IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
51 Impian


__ADS_3

Lantai kayu yang sudah tua. Dinding yang mulai terlihat bekas-bekas gigitan rayap. Langit-langit rumah pun nampak tidak direnovasi puluhan tahun. Di beberapa salah satu sudut ruang terlihat seekor cicak yang sedang memperhatikan percakapan dua orang di bawahnya.


“Kenapa memilih menjadi anggota Pasukan Pelindung Matahari? Keahlian kepemimpinanmu bisa membawa nama baik keluarga kita pada perusahaan besar.” Seorang lelaki tua berwajah lusuh berbicara.


Dari matanya terlihat dia baru saja lembur semalaman.


Di tangannya ada alat tulis dan juga tintanya. Tangannya bergerak-gerak menulis sesuatu. Dia hadapkan diri pada pekerjaannya bukan kepada keluh kesah putranya.


“Tapi Ayah. Faga merasa terpanggil untuk mendaftarkan diri. Faga melihat keindahan dalam setiap ayunan pedang dan menyelamatkan orang lain.” Ucap Faga membela pendapatnya. Dia duduk bersimpuh dengan menghadap punggung ayahnya.


Ayahnya tidak sedikit pun pindah posisi. Banyak sekali keluhan warga dalam selembar kertas ini. Matanya fokus memperhatikan setiap kalimat dan mulai bosan dengan apa-apa yang putra keduanya utarakan.


“Cobalah jadi seperti kakakmu. Dia bekerja di negeri orang. Punya penghasilan besar. Karena sumbangannya keluarga kita dan desa ini bisa hidup makmur. Dengan bakat kepemimpinan yang kau miliki kau tidak akan kesulitan untuk menyamai kakakmu.”


“Bukannya itu sama saja dengan menyelamatkan orang?” Kata Ayah Faga sambil terus memeriksa catatan berisi puluhan keluhan warga.


Faga sedikit menundukkan kepala. Suasana heing beberapa saat. Hanya terdengar suara tongeret yang nyaring di luar.


Hari semakin siang. Matahari bertambah panas dan sebagai kepala desa, ayah Faga terbilang sibuk sekali.


“Ayah tidak tahu yang ada dipikiranmu, Faga_” Ayah Faga beranjak dari tempat kerjanya kemudian berjalan melewati putranya dengan kesan tidak menganggapnya sama sekali.


“Tapi pilihanmu itu menyia-nyiakan bakat yang diwariskan dalam keluarga kita. Ayah tidak akan mendukungmu.” Ucap Ayah Faga dingin dan menghilang di balik pintu ruangan tersebut.


Faga masih dalam posisi yang sama. Cukup lama. Kesepuluh jemarinya mengepal, perasaan geram merasuki hatinya.


Meski demikian Faga tetap tersenyum karena dengan tersenyum semuanya kembali menjadi indah.


Faga beranjak dari sana setelah beberapa lama memikirkan banyak hal. “Maaf Ayah. Tapi putramu tetap akan mengejar mimpinya.” Gumam Faga seraya berdiri.


Faga pergi dari rumah untuk berlatih kembali.


Empat tahun terlewati semenjak itu.


Desa berubah banyak begitu pun dengan Faga. Faga menatap desanya dengan terpesona, banyak perubahan yang terjadi disini. Banyaknya misi yang harus ia lakukan membuat Faga tidak memiliki kesempatan untuk pulang.


Kali ini berbeda. Setelah mengukir prestasi tertinggi di Pasukan Pelindung Matahari, misi-misi Faga pun semakin padat. Namun, meminta liburan untuk memberitahu ayahnya dan itu di terima.


Faga pun segera ambil langkah seribu. Dia ingin melepas rindu terhadap ayahnya.


Dua tahun sudah keduanya tidak bertemu.


“Semoga ayah sehat-sehat.” Itulah doa yang ia panjatkan selama menyusuri desa. Matanya mencari-cari letak rumahnya.


“Tidak berubah sama sekali.” Batin Faga. Seketika benaknya bernostalgia dan membayangkan wajah ayah dan kakak laki-lakinya.


“Ayah!” Seru Faga gembira, masuk ke ruang kerja ayahnya. Disana beliau tetap sibuk dengan pekerjaan yang entah selesai kapan.


