IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
29 Aku Adalah Manusia Rambut Putih


__ADS_3

“Apa kau dari keturunan manusia rambut putih, Arif.”


Seorang berkaos abu-abu mendekat padanya. Mana mungkin Arif bisa melupakan wajah itu.


Mata sipit yang mampu menusuk, sebuah luka pada mata kiri, cukuran rambut yang hampir botak. Dialah yang pertama kali menyebut Arif orang aneh.


Lelaki bertampang preman.


Auranya terasa mengerikan. Menyeruak bersama dengan keluarnya kalimat itu. Seketika atmosfer disini serasa menindih Arif dengan keras. Aliran darah serasa mau meledak karena kuatnya tekanan yang dirasakan.


Angin berhembus pelan, menggoyang rambut Arif yang sudah dihitamkan. “Mana mungkin begitu. Lihatlah rambutku, hitam seperti ini.” Ucap Arif berusaha setenang mungkin. Arif berusaha memasang raut kebingungan, pura-pura tidak tahu.


“Hei kau terlalu berlebihan.” Fasih berbisik padanya. “Jangan asal tuduh, aku tahu kau tidak menyukai mereka tapi hentikanlah sikap burukmu. Cukuplah kau mengatainya orang aneh.” Raut wajah Fasih nampak cemas setelah membisikan hal tersbut.


Kerumunan itu pun hening beberapa detik. Masing-masing diri merasa akan ada konflik yang datang.


“Saat berpetualang dengan bapakku, aku pernah singgah di suatu desa.” Lelaki berwajah preman itu bercerita.


“Desa yang asri, petak sawah dimana-mana. Penduduk sangat ramah kepada kami, hanya saja kami berdua di peringatkan untuk menjauhi sebuah rumah tua. Alasannya karena di dalam rumah itu adalah seorang manusia rambut putih bernama Arif.”


Seakan mata pedang meluncur tepat di tengah dadanya. Menusuk begitu dalam dan membawa rasa perih yang teramat sangat. Tubuh Arif bergetar hebat. Bagaiman dia tahu?


“Cukup-cukup Wira, kau tidak perlu menceritakannya juga. Lupakan saja soal manusia rambut putih. Kau membuat suasana menyenangkan ini menjadi tegang.” Fasih mencoba mendinginkan suasana.


Arif menatap sekitar dengan ragu dan gemetaran. Arif merasa sorot mata sahabat-sahabat barunya seakan mulai berubah.


Apakah itu benar Arif? Arif menangkap pertanyaan tersebut dari tatapan Faga. Dia pun mematung setelah Wira, si lelaki bertampang preman bercerita.


Arif menelan ludah. Kesedihan menghujam hatinya layaknya hujan ketika orang-orang yang dipanggilnya sahabat mulai sedikit demi sedikit memberi jarak.


“Katakan kebenarannya Arif.” Wira masih sanggup melanjutkan. Matanya menusuk seperti mata pisau kepada Arif.


Arif meringis, bagaimana ini?


Kalau aku ragu menjawab pasti mereka curiga. Harus tetap tenang dan jawab sebaik mungkin. Arif memaksakan senyum.


Gawat, aku tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana jika mereka bertambah curiga dengan jawabanku. Bagaimana kalau mereka malah mencemooh jawabanku. Bagaimana.....bagaimana....bagaiamana.


Pusaran keraguan dan ketakutan tiada ujung ini menghayutkan Arif.


“Cepat jawablah anak terkutuk.” Arif langsung menutup mata dan telinga ketika kalimat itu menghantam benaknya.

__ADS_1


“Hei tenanglah, Arif.” Arif merasa kedua pundaknnya di tepuk cukup kencang.


Arif mendongak, ada Faga di hadapannya. Dia memasang raut yang benar-benar di luar dugaan. Senyum melintang yang benar-bebar murni, mata lebar yang seakan bisa membara. Arif bisa merasakan energi positif yang mengalir dari telapak tangannya.


Tidak ada sedikit kebencian yang bersarang dalam dirinya.


“Heh, Faga mulai lagi.” Ucap salah seorang dalam kerumunan dua belas orang itu.


“Kapten kita memang luar biasa.” Sebelahnya menimpali sambil tersenyum kecil.


“Jangan takut, jangan ragu. Katakan pada kami yang sebenarnya. Kau harus yakin Arif, meskipun dunia membencimu, akan selalu ada orang-orang yang mau menerimamu. Sebaik apapun, seseorang pasti pernah berbuat jahat, sejahat apapun seseorang, pasti pernah berbuat baik. Itulah yang aku percayai.” Kalimat Faga seakan menyala-nyala.


“Jawablah dengan jujur Arif. Jangan pernah remehkan kuatnya ikatan persahabatan.” Faga lantas mundur, memberikan ruang kepada Arif untuk menjawab.


Segenap ingatan mengalir deras dalam kepala Arif. Ingatan yang membatasinya dari persahabatan. Arif mengepalkan jemari hingga tangganya sakit.


