IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
66 Hantu Masa Lalu II


__ADS_3

Hari berikutnya setelah pemakaman.


Masih terdengar isak dan sedih di sepanjang jalan. Penduduk berkabung, saling menunduk wajah dengan menitihkan air mata.


Arif dan Kak Haz melewati semua itu dengan perasaan bersalah. Seumur hiduo baru kali ini Kak Haz menangani masalah pasien yang terkait hidup dan mati, kemudian gagal. Harga dirinya meneriaki berkali-kali, betapa bodohnya diriku.


Sementara di sampingnya, Arif terus melangkah dengan wajah membatu. Sorot matanya seakan tak lagi bernyawa. Beberapa kali panggilan yang ditujukan baginya pun tidak di jawab. Arif hanya terus melangkah, menghiraukan segala hiruk pikuk.


“Dia pasti sangat terpukul.” Batin Kak Haz.


Dikarenakan masa lalunya yang kelam, Arif sangat menghargai sesuatu yang disebut ikatan. Dia menjunjung tinggi hal tersebut, bahkan dalam beberapa aspek Arif bersedia mengalah selama ikatan itu dapat terus terjalin.


Namun, untuk pertama kalinya Arif menyaksikan ikatan yang putus tepat di depan matanya sebelum dia menjelaskan apapun.


Sedih dan sakit berpadu dalam hati.


Kak Haz mengalihkan pandangannya ke tempat lain, “Lebih baik kubiarkan dia sendiri dahulu.” Gumam Kak Haz pelan.


“Anak laknat! Dasar anak terkutuk! Kau membawa sial!”


Kata-kata itu menghantui benak Arif sekarang, tapi tidak ada kesakitan karenanya. Sakit hatinya berasal dari kepergian sosok yang teramat ia benci.


Aneh, Arif tidak mengerti dirinya sendiri.


”Tolong sampaikan permohonan maafku padanya.”Kalimat pendek itu memenuhi sanubarinya, membuat tubuh senantiasa bergetar dan merasa bersalah.


@@@


“Terimakasih.” Itulah kalimat yang keluar dari lisan Kak Melati.


Wanita itu menundukkan kepalanya memberikan penghormatan sebelum ketiga tamunya pergi. Arif memandanginya dengan miris, pasti teramat menyakitkan menerima kenyataan bahwa bapaknya baru saja meninggal.


Kendati demikian, Kak Melati tetap berusaha mempertahankan senyum bahkan memberikan rasa terimakasihnya atas kegagalan Arif dan Kak Haz.


Dalam hati terdalam sejatinya Arif ingin mengungkapnya semuanya, jati dirinya yang merupakan seorang anak yang pernah ia selamatkan, tapi Arif memilih diam.


“Maaf kami tidak bisa menyelamatkan beliau.” Jawab Arif seraya meremas jemari, kesal.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Saya percaya kalian sudah melakukan yang terbaik. Bapak saya disana pasti senang.” Kata-kata itu keluar bersama air mata.


Menyaksikannya membuat Arif merasa lebih bersalah. Dia menunduk, membuang muka. Arif merasa tidak punya tempat untuk meletakan mukanya disana.


“Kalau begitu kami pamit dulu, terimakasih atas semua jamuan yang nyonya berikan.” Kata Kak Haz kemudian ketiga berlalu dari pekarangan rumah Kak Melati, pergi bersama rasa bersalah yang mengakar di hati.


@@@


“Bisa kau ceritakan saja, Arif. Sebaiknya kau tidak menanggung semuanya sendiri.” Ungkap Kak Haz di atas kereta kerbau tersebut. Sheiny, disampinya mengelus pundak Arif, berharap hal itu bisa menenangkan hati yang gundah.


Cahaya jingga memenuhi langit, awan-awan berarak disana dalam formasi yang indah. Di bawah naungan itu, Arif masih tertunduk, memikirkan apakah sebaiknya dia ceritakan saja.


“Kak Melati sangat berjasa padaku, Kak Melati telah menyelamatkan masa kecilku. Dia yang memanggil Dokter Jago untuk membimbingku. Kak Melati juga selalu menemaniku bermain meski itu bisa membuatnya jadi cibiran penduduk. Tanpanya mungkin aku tidak ada disini. Aku merasa wajib membalas budinya dan_” Kalimat Arif terhenti oleh air mata yang kembali mengalir.


