
Ini benar-benar neraka.
Suasana yang gelap, dingin, dan mencekam. Ketakutan dan kecemasan yang muncul tiap akan menatap kegelapan. Tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa. Aku akan selamat.
Gemetar itulah yang sedang dirasakan lelaki pembawa pedang.
Siapa yang menyangka kemarin dirinya melihat matahari, kini dirinya melihat tubuh teman-temannya yang tercabik. Rusak, berantakan, tidak lagi berbentuk. Mengerikan sekali.
Banyaknya darah yang ditumpahkan membuat bau anyir bisa tercium dari jarak yang jauh.
Wajah mereka, tangisan mereka, teriakan mereka ketika taring-taring monster mengoyak. Pemandangan yang tak bisa ia lupakan. Membayangkan jerita mereka saja adalah sebuah siksaan. Apalagi mengalaminya.
Kemampuan, teknik bertarung, keunggulan fisik, dan kekokohan mental. Semua itu tak ada bedanya dengan bulu yang dihempas angin ketika kematian telah jelas di depan mata.
Senior Tein melalui semua itu dengan syok berat. Sekujur tubuhnya penuh luka dan lelah. Otot-otot di dalam tubuhnya berteriak-teriak seakan memberitahu telah mencapai batasan.
Meski dengan satu tangan dan tubuh yang telah hancur Tein tetap menyalakan cahaya harapan. Dia menembus kegelapan seraya menggedong salah satu rekannya yang tak sadarkan diri. Kondisinya lebih parah. Kedua kakinya terbalutan perban yang sudah memerah di atas lutut. Kakinya sudah tidak utuh lagi.
“Berjuanglah. Lebih lagi, lebih jauh lagi. Pasti yang lain akan segera memberi bantuan.” Senior Tein menggemakan tekad dalam hati.
Dia terus melangkah, tanpa arah. Satu hal yang dia percayai, di ujung kegelapan ini cahaya keselamatan bersinar terang.
Keringat berjatuhan, darah dialirkan dari lengan dan pelipis. Kedua kaki telah mati rasa, tubuhnya terasa sangat panas seperti terbakar. “Lebih kuat lagi.” Batin Senior Tein sambil menggretak kelemahan fisiknya.
Tubuhnya ambruk tidak berapa lama. Terjatuh tanpa kesadaran di tengah kegelapan dan keputusaan.
Tidak jelas berapa lama dia menutup mata, tapi sesuatu yang dia dengar setelah itu adalah permintaan yang benar-benar mustahil ia wujudkan. “Tolong bunuhlah aku.” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut teman seperjuangannya.
“Tidak mungkin. Jangan gila! Kita akan kembali bersama-sama.” Ucapnya dengan air mata yang mulai terburai.
Temannya dengan raut pucat pasi menahan sakit, kembali mengutarakan kenginan terakhirnya. “Karirku sudah berakhir Tein. Aku hanya akan merepotkanmu. Lagi pula jika aku mati, kau bisa menggunakan tubuhku untuk mengecoh para Grinsekta itu.”
“Tidak akan, tidak akan pernah! Sudah cukup pengorbanan yang lain. Kita berdua harus mencapai permukaan.” Air mata Tein kian menderas. Ekpresinya campuran antara marah dan kecewa.
“Tein, jangan biarkan emosi menguasaimu, kau adalah prajurit yang bergerak berdasar logika dan pengamatan. Kau seharusnya tahu aku ini hanya akan merepotkan. Lagi pula aku tidak masalah mati disini. Aku tidak memiliki keluarga, tidak akan ada orang yang mempermasalahkan kepergianku.” Kalimat tersebut menusuk dalam kalbu Tein.
Seluruh tekad untuk pulang bersama temannya itu hancur oleh permintaan akan kematian. Tein tidak mampu berkata-kata. Sebagian dirinya pun membenarkan perkataam temannya. Wajah semakin tertunduk dalam jurang keputusasaan.
“Ambilah pedangmu dan penggalah aku.” Tambahnya seraya membuka tengkuk. Suaranya sudah terdengar sangat kaku dan kesakitan. Rasa sakit kehilangan kedua kaki, siapa yang bisa membayangkanya?
Tiga puluh tahun lebih Tein mengabdi pada Pasukan Pelindung Matahari, baru kali ini dia rasakan tekanan yang mampu menghilangkan kewarasannya. Dia angkat pedangnya dengan gemetaran yang besar. Pandangannya menghadap tengkuk sahabatnya, tempat mata pedang akan dijatuhkan.
Dalam sepersekian detik, muncul memorinya dengan sahabatnya itu dalam kepala. Tein tidak bisa berpikir jernih, aliran darahnya seakan meledak-ledak.
Tein setuju untuk mengakhiri penderitaan sahabatnya.
Tapi...
