IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
54 Kekuatan Manusia


__ADS_3

Di suatu tempat yang jauh. Kegelapan menyelimuti semua sisi. Bermacam tanaman yang tumbuh mempersulit ruang gerak. Sumber pencahayaan hanya dari dua buah lentera yang sinarnya mulai redup.


Nampak dalam barisan pepohonan dan tanaman liar dua lelaki seumuran yang melangkah sambil menghalau lebatnya hutan ini.


Arif dan Wira.


Keduanya memutuskan untuk memetik Bunga Purnama. Tentunya ini bukan keputusan ringann, apa saja bisa terjadi.


Di tengah kegelapan melintasi hutan ini sangatlah sulit. Jika kaki tidak hati-hati melangkah bisa saja terpeleset atau tersandung.


Belum lagi misteri yang selalu tersimpan rapat dalam kegelapan. Tidak ada yang tahu apa yang ada dibalik kegelapan ini. Ketika membayangkan serangan dadakan dari Grinsekta atau menemui jasad yang telah rusak membuat akal sehat Arif sedikit terganggu.


Perjalanan ini tidak mudah. Bermacam tekanan batin mendominasi mental. Lengah sedikit saja, ketakutan akan menguasai.


Wira yang berjalan di depan terus menghalau dedauan lebar dan ranting-ranting dengan kedua lengan. Sementara Arif yang dibelakang terus menatap sekitar dengan waspada. Dia sangat berharap tidak ada yang menyerang dari balik kegelapan.


“Arif, apa pedang senior Tein masih ada padamu?” Tanya Wira tanpa menghentikan langkah atau pun menoleh.


“Ya, ada apa?” Arif balik bertanya.


“Selalu awasi sekitar. Pastikan tanganmu dalam posisi siap menarik pedang. Kita tidak tahu dimana musuh berada.” Ucap Wira. Ucapannya terdengar keren sekaligus mengancam.


Setelah bersusah-susah menembus hutan ledap keduanya sampai di tempat yang lapang. Pandang rumput hijau.


Angin bertiup kencang dan dingin, kegelapan menghalangi pandangan jarak jauh. Arif dan Wira berhenti sebentar disana, menyiapkan diri untuk mendapat Bunga Purnama.


Angin malam bertiup kembali, menggouangkan rerumputan setinggi mata kaki.


“Ayo.” Ucap Wira melangkah terlebih dahulu.


Arif mengikuti dengan dada berdetak lebih kencang. Senyumnya semakin lebar karena bunga tersebut semakin dekat dengan genggaman.


Kedua pemuda itu berhenti kembali. Dari kejauhan terlihat serbuk cahaya yang bergerak naik ke langit. Pemandangan luar biasa, cahaya itu layaknya pilar emas.


Arif dan Wira menghentikan langkah sementara untuk memperhatikannya. Tidak salah lagi, cahaya itu berasal dari Bunga Purnama yang telah mekar.


Bunga Purnama yang mekar aka menghasilkan cahaya yang tidak terlalu terang atau terlalu redup. Sesuai dengan takaran dan menimbulkan keindahan tersendiri bagi yang melihatnya. Arif ingat sekali kata-kata Nenek Ni minah tersebut.


Kedunya segera mempercepat langkah menuju cekungan Bunga Purnama tumbuh.


Tidak begitu lama keduanya telah sampai disana. Arif mematung lagi. Ini sungguh pemandangan yang indah.


Tubuhnya dengan cahaya emas menyatu. Rasanya hangat sekaligus nyaman sekali kemudian coba lihat padang bunga dibawah sana. Bunga-bunga itu bermekaran!


Kelopak biru dengan bercak putih. Bercak-bercak itu nampak bercahaya. Arif dan Wira tidak bisa menahan kekagumannya. Keduanya segera turun, mendekat kepada Bunga Purnama.


Dari dekat bunga tersebut terlihat lebih indah. Arif menyentuh daunnya yang berbentuk sirip. Terasa hangat dan halus. Arif coba cium bau mahkota bunganya, baunya sangat harum. Perlahan-lahan Arif mulai memetik bunga-bunga itu dengan perasaan bahagia.


“Wira kau sudah dapat berapa?” Tanya Arif seraya menoleh kearahnya.


