
Angin subuh yang dingin memenuhi bumi. Matahari mulai memunculkan cahaya merah di penjuru timur. Hewan-hewan hutan terbangun, pepohonan pun bersiap menyambut hari yang baru.
Para manusia bangkit mengempaskan selimut. Membersihkan wajah yang penuh kantuk dengan mengucek kedua mata. Sebagian orang memilih melipat lengan baju sambil membawa cangkul. Sebagian yang lain menyiapkan dagangan yang akan dibawa ke pasar.
Terlihat pada salah satu rumah yang lumayan tua. Tidak begitu besar, rumah itu hanya memiliki tiga ruang. Dapur, satu kamar, dan ruang tengah.
Seorang lelaki berumur lima belas tahunan nampak sudah siap menyambut hari. Tidak tersisa lagi jejak kantuk di wajahnya. Dia pergi dapur, ruang paling belakang dari rumahnya.
Dapur itu beralaskan tanah dengan banyak tumpukan kayu kering di salah satu sisi. Dapur yang sangat sederhana, memasak menggunakan cara tradisional, itulah yang dia lakukan.
Dia membuka karung gandung yang tersisa separuh. Dua genggam gandung dia masukan padi panci dan ditambah air. Panci itu lantas di letakan di atas kompor batu dengan api yang sudah dia nyalakan.
Inilah proses yang paling lama, menjaga api agar tetap stabil sembari menunggu bubur yang dibuatnya matang. Dengan pemanasan yang tidak maksimal, lelaki itu bisa menunggu sampai setengah jam untuk menghasilkan semangkuk bubur.
Kegiatan yang membosankan bukan.
Tangan lelaki itu membalik-balikkan ranting kayu kering dengan sesekali menambahkannya. Berdiri di dekat kompor batu memberikannya sedikit kehangatan di waktu shubuh ini.
Setelah bubur terbentuk, lelaki itu menuangkannya pada mangkuk yang terbuat dari kayu. Lelaki itu lantas melangkah ke kamarnya. Disana terbaring kakak perempuannya yang masih terlelap. Wajahnya nampak kurang sehat.
Lelaki itu meletakkan semangkuk bubur itu disampingnya.
“Kakak, cepat sembuh ya.” Ucapnya dengan nada berharap.
Lelaki itu kemudian keluar rumah. Dia renggangkan seluruh tubuhnya sambil menghirup udara paling segar. Nyaman sekali.
Angin subuh mengelus tubunya, memberikan sensasi kesegaran tersendiri untuknya. Di halaman depan rumah, ia mulai melakukan gerakan pemanasan.
Kondisi jalanan desa itu masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang keluar rumah sambil mengendarai sepeda dengan membawa cangkul dan caping. Beberepa kali suara ayam jago memenuhi udara, menyuruh orang-orang yang masih memeluk bantal untuk bangun.
“Hei Hamka.” Dua orang lelaki dengan tinggi yang nyaris sama menyapanya. Salah satunya hanya mengenakan celana tanpa busanan atasan.
“Halo, Faga, Bara. Tidak bisakah kau mengenakan baju Bara?” Lelaki bernama Hamka langsung memberikan pertanyaan untuk sikap sahabatnya itu yang tidak biasa.
“Kau tahulah. Ini sudah jadi gayaku.” Balas Bara sambil mamerkan otot-otot perut dan dadanya. Dia terlihat bangga melakukannya. Hamka memberikan tatapan aneh.
“Daripada itu mau ikut kami jogging pagi?” Faga menawarkan. Hamka menyambut dengan senyum. “Tentulah.”
Tiga sahabat itu berjongging bersama mengitari desa. Melewati pematang sawah, kebun-kebun penduduk, dan menyusur tepian sungai. Sesekali Bara menyanyikan lagu aneh untuk meramaikan suasana. Hamka malah mengejek karena suara Bara terdengar aneh.
Jogging itu semakin ramai dengan kehadiran Pala-lapa dan Fasih. Pala-lapa sedang sibuk dengan tanaman-tanamannya sedangkan Fasih sibuk dengan bacaanya. Fasih memang tipe yang malas sedikit berolahraga sehingga perlu sedikit paksaan untuk membuatnya mau.
