
Semua fenomena di kedalam Arkkana sangat tidak biasa. Sebagian besar alas disini adalah bebatuan keras, hanya sedikit yang berupa tanah, itu pun tanah yang sangat tidak subur.
Namun, entah mengapa bermacam vegetasi dapat tumbuh. Rerumputan, pepohonan, bunga-bunga dan banyak lain. Hal itu menghidupi penduduk dan ternak-ternak mereka.
Itu baru tanahnya. Langit-langit disini, bagaimana caranya bisa bercahaya? Yang ada di atas sana tidak lain adalah bebatuan keras, stalaktit, dan stalakmit raksasa. Begitu pun dengan keberadaan sungai besar yang tidak jauh dari pemukiman penduduk.
Bagaimana mungkin di kedalaman Arkkana ada formasi seunik ini?
Tanah yang secara misterius mampu menumbuhkan tanaman, pencahayaan yang tiada tahu asal muasalanya, dan alasan mengapa sungai dalam bumi malah mengalir disini. Bukannya ini terlalu aneh disebut sengaja.
Dan yang terakhir, di tempat seperti ini diduga Bunga Purnama tumbuh.
Yuvan pusing memikirkannya.
Sepanjang perjalanan menuju padang Bunga Purnama, keempat pendatang itu disuguh dengan pemandangan pepohan berdaun lebat. Hutan yang asri.
Pohon-pohon hijau, tanaman rambat, tanaman pakis dan paku. Semuanya tumbuh disana. Sebuah aliran sungai kecil membasahi tanahnya, memberikan penghidupan bagi tanaman di atasnya. Yuvan bertambah pusing memikirkan ini semua.
“Nek Ni Minah, mengapa bermacam tanaman bisa tumbuh disini. Setahu saya kedalaman bumi tersusun atas batuan keras yang tidak memungkinkan untuk tanaman tumbuh. Tidak ada unsur hara.” Akhirnya Yuvan memilih menyerah dan bertanya.
Nenek Ni Minah menghentikan langkahnya. Matanya bisa melihat kepenasaran dan remaja di hadapannya.
“Nenek juga tidak begitu tahu. Semuanya terjadi begitu saja. Saat kami tiba disini, semuanya sudah seperti ini.” Jawab nenek kemudian melanjutkan perjalanan.
Pastinya Yuvan kurang puas dengan jawaban tersebut. Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanya.
Mata Arif menatap pohon-pohon disekitarnya, tumbuh dengan lebar dan subur. Hijau dan menenangkan. Siapa yang menyangka di dalam bumi ada sebuah hutan. Arif masih terpana, mengagumi semua ini.
Wira. Dia yang nampaknya kurang tertarik dengan kehebatan dari kedalaman Arkkana. Wira sangat fokus dengan tujuan perjalanan ini, pencarian Bunga Purnama. Setiap kali memikirkan di depan sana ada padang Bunga Purnama, dadanya berdetak lebih cepat.
Jemari kanan Wira terkepal erat. Entah apa yang sekarang dia pikirkan, tapi dari pengamatan Faga, sahabatnya ini tidak sabar untuk memetik bunga tersebut.
Faga sangat paham siapa itu Wira. Anak dari seorang pengembara hebat. Sama halnya seperti Arif, Wira adalah keturunan manusia rambut putih, tapi tidak mewarisi sifat tersebut.
Semenjak ibunya meninggal, Wira menjalani hari-harinya dengan mengerikan. Bapaknya tidak segan-segan memukulnya atau menyabetnya dengan rotan jika tidak menurut. Beberapa kali Faga melihat langsung kejadian tersebut, kejadian yang pasti membuat siapa saja miris.
Mata kiri Wira buta juga karena kekejaman bapaknya.
Ketika Faga merasa semua ini telah melebih batas, dia memilih maju, meneriaki bapak Wira layaknya orang gila. Faga benar-benar marah sekali kala itu. Jika mengabaikan tata krama, pasti Faga sudah melayangkan banyak tinju ke wajah lelaki kejam ini.
Namun, bukannya senang. Wira malah menyuruh Faga meninggalkannya. Dia merelakan dirinya untuk dipukuli selama itu oleh bapaknya. Katanya ini adalah bagian dari pendewasaan.
