IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
55 Sang Pembebas Melawan Si Penggenggam Matahari


__ADS_3

Dalam sebuah ruang yang luas yang cukup pengap. Seluruh kesibukan di luar terdengar kedalam ruang tersebut. Langit-langit dan dindingnya berwarna putih, pondasinya di topang oleh beberapa bilah bambu. Tenda darurat.


Dalam ruang itu nampak dua sosok lelaki yang berbeda umurnya. Lelaki yang lebih tua terbaring di atas kasur dengan luka yang teramat parah, sekujur tubuhnya diperban. Dia tidak bisa bergerak normal sampai beberapa bulan.


Sementara lelaki yang lain duduk di sebelahnya dengan wajhh sedikit tertunduk. Dia kenakan seragam hitam yang kusam dan terdapat bercak darah disana.


Dia adalah salah satu anggota Pasukan Pelindung Matahari yang berjuang di garis depan untuk menghadang gelombang Grinsekta.


Mendengar kabar bahwa kakaknya pulang dari penjelajahan membuatnya mundur sementara untuk melepas rindu sekaligus mengistirahatkan raga yang sudah tercampur keringat dan darah.


“Bagaimana keadaan kedalaman Arkkana?” Ucap lelaki berseragam hitam itu, nampak kecemasan dari wajahnya. Namanya Tian.


“Kita mendapat lawan terburuk.” Ucap lelaki yang terbaring di atas kasur. Dia adalah senior Tein.


“Si Penggenggam Matahari?” Tebak Tian, adik senior Tein. Dahinya berkerut.


Si Pengenggam Matahari adalah sebutan untuk anak-anak Rakaala Si Dewa Petaka. Rakaala melahirkan Si Pengenggam Matahari untuk mengimbangi siklus semesta. Setiap kelahiran ada kematian, untuk kematian itulah eksistensi si Penggenggam Matahari ada.


Mereka adalah makhluk tanpa akal yang berinsting menghancurkan. Musuh utama umat manusia dan Pasukan Pelindung Matahari.


“Bahkan lebih buruk lagi, Si Pengenggam Matahari yang bisa berbicara. Dia pasti memiliki keceradasan yang tinggi.” Balas senior Tein.


Tian menunjukkan raut cemas yang berlebih. Keringat segera memenuhi wajah. Dia tahu betul betapa kuat Si Pengenggam Matahari. Mereka memiliki stamina nyaris tak terbatas, insting berburu yang tajam, dan kekuatan penghancur yang melebibi senjata paling modern.


Apalagi di padukan dengan keceradasan.


Mereka menjadi lawan terburuk.


Adik senior Tein terdiam beberapa lama dengan wajah tertunduk. Benaknya mengingat kejadian beberapa bulan lalu ketika melawan Si Pengenggam Matahari. Nyaris saja nyawanya melayang kalau bukan berkat kakaknya.


“Tapi biarlah urusan kedalam Arkkana kita serahkan pada bintang kita.” Kalimat senior Tein memecah keheningan.


“Bintang?” Tian mendongakkan wajah dengan mimik berpikir. “Maksud kakak, Faga Dwi?"


Senior Tein mengangguk.


“Tapi bagaimana Faga Dwi menghadapi Si_”


“Stttt.......” Potong kakaknya.


“Meski kita manusia, penuh kelemahan dan tidak berdaya melawan kekuatan besar, kita tetaplah punya potensi terpendam. Energi gelap.” Tian memilih diam mendengar. Dia mendekatkan wajah pada kakaknya.


“Dengan pengendalian yang baik, energi gelap dan energi terang melahirkan Kemampuan Semesta. Lalu Kemampuan Semesta yang dikombinasikan dengan keunggulan fisik akan melahirkan bermacam teknik dan keahlian berbeda. Menurutku, Faga Dwi memenuhi seluruh kriteria tersebut.” Ucap Senior Tein.


