IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
23 Cara Mendapat Sahabat II


__ADS_3

Kedatangan lelaki berambut perak tempo hari membuat Arif mengubah sudut pandangan terhadapnya. Meski dia jahil dan sedikit menyebalkan, dia adalah lelaki baik.


Lelaki berambut perak itu memberinya benda bernama cermin. Cermin memantulkan bayangan diri kita sendiri, katanya. Arif awalnya tidak percaya bahkan menggap cermin benda yang ajaib.


Cermin itu sedikit berdebu, pigura disekeliling cerminpun terlihat kusam. Sudah tua.


Setiap kali menatapnya dari dekat, muncul sesosok remaja usia belasan tahun dengan rambut putih. Lelaki rambut perak itu menjelaskan bahwa itu adalah bayangan dirinya. Arif bertambah bingung. Bukannya bayangan yang berwarna hitam?


Mulai dari sana, percakapan panjang lebar di mulai. Arif hanya mengangguk-angguk walau sebagian besar penjelasan lelaki berambut perak belum sampai katagori paham.


Melalui percakapan itu, Arif menambah daftar orang-orang yang paling dekat dengannya. Lelaki berambut perak itu, meski dia tidak mau menyebutkan namanya tapi dia mau menyebutkan cara-cara dan trik untuk mendapat sahabat.


Kehadirannya mengingatkannya pada Dokter Jago. Keduanya sama-sama hebat dalam hal mempertahankan senyum, meski yang satunya penuh kejahilan.


“Anggap bayangan di dalam cermin orang lain. Melalui itu, coba kau melatih komunikasimu.” Ucapnya waktu itu. Masih hangat dalam memorinya.


Hari ini setelah bersih-bersih, Arif langsung menuju kamarnya untuk melatih komunikasi dengan cermin. Arif juga membuka catatan persahabatan miliknya, sekumpulan kertas yang berisi ungkapan dan kalimat-kalimat perkenalan.


“Perkenalkan, nama saya Arif.” Arif mengucapkannya berkali-kali dengan berbagai ekspresi wajah, memastikan mana yang cocok ketika dia terjun di lapangan nanti.


Setelah dirasa mampu lebih dari ini, Arif lalu meletakkan cermin seukuran genggaman tangan itu di hadapan wajahnya. Arif menarik nafas pendek dan menyiapkan diri. Mendadak gugup menghampiri.


Baru saja melirik dirinya di depan cermin, seluruh kalimatnya langsung runtuh. Lidah Arif mematung. Ini sulit.


Ayo mulutku, berbicaralah. Batin Arif di depan cermin itu. Setiap kali melihat bayangan dirinya lagi-lagi kalimatnya hilang. Berbeda jika Arif tidak melihat cermin, kalimatnya lancar-lancar saja.


Arif berputar-putar di kamarnya, coba mengubah suasana hati dan memupuk semangat. Demi mendapat sahabat. Arif meyakinkan diri. Arif langsung melompat ke arah cermin tersbut. Lagi-lagi kalimatnya runtuh. Kenapa!


Terhitung dua jam terlewati dan Arif belum mendapat hasil memuaskan. Hanya dengan melakukan hal ini dia sampai berkeringat dan terengah-engah.


Arif menjatuhkan dirinya di tengah kamar. Tubuhnya terlentang menghadap langit-langit. Cermin oval itu dia letakan di depan wajah. Kehadiran benda ini mengundang banyak hal dalam kehidupan seorang Arif,


Arif untuk pertama kalinya bisa melihat dirinya sendiri. Tidak hanya rambutnya yang putih. Alis dan bulu matanya ternyata juga berwarna putih. Arif juga mengarahkan cermin kehadapan tanda lahirnya yang katanya terus tumbuh.


Benar. Tanda lahir itu sekarang mulai menyentuh pipi kanannya. Ternyata tanda lahir ini sedikit mengerikan. Arif meletakan cermin oval di sebelahnya. Dia akan istirahat sebentar sebelum makan siang. Lagi pula pekerjaannya sudah selesai semua.


“He, aku belum melakukannya.” Arif teringat sesuatu.


@@@

__ADS_1


Sebagaimana hari-hari yang lalu, Haz selalu keluar rumah dijam-jam ini untuk bekerja. Dia seorang penjual obat herbal. Haz pergi keberbagai tempat untuk mencari pasien, tentunya ditemani Gagug.


Sementara putranya bekerja, Ibu Haz memiliki kegemaran untuk menganyam serat alam kering di depan taman belakang rumah. Hasil anyaman itu berupa terompah, rompi, dan caping. Terkadang beliau meminta bantuan Arif namun karena Arif sedang sibuk dengan urursaanya, Ibu Haz tidak mau mengganggu.


“Lo, Arif.” Ibu Haz tidak menyadari kedatangan Arif karena sangat fokus dengan anyamannya.


“Arif membantu ya nek.” Arif bergabung, duduk bersilah di bawah gubuk tersebut.


“Bukannya Arif sedang ada urusan lain yang lebih penting?”


“Tidak nek. Sekarang Arif sedang istirahat. Ternyata latihan dengan cermin sulit sekali.” Ungkap Arif. Tangannya terampil memainkan serat alam kering, disilang, diikat, dimasukan.


“Sekarang Arif mau istirahat dulu.” Tambahnya.


“Terimakasih ya. Nenek jadi terbantu.”


“Sama-sama nek. Arif juga senang melakukan ini.” Arif mulai fokus pada anyamannya.


Bagi Arif menganyam bukanlah hal sulit. Beberapa tahun yang lalu seseorang mengajarinya cara menganyam. Dia remaja perempuan yang sangat berharga bagi Arif. Arif berdoa semoga kondisinya baik-baik saja.


