IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
40 Kota Arkkana


__ADS_3

“Kota Arkkana adalah kota yang sangat unik. Kota Kuno dengan arsitektur tidak biasa. Rumah-rumah penduduk tidak berbentuk seperti rumah pada umunmnya melainkan gua-gua yang mereka buat.” Dalam penginapan itu Dokter mulai bercerita kepada Arif dan Wira.


Pendahuluan tetang Kota Arkkana.


“Kota itu berada di lembah besar yang dipenuhi batu-batuan raksasa seperti jamur. Beberapa sumber mengatakan susunan batu tidak wajar itu benar-benar jamur yang secara aneh mengalami proses pembatuan. Nah di dalam batu seperti jamur itulah penduduk Kota Arkkana beraktivitas.” Dokter melirihkan nada suaranya. Sekarang sudah masuk jam tidur, tetangga kamarnya pasti tidak mau mendengar suara gaduh.


Diseberang, Arif dan Wira tampak kesulitan membayangkan dan mecerna penjelasan Dokter Jago. Kota yang terletak di lembah yang dipenuhi batu-batu raksasa berbentuk jamur. Pusing kepala ini.


Dengan hanya disinari sebatang lilin Dokter Jago kembali melanjutkan cerita. “Kemudian yang harus paling kita waspadai ketika sampai disana adalah Grinsekta. Dengarkan ini baik-baik Wira.”


Wira mengangguk.


“Grinsekta adalah serangga-serangga yang mengalami evolusi secara abnormal. Mereka tumbuh sebesar orang dewasa bahkan lebih. Grinsekta memiliki banyak jenis dan setiap jenis memiliki keunikan sendiri. Sifat dasar mereka brutal, apalagi dengan obyek yang mengganggu wilayahnya, mereka akan langsung menyerang. Dan menurut kabar burung, Kota Arkkana adalah sarang dari Grinsekta. Jika itu benar-benar terjadi kita mungkin mengalami skenario terburuk.”


Arif menelan ludah. Meski Arif sudah mendengarnya, perasaan tegang tetap muncul seakan Grinsekta sekarang berdiri di hadapannya dengan mulut terbuka. Mengerikan.


“Bagaiaman cara kita menghadapinya jika bertemu?” Wora bertanya. Sorot matanya belum menujukkan kengantukan.


“Ada dua pilihan. Memenggalnya atau melarikan diri. Grinsekta memiliki daya hidup yang tinggi, beberapa jenis bahkan ada yang masih mampu hidup beberapa hari tanpa kepala. Jadi kuharap kalian menyiapkan diri sebaik mungkin. Kudengar kalian sudah belajar membela diri, itulah yang kuharapkan. Tapi tetap jangan memaksakan. Keselamatan adalah yang utama.”


“Selain Grinsekta kita juga punya masalah lain. Sebagian besar area di Kota Arkkana diawasi oleh Pasukan Pelindung Matahari. Jika kita ketahuan, pastinya akan langsung dikeluarkan darisana. Kota Arkkana sekarang dalam tahap pelitian dan tugas Pasukan Pelindung Matahari adalah memastikan penelitian berjalan lancar.”


Dokter mangakhiri penjelasan dengan meniup lilin.


“Tidur, besok kita perlu banyak tenaga. Masih ada sehari sebelum sampai.” Dokter segera berbaring dan menarik selimut sampai dada. Wira juga melakukan hal yang sama di ranjangnya.


Berbeda dengan Arif. Kepalanya masih memikirkan tentang ekspedisi Bunga Purnama ini.


Awalnya dia langsung mensetujuinya karena petualangan sekaligus bertujuan untuk menolong nenek dan Sheiny. Namun sekarang, ketagangan dari petualang itu mulai terasa. Perasaan terancam dan tidak aman.


Arif memilih tidak memikirkan panjang-panjang. Dia segara menarik selimut dan menutup mata.


Esoknya perjalan ketiganya dilanjutkan. Mereka meninggalkan kota tersebut, melangkah menuju daerah hutan lebat dan sabana yang luas.


Perjalanan yang sangat melelahkan. Seharusnya ketiganya menunggu delman, namun karena tidak kunjung datang perjalanan harus di lanjutkan dengan berjalan kaki.


Keringat bercucuran. Rasa dahaga memenuhi tenggorokan, sementara persediaan air sudah habis. Perjalanan di bawah terik matahari ini masih panjang.


Beruntung tidak lama kemudian ketiganya sampai di tepian padang sabana. Ada sebuah sungai yang tersambung dengan hutan. Ketiganya dapat memenuhi dahaga. Menyegarkan.