Tian hanya terdiam seribu bahasa dengan mulut menganga. Jarang-jarang sekali kakaknya memuji seseorang. Senior Tein tidak pernah melakukannya kecuali pada orang-orang yang benar-benar hebat.


“Dan kau tahu Tian, Faga Dwi juga punya sesuatu yang lebih hebat dari itu semua. Hati. Hati yang benar-benar kokoh.” Puji senior Tein lagi.


“Samangatnya tidak pernah patah. Aku tidak melihatnya kecuali selalu tersenyum, apapun kondisinya. Dalam hal ini aku yakin, Faga adalah yang terbaik dari seluruh anggota.” Sebuah senyum terlihat di wajah senior Tein yang terluka.


Tian pun semakin penasaran dengan Faga Dwi, sosok yang membuat kakaknya memuji dua kali. Tian hanya tahu Faga Dwi adalah Sang Pembebas yang sangat dekat dengan anggota, selebihnya belum.


“Faga Dwi, semoga kau berhasil mengalahkan Si Pengenggam Matahari itu.” Batin Tian.


@@@


“Selamat datang Faga Dwi. Kau membuatku menunggu lama. Bagaimana kau mengurus kesaratus anak-anakku? Apa mereka cukup meresahkanmu?” Ejek Qocakau, wajahnya nampak puas sekali.

__ADS_1


“Kurasa kau sudah tahu sendiri jawabannya, Qocakau dan kita tidak punya apapun untuk di bicarakan. Lebih baik kita mulai segera.” Faga meruncingkan alis. Matanya menatap tajam dalam kuda-kuda kuat.


“Hahaha, kau sangat tidak sabaran. Baiklah, memang itulah yang kuharapkan darimu.” Qocakau pun memasang kuda-kuda lebar, kaki kiri di depan kaki kanan, kedua tangan terkepal kuat. Nampak dia sedang menguatkan otot-otot di lengan dan kaki.


Keduanya melompat ke depan bersamaan, kepalan tangan besi dan bilah pedang bersinar saling berbentur dahsyat. Bunyinya seperti dua logam yang bertemu, luar biasa.


Arif menatap dengan terpana pertempuran itu. Pertempuran yang membuatnya menganga. Arif tidak bisa memejamkan mata, tidak ingin melewatkan satu detik meski matanya tidak mampu mengikuti tiap gerakan keduanya.


Faga dan Qocakau bertukar serangan dengan kecepatan tinggi.


“Bilah kedua. Garis Cahaya Pemotong Kegelapan.” Faga melakukan gerakan lurus dengan kecepatan tinggi dengan meninggalkan jejak cahaya.


Qocakau menghindarinya dengan melompat vertikal pendek seraya membalik badannya di udara. Kaki diatas dan kepala di bawah. Dalam detik-detik di udara itu, Qocakau melancarkan serangan berantai yang mematikan kepada Faga, sangat cepat.


Faga menangkis dengan bilah pedangnya.


Pukulan terakhir Qocakau berhasil mengenai pundak kiri Faga, membuat pemuda itu terdorong beberapa meter dan meringis. Faga menyentuh pundaknnya, nampaknya tulang selangkanya patah.


Tiap pukulan Qocakau membawa kematian. Benar-benar gawat.


“Bagaimana?” Qocakau menunjukkan raut sombong.


Faga berdiri seraya mengacungkan pedang, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di pundak kirinya.


“Sangat kuat.” Puji Faga dengan tersenyum semangat. Senyum maupun semangat bertarungnya tidak luntur sedikitpun.


“Hebat sekali, Faga Dwi. Tapi aku juga punya hal hebat untukmu.”


Qocakau berkonsentrasi penuh, mata terpejam dengan nafas yang pelan. Dia tegakkan dada dengan tangan terkepal. Faga menyiapkan kuda-kuda dan bilah pedangnya.


“Teknik Penghangus. Medan Api.”