“Benar, cerita Wira benar.” Arif menjawab sambil tertunduk, nampak sesuatu yang bening mulai mengalir di pipinya.


“A.....a..aku adalah manusia rambut putih. Aku menghitamkan rambutku karena rambut putihku membuatku harus menjalani kehidupan menyakitkan. Orang-orang menyebutku anak terkutuk dan anak iblis. Pembawa kesialan dan bala.” Terdengar isak Arif di ujung kalimatnya.


“Aku ingin punya banyak sahabat dan melakukan banyak hal bersama, meskipun aku manusia rambut putih. Jika suatu saat aku benar-benar membawa bala, kalian boleh menghukumku dengan apapun. Tapi...tapi...tapi...aku mohon terimalah aku.” Kalimat Arif terdengar sangat menyedihkan dan tanpa harga diri.


Arif mendongakkan wajah, memberanikan diri untuk memeriksa. Sorot matanya seketika membesar karena terkejut.


“Sudah kukatan jangan remehkan ikatan persahabatan.” Kata Faga. Wajahnya tetap tersenyum.


Arif memandang sahabat-sahabatnya yang lain. Bukannya melempara tatapan jijik atau benci, mereka malah bersimpati, memberikan senyuman semangat.


Arif merasa rantai yang mengekang tangan, kaki, dan lehernya mulai terlepas, berjatuhan, dan musnah.


“Bersemangatlah Arif. Kami ada disisimu.”


“Masa bodoh soal rambut putihmu. Kita adalah sahabat selamanya.”


“Hei kau mencuri kalimatku.”


“Apa.”


“Sudah-sudah, kalian bertengkar disaat yang tidak tepat.”


“Banggalah Arif, meski rambut putihmu selalu menyakitimu. Dia tetap bagian dari dirimu dan kau harus mengakuinya. Suatu saat pasti dia akan membalas kebaikanmu tersebut.” Kata Faga sambil berdiri tegak dan menyilangkan lengan di depan dada. Gagah.

__ADS_1


“Kapten, kalimatmu selalu keren ya.” Fasih mengomentari Faga. “Dan hei apa-apaan pose itu.”


“Kupikir ini keren.” Balas Faga. Semua orang pun tertawa.


Di tengah raminya tawa, Arif berusah memasang senyum. Kali ini bukan senyum palsu melainkan senyum yang benar-benar murni.


“Sekarang giliranmu Wira. Minta maaflah pada Arif.” Fasih mendorong Wira kehadapan Arif.


Raut wajah Wira tetap seperti sebelum, tanpa adanya merasa bersalah. Beberapa detik wajahnya berekspresi yang menunjukkan betapa sulitya Wira untuk meminta maaf. Kalian pasti tertawa melihatnya.


Wajah premannya memang tidak cocok untuk itu.


“Maafkan aku, Arif. Tindakanku sudah sangat kelewatan. Semoga kau mau memaafkanku yang berdosa ini.” Wira mendudukan kepalanya kepada Arif.


Wira terlihat semakin lucu saat mengatakan, “Memaafkanku yang berdosa ini.” Seketika gelak tawa pun semakin keras .


Salah seorang sahabtanya lalu menampar punggung Wira dengan keras, itu membuatnya kesal dan berbalik kearah si penampar.


“Hehehe, tidak kusangkan seorang Wira mau untuk meminta maaf.” Ucapnya. Dia tidak sadar baru saja membangunkan harimau buas.


“Diam dan tunggu saja pembalasanku.” Wira melototi orang yang menampar punggungnya. Suasana berubah tegang kembali. Beruntung itu hanya satu detik.


Gelak tawa kembali memenuhi langit-langit lapangan itu.


Persahabatan, apa maknanya menurutmu?


Dikelilingi orang-orang terbaik, melakukan bermacam hal menyenangkan bersama, ikatan tak terhancurkan dan seindah berlian.


Semua orang punya definis masing-masing tentang persahabatan.


Apakah persahabatan harus selalu baik?


Tidak.


Sebagaimana yang akan Arif alami. Persahabatan membutuhkan konflik, goncangan, dan retakan untuk membuktikan betapa sungguhnya seseorang dalam menjalin persahabat.


Silang pendapat atau argumen bahkan sampai berkelahi. Itu hal biasa dalam persahabatan, yang luar biasa adalah ketika telah sampai di suatu titik yang menentukan, kita dapat mengucapkan, “Terimakasih.” Dan “Aku memaafkanmu.”


Oh Betapa indah persahabatan itu.


Kak Haz pun tidak perlu keluar dari balik pohon untuk membantu Arif. Dari tepian lapangan dia terduduk sambil menutup penglihatan dengan lengan kanan. Tidak ada yang akan menyadari bahwa hari itu, Haz yang berwajah beku akhirnya kembali mengembangkan senyum.

__ADS_1


__ADS_2