“Kita akan beristirahat dulu.”Ucap Dokter Jago seraya meletakan tas super besarnya. Arif dan Wira mengikuti melatakkan tas masing-masing.


Dokter mengeluarkan persediaan makanan yang di dapat dari kota sebelumnya. Sebuah roti kering yang cukup keras di mulut. Meski keras, daya simpan roti ini adalah yang terbaik. Dokter memberikannya kepada Arif dan Wira.

__ADS_1


“Wira, aku ingin mendengar alasan mengapa begitu menginginkan Bunga Purnama.” Ucap dokter membuka topik pembicaraan.


Wira nampak beberapa saat diam sebelum menjawab. Dia menimbang-nimbang sesuatu. “Sebenarnya aku adalah keturunan manusia rambut putih.”


Mata Arif terbelalak, menunjukkan keterkejutan yang besar. Wira adalah keturunan manusia rambut putih?


Arif langsung meninggalkan rotinya dan memasang telinga baik-baik.


“Bapakku adalah seorang pengembara. Beliau bertemu dengan ibu di salah satu petualangannya. Cinta bapak dan ibu tidak direstui sehingga bapak memilih kawin lari. Aku lahir di tempat yang tidak kuketahui. Di hutan yang lebat. Ibuku sangat penyanyang namun sedari kecil aku tidak menyukai ibuku.” Wira menarik nafas berat. Percakapan ini nampaknya sangat emosional.


“Aku pun menganggap rambut putih ibuku adalah keanehan dan aib. Karena rambut putihnya kami sekeluarga harus menghindar dari masyarakat. Karena ibu, hidup kami sangat berat. Meski bapak selalu tabah tapi tidak bagiku. Aku sangat membenci kehidupan itu_” Wajah Wira tentunduk dalam. “Aku bahkan tidak pernah menganggap ibuku.”


“Dihari ibuku meninggal kukira kehidupan kami akan membaik. Tapi ternyata tidak. Sikap bapak berubah total. Bapak menjadi sangat keras kepada siapapun. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, mungkin begitulah cara bapak mendididk putranya. Mungkin.” Suara Wira terdengar bersedih. Dia kembali memberi jeda.


“Alasanku mencari Bunga Purnama karena itu adalah hadiah yang diberikan ibu kepada bapak. Bapak terlihat sangat bahagia saat itu. Jadi semoga dengan membawa Bunga Purnama kepada bapak, bapak dapat kembali bapak yang dulu.” Wira menyelesaikan kisah hidupnya lalu menoleh kepada Arif.


“Soal Keping Harapan yang kucuri dulu adalah untuk itu juga, Arif. Aku berpikir, kekuatan misterius Keping Harapan mungkin saja bisa membuat bapak kembali mengingat ibu dan kembali menjadi bapak yang dulu. Maaf." Wira menundukkan kepada Arif.


“Tidak apa-apa aku tidak masalah kok. Yang penting Keping Harapanku kembali.” Balas Arif.


“Terimakasih, Arif.”


“Nampaknya persahabatan kalian rumit sekali.” Komentar Dokter Jago. Tawanya kemudian muncul. “Tapi sahabat tetaplah sahabat.”


@@@


Mata Airf terpana dengan pemandangan dihadapannya. Setelah berjalan jauh dan melelahkan, pemandangan ini cukup untuk membayar itu semua.


Ketiganya sekarang berdiri di dekat tebing lembah, tebing yang curam. Di dalam lembah itu banyak batu-batuan berbentuk seperti jamur raksasa. Di atas batu jamur itu sudah seperti hutan, ditumbuhi banyak pepohonan, bahkan terlihat beberapa aliran sungai. Menakjubkan.


Semenatar bagian dasar lembah juga di tumbuhi banyak tanaman dengan beberapa aliran sungai meski sedikit menerima cahaya.


Arif beberapa saat tidak bisa menutup mulut.


Batu jamur rakasasa itu bermacam ukurannya, jumlahnya banyak sekali. Satu dan yang lain bertingkat-tingkat dan di tumbuhi dengan tanaman seakan batu itu adalah tanah yang kaya akan humus. Aneh dan luar biasa.


Di beberapa batu jamur raksasa terlihat banyak fentilasi udara dan lubang-lubang besar. Beberapa lubang itu dihubungkan oleh jembatan yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai. Jadi disanalah para penduduk Kota Arkkana dahulu saling bertemu dan bertempat tinggal. Pikir Arif.


