
Arif kedatangan hantu masa lalunya.
Hati yang semula senang dan gembira berubah menjadi mendung. Masih dalam posisi mematung, Arif baru saja menyadari bahwa rambutnya belum ia hitamkan.
Parah, seluruh identitasnya langsung terkuak.
Dua sosok wanita itu mendekat, Arif bisa mendengarkan langkah kaki mereka yang bagaikan mimpi buruk. Degup jantung lebih cepat, nafas mulai tidak beraturan.
Dalam tatapan mata yang menegang Arif menyaksikan peristiwa mengejutkan.
Keduanya menundukkan kepala, merendahkan badan di bawah pancaran sinar matahari pagi. Ada penyesalan sekaligus kesedihan disana.
Arif yang tidak bisa mencerna situasi seketika kehilangan keimbangan dan jatuh.
“Kau tak apa?” Begitu kecemasan Kak Haz yang terucap di depannya.
Mata Arif masih memandangi dua wanita di depannya dengan tatapan orang mati.
@@@
Kak Haz membawa Bibi Nilam dan Kak Melati ke ruang tamu. Mereka duduk berhadap-hadapan dalam perasasaan canggung dan tegang. Hening beberapa lama, hanya suara angin yang memasuki ventilasi udara atau serangga yang sedang beraktifitas di halaman luar.
Seekor cicak merayap di langit-langit, matanya menatap lima orang di bawanya. Dia nampak tertarik untuk memperhatikan kejadian selanjutnya.
“Maaf atas kedatangan kami yang tiba-tiba.” Bibi Nilam bersuara. Suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan. Beliau ucapkan kalimat tersebut dengan wajah tertunduk.
“Kedatangan kami kesini adalah untuk menemui Arif_” Ungkap Kak Melati, sorot matanya menghadap kearah lain, seakan tidak mau menatap Arif.
Arif menyentuh dahinya dengan tiga jemari kanan, kepalanya mendadak terasa berat dan sakit. Kondisi ini sangat memberatkan baginya. Apa yang di inginkan Bibi Nilam dan Kak Melati? Begitu hatinya berseru.
“Dan kami ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya.” Kak Melati melanjutkan kalimatnya. Arif sedikit mendongakkan wajah, menatap kembali dua wanita di hadapannya. Nampak mata yang berkaca menahan air mata disana.
“Bibi Nilam.” Seru Kak Melati seraya menatap Bibi Nilam lekat-lekat.
Bibi Nilam lalu mengusap air mata yang sempat mengalir di sudut matanya. Menundukkan kepala di hadapannya Arif kemudian berseru dengan suara yang teramat lembut, suara yang dirindukan, suara kasih seorang ibu.
“Maafkan Bibi Arif. Bibi sudah sangat kejam kepadamu. Bibi melakukan dosa besar, Bibi tidak bisa menepati janji pada ibumu. Semenjak kejadian itu Bibi tidak pernah bisa tenang. Hari-hari berjalan penuh gelisah. Suami bibi pun demikian. Maka demi menembus dosa tersebut, kami melakukan perjalanan untuk mencarimu. Namun_” Kalimatnya terpotong isak tangis.
Bulir air mata mulai berjatuhan, membasahi lantai.
Bibi Nilam sekuat mungkin menahan sedihnya, telapak tangan kanannya menyentuh mulut dan hidung, menahan isaknya yang semakin menjadi.
“Suami Bibi meninggal ketika kami baru saja mendapat kabar tentang Arif. Suami Bibi menyampaikan banyak hal sebelum meninggal, bahkan menulis sepucuk surat untuk Arif.” Bibi Nilam buru-buru merogoh tas kulit yang ia bawa kemudian mengeluarkan lembaran kertas tua yang terlipas-lipat.
Arif menerimanya dengan sedikit gemetar. Membuka lipatanya dan mulai membaca perlahan.
__ADS_1
Bibi Nilam hanya tertunduk, sanubarinya sangat berharap Arif mau memaafkan dirinya dan suaminya atas dosan masa lalu.