“Omong-omong ada yang melihat Wira?” Fasih berbicara sambil melangkahkan kakinya. Matahari sudah terlihat di ufuk timur, cahaya fajar memenuhi angkasa, dan letih beberapa kali menggoyahkan semangat kelima pemuda itu.
“Kalian mencariku?” Wira muncul tiba-tiba di sebelah Fasih. “Hei kau mengagetkanku.”
“Tidak biasanya kau keluar sepagi ini. Bagaimana urusan dengan bapakmu.” Faga yang berjogging paling depat bertanya.
“Rumit, bapak marah-marah jadi aku keluar rumah tanpa bilang-bilang.” Balas Wira tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. Meski begitu tatapan preman miliknya membuatnya terlihat mengerikan dengan wajah biasa-biasa saja.
“Heh, tidak bisakah kalian untuk akur.” Pala-lapa menyarankan. Semua sudah tahu kondisi keluarga Wira yang kurang harmonis.
“Itu lebih sulit dari bayanganmu.” Wira memberikan penekanan pada kalimatnya, mengesankan dia tidak nyaman terhapa kalimat Pala-lapa. “Aku minta maaf.”
“Hei kalian, bukan waktunya untuk bersedih. Kali ini kita akan bersenang-senang.” Seru Bara bersemangat sambil menoleh kepada keduanya.
“Kita akan melakukan apa?” Fasih bertanya dari belakang sembari terus melanjutkan jogging berjamaah itu.
“Aku melakukan trobosan baru pada jadwal kegiatan menyenangkan kita.” Ucap Bara setengah berteriak, dia sangat bersemangat.
“Apa itu.”
“Pergi memancing. Aku dan Faga sudah menyiapkan kail dan benangnya, heheh.”
@@@
Matahari telah sampai di atas kepala, panas dan gerah mengudara sejak tadi.
__ADS_1
Didalam hutan rimbun penuh semak belukar. Pepohona besar memenuhi berbagai sisi. Nampak enam remaja terduduk memandangi sungai berarus tenang.
Sayang belum ada satu pun ikan yang mengisi ember.
“Jadi ini yang kau sebut kegiatan menyenangkan dan terobosan baru.” Hamka berusaha mengejek Bara untuk membuat suasanal lebih meriah.
Sedari tadi kelompok itu terus diam dan hening. Kata Bara itu perlu dalam memancing. Memancing butuh ketenangan dan konsetrasi tingkat tinggi. Bermodalkan batang kayu, benang kuat, dan umpan di ujung kail keenamnya memancing di tepian sungai dengan bahagia.
Itu hanya ekspetasi Bara.
“Aku pulang ya, ini membosankan dan aku harus mengurus gembalaanku.” Fasih beranjak dari sana. Kalimatnya lumayan menusuk Bara.
“Kalau begini, aku lebih setuju terjun langsung ke sungai.” Ucap Wira yang langsung melepas kaos.
“Hei tunggu dulu, nanti ikannya_” Bara mencoba mencegah.
BYUR
Wira lebih dahulu meceburkan diri ke sungai.
“Hei Wira, kau membuat ikannya ketakutan. Kita tidak akan dapat-dapat nanti.” Seru Bara sedikit kesal. Kalimatnya tidak di perhatikan, Wira malah menyelam ke sungai tersebut.
“Kurasa tindakan Wira yang paling logis.” Pala-lapa dan Hamka melepas pakaia bersamaan dan ikut menceburkan diri ke sungai. Air menciprat wajah Bara yang semakin kesal.
“Eh kau juga, Faga.” Bara yang masih duduk melihat sahabatnya itu mulai melepas baju.
“Instingku mengatakan inilah yang terbaik. Jika kau mau melanjutkan memancing silahkan. Kudoakan kau mendapat banyak, Bara.” Kata-kata Faga terdengar meyakinkan dan keren. Dia pun mengacungkan jempol kepada Bara.
BYUR, Faga pun bergabung dengan yang lain. Meninggalkan Bara sendirian dengan pancingnya.
“Akan lebih baik kalau kau juga menemaniku Faga.” Gumam Bara.
