Kak Haz memang lebih sering bicara untuk mengomeli Arif. Memberinya nasihat dan menuntunnya ke arah yang benar bersama Sheiny. Kak Haz merasa wajib melakukan hal itu.


Arif sedikit tertunduk kemudian mengangguk. “Kalau sudah paham bantu aku memecahkan masalah ini.” Kak Haz mengajak Arif menepi.

__ADS_1


Keduanya duduk di bersilah di atas rerumputan. Kak Haz menunjuk kata-kata penting dalam catatan kemudian mengutarakan permasalahannya kepada Arif. Arif memasang mode berpikir, mata terpejam dengan jemari kanan yang menyentuh dagu.


“Oh mungkin_” Arif menjelaskan isi pikirannya.


Kak Haz menyimak baik-baik.


Raut wajah Kak Haz seketika berubah ketika Arif menyelesaikan kalimatnya. “Kita tidak bisa ambil resiko sejauh itu.” Ungkap Kak Haz mengeraskan suara.


“Tapi kita belum tahu kalau tidak dicoba.”


“Tidak bisa Arif, urusan ini bisa saja menyangkut hidup dan mati.”


“Ya, tapi terkadang kita harus mengambil resiko.”


“Kau....” Kalimat Kak Haz terhenti, dia bisa melihat kemantapan dalam bola mata menantunya itu.


Lebih dari dua puluh tahun Kak Haz telah mengabdikan diri sebagai dokter, baru kali ini dia memperoleh masalah yang sangat sukar di hadapi.


“Beri aku waktu untuk berpikir.” Kak Haz berdiri dan mulai melangkah berputar-putar di depan Arif.


Arif memperhatikan beliau, menantikan jawabannya selanjutnya.


“Dokter di mohon untuk segera kembali.” Terdengar suara yang tidak asing. Arif menoleh, dia menahan nafas saat lisannya menyebut, “Kak Melati.”


Kak melati mengenakan pakaian gelap panjang bercorak bunga-bunga. Disampingnya nampak Sheiny yang juga telah menggati pakaian.


Kak Haz terkaget akan kedatangan wanita itu. Harga dirinya sebagai dokter membuat adrenalinnya terpacu dan berpikir lebih cepat sampai detik akhir.


“Memang belum. Kak Melati mengajak kita makan pagi bersama.” Ucap Melati dengan wajah heran.


Arif dan kak Haz bisa menarik nafas lega.


@@@


Sehabis makan pagi, pekerjaan Arif dan Kak Haz berlanjut.


Bapak Melati kembali berbaring di tempat sebelumnya. Kak Haz mengawalinya dengan mengecek suhu tubuh dan denyut nadi di beberapa titik.


Gejalan yang kini dialami Bapak Melati tidak jauh beda dengan hari kemarin. Demam tinggi hingga beberapa kali berhalusinasi, pernafasan tidak normal, dan keringat yang membanjiri seluruh tubuh. Selain itu menurut penuturan Melati, kepala bapaknya terasa sangat berat dan pusing, beberapa titik di tubuh terasa mati rasa, serta tubuh terasa panas-dingin.


Kak Haz berusaha untuk menangani ini lebih baik dari kemarin. Dia melakukan saran Arif dengan memberikan beberapa obat tertentu untuk di minumkan kepada beliau untuk memunculkan gejala tertentu sehingga penyakitnya bisa di diagnosa.


Namun, yang terjadi malahan sebaliknya. Beliau mulai batuk-batuk keras, bahkan batuk berdarah. Ruang itu pun seketika riuh oleh kepanikan.


Setelah keadaan terkendali, Bapak Melati membuka mata perlahan, sesuatu yang Kak Haz anggap adalah sebuah keajaiban. Semua orang di ruang itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Semuanya menatap beliau dengan tatapan syukur.


Perlahan-perlahan pak kepala desa mencerna kondisi sekitarnya. Dia tersenyum tipis kepada putra-putrinya kemudian beralih kepada Kak Haz dan Arif.


“Boleh-kah se-mua yang di ru-ang ini ke-luar se-men-tara.” Ucap beliau, suaranya sangat lemah dan terbata-bata. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa iba.