“Aku tahu tidak pantas menulis surat ini padamu Arif. Kau boleh membuang atau membakarnya, tapi aku akan senang kalau kau membaca suratku ini.” Arif seakan bisa mendengar suara Wanna, suami Bibi Nilam melalui suratnya tersebut.
Namanya seakan dipanggil dengan sangat lembut dalam surat tersebut. Arif melanjutkan pada baris berikutnya dengan menahan nafas.
“Maaf atas kejahatanku di masa lalu, aku memang sangat bodoh karena tidak mau mendengarkan bapakmu dan rombongannya. Kau boleh tidak memaafkanku, tapi setidaknya maafkanlah Nilam. Dia tidak salah apa-apa, akulah yang membuatnya melempar semua ucapan buruk kala itu. Aku memang pantas menerima kutukan darimu.” Arif menahan gejolak batinnya.
Peraaan gelisah dan sedih beraduk-aduk dalam dada.
“Kemudian aku ingin berterimakasih. Kehadiranmu membuatku sadar bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan apapun, kebencian itulah yang sebenarnya membawa petaka kepadaku. Dan yang terakhir, aku ada sebuah permintaan. Jika Arif membaca surat ini setelah aku tiada, kuharap Arif mau menyebut namaku dan mendoakanku. Terimakasih karena telah mengajariku arti sebenarnya dan tujuan Tuhan menciptakan perbedaan.”
Kalimat dalam surat itu berhenti disana. Selesai bersamaan dengan air mata yang berjatuhan.
Arif kembali tidak paham dengan perasaan yang mengalir dalam hatinya. Dua orang yang paling ia benci pergi bersama kesedihan dalam, bahkan sebagian hatinya berharap untuk bertemu mereka kembali.
Kenapa?
Ada dengan perasaan ini?
Arif tidak bisa memahminya, dia hanya paham bahwa dua peristiwa ini menyedihkan sekali.
@@@
Selesai percakapan yang emosional itu, Kak Melati meminta ijin untuk berpulang. Posisinya yang sekarang sebagai kepala desa mendesaknya untuk selalu siaga atas semua perkara di desanya.
Senyum Kak Melati mengingatkan Arif terhadap senyum terakhir bapaknya. ”Tolong sampaikan permohonan maafku padanya.” Kalimat itu terputar kembali di kepala Arif.
Sementara Kak Melati pergi, Bibi Nilam masih berada di tempatnya dengan sorot mata yang lemah.
Sebelum kedatangan Kak Melati, Bibi Nilam dan ibunya yang selalu memenuhi hari-harinya. Arif pun tidak akan ragu menyebutnya ibu kedua. Arif mendekati beliau dengan langkah penuh hormat.
Bibi Nilam menatap pada laki-laki berambut putih di depannya. Bibi Nilam selalu menganggap Arif adalah putranya sendiri.
Arif memberikan senyum lebar yang membuat Bibi Nilam langsung memeluknya erat-erat. “Terimakasih-terimakasih Arif.” Ucapnya terseduh-seduh.
“Tidak apa-apa Bibi. Arif sudah memaafkannya.” Sorot keduanya bertemu, Bibi Nilam lalu mengusap air mata dan menyampaikan alasan sebenarnya datang kesini.
Bibi Nilam mundur sedikit jauh, duduk menekuk lutut dengan menghadap kepada ketiga penghuni rumah tersebut. Dia menundukkan sedikit kepalanya, wujud permohonannya yang tulus. Bibi Nilam pun mengucapkan beberapa patah kata yang membuat penghuni rumah itu terkejut.
Bibi Nilam ingin tinggal di kediaman ini mulai sekarang dan seterusnya. Dia merasa masih punya tanggung jawab untuk membimbing Arif sebagaimana janjinya yang kepada Hanah, Ibu Arif.
Ketiganya berpandangan, kemudian saling berbisik beberapa saat.