Arif cukup terkejut karena Wira malah mematung dalam posisi menekuk lutut. Di telapak tangannya setangkai Bunga Purnama telah dipetik. Wajahnya terus menatap bunga tersebut, tidak teralihkan oleh apapun. Arif bisa melihat ada air mata yang meleleh disana.


Pasti bermacam emosi sedang bercampur dalam dirinya. Menelisik kisah masa lalu, itu cukup menjadi alasan mengapa Wira membeku ketika mendapat Bunga Purnama. Wira memang sudah sejak lama mengindamkannya.


Arif mengalihkan pandangan. Tidak mau mengganggu.


“Halo kak.”


Arif menoleh kearah suara yang tidak asing.


Diantara serbu cahaya yang bergerak naik, Arif melihat seorang anak yang melangkah mendekat padanya. Kakinya melangkah hati-hati agar tidak menginjak Bunga Purnama. Senyum imut itu ia tunjukkan kepada Arif.


“Eh..... Na adi?”


“Iya.” Na adi lalu berjongkok di samping Arif sambil menikmati keindahan Bunga Purnama.


“Apa yang Na adi lakukan disini? Apa Na adi membuntuti kami? Itu berbahaya loh.” Mimik Arif nampak cemas.


“Habisnya Na adi juga ingin melihat Bunga Purnama yang mekar.” Balas Na adi dengan wajah masam.

__ADS_1


“Ya penting Na adi tidak kenapa-napa.” Arif tersenyum, senyum yang dibalas oleh senyuman serupa.


“Hei Kak Arif. Bagaimana perasaan kakak mendapat Bunga Purnama.” Na adi bertanya sambil memetik dua tangkai Bunga.


“Sangat bahagia.” Ucap Arif dengan wajah berbinar-binar.


“Dengan Bunga Purnama, dokter bisa membuat obat untuk nenek dan Sheiny.” Lanjut Arif. Tubuhnya kemudian terpaku saat menyebut nama Sheiny.


Dikepalanya terbayang senyum perempuan itu, membuat beberapa saat wajah Arif merona.


Na adi tersenyum lebar menanggapi kebahagian yang menyalur padanya. “Kalau Na adi sendiri, bagaimana?”


“Aku juga senang. Bunga Purnama yang mekar adalah momen yang selalu kutunggu-tunggu, tapi ada yang lebih kusukai dari itu.” Balas Na adi membuat Arif penasaran.


Arif coba menebak-nebak dalam hati.


“Apa itu?” Tanya Arif.


Na adi tersenyum lebar kepada Arif hingga nampak gigi-gigi putihnya. “Hati Sang Penerus Die Hyang.” Jawabnya girang.


Sedetik Arif merasa ledakan kuat dalam diri. Ketika Die Hyang disebut, seketika Arif berfirasat tidak enak.


Hati? Apa yang dimaksud adalah kebaikan, ataukah benar-benar hati yang terletak di badan. Entah mangapa Arif jadi terpikir begini. Kepanikan yang mendadak muncul membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


“Apa yang Na adi maksud?” Arif pura-pura tidak tahu.


Na adi lantas berdiri dan merentangkan tanga, membuat Arif semakin curiga dengan anak tujuh tahun di hadapannya ini.


“Aku serius kak. Yang lebih kuinginkan adalah Hati Sang Penerus Die Hyang, sebab dengan hati tersebut maka genaplah seluruh rencanaku.” Begitu kata itu terucap Arif langsung melompat jauh kebelakang tanpa membedulikan Bunga Purnama yang ia injak.


Arif segera menyabut bilah pedang dari sarungnya dan menodongkannya kepada Na adi. Dahi berkerut dengan alir meruncing. Arif tunjukkan ancaman melalui mata pedang yang tajam.


“Santai saja Kak Arif. Jika kakak tidak melawan Na adi janji akan beri kematian yang tidak menyakitkan.”


Arif semakin terkejut. Matanya terbelalak. Bagaimana mungkin kalimat itu keluar dari anak tujuh tahun dengan tersenyum lebar. Sudah jelas yang di depannya ini bukan Na adi. Gigi Arif saling beradu, marah.


“Siapa kau dan dimana Na adi!” Teriak Arif sekencang-kencangnya.