Jawaban itu membuat hati Faga menangis. Seorang anak yang merelakan dirinya sebagai target pelampiasan emosi bapaknya sendiri. Mengapa kau memilih demikian?
Itulah pertanyaan yang terlintas dalam benak Faga sejak saat itu dan sampai kini pun Faga belum bisa mendapat kepastian jawabannya. Wira memilih tidak mengusik masa lalunya. Teman-temannya pun berpikir demikian. Itu hanya akan membuka luka lama.
Faga mengarahkan pandangan matanya kedepan. Dia melangkah kaki pelan-pelan, melewati tanaman sulur dibawah dan bermacam tanaman paku setinggi lutut. Hutan ini benar-benar lebat meski sepi dari suara binatang.
Hanya sedikit binatang yang hidup disini. Mereka yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Mayoritas adalah serangga dan hewan-hewan kecil.
“Apakah masih jauh nek?” Ucap Faga sopan.
“Sebentar lagi. Lihat ujung itu. Nah disanalah padang Bunga Purnama berada.” Jawab Nenek Ni minah. Mendengarnya, Wira ingin menyepatkan langkah, tapi di tahan oleh Faga.
“Pelan-pelan saja.” Kata Faga.
Kelimanya menembus hutan lebat tersebut. Tiba di sebuah tanah terbuka yang hijau. Luas sekali.
Disini sangat menyegarkan. Angin-angin bertiup kencang, menggoyangkan rerumpuan setinggi mata kaki. Langit-langitnya sangat cerah, bahkan lebih cerah dari pada di daerah penduduk.
“Yuvan apa itu jurang besar?” Tanya Arif seraya menunjuk langit-langit.
Yuvan cukup terkejut setelah melihatnya. Mungkin saja, begitu jawaban yang dia berikan dari perubahan mimik wajah. Matanya terus melihat area yang ditunjuk Arif, ada serbuk cahaya berkilauan yang naik disana.
__ADS_1
Tempat ini semakin menarik dijelajahi.
“Ayo, sebentar lagi kita akan sampai.” Ucap nenek dengan nada sedikit serak.
Faga reflek menyentuh ganggang pedangnya. Kecurigaannya semakin besar atas semua ini. Faga berusaha terus bersikap normal.
Menurut informasi dari senior Tein, dia bertemu dengan Si Penggenggam Matahari di kedalam Arkkana. Musuh ini memiliki kemampuan duplikasi tingkat tingga. Dia mampu meniru korban yang telah dia bunuh.
Suara sampai kebiasaan. Senior Tein bahkan curiga musuh kali ini bisa mengakses ingatan korbannya. Dalam segi fisik pun tidak main-main. Sebagai salah satu prajurit terbaik Pasukan Pelindung Matahari, senior Tein tidak bisa berbuat banyak dihadapannya.
“Harus bagaimana?” Batinnya.
“Ya sudah sampai.” Ucap Nenek Ni minah menghentikan langkahnya.
Arif, Wira, Yuvan, da, Faga seketika terpaku di tempat. Di hadapan mereka ada sebuah cekungan seperti danau tanpa air. Di dalam cekuangan itu tumbuh banyak sekali Bunga. Indah dan menawan.
Kelopak biru dengan bercak putih kekuninngan. Tidak salah lagi, itu adalah Bunga Purnama yang belum mekar. Arif, Wira, dan Yuvan langsung turun, ketiganya berlari, berebut melihat Bunga Purnama dari dekat.
“Lihat mereka, sangat penasaran terhadap sesuatu.” Kata nenek dari samping Faga.
“Nenek benar.” Faga melonggarkan suaranya dan menenangkan gejolak batinnya.
Dengan melihat keindahan Bunga Purnama secara langsung, Faga menyadari bahwa kecurigaannya sangat tidak sopan. Lebih-lebih ditujukan pada wanita paruh baya.
“Nenek, apa kami boleh menetap sementara di desa sampai Bunga Purnama mekar?” Tanya Faga dengan nada merendah.
“Bicara apa kau ini nak Faga. Kalian tidak perlu izin untuk tinggal di desa kami. Kami, para penduduk asli Arkkana sudah seratus tahun lebih terpujus dengan dunia luar. Kami terkurung disini tanpa tahu menahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Kedatangan kalian berempat adalah keberkahan bagi kami. Kami senang sekali di menerima kalian.” Jawab nenek dengan nada sedikit serak.