“Bilanglah jika kau masuk ruang kerja Ayah.” Ucap Ayah Faga nampak tak peduli.


“Ayah, Faga ingin menyampaikan kabar gembira.” Faga segera mengambil posisi duduk bersimpuh. Matanya menatap punggung ayahnya, sama seperti dua tahun lalu.


“Kabar gembira, apa itu?”


“Faga sekarang naik menjadi anggota Pembebas di organisasi.” Ucap Faga bersemangat. Senyum melintang lebar. Ayahnya tidak beraksi apapun, masih sibuk dengan pekerjaanya daripada putranya.


“Pasukan Pelindung Matahari, maksudmu?”


“Benar! Faga akhirnya mencapai apa yang Faga inginkan.”


“Lalu setelah itu bagaimana?” Tanya Ayah Faga yang menghentikan pekerjaanya. Matanya menatap keluar, langit yang mulai mendung.


“Faga akan menyelamatkan lebih banyak orang, Faga pasti mewujudkan impian Faga menjadi pahlawan.” Ucapnya sambil mengepalkan tangan kanan, tanda semangat yang membara-bara.

__ADS_1


“Setelah itu apa yang akan kau lakukan.” Ayah Faga meletakkan alat tulisnya lalu berbalik kepada putranya dengan wajah tidak menyenangkan.


Di luar beberapa kilatan mulai terdengar, angin menjadi kencang, dan gerimis mulai turun. Suara air yang menghantam atap rumah terdengar sampa ke dalam.


Untuk pertanyaan ini, Faga memilih diam.


“Dengar Faga. Cita-citamu tidak akan memakmurkan desa ataupun keluarga kita. Tidak bisakah kau menyontoh kakakmu. Kini dia sudah punya perusahaan sendiri. Cabangnya dimana-mana. Kehidupannya pun telah mapan. Dia banyak menyombang donasi kepada kita. Desa ini tidak bisa berdiri tanpa bantuan darinya.”


“Maaf Ayah. Tapi inilah jalan yang Faga pilih. Faga ingin menjadi pahlawan. Faga ingin menuntut banyak orang kearah yang benar. Faga merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang hanya duduk sambil mengisi dokumen-dokumen.” Jawab Faga dengan merendahkan suara. Wajahnya sedikit tertunduk.


“Terserah kau saja.” Ayah Faga berbalik menuju pekerjaan yang tiada habis. Angin mendung berhembus kencang mengenai rambut Faga yang sudah sepanjang telinga.


Ada sebuah dinding yang memisahkan ayah-anak tersebut.


“Seperti kata ayah di awal. Ayah tidak akan mendukungmu dalam perkara ini. Ayah harap kau mau memikirkannya lagi.”


Setelah Ayah Faga mengucapkannya hanya ada keheningan panjang. Faga merasa semangat mulai layu.


Usahanya yang sampai berlumur darah tidak pernah diakui oleh ayahnya sendiri.


“Kalau begitu, Faga undur diri. Terimakasih atas semua, Ayah.” Faga menundukkan kepalanya dan beranjak dari ruang tersebut.


Faga menutup pintu rumahnya, melangkah keluar ketika gerimis membungkus desa. Ini sungguh menyedihkan. Matanya menatap langit yang mendung tersebut.


Kakinya mulai melangkah kembali, menjauh dari kampung halaman, menjauh juga dari ayahnya. Faga menarik nafas kuat-kuat seraya kembali mengembangkan senyuman.


“Tidak boleh. Semangat ini tidak akan padam.” Faga lantas memalingkan wajahnya pada rumah tua tersebut. Rumah yang menyimpan banyak kenangannya.


“Maafkan Faga, Ayah. Setelah ini Faga akan lebih jarang pulang. Tapi Fag janji jika ada waktu Faga akan pulang dan menemui ayah.”


Faga menghadapkan wajah kearah takdirnya.


Ribuan misi berbahaya telah menunggu lelaki yang hatinya selalu berkobar.


@@@


Itulah impian lelaki bernama Faga. Dia menempuh banyak persakitan, mengorbankan banyak hal, dan tinggal jauh dari keluarganya demi mewujudkannya.


Setiap misinya berhubungan dengan hidup dan mati. Meski begitu Faga tidak pernah gentar. Dia selalu mengembang senyum dan menyalakan kobaran semangat setiap kali ketakutan menghantui.