Arif seketika naik pitam. Diiringi teriakan Arif hantarkan bilah pedang ke leher musuhnya.


Gagal. Serangan itu dihentikan dengan mudah. Na adi menahannya hanya dengan satu tangan. Tangannya pun berdarah-darah karena itu. Arif meringis melihatnya. Beberapa detik dia pun merasa sangat berdosa melakukannya, sangat nampak dari rautnya yang ketakutan.


“Tubuh ini memang sampah. Tebasan kecil pun langsung membuat terluka. Inilah yang membuatku tidak pernah tertarik pada kalian, manusia. Sangat payah.”


Na adik menggenggam lebih erat, membuat telapak tangannya nyaris terbela dua. Arif mencoba menarik, tidak bisa.


Dua detik kemudian dari pori-pori kulit Na adi muncul gumpalan-gumpalan daging gelap yang membesar seperti balon. Gumpalan daging itu lantas meneluts dan berputar-putar. Melekat, menyusun, menyatu, dan melahirkan sosok lain yang mengerikan.


“Namun, aku selalu heran dengan ketangguhan kalian.” Lanjuat Qocakau dalam wujud berbeda.


Sosok tinggi gagah. Tinggi Arif hanya selehernya. Dia memiliki bola mata buaya dengan kulit abu-abu pucat. Kejadian ini membuat sekujur tubuh Arif melemas, kehilangan tenaga.


Inilah Sang Pengenggam Matahari.


Musuh utama umat manusia.


Arif menatapnya dengan membeku.


Qocakau lantas meremas bilah pedang yang diarahkan pada lehernya, membuat bilah pedang itu patah layaknya ranting.


Arif terjungkal karena saking kagetnya. Qocakau berjongkok, mendekatkan wajah kepada Arif dengan senyuman jahat. “Bagaimana? Sangat kuat bukan.”


Amarah Arif kembali terpacu. Denga bilah yang sudah patah, ia ayunkan kembali pedangnya dia saat Qocakau lengah. Lebih keras, lebih kuat. Arif mempertaruhkan pada serangan kali ini.


Gagal.


Arif menatap tidak percaya. Menggores pun tidak. Kulit Qocakau sangat keras. Arif menambahkan tenaga pada lengannya, percuma tidak membuahkan apapun.


Tangan kiri Qocakau menyambar leher Arif, mencekik sambil mengangkatnya ke udara. Arif kesulitan bernafas. Ini sakit sekali. Ludah Arif sampai keluar dari mulut.

__ADS_1


“Tapi sebelum kau mati.” Tangan kanan Qocakau menunjuk Wira yang masih terfokus pada Bunga Purnama.


“Ja-ngan, to-long ja-ngan.” Ucap Arif patah-patah menahan sakit.


Qocakau menjatuhkan Arif ke tenah kemudian bergerak cepat ke arah Wira. “Jangan!”


“WIRA AWAS!”


BUM


Pukulan luar biasa kuat membuat Wira terpental hingga punggungnya menabrak tepian berbatu, keras sekali. Tubuhnya terkulai tanpa tenaga. Kepala tertunduk tanpa kesadaran. Terlihat darah yang mengalir darinya.


Qocakau lalu menghadap Arif kembali. Melangkah kearahnya, menginjak Bunga Purnama yang sedang mekar. Arif semakin gentar, gejolak dalam diri menjadikannya gila. Arif terus mundur dengan menyeret tubuh di tanah seraya menodong pedang yang bilahnya patah.


“Tolong jangan bunuh aku.” Seru Arif penuh ketakutan. Suaranya amat lirih, dikalahkan rasa takut yang teramat besar. Air matanya mulai mengalir.


“Maaf saja.” Qocakau mengangkat tangan di hadapan Arif. Tangan itu bersiap mencabut organ dalamnya. Mata Arif menegangkan. Kematian nampak jelas di depan mata.


“Lalu Sheiny gimana? Sheiny nggak mau Arif pergi.” Terdengar suara itu dalam kepala. Arif pun bisa melihat wajah Sheiny yang memerah karena tangis.


“Ibu selalu mengawasimu, Arif.” Kali ini giliran senyuman seorang ibu yang Arif lihat. Senyum yang selalu dirindukan.


