IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
21 Kesalahan


__ADS_3

“Ikutilah gerakan yang kulakukan. Kau boleh istirahat ketika tubuhmu sudah lelah. Tidak perlu memaksakan diri, namun aku berharap kau melakukan yang terbaik.” Ucap Haz sambil berdiri gagah. Dia menyilangkan kedua lengan di depan dada. Sorot matanya sangat meyakinkan.


Mentari sudah terlihat di atas pegunungan terjauh. Sinarnya yang terang dan hangat semakin terasa oleh seluruh makhluk. Sinar itu pun telah sampai di tempat Arif berdiri. Terasa hangat ketika berkontak kulit.


Arif mengikuti sebaik mungkin gerakan demi gerakan yang Haz lakukan. Haz tidak menjelaskan apapun mengenai gerakan tersebut, hanya menyuruh Arif mengikuti gerakan demi gerakan yang dia lakukan.


Mula-mula Haz melakukan perenggan otot kepala dan leher. Kemudian otot tangan dengan menarik lengan ke atas, ke samping, dan ke bawah. Haz melanjutkan pada otot pinggang dan otot kaki. Setiap hitungan ke enam belas, gerakan berganti.


Tanpa bertanya-tanya Arif mengikuti apa yang Haz lakukan.


“Ini yang dinamakan pemanasan.” Haz menjelaskan. Tubuhnya dan Arif mulai berkeringat deras, sementara matahari semakin terik dan panas. Arif duduk dengan posisi meluruskan kaki sebagaimana yang dilakukan Haz. Katanya agar otot kaki tidak tegang.


“Pemanasan dilakukan sebelum kita melakukan aktifitas fisik berat. Biasanya di lakukan sebelum melakukan berbagai olahraga. Pamanasan adalah perenggangan otot , tujuan utamanya adalah menghindari cedera ketika beraktifitas.” Arif menatap Haz dihadapannya.


“Apakah pemanasan itu wajib?” Arif mencoba bertanya.


“Tidak. Tapi sangat disarankan untuk dilakukan.” Haz mengusap wajahnya yang pernuh keringat. Dia tidak ingat terakhir kali merasakan semangat seperti ini.


“Mari lanjutkan dengan penguatan otot.” Ucap Haz yang lantas memasang posisi push up. Arif mengikuti tanpa bertanya-tanya. Latihan penguatan itu dilanjutkan dengan bermacam latihan fisik lain. Haz mempraktekan semua yang dia tahu, sementara Arif memperhatikan. Semua latihan ini membuat tubuhnya yang belum terbiasa gemetaran. Lelah sekali.


Sebenarnya Arif masih bingung mengapa dia harus melakukan semua ini. Arif pun merasa hari-hari berikutnya Haz akan menyuruhnya melakukan semua ini. Memangnya apa yang akan di dapatkan dengan semua keletihan ini?


“Latihlah tubuh Arif. Saat tubuhmu sudah terbentuk, kakak akan mengajarkan sesuatu yang hebat.” Haz mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Semua kelelahan di tambah pergelangan kakinya yang tadi terkilir membuat kalimat Haz tidak terdengar menarik di telinga Arif.


Haz mulai menegak kantung air yang dibawa, kemudian membuka cemilan yang dia bawa. Berbeda dengan Arif yang tidak membawa apa-apa. Tenggorokannya terasa panas dan kering seperti gurun.


Melihat Haz membasahi tenggorokannya dengan Air membuat rasa haus kian mengepul. Namun entah mengapa ada perasaan enggan dalam hatinya. Perasaan tidak enak untuk meminta dan mengutarakan keinginan.


Arif mengurungkan niatnya, mengerutkan dahi. Rasanya sedih menyadari dirinya masih begitu lemah dalam hal ini. Kemampuan komunikasinya masih perlu dilatih.


“Jangan hanya diam Arif, atau orang lain tidak akan tahu masalahmu. Makanlah.” Haz memberikan beberapa buah cemilan pengganjal perut dan kantung air miliknya. Arif tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih. Ternyata Haz adalah orang yang peka.


Angin pagi terasa nyaman membelai leher dan punggung yang berkeringat. Segar sekali. Angin itu datang beberapa kali, membuat Arif bisa seikit melupakan kelelahannya. “Ayo pulang .” Ajak Haz kemudian berdiri.