Nenek mulai melangkah turun. Beliau juga ingin bergabung dengan keseruan anak-anak muda. Faga memegangi lengan nenek, membantu agar tidak terpeleset.
“Terimakasih.”
@@@
Yuvan mengetahui hal tersebut karena kedalaman Arkkana juga memiliki siklus pagi dan malam. Langit-langit batu itu dalam waktu tertentu akan terang dan semakin terang. Dalam waktunya yang lain akan meredup dan kehilangan cahayanya.
Hal lainnya yang membuat Yuvan semakin terkejut dengan kedalaman Arkkana dan juga kebenaran Bunga Purnama yang tidak sesuai dengan buku panduan lapangan.
Menurut penuturan nenek, langit-langit disini cerah dan gelap dikarenakan Bunga Purnama. Benar, Bunga Purnama memiliki kemampuan untuk menghasilakn cahaya.
Kalau biasanya tanaman mengubah cahaya, air, dan zat hara menjadi energi. Berbeda halnya dengan Bunga Purnama. Bunga Purnama tidak memerlukan cahaya untuk tumbuh, malahan bunga ini menghasilkan cahaya.
Cahaya itu lantas menerangi langit sampai suatu waktu Bunga Purnama perlu istirahat. Saat Bunga Purnama beristirahat maka langit akan menggelap dan saat itulah terjadi malam. Itulah yang nenek beritahukan, informasinya yang belum bisa Yuvan percaya. Logiknya tidak bisa bergerak disini.
Kali ini keempatnya sedang membaur dengan penduduk. Meski tinggal di kedalaman, dalam hal makanan, kebiasaan, busana, dan budaya, penduduk kedalaman Arkkana tidak jauh beda bengan penduduk permukaan sehingga keempatnya bisa cepat membaur.
Wilayah yang ditempati penduduk berada pada sebuah ruang besar yang jarak antar sudut-sudutnya mencapai puluhan kilometer. Ukuran yang cukup untuk membangun sebuah kota.
Bermacam aktivitas berputar disini. Semuanya demi satu tujuan, mengisi waktu luang dengan kebahagian. Penduduk kedalaman Arkkana tidak memiliki tujuan yang tinggi-tinggi. Alasan mereka hidup adalah untuk mengisi kehidupan dengan kebaikan di kedalam Arkkana.
Tidak ada satu dari mereka yang berharap menemukan dunia luar.
Itulah yang membuat mereka hidup bersahaja. Mereka tidak berharap hal-hal yang tinggi. Mereka tidak berambisi besar terhadap sesuatu. Namun, memilih untuk mensyukuri apa yang telah mereka genggam.
Arif belajar banyak arti kehidupan dari mereka.
Arif dan Faga kali ini berada di tengah hutan. Keduanya bersama seorang bapak dan anak sedang mencari kayu-kayu untuk dijadikan arang. Sang bapak benama Ki badhu, sementara putranya bernama Na adi.
Penduduk Kota Arkkana menggunakan imbuhan di depan nama untuk menunjukkan posisinya.
Na adi adalah bocah tujuh tahun yang sangat ceria. Dia selalu bersemangat melakukan sesuatu, aksinya selalu mengudang gelak tawa orang-orang. Penduduk selalu senang dengan kehadiran Na adi.
“Kakak, bisa bantu mengisi wadah air ini.” Ucap Na adi kepada Faga. Masing-masing tangannya membawa benda seperti ember besar.
__ADS_1
Faga pun berganti dengan Arif membelah batang kayu. Arif menerima kapak tajam dari Wira dan mulai melanjutkan tugasnya.
“Baiklah.” Ucap Faga seraya mengambil salah satu ember tersebut. Senyuman gembira ia tujukan kepada Na adi.
Bocah itu nampak senang sekali bisa bersama Faga. Semenjak pertemuan pertama mereka, Na adi sudah menunjukkan ketertarikannya kepada Faga. Mungkin sekarang dia mengganggap Faga adalah kakak laki-lakinya.
Keduanya memang mirip dari segi kebiasaan tersenyum. Keduanya selalu tersenyum. Sangat cocok satu sama lain. Faga pun setuju, tingkah Na adi mengingatkan pada dirinya sewaktu kecil.
“Hei kak. Kenapa kakak ingin mendapat Bunga Purnama.” Ucap Na adi sambil menggayungkan ember tersebut di sungai berarus tenang.