Kak Haz sebagai pemilik rumah mendekat kepada Bibi Nilam. “Tapi bagaimana dengan rumah nyonya?” Tanya Kak Haz.
__ADS_1
“Saya sudah menyerahkannya kepada putra saya. Dia sudah berkeluarga dan saya pun sudah menjelaskan semuanya.” Jawab Bibi Nilam lirih.
Kak Haz mundur, dia tidak habis pikir mengapa seorang ibu memilih putra sahabatnya daripada putranya sendiri. Kak Haz berniat menanyakannya, tapi urung karena khawatir membuat Bibi Nilam tidak nyaman.
“Selama putra nyonya dan Arif tidak masalah saya akan setuju. Lagi pula saya senang jika penghuni rumah ini bertambah. Putriku pun jadi punya seorang yang bisa menuntunya menjadi istri yang baik” Jawab Kak Haz. Dia kepada Bibi Nilam, kemudian menatap menantu dan putri secara bergantian.
“Saya tidak masalah.” Jawab Arif. “Saya akan senang kalau masa senang saya dan Bibi bisa terulang kembali.” Arif menggenapkan kalimatnya.
Bibi Nilam tidak bisa menyembunyikan kesyukurannya. Jawaban yang begitu indah di telinga, membuat beliau mengucapkan banyak terimakasih kepada Kak Haz dan Arif.
Hati yang tenggelam dalam lumpur kembali menunjukkan kemilaunya.
@@@
“Wah-wah ternyat tanah kelahiranku sudah banyak berubah.” Ucap lelaki tinggi besar yang berjenggot tipis. Di atas pundaknya, tiga putranya berseru kegirangan.
“Hey itu berbahaya.” Balas seorang wanita muda di sampingnya. Dia memiliki rambut pirang d
yang panjang. Wajah maupun logat bahasa menunjukkan bahwa dirinya adalah orang luar. Kedua tangannya menggenggam tangan kedua putri ciliknya.
“Tenang saja sayang. Anak kita selalu senang berada di tempat tinggi. Lihatlah mereka senang sekali.” Kata si lelaki kepada istrinya.
Si wanita beramput pirang menghela nafas, menyerah. Dia tahu berdebat dengan suaminya adalah perkara yang menyebalkan.
Lagi pula dia sudah berjanji untuk menjamin keamanan anak-anaknya.
Namun...
Entah apa yang dipikirkan putra bungsunya. Dia malah melompat dari pundak bapaknya. Si wanita berambut pirang dan suaminya pun kaget luar biasa.
Cepat-cepat si bapak bergerak, tangan kirinya telulur menangkap putra kecilnya di detik kritis. Nyaris saja kepalanya membentur tanah. “Ayah hebat.” Seru si kecil sambil menepuk tangan. Dia nampak gembira sekali setelah membahayakan nyawanya.
Sementara kakak-kakaknya bisa menarik nafas lega setelah beberapa detik jantung mereka serasa ingat melompat.
Si bapak menghembuskan nafas lega juga, tapi saat dia berbalik ada wajah istrinya yang sedang marah besar. “Eh....” Itulah suara yang keluar dari mulutnya.
“Sudah kukatakan bukan, hati-hati! Jangan sembarangan! Apalagi ini menyangkut putra kita. Kalau saja tadi_” Kalimat marah istrinya terhenti disana, dia tidak tega melanjutkan.
Selanjutnya dia mulai memukul-mukul suaminya seperti anak kecil yang merengek minta mainan kepada orang tuanya.
Sang suaminya hanya bisa mendengar omelan marah istrinya sambil mengangguk-angguk. Kalau sudah begini dua jam bisa habis untuk mendengarkan ocehan istrinya.
“Oh Arif!” Seru bapak itu. Istrinya pun diam ketika mendengar nama sahabat lama suaminya di panggil. Dia menoleh kearah yang sama.
Arif yang sedang berjalan bersama Sheiny mendekat kepada keduanya.
__ADS_1
“Pala!” Terkejut Arif melihat sahabat lamanya itu berkunjung ke kampung halaman.