Dia ayunkan bilah pedang yang bersinar. Faga potong musuh-musuhnya bersama kegelapan yang mereka bawa.


Sebagaiaman sekarang ini. Tidak hanya permukaan Arkkana, kedalaman Arkkana pun mulai menerima gelombang serangan Grinsekta yang bagai air bah.


Latihan Arif, Wira, dan Yuvan pun terhenti. Seluruh lelaki di desa ikut serta, di bawah satu komando mereka menggunakan senjata-senjata seadannya demi menghandang Grinsekta. Itu sama saja bunuh diri.


Mereka tidak punya pengalaman apapun dalam melawan Grinsekta.


Nyawa-nyawa pun melayang. Jasad yang rusak tersebar di mana-mana. Darah mengaliri desa, membentuk mimpi buruk bagi semua orang. Sebuah neraka kembal tercipta.


Namun, tidak kali ini.


Faga berlari cepat ke depan, menerjang musuh-musuh yang mulai memasuki perbatas. Dengan satu lompatan kuat, ia masuk dalam formasi mereka. Seluruh mata Grinsekta memperhatikan aksi gila tersebut.


“Bilah keempat. Tebasan Cahaya Spiral.”


Faga mengokohkan kuda-kuda. Kesepuluh jemarinya menggenggam hulu pedang erat-erat lalu menggerakan bilah pedang yang bercahaya secara meliuk di udara. Seketika energi cahaya pun terlepas dalam bentuk sinar memanjang yang bergerak layaknya tornado.


Dengan kecepatan tinggi, sinar tersebut mengoyak lawan-lawannya seperti barisan pedang yang secara bergilir memberikan luka fatal.


Serangan hebat, dalam sekejap enam ekor Grinsekta di jatuhkan oleh Faga.


Faga kembali menyentak tanah, melakukan lompatan jauh. Otot-otot di kaki dan tangannya benar-benar mengerikan.

__ADS_1


Faga mendarat di dekat kumpulan Grinsekta lain. Jumlahnya ada enam dengan ukuran sebesar pohon. Faga tidak gentar. Bilah pedang terus ia ayunkan dalam tarian pertempuran seraya menghindari serangan-serangan musuh.


Faga menundukkan badan, menghindari gigitan musuh. Pedangnya segera memotong kaki kiri musuh, membuat musuh berteriak kesakitan dan hilang keseimbangan. Faga lalu melompat ke udara sambil menangkis serangan lain berupa pecut dari lidah Grinsekta berwujud kupu-kupu. Pedang segera dia ayunkan kembali, mencabut nyawa-nyawa musuhnya.


Faga menjadikan tubuh Grinsekta kupu-kupu tersebut sebagai pijakan menuju target berikutnya.


Arif dan penduduk menatap Faga dengan kagum, tidak bisa berkedip ataupun berkomentar. Teknik berpedangnya, kekuatannya, keahlianya, instingnya. Semua itu berada di level yang benar-benar berbeda.


SLASH


Faga melakukan tebasan horizontal untuk memotong tubuh Grinsekta capung. Tubuh Faga sudah bermandikan darah musuh-musuhnya. Dia terus melakukan gerakan gesit, menebas, memotong, dan memperlihatkan Kemampuan Semesta Cahaya yang sudah dipadukan dengan teknik berpedang.


BUM


Suara gemuruh memalingkan seluruh pandangan mata. Semuanya menatap sesuatu yang baru saja jatuh dari langit. Debu-debu yang mengepul, membutakan wujudnya dari orang-orang.


Mendadak sesuatu seperti lidah terjulur dengan kecepatan tinggi. Beruntung semua penduduk berhasil menghindarinya, tapi itu baru serangan pertama.


Serangan kedua datang bersama dengan terlihat wujudnya. Seekor Grinsekta berbentuk katak. Kulitnya hijau dan licin, memiliki mata hijau yang kelaparan. Lidahnya mampu menjulur sangat panjang dan bertindak layaknya cambuk. Rumah maupun pohon-pohon seketika ambruk menerima serangannya.


Kabar buruknya lagi, Faga tidak bisa kembali sekarang. Dia dihadang oleh puluhan Grinsekta berbeda dan segala arah saat mencoba kembali.