__ADS_1


“Kalau kakimu masih sakit aku tidak keberatan untuk menggedongmu.” Ucap Haz santai. Tentunya saja itu membuat Arif merasa bertambah aneh terhadap lelaki ini. Lewat tatapannya, Haz pun tahu maksud hati Arif yang tidak mau melakukan hal itu.


“Aku tahu, kau kurang nyaman terhadap hal-hal seperti ini. Tapi sekarang aku adalah kakakmu Arif. Masalahmu adalah masalahku juga.” Haz berkata santai. Arif tidak habis pikir, lagi-lagi menyebut dirinya kakak tanpa beban seakan dia benar-benar berperan untuk itu. Cepat sekali Haz beradaptasi dengan tugasnya.


Arif menghembuskan nafas pendek, memilih menurut. Lagi pula untuk bisa berjalan lagi masih lama dan tawaran ini tidaklah buruk, hanya hatinya yang menilai tindakan ini kurang nyaman untuk dilakukan.


Arif naik kepunggung Haz. “Sudah siap.” Haz memastikan.


“Sudah.” Balas Arif.


“Kuat-kuatlah berpegangan. Keseruan hari ini belum berakhir.”Kata Haz lagi-lagi dengan nada yang dingin. Tidak bisakah dia menunjukkan semangat atau ekspresi yang cerah lewat kata-kata? Haz selalu saja memasang wajah tanpa ekspresi.


Arif mulai merasa aneh. Tempatnya sekarang barada di salah satu puncak, mungkin sebuah bukit kecil. Jalannya sulit, untuk naik-turun paling tidak harus menggunakan dua tanga dan kaki untuk menghindari terpleset.


Jadi bagaiamana cara pulang dengan aman jika Haz menggendong Arif?


“Apa ini aman?” Arif bertanya, genggamannya pada pundak Haz melemah. Arif merasakan firasat tidak enak. Dia menatap kedepan, nampaknya ini berbahaya.


“Peganglah erat-erat Arif. Keseruan ini belum berakhir.” Arif memiringkan kepala, bingung. Itu tidak menjawab pertanyaan.


“Bersiaplah!” Kalimat Haz setengah berteriak, dia menyiapkan ancang-ancang. Beberapa detik Arif berpikir. Melompat ke jurang itu? Tidak-tidak. Mana mungkin bisa selamat. Pikirnya.


Itu benar-benar terjadi.


“Eratkan peganganmu!” Haz berteriak sambil lari. Adrenalin Arif seketika terpacu, degub jantungnya tidak karuan, cepat sekali. Kesepuluh jemarinya mencengkram pundak Haz.


Kaki kanannya menolak kuat di penghujung tebing itu, terjun bebas menuju lautan hijau berupa hutan. Arif menutup mata sambil berteriak kencang, kedua lengannya mencekik leher Haz. Nyawa seperti sedang ditarik paksa ke atas.


Arif bisa merasakan hembusan angin kuat disekitarnya. Rasanya memang menyegarkan, tapi tidak dalam kondisi ini. Terjun bebas ke daerah rimbun pepohonan dengan kecepatan tinggi. Itu sangat berbahaya. Apa Haz berniat bunuh diri?


Tidak-tidak. Arif pikirkanlah hal lain. Hal yang positif. Arif memberanikan diri membuka mata. Teriakannya pun tersambung dan mata terbelalak lebar.


Jarak keduanya dengan tanah tinggal beberapa meter lagi. Arif bisa merasakan desiran kematiannya. Kedua matanya kembali tertutup rapat-rapat dengan mulut yang masih meneriakan ketakutannya.

__ADS_1


Haz menyiapkan kedua telapak kaki yang bertelanjang. Matanya berhasil menangkap titik pendaratan. Melalui perhitungan cepat, Haz langsung memposisikan kaki, tubuh, pinggung, lengan atas, dan leher agar tidak terkena efek benturan ketika kaki mengontak tanah. Fokus.


Teriakan Arif begitu keras dan panjang, bahkan setelah beberapa kali Haz mencoba menenangkannya dan mengatakan bahwa terjun bebasnya sudah selesai. Arif tidak mau membuka mata dan terus berteriak. Sampai akhirnya, Haz menurunkannya dan menepuk kedua pipinya. Arif baru membuka, semuanya baik-baik saja.


