IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
52 Persiapan


__ADS_3

“Kedalaman Arkkana akan melahap kewarasanmu.” Ucapan senior Tein tersebut menghampiri benak Faga.


Sementara itu Faga nampak mengendalikan gemetaran yang merambati tubuhnya. Selama bertugas Faga pernah dua kali mengamputasi bagian tubuh rekannya dan semuanya sukses. Setiap anggota Pasukan Pelindung Matahari memang di belaki satu dua keahlian medis sebelum menjalankan misi.


Namun, keadaan kali ini sangat berbeda. Seseorang yang akan ia amputasi adalah seorang gadis cilik. Umurnya belum sampai sepuluh tahun dan paling tidak dia akan kehilangan seluruh lengan kirinya.


Sebagian diri Faga meneriakan bahwa itu adalah hal yang salah. Bagaimana masa depannya kelak? Mungkin saja dia akan menjadi bahan gunjingan karena hanya memiliki satu lengan, atau bisa lebih buruk lagi.


Faga menarik nafas panjang, berusaha sekuat mungkin menghilangkan getaran gejolak batin. Tangan kanannya yang menggenggam hulu pedang terusa saja bergetar meski tangan kirinya sudah mencoba menghentikan getarannya.


“Lakukan seperti biasa. Lakukan seperti biasa.” Faga meyakinkan dalam hati seraya mengingat enam bulan lalu saat dirinya terakhir kali mengamputasi kaki rekannya.


Orang-orang pun mulai berkumpul memperhatikan ketegangan yang terjadi disana.


Sementara itu sang gadis semakin menunjukka raut kesakitan. Ujung-ujung jemarinya mulai membusuk, racunnya sudah mulai beraksi. Faga harus bergerak cepat.


“Tolong pegang putri ibu sekuat mungkin.” Pinta Faga pada ibu gadis tersebut. Mata Faga lalu beralih kepada gadis tersebut.


Sorot keduanya bertemu.


“Berusahalah menahan rasa sakit ini nak. Setelah ini kau tak akan merasakan sakit apapun. Tahanlah sekuat mungkin. Kakak tahu, kau adalah gadis yang kuat. Bulatkan hatimu dan teruslah berdoa untuk kesembuhanmu.” Ucap Faga sedikit tergesa.


Matanya memperhatikan dampak psikologi gadis tersebut. Akan bagus jika gadis tersebut tidak mengetahui apa yang akan Faga lakukan padanya. Amputasi adalah pertolongan ketika kondisi paling darurat dan sangat mendesak. Meski sembuh pun pasien akan mengalami gejolak batin yang tidak bisa dibayangkan.


Bagaiaman jika hal itu menimpa gadis yang belum genap sepuluh tahun.


Gadis tersebut tidak begitu paham perkataan Faga. Di tengah gejolak rasa perih luar biasa dia menyempatkan untuk mengangguk setuju.


Dahinya sangat berkerut, teriakan demi teriakan akibat racun yang mengalir di lengan kirinya membuat siapapun tersiksa mendengarnya.


Faga lalu menutup mata gadis tersebut dengan kain gelap lalu menyuruhnya menggigit lengan kanan agar mengurangi dampak teriakan. Kepanikan si gadis semakin mengepul-ngepul. Pernfasannya tidak lagi beratur.


Faga mengangkat pedangyan keatas lengan kiri si gadis. Matanya terpejam sekali lagi seraya menstabilkan nafas. Tangan kiri Faga mengangkat sebuah kain gelap lain untuk menutup prosesi amputasi tersebut.


Salah seorang warga juga sudah membawa kain bersih berbeda yang nantinya akan langsung digunakan membalut luka pasca prosesi.


Faga mengalirkan enegi gelap dalam dirinya lalu mengubanya menjadi Kemampuan Semeseta Cahaya di bilah pedang. Seluruh konsterasi Faga terfokus di satu titik.


Cahaya di bilahnya semakin terang dan mempertajam bilah pedang. Faga sebisa mungkin melakukan amputasi tanpa rasa sakit meski itu mustahil.


“Sia-sia.” Ganggu Qocakau di kepalanya. Dia menggunakan telepati lagi untuk menyampaikan pesan kepada Faga.


