IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
22 Cara Mendapat Sahabat


__ADS_3

Pembicaraan beberapa hari yang lalu dengan Ibu Haz membuat Arif sadar bahwa dirinya sangat sendirian, kesepian. Tidak aneh menyebutnya anak yang abnormal. Arif hampir-hampir tidak bisa menyampaikan pendapat atau keinginan pribadinya kepada orang lain.


Perhatikan orang lain. Bermain-main dengan bahagia sampai lupa waktu. Mereka lalui dengan canda dan tawa, sangat bermakna.


Hidup mereka seakan bisa bercahaya jika dibandingkan dengan Arif. Semakin memikirkan itu, Arif merasa hidupnya tidak akan pernah lebih baik daripada binatang ternak.


Diinjak-injak, dihina, tidak pernah dimanusiakan seakan itu semua adalah takdir yang harus ia penuhi. Kegelapan sangat dekat dengan hatinya.


Semua derita yang ditanggung membuatnya lupa akan orang-orang terdekat. Orang-orang paling hebat yang pernah Arif temui, tokoh-tokoh yang nantinya merubah dunia melalui tangan seorang Arif.


Maka pertanyaan yang muncul adalah, “Maukah Arif menerimanya?” Memeluk semua kekacuan, kebencian, kesedihan, kelebihan, kebahagian, dan semua tentang dirinya untuk menjadi sosok rovulusioner masa depan.


Tentunya bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk anak yang tidak pernah mengerti apa itu definisi bahagia. Biarlah keindahan ini menjadi mimpi atau dongen terlebih dahulu.


@@@


Ini hari keempat Arif berada di kediaman Haz. Aktifitas harian sebagaimana hari pertama. Bangun pagi-pagi, berolahraga , membersihkan rumah, istirahat, makan, dan tidur. Terdengar sangat membosankan ya. Tapi begitulah hidupnya yang Arif idamkan.


Kehidupan yang normal.


Pagi hari keempat ini berjalan lebih baik. Arif bangun tanpa guyuran segayun air. Tentunya Arif tidak mau mengalaminya lagi. Dia sudah mengantisipasinya dengan tidak tidur terlalu malam.


Sebegaimana hari pertama, Arif berolahraga bersama Haz. Awalnya dia sempat berfirasat buruk tentang ini, untungnya itu tidak terjadi. Arif dan Haz berolahraga di halaman depan rumah.


Dengan selimut udara paling segar dan suasan paling asri, aktivitas itu terasa berbeda. Cobalah.


Namun, entah mengap Arif kembali ambruk sebagaimana hari ke dua dan tiga, tidak tahu itu disebut terlalu serius atau terlalu bersemangat. Haz memasang tatapan aneh kepada adiknya. Arif melakukan olahraga sesuai dengan ekspetasinya bahkan lebih, dia memaksakan diri.


Sebenarnya ada apa dengan adiknya ini, motivasi dadakan? Pikir Haz. Merepotkannya lagi, hari ini Arif melakukannya sampai pingsan. Sesuatu yang aneh jika disangkut pautkan pada pribadi Arif.


Matahari mulai naik. Langit berubah biru lautan. Dahan-dahan pohon bergoyang, rerumputan di bawahnya mengikuti. Keduanya nampak senang menyambut hari baru. Selamat datang hari yang cerah.


Haz membawa Arif ke kamarnya. Meletakannya pada kasur lipatnya dan meletakan segelas air dan beberapa cemilan tidak jauh darinya. Haz lantas pergi kebelakang rumah. Terlihatnya sedang sibuk bercengkraman dengan sahabat-sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan tanaman dan bunga-bungan berkelopka warna-warni.


“Ibu, Haz akan pergi mencari beberapa tanaman bersama Gagug.” Seru Haz sedikit jauh ibunya. Di samping Haz, Gagug, anjing gunung berbulu abu-abu itu sudah bersiap. Ibu Haz mengangguk dan pastinya mengatakan, “Hati-hati.” Sembari melambai tangan.


