
Sesuai kesepakatan, penduduk kedalaman Arkkana tidak akan menyaksikan pemekaran Bunga Purnama.
Tentunya itu mengundang banyak kekecewaan. Pasalnya peristiwa mekarnya Bunga Purnama jarang-jarang terjadi, sesuatu yang selalu dinantikan.
Bunga Purnama bukan karena menerima cahaya bulan purnama. Mungkin dikarenakan proses kimia yang sangat rumit dan penduduk kedalaman Arkkana tahu kapan mekarnya bunga itu melalui banyak kode alam yang diwariskan leluhur mereka.
Entahlah. Itu hal yang cukup rumit untuk dijelaskan.
Namun, yang pasti proses itu sering terjadi berbarengan dengan datangnya cahaya bulan purnama.
Penduduk kedalaman Arkkana berjumlah seratus delapan puluhan orang. Tujuh puluh orang diantaranya adalah lelaki dengan usia produktif. Merekalah orang-orang yang bergabung dalam barisan Faga untuk menghadang gelombang Grinsekta.
Penduduk kedalaman Arkkana tidak memiliki kemampuan untuk bertarung sehingga mereka mematuhi perintah Faga untuk melindungi sekitar desa. Sementara tugas menjatuhkan para Grinsekta tetap menjadi tugas utama Faga.
Senjata mereka pun seadanya. Alat-alat yang mereka gunakan ketika berladang, kayu tumpul, tulang keras, atau juga batu. Benar-benar seadanya.
Itu semua dilakukan untuk memenuhi peringatan Qocakau. Si Penggenggam Matahari itu akan mengirim gelombang Grinsekta bersamaan dengan mekarnya Bunga Purnama.
Menuju detik-detik mekarnya Bunga Purnama. Langit malam menggelap, pencahayaan mengandalkan sebatang obor yang digenggam setiap orang. Apinya tidak stabil dan cukup redup.
Udara malam yang dingin menusuk-nusuk kulit. Kegepelapan yang menyelimuti segala sisi membuat pertempuran ini kian menantang. Sebenarnya itu bukan masalah yang serius, mata penduduk kedalaman Arkkana telah membiasakan dengan kondisi yang demikian.
Diantara barisan tujuh puluh lelaki yang membawa berwajah mantap, terlihat lelaki berjubah merah melangkah gagah. Lelaki itu berbalik ketika telah sampai di hadapan semua orang.
Dia tunjukkan raut penuh semangat. Tiada sedikit pun ketakutan yang nampak di wajah. Seraya mengepal tangan tinggi-tinggi, ia tunjukkan keseriuasan lewat kata-kata yang menggelorakan semangat.
Melalui kesungguhan yang ia emban, seluruh ketakutan pun mengabu.
“Tanah ini adalah milik kalian semua. Jangan biarkan siapapun menjajahnya dengan alasan apapun. Angkatlah senjata demi kebebasan, nyalakan semangat, dan hanguskan keraguan. Kita tidak perlu alasan untuk membela negeri kita sendiri.” Ucap Faga berapi-api.
Para lelaki pun semakin menegakkan senjatan, memperkokoh mental. Faga benar, tidak perlu alasan untuk membela negeri sendiri.
Sekaranglah waktunya.
“Tiada lagi waktu yang sebaik waktu ini. Kita akan menang! Kita pasti menang!”
Para lelaki mengikuti gelora Faga. Mereka mengikuti kata-katanya, kharisma yang luar biasa. Yuvan memperhatikan itu semua dengan takjub. Seorang lelaki pendatang yang baru saja beberapa hari disini berhasil menggerakan hati semua orang.
Bagi Yuvan itu adalah hal yang sangat tidak logis. Hati manusia sangatlah rumit dan menyebalkan. Selalu saja berubah-ubah, hanya sedikit orang yang mampu konsisten terhadap pendiriannya. Mempengaruhi hati orang lain adalah hal yang begitu sulit, ditambah setiap orang memiliki sudut pandang dan penilaian masing-masing.
Namun, Faga berhasil mendobrak itu semua. Kesungguhan dan bakti yang ia berikan membuat semua orang menaruh hormat yang tinggi dan melahirkan banyak harapan. Keyakinan yang tinggi.
Keyakinan untuk menang!