Arif memperhatikan dengan tidak percaya. “Dia menguasai Kemampuan Semesta?”


“Apa kau siap meningkatkan tingkatan pertarungan ini?” Ucap Qocakau seraya merendahkan badan. Dia bersiap dalam posisi melompat jarak jauh. Senyum kejinya melintang di wajah.


“Tidak ada sesuatu yang akan membuatku mundur. Majulah!” Faga menguatkan genggaman di hulu pedangnya.


Qocakau maju dengan lompatan cepat. Faga memasang kuda-kuda seraya mengambil nafas kuat-kuat. Dia angkat bilah pedang tinggi-tinggi.


Bilah pedangnya bersinar lebih terang sampai menerangi tempat Arif tergeletak.


“Bilah kelima. Berkah Cahaya Suci.”


Tubuh Faga pun terselimut cahaya tersebut, dalam waktu bersamaan dia sambut pukulan Qocakau dengan rentetan tebasan yang lebih kuat dan akurat.


Bentuk kelima dari sepuluh teknik Perubahan Bilah. Teknik ini membuat tubuh Faga terselimuti cahaya emas dan mengalami peningkatan stamina, akurasi, kecepatan, dan kekuatan.


Bilah pedang dan kepalan tangan terus dipertemukan dalam adu hantam yang begitu cepat. Namun, kini sedikit berbeda.


Qocakau terus melancarkan rentetan serangan dengan kecepatan luar biasa. Tidak hanya pukulan, kakinya pun bergerak gesit dan mematikan. Jelas sekali dia mengisi waktunya dengan latihan bela diri yang keras dan disiplin ilmu yang ketat.


Faga megincar leher Qocakau. Qocakau menunduk, membuat sebagian rambutnya terpangkas di detik menegangkan. Kedua telapak tangannya lalu menapak tanah, menumpukan tubuhnya dan segera berbalik menggunakan kaki sebagai senjata.


Qocakau memutar-mutar kakinya di depan wajah Faga. Api yang menyala di pergelangan kakinya menciptakan pusaran api panas yang terus menyerang Faga. Faga menangkis seraya sebisa mungkin mencapai celah untuk melancarkan serangan. Langkah kakinya terus mundur karena serangan Qocakau yang begitu ganas.


Kemampuan Semesta yang Qocakau aktifkan membuat radius dua meter darinya mengalami peningkatan suhu drastis. Faga yang terus melakukan serangan jarak membuat sekujur tubuhnya banjir keringat.

__ADS_1


Belum lagi jika pukulannya mengenai tubuh. Itu akan memicu efek terbakar hebat. Lengan baju Faga sudah compang-camping karena terbakar.


Faga melompat jauh, mengambil jarak. Fokusnya terpusat, dahinya berkerut dengan sorot yang menusuk kearah Qocakau. Pundak, lengan, perut, kening, nampak darah yang sudah mengalir disana, tapi Faga tidak akan pernah mundur!


Urat di sekujur lengan dan wajahnya timbul. Faga menggretakkan gigi. Darah di sudut bibirnya mengalir semakin deras.


Tubuh Faga bersinar lebih terang.


“Bilah ketujuh. Kobaran Elang Emas.”


Cahaya emas yang menyelimuti tubuh Faga semakin pekat sampai tubuh Faga tidak terlihat lagi. Cahaya itu mengembang dan membentuk seekor elang yang melaju kearah Qocakau dengan kecepatan tinggi.


“Teknik Penghangus. Hantaman Naga Api.” Qocakau menghentakkan kaki kanan seraya mengepalkan kedua tangan yang menghadap langsung kepada arah datangnya Faga.


Radius satu meter darinya segera terbakar hebat. Api yang membubung tinggi dan melahap seluruh tubuh Qocakau. Api itu kemudian menjadi kepala naga yang marah.