“Segera selesaikan Tein. Aku akan bangga mati di tanganmu.” Tidak terbayang ucapan itu keluar bersama senyuman.
Tein tidak sanggup lagi melawan kejolak batin. Pedang dia angkat tinggi-tinggi dan dengan sebuah ayunan kuat dia berikan kematian kepada sahabat terbaiknya.
Air mata dan darah mengalir deras disana. Berhari-hari Tein merasa menjadi makhluk paling berdosa. Jerit tangisnya muncul terdengar sangat keras, tapi tiada yang peduli dalam kegelapan itu. Tidak ada satu orang pun yang mendengar dan paham deritanya.
__ADS_1
@@@
“Apa yang kau inginkan, Pembebas?” Ucap senior Tein sebal. Matanya mengarah tajam kepada Faga.
Faga segera duduk disamping senior Tein.
Hari ketiga sejak memulai penjelajahn. Tim dua belas orang itu memutuskan menjelajah sekitar tempat itu lebih jauh, mencari keberadaan Bunga Purnama sekaligus menunggu kedatangan tim medis untuk menjemput senior Tein.
“Menghibur senior. Senior pasti baru saja melewati hari-hari yang mengerikan.” Ucap Faga dengan senyum kepada seniornya.
“Aku tidak butuh hiburan. Lebih baik kau tinggalkan kusendiri. Suasana hatiku benar-benar buruk.” Balas senior Tein seraya membuang muka dari Faga.
“Untuk itulah aku disini.” Balas Faga, tetap dengan kata-kata yang cerah. Itu sedikit menganggu Senior Tein.
“Enyahlah! Aku benci semua ini.” Senior Tein bangkit dan meninggalkan Faga.
Faga berencana mengejar senior Tein, gerakannya terhenti oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan senior Tein. Arif.
Wajah Arif nampak sedikit marah. Kedua tangannya mengepal. Mata menatap tajam kepada lawan bicaranya. Dia seakan sedang menahan gejolak emosi dalam dirinya.
“Ada apa ini. Otak udang, jangan halangi jalanku.” Senior mengipaskan tangannya kepada Arif, menyuruhnya menyingkir.
“Tidak. Aku tidak akan minggir sebelum senior Tein mengakuiku mampu mendapat Bunga Purnama dan menarik semua ucapan senior kemarin.” Ucapan Arif terdengar mengancam.
“Heh, otak ada dimana Arif? Kalau kau ingin mendapat Bunga Purnama apa hubungannya meminta pengakuan dariku. Pergilah, jemput mautmu itu.” Ucapan senior Tein meninggi. Wajahnya mulai memerah.
“Tidak, sebelum senior manerik semua kata-kata senior kemarin. Tentang nenek, tentang Sheiny, tentang keluarga Kak Haz. Aku tidak bisa memanfaatkan orang-orang yang menginjak-injak keluargaku.” Wajah Arif pun mulai memerah, mata melotot semakin tajam.
“Hei, hei, mari kita selesaikan ini secara damai, oke.”Faga muncul dianatar Arif dan senior Tein, berusaha menengahi.
Faga memperhatikan tatapan seniornya beberapa detik. Ada yang aneh disana.
Faga sudah beberapa kali bertugas bersama senior Tein. Hal itu memberikannya pemahaman akan sosok seniornya. Kebiasaan, hobi, sampai makanan yang senior Tein sukai, Faga mengetahuinya.
Kala itu pertama kalinya Faga melihat sesuatu yang sangat berbeda dari senior Tein. Sorot matanya seperti marah dan jengkel yang menyatu, tapi di dalamnya ada sebuah rasa bangga.
Apakah disebabkan tindakan Arif? Pikir Faga.
Belum sempat menyadari apapun, tubuh Arif mendadak menghantam tanah dengan keras. Arif mengaduh, merasakan sakit di pipi kiri dan lengan kanannya. Apa yang barusa terjadi?
Arif berusaha bangun kemudian mengelap lukanya. Faga memilih menjauh, dia bisa membayangkan kemudian akan terjadi. Sebagaiaman ucapan seniornya, ini urusanku dan si otak udang.
“Terkejut? Jika kau sampai jatuh hanya karen pukulan lelaki tua yang hanya memiliki satu kaki, mana bisa kau berdiri di tengah kegelapan Arkkana? Lemah! Sangat Lemah!” Teriak senior Tein sambil melototi Arif.
“Seranglah aku dan tunjukanlah nilaimu disini.” Ucap senior Tein, sombong.
“Tidak akan. Aku tidak akan menyerang seorang yang terluka. Tidak terhormat.” Balas Arif.
“Apa kau mencoba mengejekku?”
“Kalau kujawab ya bagaimana.” Tantang Arif. Sedetik Arif bisa melihat senyum keji melintang di wajah senior Tein.