Semuanya segera mengambil posisi di perbatasan desa. Obor di tangan kiri dan senjata di tangan kanan. Ketegangan peperangan mulai terlihat di wajah setiap orang. Yuvan yang bergabung dalam barisan mereka pun tidak bisa menyembunyikan ketegangan ini.
Faga maju sendirian menembus kegelapan. Dia angkat bilah pedang yang sudah bercahaya ke langit. Semua orang memperhatikan hal tersebut.
__ADS_1
“Bilah ketiga. Kemilau Cahaya Keadilan.”
Cahaya yang keluar dari bilah pedang menerangi semua penjuru dalam tiga detik. Cahaya keemasan yang teramat terang, menjangkau jarak yang sangat luas, dan menampakkan posisi musuh-musuhnya.
Mereka semua telah bersiap di tempat. Dengan taring-taring dan kuku-kuku tajam layaknya pisau. Mata mereka manyala dalam gelap, kak-kaki menapak dan merobek keberanian secara bersamaan.
Darat dan udara. Mereka penuhi itu semua dengan barisan kekuatan yang mengerikan. Qocakau benar-benar serius untuk meratakan penduduk kedalaman Arkkana.
Faga menghentakkan kaki dengan keras di tanah. Kuda-kuda kokoh langsung dipersiapkan. Ganggang pedang ia genggam erat-erat.
Faga memusatkan fokus dalam satu tarikan nafas kuat. Urat-urat di dahi dan lengan mulai terlihat. Senyum semangat semakin terkembang.
Dengan hati yang menyala-nyala dia lakukan lompatan kuat kearah musuh-musuh yang telah ia kunci posisinya. Bilah pedang Faga bersinar semakin terang.
Faga melakukan tebasan pertama tepat di tenggorakan Grinsekta berbentuk semut seukuran kerbau. Tebasan yang sukses memisahkan nyawa dan raga.
Disebelahnya Grinsekta semut lain menjulurkan mulut yang dilengkapi penggigit raksasa. Faga merendahkan tubuh, menghindar. Dia lantas melakukan serangan rendah yang membuat puluhan Grisekta semut kehilangan kaki-kakinya.
Serangan yang teramat cepat. Hanya dalam hituangan detik puluhan Grinsekta semut jatuh tanpa kepala. Faga lantas melompat tinggi, menjangkau langit-langit.
Faga mendarat pada salah satu tubuh Grinsekta kupu-kupu. Dalam sepersekian detik yang sangat cepat, Faga ikatkan tali pada leher Grisekta tersebut dan menjadikannya hewan tungangan di udara.
Tangan kirinya memegang tali kekang dan tangan kanan mulai menjatuhkan satu demi satu Grinsekta yang menyerang lewat udara.
“Hati-hati, serangan datang.” Ucap beberapa penduduk seraya menunjuk arah dimana seekor Grinsekta mendekat.
Tubuh membeku terlebih dahulu sebelum di gerakkan.
“Bagaimana kami menghadapinya.” Batin salah satu penduduk dengan panik. Keringat dingin mengalir di dahinya.
Ukuran musuh sebesar rumah dengan tubuh yang terlapis sisik yang keras. Tidak ada celah untuk menebas bagian vitalnya. “Bagaimana-bagaimana-bagaimana.”
Ketakutan sempurna menguasai mereka.
Grinsekta itu melayangkan serangan dengan kaki depannya yang tajam. Penduduk sudah menyiapkan diri, tapi kejadian di lapangan selalu tidak terduga dan tidak sesuai ekspetasi.
Faga datang bersama tebasan kilat, seketika dalam radius belasan meter menjadi terang. Bilah pertamanya berhasil menyelamatkan orang-orang. Yuvan terpana memperhatikannya. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata terhadap kehebatan Ketua Faga.
Jubah merahnya berkibar hebat. Pedang yang telah mengambil banyak nyawa Grinsekta teap tajam. Faga berdiri dengan seluruh keseriusannya. Faga tidak pernah lengah dalam menjalankan apapun.
Faga berlari cepat ke depan, menyambut musuh-musuh di balik kegelapan dengan rentetan serangan spektakuler yang diikuti jejak cahaya.
Hebat. Pemandangan yang tidak pernah Yuvan lupakan. “Wira dan Arif pasti iri jika aku menceritakan semua ini.” Gumamnya.