Dia semakin menundukkan wajah dan menutupi air mata dengan kedua telapak tangan. Sheiny tidak tahu harus mengatakan apa, begitu pun Kak Haz.


Semuanya membisu sampai tiba di rumah.


Ternyata rasa sakit itu mengakar lebih kuat dalam hati. Ini pertama kalinya Kak Haz melihat Arif semurung ini karena kehilangan orang yang sebelumnya sangat di benci.


Sepanjang hari Kak Haz memikirkan solusi untuk membantu menantunya itu.


Arif terjatuh begitu jauh sampai-sampai lebih sering menyendiri di tempat sepi. Wajahnya seakan kehilangan semangat, motivasinya padam, semuanya sangat memberatkan baginya.


Disaat inilah peran seorang istri berada.


Sheiny berusaha maksimal untuk selalu dekat dengan pasangan hidupnya itu.


“Kak Arif, hapus air mata itu dan makanlah ini.” Ucap Sheiny sambil menyuapinya ketika tidak selera makan.


“Kak Arif, ayolah bangun sudah pagi!” Katanya setengah berteriak kepada Arif yang bangun kesiangan.


“Bersihkan wajahmu itu dong, belepotan.” Sheiny membersihkan wajah suaminya yang cemat-cemot oleh makanan.


“Biar Sheiny saja Kak. Kar Arif istirahat saja.” Arif pun dengan langkah lunglai menyingkir, tugasnya digantikan Sheiny.


Itu adalah sedikit dari cinta yang diberikan Sheiny kepada belahan jiwanya. Kendati Arif tetap cemberut dan tidak membalas semua perhatiannya, Sheiny tetap melakukan semua itu dengan suka cita.

__ADS_1


Dia merasa berkewajiban untuk mengembalikan senyum suaminya.


Usaha pun terbayarkan beberapa minggu kemudian. Perlahan tapi pasti, senyum yang telah lama dinanti terukir di wajahnya. Arif pun mulai menyadarinya juga, Sheiny sangat perhatian kepadanya. Itu tidak lain untuk membantunya keluar dari lingkaran penyesalan abadi.


Maka di pagi yang cerah dan hangat, Arif memutuskan membalas semua kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.


“Terimakasih banyak karena telah memperhatikanku dan maaf karena telah menjadi suami dan menantu yang buruk.” Ucap Arif keras-keras sambil menundukkan kepala.


Cahaya menyinari rambut putihnya dan angin pagi berhembus di anatar mereka bertiga dalam ruang tersebut.


Kak Haz tersenyum tipis, menepuk pundak menantunya dan berkata, “Ini juga bagian dari tugasku sebagai mertua.”


Mata Arif lalu menatap istrinya yang tersenyum lebar padanya. Arif membalas dengan senyum yang sama. Pagi hari yang membahagiakan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu.


Terlalu tiba-tiba, semuanya lantas menoleh ke sumber suara. “Biar aku saja.” Kak Haz bangkit dan berjalan menuju pintu depan.


Mendadak tertiup angin kelam dalam dada Arif. Jiwanya merasa tidak tenang, Sheiny bisa menangkap hal itu dari ekspresi Arif. “Ada apa Kak_”


Belum selesai kalimatnya, Arif langsung bangkit menyusul Kak Haz.


Ini perasaan aneh, kenapa muncul? Batin Arif.


Di hadapannya, Kak Haz mempersilahkan masuk dua sosok kaum hawa.


Salah satu adalah Kak Melati dan yang lainnya adalah Bibi Nilam. Benar, Bibi Nilam. Meski sudah lama tidak bertemu, benaknya menyimpulkan hal tersebut setelah memperhatikannya beberapa saat.


Tubuh Arif mematung. Dalam kepalanya seketika memutar kejadian yang telah lewat satu dekade itu.


“Dasar anak laknat!”


“Rambutmu putih, itu mengerikan! Sumber segala petaka dan kesialan. Anak sepertimu tidak layak untuk dilahirkan!”


Kalimat yang kembali dari masa lalu. Akankah luka lama terbuka kembali?

__ADS_1


__ADS_2