“Bersemangatlah Bara!” Teriaknya memotivasi diri sendiri.
Semuanya lantas menoleh kepadanya. “Tidak kusangkan seorang Bara memilih untuk tenang daripada berisik, seperti bukan dirinya.” Bingung Pala-lapa.
Bara nampak tidak peduli, dia berusaha fokus dapa kegiatannya yaitu memancing. Fokus, fokus, dan terus fokus. Sampai-sampai yang lain bingung dengan tindakannya.
“Dari mana asal ketenangan itu. Aku yakin aku tidak sedang bermimpi.” Kata Hamka kepada Faga. Wajah keduanya berada diatas permukaan air untuk memperhatikan bagaimana Bara terus diam di tempat tanpa bergerak sesenti pun.
“Lebih baik tidak usah mengganggunya. Ayo kumpulkan lebih banyak ikan lagi. Aku merasa sedikit bersalah karena meninggalkannya. Paling tidak kita bisa menggelar ikan bakar bersama setelah ini.” Balas Faga sambil mengelap wajah yang penuh air sungai.
“Baik kapten.” Hamka menghirup nafas kuat-kuat dan kembali menyelam.
Agar tidak mengganggu, Faga, Hamka, Pala-lapa, dan Wira mengumpulkan ikan tangkapan di tepian sungai seberang. Wira dan Pala-lapa mulai mengumpulkan kayu kering untuk membakar ikan sementara Faga dan Hamkan mencoba membuat api dengan membenturkan dua ujung batu runcing.
“Aku sedang konsentrasi Hamka, jangan mengganggu.” Ucap Faga, sedari tadi percikan yang dia buat belum cukup untuk membuat api sementara Hamka menepuk pundaknya beberapa kali. Menganggu.
“Kapten, coba lihat Bara. Kau mungkin akan sama terkejutnya.” Faga menoleh kepada Hamka. Pandangan pemuda itu terpaku kearah Bara.
Faga pun ikut memeriksa.
“Hey kami dapat banyak kayu kering. Heh apinya belum_” Faga memotong kalimat Pala-lapa dan menyuruhnya diam. Wira yang berdiri di sebelahnya sudah paham dengan kondisinya.
Empat pasang mata memandang Bara tanpa berkedip.
Bara duduk santai bersilah dengan tangan yang masing menggenggam pancing. Disekitarnya muncul tiga gelembung bening. Gelembung-gelembug itu tidak bergerak saat di tiup angin, terus mengambang di hadapan Bara.
Belum cukup, keterkejutan bertambah ketika dari permukaan kulit Bara muncul sesuatu berbentuk bola bening.
Itu gelembungnya!
Keempatnya tidak bisa mencerna keadaan ini. Bagaimana Bara melakukannya dan apa dia tidak menyadari ada gelembung yang keluar dari permukaan kulitnya?
“Wah, Bara darimana kau belajar Kemampuan Semesta!” Teriak seseorang dari belakang Bara. Itu suara Arif. Disampingnya Fasih pun mematung dengan kejaiban yang Bara lakukan.
Mendengar teriakan Arif, Bara seketika mendongak kepadanya. Keempat gelembung bening pun pecah.
__ADS_1
“Hei Arif, akhirnya datang juga.” Bara menyapa.
“Arif apa yang kau lakukan!” Teriak Pala-lapa dari seberang sungai.
“Heh, apa salahku?”
@@@
“Itu yang disebut dengan Kemampuan Semesta.” Arif mulai menjelaskan sementara keenam sahabatnya mengerumuni.
“Kemampuan Semesta berasal dari energi gelap yang terkunci dalam diri manusia. Saat energi gelap itu terbuka maka seseorang dapat menggunakan Kemampuan Semsesta.”
“Bagaimana cara membukanya.” Pala-lapa tidak sabar bertanya.
“Dengan konsetrasi maksimal. Menyatukan diri dengan alam. Kemampuan Semesta itu bermacam-macam dan hanya timbul bila penggunanya dan Kemampuan Semesta tertentu cocok. Jadi yah, ada sedikit unsur keberuntungan.” Arif terlihat senang menyampaikan hal itu.
“Darimana kau tahu hal ini Arif?” Fasih ikut bertanya.