Arif, Wira, Yuvan, dan penduduk bersiaga, menghadapinya. Sia-sia saja. Perbedaan yang terlalu jauh membuat ketiganya maupun penduduk tidak bisa mendekat. Lidahnya yang seperti kombinasi mata pedang dan cambuk membuat setiap orang berpikir ulang untuk mendekat.


“Awas!” Teriak Yuvan seraya melompat menghindar. Tubuhnya mulai kelelahan karena terus-terusan menghindari sambil mencari celah.


Kaki-kakinya mulai terasa berat. Mata pedang ia tujukan kearah musuh.


Arif, dan Wira pun melakukan hal sama. Begitu pun penduduk. Mereka semua mengepung Grinsekta berwujud katak itu. Beberapa detik semuanya merasa di atas angin. Kemenangan serasa mulai tergenggam dengan mengepung musuh.


Namun, itu hanyalah tindakan bodoh.


Musuh menggembungkan tubuhnya dan dari kulitnya keluar asap gelap yang mematikan pandangn dalam jangkauan luas. Kepanikan seketika menusuk semua orang. Mereka tidak ingin membayangkan kalau tubuh masing-masing mendadak terpotong setelah kabut gelap ini hilang.


“Bilah Pertama. Bilah yang bercahaya.” Faga mendadak sudah ada di atas Grinsekta dan memberikan tebasan tepat di tengkuk seraya memutar tubuh.


Kepala musuh pun berdebum, tanda pertempuran telah berakhir.


Semuanya bersorak dengan kemenangan kali ini. Tidak terhitung berapa banyak Grinsekta yang Faga tumbangkan sendirian. Dia benar-benar hebat dan keren.


Bangkai-bangkai mereka bergelimpangan di perbatasan. Hanya satu yang berhasil masuk ke pemukiman penduduk, Grinsekta berwujud katak, dan itu membawa musibah baru.


“Tolonglah putriku!” Seorang wanita tua datang ke tabib desa seraya membawa putrinya dalam gendongan. Di punggung tangan putrinya ada luka gores kecil, tetapi luka kecil itu membuat seluruh punggung tangannya menjadi ungu. Ada racun disana.


Itu luka akibat Grinsekta tadi.


“Tolonglah! Tolonglah!” Wanita paruh baya itu memohon dengan air mata yang berlinang. Sang tabib memeriksa beberapa lama dan gelengan kepala menjadi sebuah jawaban. Air mata wanita itu pun semakin deras, sementara putrinya menunjukkan raut kesakitan. Dia sangat tersiksa.


Racun itu perlahan-lahan mulai menyebar.


Faga bisa melihat pemandangan miris itu. Kemenangan selalu saja memakan korban.


“Pada akhirnya kau tidak bisa melindungi semuanya. Kau tidak pantas menyandang gelar pahlawan.” Suara Qocakau terdengar di kepala Faga. Suara yang serak dan penuh kebencian.


“Ketidakberdayaanmu akan membuat nyawa seorang gadis tak berdosa melayang. Merasa bersalahlah dengan itu. Pahlawan palsu.” Kalimat itu segera tersambung tawa jahat.


“Kau tahu Faga. Manusia itu lemah dan tidak berdaya. Jika kau mau, aku bisa menawarkanmu kekuatan dan menjadikanmu tidak terkalahkan.” Tawar Qocakau di kepala Faga.


Faga menghela nafas berat.


“Tidak akan. Aku akan tetap menjadi diriku dan mewujudkan impianku.” Setelah menyelesaikan kalimat itu, Faga seketika menghampiri wanita yang menggedong putrinya itu. Dia menawarkan sebuah bantuan.


“Apa yang akan kau lakukan. Dia tidak akan lagi terselamatkan. Racun itu perlahan-lahan membusukkan tubuhnya. Kau tidak akan bisa menyelamatkannya.” Suara Qocakau terdengar lagi di kepala Faga.

__ADS_1


“Omong kosong dengan semua itu. Pahlawan adalah orang yang mempersembahkan dirinya demi orang lain. Akan kupenuhi tugas tersebut!”


Faga mengeluarkan bilah pedang yang bercahaya dan bersiap mengamputasi lengan si gadis.


__ADS_2