__ADS_1


Tanpa bertanya semua orang beranjak dari ruang tersebut, meninggalkan dengan tatapan tertunduk dan mata berkaca. Entahlah, syukur ataukah sedih yang sedang terukir di wajah mereka.


“Ke-cuali ka-lian.” Tunjuk Bapak Melati kearah Arif dan Kak Haz. Tangannya menunjuk dengan gemetar.


Arif menatap beliau yang terbaring lemah.


Benaknya kembali memutar ingatan lama, hantu masa lalunya.


Ketika dirinya dilempari batu dan sampah tanpa alasan, memanggilnya seenaknya dengan sebutan anak terkutuk dan anak iblis.


Menyakitkan sekali.


Mengingat masa-masa itu membuat Arif ingin menjauh sejuah-jauhnya dari manusia kejam di hadapannya, tapi sebagian dirinya menetang hal tersebut. Aneh, begitulah kesan yang dia dapatkan terhadap dirinya yang memilih menolong orang yang menjahatinya.


Membalas air tuba dengan air susu.


Di ruang itu pun tinggal Arif, Kak Haz dan Bapak Melati.


Bapak Melati menghadap keduanya dengan tatapan lemah, bibir kering, dan tanpa tanda-tanda membaik.


“Maukah kalian mendengar cerita saya?” Ucap Bapak Melati tiba-tiba. Kalimatnya terdengar memaksakan diri, dia menahan sakit yang menggerogoti tubuh. Bahasa tubuhnya tidak bisa berbohong.


Arif dan Kak Haz hanya mengangguk takzim seraya mendekatkan diri.


“Dulu saya mengenal seorang anak keturunan manusia rambut putih. Namanya Arif. Dia anak yang tidak mengerti apa-apa, selalu membuat masalah. Tidak bisa memposisikan diri. Penduduk membencinya termasuk saya sendiri.” Arif merasakan sentakan kuat di dadanya. Gerahamnya menggretak, emosi nyaris membutakan akal.


“Manusia rambut putih dikenal karena mampu memberikan kesialan_” Arif menahan kebencian yang meluap dengan memaksakan diri mengangguk.


Nafas Arif bisa terdengar, seperti meletup-letup layaknya air mendidih. Kedua tangannya meremas, berusaha sekuat mungkin menahan ini semua.


“Kepercayaan seperti itu meresahkan dan menempatkan Arif pada posisi tidak adil. Jadi jika kalian menemui manusia rambut putih bernama Arif, tolong sampaikan permohonan maafku padanya. Sebagai pemimpin, aku tidak pernah adil padanya dan mungkin itulah yang membuat Tuhan menurunkan penyakit ini pada_” Ujung kalimat Bapak Melati di sambung oleh batuk berdarah.


Arif dan Kak Haz yang kaget segera melakukan penanganan.


@@@


Malam itu langit terlihat indah dengan bulah sabit disana. Awan-awan yang bergerak tenang disertai angin malam yang melengkapi, tapi dibawah kedamaian itu banyak isak tangis yang memenuhi sanubari.


Kabar duka itu menyebar cepat layaknya air bah. Para warga pun berbondong-bondong menuju rumahnya, mendoakan dan berkabung atas kepergian seseorang yang bagi mereka sudah seperti pahlawan.


Benar, Bapak Melati telah tiada. Tinggal jasadnya yang terbungkus kain kafan.


Kepergiaannya mengundang seribu duka, seribu luka, bahkan untuk Arif sendiri, dia bisa merasakan ada lubang di dalam hatinya.


Air mata meleleh tanpa sepatah kata terucap. Di malam sabit itu Arif sadar telah menilai Bapak Melati dengan buruk seakan tiada lagi tempat bagi beliau untuk berlindung dari dosan masa lalu.


“Kalau sudah merasa benar, pasti akan susah di benarkan.”


Itulah kalimat yang kepala desa ajarkan pada Arif melalui perantara Kak Melati.


Kesedihannya mengalir bersama air mata.

__ADS_1


__ADS_2