“Sungguh Aneh. Cepat sekali kau keluar dari jurang keputusasaan. Biasanya para jenior lari ketakutan atau menangis seperti bayi setelah kuhancurkan mimpi-mimpi mereka. Lumayan otak udang. Mari lihat seberapa sungguhnya dirimu.”
__ADS_1
Senior Tein menghilang dari pandangan Arif. Kondisi sekitar yang remang-reman semakin merugikan kemampuan penglihatan Arif.
Senior Tein adalah salah satu anggota paling di tuakan. Kemampuan jauh diatas rata-rata. Rumor mengatakan dia pernah mengalahkan beruang besar hanya dengan tangan kosong.
BUG
Pukulan yang sempurna. Telak mengenai wajah Arif, tanpa Arif sadari. Arif segera meraih keseimbangan dengan menghentak telapak kaki kanan. Sorot Arif menatap tajam kearah senior Tein.
Serangan berikutnya datang, dua pukulan satu tangan yang kuat dan cepat. Tubuh Arif ambruk ke tanah. Meski tubuh senior Tein masih kritis, dia tetap bisa melancarkan serangan yang kuat. Benar-benar tidak logis.
“Bangunlah Arif. Melihatmu seperti ini membuatku semakin meragukanmu. Apakah semua kata-katamu hanya gertakkan. Tidak berbobot sama sekali.” Ejekan senior Tein disambung oleh tawa yang panjang.
Arif berusaha bangkit.
Keahlian seseorang yang sudah berpengalaman di Pasukan Pelindung Matahari benar-benar berbeda. Arif mengelap darah yang keluar dari sudut bibir.
Perutnya sungguh terasa sakit, pukulan senior Tein sangat kuat padahal kondisi tubuhnya sangat tidak mendukung. Bagaiaman mungkin bisa begitu?
@@@
“Jadi bagaimana hasilnya?” Tanya Avin tanpa melepaskan kertas hasil pemetaan terbaru di daerah sana.
“Mungkin aku membuat kesalahan. Senior Tein memaksa Arif menunjukkan kesungguhannnya. Dia mengajaknya bertarung.” Balas Faga yang duduk disamping Yuvan sambil melihat gambarn peta baru.
“Tunggu dulu, aku tidak salah dengar. Bertarung? Arif dalam masalah besar.” Raut wajah Avin berubah panik.
“Aku pun setuju denganmu tapi ada_”
“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang juga kita hentikan senior Tein.” Potong Avin. Ekspresinya menunjukkan ketidak suakaan terhadap tindakan Faga.
“Tunggu dulu, kupikir dengan begitu kita bisa melihat keahlian Arif lebih_” Faga mencoba menjelaskan tapi dipotong lagi oleh Avin.
“Kau pikir Arif bisa bertahan dari Sang Pembebas? Kau tahu bukan senior Tein itu. Dia diposisi pertama dalam menjalankan tugas-tugas paling berbahaya sekaligus pemiliki catatan terbaik dalam menumpas Si Penggenggam Matahari. Pukulannya bisa saja membunuh Arif.” Wajah Avin mulai berkeringat. Perempuan itu sangat mencemaskan keselamatan Arif.
“Kalau kau tak mau biar aku saja.” Avin berlari, berniat melerai senior Tein dan Arif. Faga mencengkram pergelangan Avin, mencegahnya.
“Percayalah. Terkadang kita perlu mengambil keputusan gila untuk merubah keadaan. Mungkin dengan begini bisa semakin menguatkan kepercayaan yang lain terhadap Arif.”
Beberapa saat sorot mata kedunya bertemu. Sesuatu yang membuat tubuh Avin beberapa saat membeku dan tidak bisa mengalihkan pandangan dari Faga.
“Lepaskan!” Avin meronta, membuang muka dengan geram. Di langsung kembali ke pekerjaanya.
“Hanya kali ini aku percaya keputusan gilamu. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau kemungkinan terburuk menimpa Arif.” Suaranya terdengar jengkel sekali.
Avin segera menjauh, menyembunyikan wajahnya yang perlahan memerah.
“Tunjukkan kesungguhanmu otak udang!” Senior Tein mengejek lebih keras. Beberapa anggora tim pencari mulai mengerumuni keduanya, menyaksikan pertarungan itu tanpa ada keberania menganggu.
Mereka semua tahu betul siapa itu senior Tein.
Untuk kesekian kalinya, Arif terus bangkit berdiri, berulang kali, berkali-kali. Menyeka luka dan kelemahan diri. Sungguh aneh, dari mana datangnya motivasi sebesar ini.
Rasanya tubuh ini tidak bisa berhenti untuk berdiri. Setiap ejekan yang dilemparkan senior Tein malah menyalakan semangat Arif.
__ADS_1
Setiap luka memberi dorongan untuk terus bangkit. Setiap rasa sakit memberitahu bahwa diri ini masih mampu untuk berjuang lagi.