Arif dan Wira memilih tidak di desa. Keduanya memutuskan memetik Bunga Purnama. Mungkin sebentar lagi keduanya akan sampai di padang Bunga Purnama.
Medan tempur berkali-kali melepaskan ledakan cahaya yang disebabkan tebasan milik Faga.
__ADS_1
“Faga, keren sekali!”
Faga terus-terusan mengeluarkan bermacam jurusnya. Membuat musuh-musuhnya tidak berdaya sama sekali dan membunuh mereka dalam sekali tebasan. Puluhan Grinsekta telah dijatuhkan dan terus bertambah. Mereka bermunculan dari berbagai tempat dengan berbagai kekuatan berbeda.
Pertarungan itu pun berlangsung sangat lama. Sungguh ajaib Faga bisa terus berdiri mengangkat pedangnya setelah semua yang ia lalui. Lebih hebatnya lagi belum ada satu pun luka yang menggores kulitnya.
Seragam hitam maupun jubah merahnya pun masih utuh, hanya sedikit terkana debu.
Insting maupun intuisi Faga sangat tidak wajar, melampaui manusia normal. Dipadukan dengan keunggulan fisik dan teknik berpedang miliknya, dia mampu memenuhi kategori kesatria tak tertandingi.
Pertempuran itu pun selesai beberapa lama kemuedian. Medan laga menjadi lautan mayat. Darah dan jasad-jasad memenuhi semua tempat. Bau busuk dan anyir seketika menusuk hidung.
Luar biasa.
Siapa yang menyangka semua ini dilakukan oleh seorang manusia.
Faga dengan langkah sedikit sempoyongan mendekat kepada penduduk. Tubuhnya berlumur darah dan kotoran pasca pertempuran. Anak-anak, remaja, dan seluruh penduduk kedalaman Arkkana segera merangkul dan memeluknya penuh suka cita.
Pahlawan baru telah lahir.
“Kau hebat sekali. Kau adalah pelindung kami!” Empat lelaki bertubuh tinggi berucap seretak.
“Terimakasih banyak, entah apa yang bisa kuberikan untuk membelasmu.” Seorang perempuan berusia sembilan belas tahun berucap di depan Faga dengan canggung.
“Kakak benar-benar pahlawan. Pahlawan paling hebat. Pahlawan paling keren!” Teriak sekumpulan anak-anak yang mengerumuninya dan menatap Faga dengan mata berbinar.
“Jika kau perlu sesuatu katakan pada kami, kami selalu ada untuk membantumu nak Faga.” Kata seorang lelaki paruh baya dengan suara sedikit serak. Di belakang kakek itu terlihat cucu-cucunya yang tidak sabaran melihat pahlawan mereka dari dekat.
“Nak Faga. Terimalah ini.” Nenek Ni Minah memberikan sebuah kerikil seukuran jempol dengan bentuk aneh.
“Benda ini adalah milik leluhur kami. Benda ini berisi doa-doa dan harapan kami semua. Kami harap kau mau menerima pemberian yang tidak seberapa ini Nak Faga.” Nenek menjelaskan.
Faga memperhatikan kerikil tersebut beberapa saat. “Apa tidak apa-apa. Bukannya ini adalah benda milik leluhur kalian.”
“Tidak ada masalah nak Faga. Benda keramat ini seharusnya dimiliki oleh orang yang lebih layak memilikinya dan itu adalah dirimu.” Ucap nenek seraya tersenyum hangat.
Senyum Faga pun bertambah lebar.
Harapan terbesarnya terkabul, mengukir senyum di wajah semua orang.
Lihatlah bagaimana semua orang tersenyum bahagian kearahnya. Itu adalah hadian terbaik bagi Faga. Hampir saja dia menangis karena semua ini.
“Terimakasih. Terimakasih sekali.” Balas Faga seraya menundukkan kepalanya beberapa kali. Ini adalah malam teraiknya.
Ditengah keriuahan itu mendadak Faga terpikirkan sesuatu. Tubuhnya terpaku beberapa saat setelah memorinya mengulas balik pertempuran yang baru saja dilakukan. Wajahnya menunjukkan raut terkejut.
Orang-orang yang melihat perubahan drastis dari ekspresi Faga seketika membisu. Semua tahu, Faga sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Faga hadapkan diri kearah padang Bunga Purnama berada.
__ADS_1
“Dimana Qocakau?”