“Semua usaha akan sia-sia. Gadis itu pun nantinya akan membencimu karena mengambil lengan kirinya. Kau hanya akan menerima dosa dari semua tindakanmu Faga. Sadarlah. Bodoh sekali kau tidak menyadari hal ini.” Lanjut Qocakau. Kali ini dengan nada beringas.


Faga tidak memperhatikan. Seluruh fokusnya sedang terkumpul dalam prosesi ini.


“Dengarkan perkataanku.”


“Manusia bodoh.”


“Karir pahlawanmu akan berakhir saat gadis itu mengutukmu atas tindakan jahatmu. Mari lihat bagaimana kau menghadapi itu semua.” Tekanan dari Qocakau datang bertubu-tubi. Faga tidak akan ragu. Dia telah mantap dengan pilihan ini.


Tangan kanan Faga menggenggam hulu pedang lebih erat. “ Bilah kedelapan. Pelita yang Bersinar di Kegelapan Dalam.”


Dari seluruh teknik Perubahan Bilah milik Faga, teknik inilah yang memiliki daya tebas paling tinggi sekaligus paling minim menimbulkan rasa sakit.


Dengan memfokuskan seluruh Kemampuan Semesta Cahaya di bilah pedang, Faga dapat memacu perubahan energi ketika bilah pedang berkontak dengan obyek lain. Jika itu makhluk hidup, maka rasa sakit dari bekas tebasan akan terdegradasi.


Faga lantas menggerakan tangan kanannya, menjatuhkan mata pedang yang mulai menggores kulit si gadis. Bilah pedang memotong dengan halus lengan tersebut yang diikuti dengan teriakan kesakitan si gadis. Air matanya nampak mengalir keluar dari kain penutup mata.


Kurang dari satu detik, prosesi amputasi berakhir.


Faga segera membersihkan luka bekas amputasi bersama para tabib semaksimal mungkin, kemudian membalut luka terbuka itu.


Atmosfer terasa sangat tegang, menarik nafas seakan menghirup butiran kerikil. Ketegangan setiap kali membalut luka begitu terasa.

__ADS_1


@@@


Langit yang cerah dan biru. Yuvan menatapnya lamat-lamat dengan kepenasaran yang besar dalam dirinya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa langit biru itu disebabkan oleh Bunga Purnama.


Arif berusaha mengayunkan pedangnya. Lagi dan lagi. Sebanyak mungkin. Langkah awal seorang ahli pedang adalah membiasakan diri dengan pedangnya. Dengan terus menggenggam dan mengayun-ayunkannya ratusan kali sehari, Arif pun mulai terbiasa dengan hal tersebut.


“Sebenarnya apa motivasimu belajar berpedang?” Tanya Yuvan. Keduanya duduk menyandar batang pohon rindang. Di depan keduanya, Wira terlihat masih sibuk mengasah teknik-tekniknya dengan menebaskan mata pedang pada kulit pohon.


“Aku juga tidak tahu. Perasaan ingin ini bergerak begitu saja. Mungkin karena pedang ini pemberian senior Tein.” Ucap Arif seraya mengacungkan pedang yang telah di sarungkan.


“Selain itu, apa ada lagi?” Terlihat kepenasaran dalam bola mata Yuvan. Yuvan adalah seorang pengamat yang handal, baik fisik maupun psikologis. Mengobservasi mental lawan bicaranya adalah hal yang baginya mengasikan.


“Hmm.... Dalam tarian Die Hyang adalah gerakan dimana aku harus mengayunkan benda panjang. Gerakan itu terlihat seperti menebas. Dari sana kupikir belajar teknik berpedang sagat keren.”


“Die Hyang?” Tanya Yuvan semakin penasaran.


“Ya. Kapan-kapan kujelaskan. Cukup panjang.” Arif segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Wira.


Yuvan mengikuti di belakangnya.


“Bisa kita lanjutkan yang kemarin, Wira?” Pinta Arif seraya mengacungkan pedangnya. Disebalahnya Yuvan juga datang seraya mengacungkan pedang miliknya.