Arif menoleh padanya. “Dari Kak Haz. Beliau adalah pengasuhku. Kak Haz menguasai Kemampuan Semesta Angin. Aku benar-benar kaget saat melihatnya bertapa dengan mengambang di udara.”
“Woooooh, hebat.” Ucap mereka bersamaan.
“Aku ingin bertanya Arif.” Bara berucap. “Ya silahkan.”
“Kenapa dinamakan energi gelap, juga kalau bisa ceritakan sejarah Kemampuan Semesta. Kau tahu, aku sangat bersemangat dalam hal ini.”
“Pertama sejarahnya.” Arif menghela nafas pendek lalu mengingat percakapannya dengan Kak Haz beberapa hari lalu.
“Ada ungkapan yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk paling sempurna. Para pendahulu meyakini bahwa kesempurnaan berarti melampaui sesuatu yang dimiliki saat ini. Sebab itu para pendahulu berusaha mengungkap apa maksud tersebut. Melalui serangkain peristiwa tidak biasa mereka berhasil membuka batasan baru pada diri mereka. Kemampuan itu pun disebut Kemampuan Semesta, yaitu Kemampuan menguasai alam secara menyeluruh.” Arif memberi jeda dengan menghela nafas.
Sahabat-sahabatnya sangat antusias mendengarkan.
“Energi gelap adalah sumber kekuatan dari Kemampuan Semesta. Alasan dinamakan energi gelap karena energi itu tidak bisa dijelaskan dan kebanyakan orang-orang yang menguasai Kemampuan Semesta jatuh kedalam keburukan disebabkan tidak mampu mengendalikannya.” Bara menelan ludah, penjelasan Arif membuatnya sedikit cemas.
“Maka dari itu munculah istilah baru bernama energi terang. Energi terang adalah wujud kesadaran dan hati nurani untuk menerima Kemampuan Semesta dan menggunakannya untuk kebaikan. Itu saja yang kutahu.”
“Hahah, jadi aku sangat hebat ya bisa mengusai Kemampuan Semesta.” Pamer Bara sambil membusung dada. Sebenarnya tindakan itu dia lakukan untuk mengusir kecemasannya.
“Sebenarnya kurang tepat menyebutnya begitu.”
“Eh?”
“Yang terjadi padamu adalah gejala awal bangkitnya Kemampuan Semesta. Belum sampai menguasai Kemampuan Semesta”
“Kau terlalu percaya diri Bara.” Pala-lapa dan Hamka mencoba mengomentari dan mengejeknya.
“Kau adalah pemuda yang hebat Bara. Selamat. Aku salut padamu.” Faga menyemangati sambil menepuk peunggung Bara.
“Paling tidak aku puluhan langkah lebih maju dari kalian.” Balas Bara kepada Pala-lapa dan Hamka diselingi senyum sombong.
Angin berhembus diantara mereka, mengudarakan kekaguman terhadap hal baru yang mereka dengar. Kemampuan Semesta. Percakapan masih panjang jika saja Wira tidak menghentikan.
“Berhentilah bicara dan ayo bakar ikannya.” Ucap Wira dengan nada sedikit kesal. Hanya dia yang tidak menunjukkan kekaguman berlebih terhadap penjelasan Arif.
“Oh Wira, terimakasih.” Faga berkata. Dengan begini tugasnya yaitu membuat api selesai.
Ikan-ikan hasil tangkapan pun di sate. Setiap orang mendapat jatah. Mereka bertuju menikmati matahari terbenam sambil menyantap ikan bakar yang masih panas.
“Lezat.” Faga makan dengan lahap.
“Ya, lumayan untuk ukuran tidak diberi bumbu.” Fasih mengomentari.
Mereka makan dengan lahap, hanya Arif yang sedikit kesulitan memakannya. Mungkin karena lidahnya kurang cocok untuk memakan ikan sungai.
Meski tidak enak, Arif tetap bisa merasakan lezatnya sebuah persahabata, persahabatan yang terjalin kokoh.
Sekokoh cengkraman Dewa Naga Bukit terhadap semesta agar menyatu.
__ADS_1
Persahabatan memanglah luar biasa.