“Inilah Kota Arkkana. Mulai sekarang perjalanan semakin berbahaya. Hati-hatilah untuk tidak bertemu Pasukan Pelindung Matahari dan Grinsekta.” Dokter mengingatkan.


Wira dan Arif mengangguk. “Bagus.”


Dokter berjalan paling depan. Dari tepian tebing dokter melompat ke atas salah satu jamur batu, Arif dan Wira mengikuti. Permukaan jamur batu itu mencekung, menciptkan sebuah danau kecil.

__ADS_1


“Permukaan batu jamur kaya akan unsur yang dibutuhkan tanaman sehingga banyak tumbuhan yang tumbuh.”Dokter Jago menjelaskan.


Arif dan Wira memperhatikan sekitar tanpa sedikitpun berpaling. Keduanya merasa memasuki dimensi berbeda.


Ketiganya semakin masuk kedalam hutan. Ternyata di dalamnya tumbuh berbagai vegetasi yang tidak pernah terlihat. Bentuknya aneh-aneh dengan warna yang tidak biasa.


Pohon berdaun biru, ungu, dan jingga. Ada juga buah dengan bentuk seperti serangga. Daun-daun tanaman rambat dengan bentuk tidak biasa. Batang pohon yang memiliki kerutan aneh pada permukaan batang. Beberapa bahkan terlihat seperti wajah.


Tempat ini luar biasa.


“Berhenti.” Dokter berkata tiba-tiba. Lengan kanannya terulur menghadang jalan Arif dan Wira.


“Ada beberapa orang di depan. Nampaknya mereka adalah Pasukan Pelindung Matahari.” Mata Dokter Jago menatap tajam ke depan.


Arif dan Wira diam, menunggu aba-aba dokter selanjutnya. Arif menoleh ke depan. Ikut memeriksa dari tempat persembunyian.


Di depan sana terlihat banyak laki-laki dan beberapa perempuan yang bergerombol. Mereka mengenakan seragam hitam-hitam dengan lambang matahari berwarna putih di punggung baju. Tidak salah lagi, mereka adalah Pasukan Pelindung Matahari.


Sebagian besar dari mereka mempersenjatai diri dengan pedang. Sisanya menggenakan senjata api laras panjang.


Terlihat dua diantara mereka berwajah sangat pucat, laki-laki dan perempuan. Keringat membanjiri wajah yang meringis menahan sakit. Kedunya terduduk menyadar pohon.


Pada bahu si perempuan terlihat luka gigit dalam. Perban yang difungsikan untuk membalut luka pun menjadi kemerahan.


Sementara si lelaki kondisinya lebih buruk. Rasa sakitnya sulit digambarkan. Berkali-kali wajah menahan perih seakan sedang mengalami penyiksaan. Lengan kanan lelaki itu tidak lagi ada. Menyisakan luka mengerikan yang terbalut perban.


Melihat itu membuat Arif menutup kedua matanya. Pemandangan yang mengerikan. Arif tidak pernah membayangkan pencarian Bunga Purnama akan sampai seperti ini.


“Sepertinya mereka diserang Grinsekta. Kalian jangan pergi jauh-jauh. Aku punya ide agar kita bebas dari gangguan Pasukan Penggenggam Matahari.” Dokter Jago keluar dari persembunyian dan menemui kelompok Pasukan Pelindung Matahari yang berada dua puluh meter darinya.


Kondisi mental Arif berantakan. Ini pertama kalinya dia melihat darah manusia ditumpahkan sebanyak ini. Perutnya terasa mual. “Tahanlah Arif.” Kata Wira di sebelah Arif.


Arif mengelap mulutnya dengan lengan kemudian menarik nafas ringan. “Terimakasih.”


Arif takjub dengan Wira yang masih bisa memasang raut wajah normal meski dalam kondisi seperti ini.


“Awas!” Teraik Wira, tangan kanannya manarik tengkuk Arif kuat-kuat sampai keduanya berguling di tanah.


Arif menatap sekitar, mencoba mencerna kejadian yang begitu cepat terjadi. Satu detik kemudian matanya menatap sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang.


Seekor kelabang raksasa berwarna coklat bata berdiri dihapannya. Tinggi sekitar tiga meter, itu belum sepenuhnya. Tubuhnya panjang terselaput sisik tebal. Kaki-kaki berujung tajam, seperti barisan pedang. Wajahnya mengerikan, gelap dengan mata kuning menyala dan taring besar.


Ketakutan sempurna membekukan Arif.

__ADS_1


__ADS_2