Haz sudah biasa melakukan hal ini. Sejak kecil dia lebih fokus melatih otot di kaki dari pada otot-otot di lengan atau perut. Sebenarnya tujuannya agar dirinya kuat berlarian atau berjalan jangka panjang ketika menjual produk herbalnya. Pekerjaan Haz hampir sama dengan Dokter Jago. Kedua sama-sama berkeliling untuk mencari pasien dan pembeli.


“Bagaimana mungkin?” Arif tidak bisa percaya, pandangan mata maupun tubuhnya membeku. Arif ambruk di tanah dengan tubuh gemetaran.


Arif menyentuh sekujur tubuh untuk memeriksa apakah ada yang terluka. Tidak ada.


“Ayo kita lanjutkan, perjalanan pulang masih jauh.” Haz mendekat pada Arif, bersiap menggendongnya lagi. Arif tidak bereaksi, masih mematung.


Awalnya Haz ingin menunjukkan banyak tempat-tempat hebat di dekat sini. Sebelumnya Haz dan Dokter Jago biasa kesini untuk meneliti tanaman-tanaman eksotik. Banyak ditemui yang seperti itu disini, hanya saja sedikit yang tahu. Haz sangat hafal jalan-jalan disini.


Namun pastinya Arif tidak menginginkan demikian, lagi pula ini masih terlalu awal menunjukkan hal-hal luar biasa kepadanya.


Aksi Haz dengan melompat dari tebing itu membuatnya jantungnya ingin melompat keluar. Itu mengerikan. Dadanya pun masih berdegub kencang. Arif bahkan lebih setuju pulang dengan kaki keseleo dari pada ikut kegilaan Haz.


Akhirnya Haz tetap menggendong Arif ke rumah. Tentunya juga dengan cara yang tidak biasa. Kedua lengan Haz mengikat tubuh Arif erat-erat kemudian Haz membawanya sambil lari dan melompat-lompat di dahan pohon. Sudah seperti tupai kesurupan.


Keduanya sampai dengan selamat kecuali perut Arif. Perutnya tidak karuan karena teraduk-aduk sepanjang perjalanan, ditambah lagi dengan gerah dan panas. Kombinasi unik dari sebuah rasa. Arif seratus persen tidak mau melakukannya lagi.


Setelah cukup beristirahat, Arif lalu menyelesaikan tugasnya yaitu bersih-bersih dan makan siang bersama, Arif bersiap menuju kamar untuk tidur. Arif sempat melewati ruang yang Haz larang Arif memasukinya. Dia menanamkan kepenasaran yang besar terhadap ruang ini. Sebenarnya apa isinya?


Ruang itu seperti kamar, cukup untuk kapasitas dua orang. Arif yakin ini bukanlah gudang, ada sesuatu yang begitu penting tersembunyi di balik ruang ini. Arif sangat penasaran.


Dua detik Arif mematung di depan ruang itu dia segera menepis pikiran tidak patut. Tindakan ini sangat tidak sopan bagi orang yang diterima baik-baik. Arif lansung pergi dengan langkah tidak enak. Ada perasaan bersalah karena melakukannya. Dia cepat-cepat masuk kamar.


Haz muncul dari ujung ruang makan. Aksi Arif barusan telah tersalin dalam memori. Ekspresinya tetap tidak berubah, dingin dan tidak tertebak. Haz segera menuju lantai dua untuk melanjutkan pekerjaanya.


Perasaan tidak nyaman itu masih terbawa di atas kasur lipatnya. Arif berguling ke kiri dan ke kanan untuk mengusir beban itu. Tetap saja tidak bisa. Kenapa dengan perasaan in?


Arif adalah anak yang polos. Dia anak yang terkurung selama bertahun-tahun. Sudut pandangnnya terhadap sesuatu pun menjadi berbeda, tepatnya Arif mudah cemas dan khawatir. Bukan hanya itu, kesalahan, rasa senang, kesedihan, dan perasaan lain, Arif selalu membesar-besarkannya.

__ADS_1


Arif tidak bisa mengontrol emosinya.


__ADS_2