“Dengan menemukan Bunga Purnama, kakak yakin akan banyak orang yang senang.” Balas Faga dari tepian sungai.
Faga mendekat, mulai menceburkan dirinya bersama Na adi.
“Kalau begitu, kakak tidak untung. Tidak mendapat apapun” Ungkap Na adi. Itu membuat Faga sedikit terkejut. Anak seusianya sudah memikirkan untung dan rugi.
“Tidak, tidak begitu. Kakak bahkan mendapat sesuatu yang paling berharga, senyuman semua orang.” Balas Faga gembira.
Na adi ber-oh panjang lalu melanjutkan kegiatannya.
Faga telah selesai mengisi embernya, begitu juga dengan Na adi. Keduanya duduk ditepian sungai sambil menikmati keindahan kedalaman Kota Arkkana. Keduanya bercakap-cakap akrab sekali.
“Hei Na adi. Mengapa kamu dan penduduk lain tidak pernah ingin melihat dunia luar?” Faga menyampaikan kepenasarannya. Faga nampak antusias dengan pertanyaan ini. Suara maupun wajahnya sangat bersemangat.
“Kenapa ya? Na adi juga tidak begitu paham. Na adi merasa sudah cukup tinggal disini. Disini sangat indah.” Jawabnya sambil mengangkat tangan dan memberikan penekanan pada kata indah. Sikap lucunya keluar lagi.
Faga tersenyum.
“Benarkah itu. Kupikir kau punya ambisi lebih besar dari itu.” Faga berdiri dan menatap Na adi dengan tatapan tajam. Suaranya mengancam. Anak-anak akan menangis jika melihat Faga demikian.
Begitu pun dengan Na adi.
Na adi ketakutan dengan reaksi Faga. Matanya berkaca-kaca. Na adi langsung berlari menjauh. Air matanya telah nampak mengalir di pipi.
Na adi tersentak kaget sampai terjungkal. Faga mendadak telah ada di hadapannya.
Aksi Faga tidak hanya itu, dia sampai mengacungkan mata pedang ke tenggorokan anak usia delapan tahun tersebut.
Air mata Na adi sudah deras mengalir. Sorot mata Na adi mati. Saking takutnya, ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
“Cukupkan sandiwaramu.” Ancam Faga. Keduanya alisnya meruncing.
“Ya ampun, intuisi seorang Pembebas memang luar biasa.”
Kali ini senyum keji yang tergambar di wajah Na adi. Dia mulai bangkit berdiri dan perlahan-lahan tubuhnya mengalami metamorfosis.
Daging di dalam tubuhnya menyeruak keluar, menelan tubuh manusianya. Wajah lucu Na adi hilang tertelan balutan daging. Daging berwarna hitam itu lalu mengempes dan saling merapat, membentuk sosok berbeda setinggi Faga.
Transformasi yang menjijikan selesai.
Kulit berwarna abu-abu pucat dan dua bola mata buaya, urat-urat dan otot yang timbul disekujur tubuh. Tidak salah lagi, dialah Si Penggenggam Matahari.
Faga menatap tajam sekaligus menyiapkan bilah pedangnya.
“Tatapan macam apa itu. Aku tahu kau tidak akan mampu membunuhku sekarang ini.” Ucap Si Penggenggam Matahari. Senyum sombong dia pamerkan.
Faga masih terpaku dalam posisi. Tidak ada sedikitpun ketakutan yang ia tunjukkan.
Si Penggenggam Matahari itu malahan tertawa. “Sungguh keberanian dan tekad yang kokoh. Melihat kalian berjuangan tanpa meraih apapun membuatku selalu tertawa. Dan apa-apaan jawabanmu tadi, senyuman semua orang? Itu hal yang sama sekali tidak menguntungkan.”
Si Penggenggam Matahari mendekatkan mulutnya pada Faga. “Bunga Purnama sebentar lagi mekar dan saat itulah kami akan menyerang kalian semua.” Bisik Si Penggenggam Matahari.
Setelah mengatakannya dia berlalu dan merubah wujudnya menjadi Na adi kembali. Faga menarik nafas panjang-panjang, berusaha setenang mungkin.
__ADS_1
Na adi tersenyum jahat di depannya. “Namaku Qocakau. Aku nantikan perjuanganmu, Faga Dwi.”