Naga Api dan Elang Emas berbenturan dahsyat. Melepaskan energi yang menciptakan hempasan angin yang sangat kuat. Kelopak Bunga Purnama berhamburan dan terbakar. Arif menahan hempasannya dengan lengan kanannya.


Arif menelan ludah. Pertarungan ini berada di level berbeda.


Sejauh mata memandang tidak ada apapun selain kehancuran. Debu mengepul pekat, menutupi hasil dari benturan dua kekuatan besar tersebut. Arif menunggu dengan detak yang tidak beraturan. “Bagaimana kondisi Kapten?”


Debu yang menutupi pertarungan perlahan-lahan menghilang. Dengan kepanikan, mata Arif segera mencari posisi Faga.


Faga bertekuk lutut di hadapan Qocakau. Sekujur tubunya penuh luka bakar. Seragamnya menghangus, kondisinya benar-benar buruk.


Darah mengalir deras dari kening dan lengan kananya. Bagian tubuh sebelah kanan dari perut sampai wajahnya mengalami luka bakar hebat.


Sementara di pihak seberang, tubuh sebelah kiri Qocakau hancur dari dada sampai pinggang. Serangan Faga berhasil meninggalkan luka sangat fatal.


Namun, itu bukan masalah baginya.


Dalam hituangan detik Qocakau berhasil meregenerasikan luka tersebut, membuat utuh seperti baru. Melihat hal kejadian itu Arif merasa harapannya semakin meredup.


“Aku terlalu lemah untuk membantu. Aku pasti hanya akan menyusahkan.” Batin Arif dengan air mata yang mulai mengalir.


“Sadarlah perbedaan kekuatan kita Faga!” Teriak Qocakau berwajah tidak senang.


“Tubuh manusia itu terlalu lemah untuk menanggung seluruh bakat dan kehebatanmu. Pada akhirnya tubuh itu akan menua dan mati. Bergabunglah denganku, maka akan kuberikan tubuh abadi. Kau bisa terus berlatih dan menjadi yang terkuat.” Tawar Qocakau.


Faga dengan tumpuan bilah pedang mencoba berdiri. Tubuhnya dihujam seribu sakit. Digerakkan sedikit saja rasa perih seketik merambat layaknya aliran kilat. Sakit sekali. Tidak hanya itu. Beberapa organ dalamnya juga rusak dan tiga tulang rusuknya patah .


Faga memasang mimik wajah kuat. Matanya menatap Qocakau tanpa ketakutan maupun rasa sakit. Senyuman semangat itu terus terkembang.


Hatinya selalu menyala dan berkobar.


“Aku bangga terlahir sebagai manusia dan aku pun bangga mati sebagai manusia. Manusia lemah agar menjadi kuat. Manusia menua agar yang muda meneruskannya. Manusia serba terbatas karena itulah keistimewaan yang Tuhan berikan pada kami. Karena keterbatasan itu kami saling mencintai dan menyayangi. Tidak peduli apapun rayuanmu. Aku selalu bangga dengan segenap kekurangan maupun kelebihan yang kumiliki.”


Ucapan Faga terdengar mantap dan menyalakan lentera harapan lebih terang. Arif terpana melihatnya. Disebelahnya mendadak ada yang menepuk pundaknya. Arif menoleh dan terkejut.


Wira masih hidup!


“Bersiaplah. Kita akan membantu kapten.” Ucap Wira menahan sakitnya seraya menyerahkan pedang milik Arif.


Arif mengangguk mantap.


“Luar biasa. Sungguh luar biasa. Dari seluruh lawan yang sudah kulawan seratus tahun terakhir tidak ada satupun yang setangguh dirimu Faga Dwi!” Puji Qocakau sangat bersemangat.

__ADS_1


Faga dan Qocakau lantas memasang kuda-kuda tanpa celah. Menguatkan otot di lengan dan kaki. Memusatkan segenap fokus pada pertarungan ini.


Pertarungan antara keduanya berlanjut.


__ADS_2