“Nenek selalu menatikan kepulangan kalian. Arif, Dokter Jago.” Nampak nenek yang tersenyum dengan giginya yang sudah ompong. Suaranya terdengar lembut dan hangat.


“Selalu tersenyum Arif meskipun dunia cemberut padamu.” Suara dokter.


“Kakak selalu mendoakan keselamatan bagimu Arif. Tetaplah berjuang dan jangan menyerah.” Ucapan Kak Haz terdengar berkobar. Jarang sekali Kak Haz menunjukkan semangatnya.


Kali ini Arif melihat jubah merah yang berkibar di hadapannya. Ada sosok terakhir yang berdiri gagah dihadapannya. Dia menoleh, menunjukkan sebagian wajahnya kepada Arif.


“Bersemangatlah. Seperti kataku sebelumnya, lawan yang paling layak kau kalahkan adalah dirimu sendiri. Kali ini kalahkan ketakutanmu, Arif!” Kata-kata yang menyala-nyala. Arif merasa dirinya dia aliri kekuatan besar.


Qocakau berhenti beberapa saat, memperhatikan saku Arif yang menyala hijau. Dia menurunkan tangannya.


“Hebat sekali. Tidak kusangkan Sang Penerus Die Hyang adalah seorang manusia rambut putih. Betapa beruntungnya aku hari ini!” Girang Qocakau.


Arif mencoba berdiri dengan kaki yang masih gemetaran. Ia angkat pedang yang bilahnya patah. Dengan seluruh tenaga yang masih tersisa, Arif akan mempertaruhkan semuanya.


“Hebat sekali. Manusia sepertimu patut menerima pujian dariku. Kukira kau hanyalah manusia lemah yang sangat pengecut.” Ejek Qocakau. Arif tidak mengendorkan kuda-kuda. Matanya menatap tajam kearah Qocakau.


“Menyebalkan sekali. Ketangguhan kalian benar-benar membuatku muak.” Qocakau meluncurkan pukulan yang tidak bisa Arif lihat.


Beruntung sekali, bilah pedangnya berhasil menahan, membuat Arif terlempar jauh.


Arif menyeka tubuh yang terluka dan kembali berdiri. Dari kejauhan Qocakau menatap dengan jengkel yang bertumpuk.


Qocakau melakukan gerakan supernya lagi. Belum Arif menyadari, Qocakau sudah ada di depannya sambil meluncurkan pukulan kedua.


Arif mengelak, sayang lengan kirinya terkena. Menimbulkan bunyi mengerikan dan Arif terhempas jauh sampai berguling di atas padang Bunga Purnama. Pedangnya juga terlepas dari genggaman. Terlempar entah kemana.


Arif mencoba berdiri, mendadak lengan kirinya dihujam rasa sakit luar biasa.


Saking sakitnya Arif ingin berteriak sekeras mungkin. Matanya berkaca-kaca. Ini benar-benar luar biasa sakit. Lengan kirinya patah.


“Tidak ada lagi harapan bagimu. Menyerahlah.” Ucap Qocakau, sombong.


Arif tidak tahu harus melakukan apa. Dalam kondisi seperti ini jelas sekali kematianlah yang akan dia dapat.


“Paling tidak aku ingin mati dengan bangga.” Gumam Arif seraya mendongakkan kepala kearah Qocakau.


Dengan seluruh keberanian yang ia miliki, Arif memaksakan senyuman diakhir hayat.


Tentunya itu membuat Qocakau bertambah jengkel. Tangan kanannya terkepal, siap menghabisi Arif dalam satu serangan. “Pergilah ke neraka.”


“Bilah keempat. Tebasa Cahaya Spiral.”


Qocakau melompat jauh, serangan barusan membuat sekujur lengan kanannya penuh luka. Serangan itu bagai barisan pedang yang menggores layaknya gerakan ular. Darah membasahi lengan kanan Qocakau.


“Akhirnya pahlawan datang juga.”

__ADS_1


Arif bisa melihat jubah merah itu kembali berkibar. Dia berdiri gagah dengan seluruh kekerenannya. Pedang sudah ia siapkan untuk memenuhi kewajiban.


Dalam kuda-kuda kokoh sosok hebat itu berucap. “Kau sudah berjuang keras sahabatku. Kini giliran Faga dwi melanjutkannya.”


__ADS_2