Wira yang nampak berkeringat tersenyum tipis. Dia menstabilkan pernfasan dan memberikan konfimasi setuju dengan anggukana.


“Bagus. Aku akan memberikan perlawanan lebih berarti.” Ucap Yuvan bersemangat.


Nampak semangat yang sedang membara di wajah ketiga pemuda itu.


Latih tanding ini tentunya tidak menggunakan mata pedang asli. Arif, Wira, dan Yuvan menggunakan sarung pedang sebagai senjata untuk menyerang. Sarung pedang dan hulu pedangnya diikat dengan tali supaya ketika diayukan tidak terlepas.


Angin berhembus pelan, memberikan kesegaran bagi ketiga remaja di lapangan hijau itu. Rereumputan pendek bergoyang, daun-daun pohon berguguran.


Wira yang sudah cukup beristirahat mengangkat pedangnya. Menggenggam dengan kedua tangan dan mengarahkannya pada dua lawan dihadapannya. Arif dan Yuvan.


“Kali ini tidak perlu menahan diri. Seranglah aku dengan kemampuan maksimal kalian.” Ucap Wira gagah.


“Kami akan melakukannya dengan lebih baik.” Ucap Arif seraya membangun kuda-kuda kokoh. Sorot matanya menatap tajam kearah Wira.


Telapak kaki kanan Arif menyentak tanah dan mulai berlari seraya memposisikan diri. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Arif lebih mudah dalam membawa pedang dalam gerakan berlari.


Disampingnya, Yuvan juga melakukan hal yang sama. Kedua pemuda itu menyerang Wira dari dua arah berbeda.


Wira segera mengambil langkah, berlari dengan kecepatan tinggi kearah Arif. Pedangnya berada pada posisi siap diayunkan.


PLAK


Bunyi dua sarung pedang berbentur terdengar nyaring. Arif dan Wira mulai melakukan adu kekuatan. Geraham Arif berbentur seraya memaksimalkan tenaga pada kedua lengan dan kaki.


Di titik buta, Yuvan datang dengan pedang yang terayun.


Wira sudah memprediksinya. Dia memberikan tenaga dorong lebih hingga membuat Arif terjungkal. Seketika itu juga dia berbalik badan dan menebas Yuvan keras-keras hingga dia mundur beberapa langkah. Sebuah serangan kejut.


Beruntung Yuvan menerima serangan itu menggunakan sarung pedangnya.


Kedua lawan menatap Wira dengan tatapan jengkel dan dahi berkerut. Perbedaan kekuatan kembali terlihat. Wira mengayunkan pedangnya dan kembali memasang kuda-kuda yang kuat.


“Majulah!”


Angin pertempuran kembali menggelora. Dengan semangat yang mengepul, otot-otot di tangan dan kaki pun diperkuat. Insting terasah. Melalui banyak luka pukul Wira, kedua pemuda itu berkembang sedikit demi sedikit.


Satu hal yang membuat Arif dan Wira terus berdiri meski mendapat puluhan pukulan Wira. Mereka senang melakukannya.


Di tempat lain pada waktu yang sama.


Para penduduk terlihat kembali melakukan rutinitasnya dengan normal. Dua hari sudah terlewati semenjak Faga menyelematkan desa ini dari amukan sekumpulan Grinsekta. Selama dua hari itu tidak terlihat satu pun serangan dari para Grinsekta.

__ADS_1


Aneh sekali.


Firasat Faga mengatakan sebentar lagi akan ada badai yang lebih besar bahkan sangat besar. Melampaui ekspetasinnya. Sesuatu yang tidak bisa dia hadapi sendirian.


Gelombang Grinsekta.


“Nak Faga, makanlah.” Nenek Ni Minah menyuguhkan makanan terbaik kepada Faga.


Faga tersenyum merespon dan mengambil beberapa buah roti kering yang dibuat penduduk untuknya. Renyah dan cukup manisa. Tidak terlalu manis, rasanya pas sekali. Faga menyukainya.


“Ini lezat. Boleh aku tahu cara membuatnya?” Tanya Faga antusias.


“Boleh-boleh saja.” Jawab nenek yang kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Faga.


“Nak Faga sebentar lagi Bunga Purnama akan mekar. Apa kau dan tiga temanmu mau melihat bunga tersebut mekar.” Ucap nenek lembut.