“Nenek ingin tahu bagaimana dengan latihan komunikasi Arif?” Ibu Haz membuka topik pembicaraan.


“Tapi sulit kalau menggunakan cermin. Kalimat Arif langsung hilang.” Tambah Arif sambil fokus terhadap anyamannya.


“Mungkin Arif lebih baik untuk membiasakan dulu terhadap cermin itu?” Saran Ibu Haz.


“Membiasakan diri? Dengan menatap cermin itu lama-lama.”


“Hampir benar. Arif juga membayangkan bahwa bayangan di dalam cermin itu adalah orang lain. Nenek yakin, nanti Arif pasti merasa gugup.” Ibu Haz tertawa pendek. Arif tetap mendengarkan.


“Kalau sudah merasakan kegugupan itu, coba paksakan untuk mengatakan apapun. Angka atau huruf, terserah Arif. Keluarkan saja. Itu pasti mudah.”


Arif juga sependapat. Selama ini dia terlalu fokus agar bisa langsung menguasai sebuah kalimat dan mengungkapkannya suatu informasi di hadapan orang lain (cermin). Seharusnya mulai dari yang sederhana, sebagaiamana yang dikatakan Ibu Haz.


Membiasakan diri terhadap cermin dan mengeluarkan cukup satu dua kata atau bahkan huruf dulu. Baik. Sudah diputuskan. Semangat Arif terbangun.


“Kalau soal Haz, bagaimana pendapatmu tentang kakakmu itu.” Ibu Haz merubah topik pembicaraan. Arif sedikit tersentak ketika Ibu Haz menyebut kakak terkait Haz. Arif belum juga membiasakan diri terhadap ini.


Dia belum benar-benar bersikap layaknya seorang adik.

__ADS_1


“Haz adalah kakak yang baik. Dia perhatian, cuma Arif rasa Kak Haz kurang berekspresi.” Jawab Arif sambil berusaha bersikap layaknya seorang adik dengan menyebut Haz dengan panggilan kak.


“Begitu ya. Haz memang pendiam, tap sebenarnya Haz dulunya anak yang ceria.” Arif mendengarkan baik-baik. Kenyataan itu sedikit mengejutkan.


“Setelah bapaknya meninggal, Haz lebih sering diam dan sangat serius dalam mengerjakan sesuatu. Mungkin dia merasa karena menjadi anak pertama dalam keluarga sehingg tanggung jawab keluarga ada dipundaknya.” Ungkap Ibu Haz.


“Tapi sekarang dia lebih baik. Dia dulu diam sekali sampai nenek merasa Haz tidak akan bisa dapat jodoh.” Nenek tertawa sampai giginya terlihat, Arif hanya tersenyum kecil menanggapi.


Jodoh, apa itu?


“Oh ya Arif. Bagaimana perasaanmu setelah tinggal disini.” Pertanyaan itu sudah Ibu Haz berikan tiga kali kepada Arif. Ini yang keempatnya. Arif sedikit penasaran mengapa nenek selalu memberi pertanyaan itu. Namun, bagi Arfi ini adalah pertanyaan terbaik karena dia serasa bisa membuka diri.


“Menyenangkan!” Ucap Arif setengah berteriak.


“Arif bisa leluasa melakukan ini, itu. Arif merasa aman dan tidak khawatir. Arif juga belajar banyak hal dari nenek dan Kak Haz. Arif sangat bersyukur diterima disini_”Ungkap Arif panjang lebar. Dia sangat bersemangat mengucapkannya, rasanya hampir seperti terbang bebas.


“Arif, sadar tidak Arif sekarang bisa berkomunikasi dengan orang lain.” Ucap Ibu Haz. Arif memberikan tatapan aneh. Sorot matanya seperti berkata, “Apa begitu?”


“Sekarang Arif bisa bicara di depan nenek dengan mudah. Nenek pun yakin sebentar lagi kau bisa berbicara dengan Haz layaknya saudara. Apa Arif tau apakah yang diperlukan dalam hal ini.” Arif menggeleng. Ibu Haz tersenyum simpul.


“Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Ibu Haz mengucapkannya tepat di depan wajah Arif.


“Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir.” Arif mengulanginya dengan badan mematung. Kalimat itu, keren sekali.


“Arif sudah mempraktikannya dengan baik kepada nenek. Cobalah kepada cermin itu atau kepada Haz. Setelah itu nenek yakin, kemampuan komunikasi Arif pasti menjadi lebih baik. Nenek sangat yakin.” Ibu Haz memberi semangat.


Arif menarik nafas kuat-kuat. Dadanya seakan terisi banyak tenaga. Arif cepat-cepat menyelesaikan pekerjaaanya, kemudian izin kepada Ibu Haz untuk melanjutkan latihannya. “Terimakasih nenek.” Arif sedikit menundukkan kepalanya.


“Sama-sama, nenek juga berterimakasih karena sudah di bantu.”


Arif lantas setengah berlari menuju kamarnya. Menutup pintu dan membuka catatan persahabatannya. Cermin tua itu di letakkan tepat di depan wajahnya.


Arif membuka matanya, memelototi cermin tersebut. Disana pun terlihat bayangannya yang sedang melotot.


Arif berusaha mengeluarkan huruf atau kata, terasa berat sekali. Dadanya berdegup kencang. Keringat pun terluhat mengalir dari dahinya. Tekanan saat sangat kuat.


Ayo berjuang. Itu hanya bayangan dirimuu, Arif. Dia berusaha menyemangati dirinya sendiri. Kau bisa, kau bisa, kau bisa!


“Sedikit keberanian dan keyakinan sampai akhir!” Tanpa sadar kalimat itu keluar dari Arif, keras sekali.

__ADS_1


Arif menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ya ampun, ini memalukan. Batinnya.


__ADS_2