Faga menurunkan tangan kanannya. Pandangannya sedikit tertunduk, dia sedang memikirkan sesuatu.


“Maaf menyela nek. Tapi menurut perhitangan saya, akan ada gelombang berikut dari para Grinsekta. Saya mengharapkan nenek dan seluruh penduduk untuk tetap di desa saja. Dengan begitu saya bisa menjamin keselamatan penduduk.”


“Ya ampun kau ini. Baik sekali.” Nenek Ni Minah tersenyum simpul.


“Jujur saja kami merasa, malu dengan seluruh bantuanmu nak Faga. Padahal kalian tamu yang seharusnya kami muliakan, malahan nak Faga yang menyelematkan kami semua. Jika ada sesuatu yang kau inginkan katakanlah Faga. Kami bersedia membantu.”


Faga menatap nenek beberapa saat. Beliau sangat serius dengan kalimatnya. “Kalau begitu saya minta nenek dan semuanya untuk tetap tinggal di desa.” Jawab Faga.


“Apa itu permintaan yang benar-benar kau inginkan nak Faga? Faga. Kau bisa meminta sesuatu yang lebih besar lagi. Katakanlah. Jangan sungka. Kami akan berusaha maksimal untuk mewujudkan apapun keinginanmu.”


“Kalau begitu saya minta nenek dan seluruh penduduk untuk bangga meskipun tetap diam di desa ini. Saya minta nenek tidak merasa malu dengan diri nenek sendiri. Ini adalah tanggung jawab yang harus saya penuhi. Apapun kondisi saya akan tetap memenuhinya.” Ucap Faga mantap.


“Yang lain, apakah ada Faga?” Tawar nenek lagi.


“Kalau begitu saya minta untuk nenek dan seluruh penduduk untuk selalu tersenyum.” Balas Faga seraya mengembangkan senyumnya lebih lebar.


Nenek Ni minah tidak akan pernah paham isi kepala pemuda dua puluh tujuh tahun di hadapannya. Permintaan terbesarnya sungguh di luar dugaan.


Selalu tersenyum.


Sesuatu yang sederhana dan mustahil para penduduk desa lakukan.


“Halo nek. Eh ada kak Faga!” Seru Na adi kegirangan. Bocah itu langsung duduk disamping Faga dan ikut menikmati sajian yang nenek hidangkan.


“Itu buat Faga, jangan dihabiskan ya.” Ucap nenek pada Na adi.


“Baik nek. Tapi ini sangat enak.” Na adi malahan mengambil lebih banyak.


“Tidak apa-apa nek. Anak-anak memang sudah selayaknya begitu.” Kata Faga.


“Kalau begitu nenek ambil minum dulu ya.” Nenek Ni minah beranjak dari ruang tamu tersebut.


Dua detik suasana disana hening.


“Kau tidak lupa apa kusampaikan beberapa hari yang lalukan?” Na adi menghadapkan wajah pada Faga. Ada senyum sombong disana.


“Apapun yang kau lakukan, tidak akan kubiarkan anak-anak buahmu menyentuh teman-temanku maupun penduduk desa.” Balas Faga menatap tajam kepada Na adi.


“Semangat yang hebat. Kau selalu membuatku terkesan Faga. Tapi kau harus memilih. Bunga Purnama ataukah keselamatan penduduk?” Na adi menyandarkan pipi pada telapak tangan kanannya, memberikan kesan merendahkan kepada Faga.


“Aku memilih keselamatan penduduk.” Faga mengeraskan suaranya. Dia langsung menyilangkan kedua lengan di depan dada. Menunjukkan betapa seriusnya dia dalam urusan ini.


“Hei ada apa. Kalian terlihat akrab sekali.” Nenek kembali sambil membawa minuma diatas baki kayu.


Senyum ramah ia berikan ketika memberikan minuman kepada Faga dan Na adi.


“Terimakasih.” Ucap Faga dan Na adi berbarengan.

__ADS_1


“Kunantikan pembuktian dari ucapanmu Faga Dwi.” Suara Qocakau kembali terdengar di kepala.


__ADS_2