Haz memakai pakain coklat dan capingnya yang sekarang dikalungkan di leher. Tidak dia lupa tas kulit berisis barang-barang yang dia butuhkan dalam penelitian ini. Sedangkan Gagug juga membawa tas kulit kecil yang diikatkan dalam punggungnya, untuk jaga-jaga.


Haz dan Gagug menuju tempat dimana dia mengajak Arif olaharaga pada hari pertama. Disana banyak tumbuh tanaman-tanaman eksotik dengan bentuk unik. Dapat diibaratkan itu adalah taman bermain untuk Haz.


Pohon berdaun jarum, tanaman bunga yang merambat, pohon yang memiliki buah beragam warna, dan banyak lainnya. Tanaman-tanaman tidak pernah dia temui selama melakukan pengembaraan bersama Guru Jago.


Haz juga memastikan bahwa karakter tanah disana sedikit berbeda dari tanah-tanah kebanyak. Tanahan tumbuh di atas tanah, tentunya Haz juga harus mengerti mengenai tanah.


Setiba di tempat yang dimaksud, Haz segere mengeluarkan sehelai dari berwarna coklat kekuningan. Daun itu menyirip dengan tulang daunnya yang juga menyirip. Unik. Haz memberikannya pada hidung Gagug.

__ADS_1


Gagug mengendusnya. Beberapa saat dia memutar-mutar kepalanya, dia sedang memfungsikan indra penciuman. Haz menunggu sambil memasukan daun itu kedalam sakunya.


Menangkap bau yang sama, Gagug menyalak kemudian berlari mengejar bau tersebut. Haz mengikuti di belakang. Keduanya berlari menembus pepohonan berdaun lebat. Pekerjaannya dimulai kembali.


Di rumah, Arif siuman ketika matahari setengah jalan menuju tempat tertinggi. Matanya terasa berat dan tubuhnya pegal-pegal. Arif sedang memikirkan kejadian terakhir yang dia ingat. Kepala terasa sedikit sakit.


“Oh, latihan”


Arif kemudian menatap sepiring cemilan roti kering di depannya. Itu buatan Haz, makanan kesukaanya. Arif menegakkan tubuhnya dan mulai memasukan roti kering tersebut.


Sembari mengunyah, dikepalanya kini terbayang banyak hal. Mulai dari latihan-latihan yang dia lakukan, agenda setelah ini yaitu bersih-bersih sampai roti buatan Haz yang nampaknya semakin enak di lidahnya. Suasana hati Arif sedang baik.


Menghabiskan setengah piring, Arif beranjak dari kamarnya. Dia mengenakan pakaian yang sama, sebuah kaos berwarna merah bata. Itu adalah kaos pemberian Haz. Arif menuju belakang rumah untuk mengambil sapu lidi besar. Waktunya bersih-bersih.


Tugas Arif adalah membersihkan halaman depan dan belakang rumah. Berhubung rumah Haz terlingkupi ileg pohon-pohon, dedauan pun selalu meramaikan di halamannya.


Dengan sapu lidi dengan ganggang kayu, Arif mengumpulkan daun-daun itu. Sebagian dia timbun di dekat pohon-pohon, sebagian yang lain dia kumpulkan di sebelah gubuk taman belakang rumah.


Daun-daun itu nantinya akan diolah oleh Haz dan ibunya. Katanya dijadikan pupuk berkualitas. Arif menurut intruksi saja.


Selesai dengan pekerjaanya, matahari sudah tepat di atas kepala. Meski langit-langit disekitar halaman rumah Haz dikelilingi pohon-pohon panasnya matahari masih sanggup membuat Arif banjir keringat setelah menyapu.


Dia menepi unutk beristirahat. Duduk di gubuk sambil mengipas-ngipaskan diri dengan telapak tanga. Cukup nyaman.


“Terimakasih Arif.” Dari ujung pintu, Ibu Haz muncul sambil membawa dua gelas minuman dan sepiring potongan buah segar. Pastinya dia juga membawa senyum . Hal yang selalu Arif perhatikan dari Ibu Haz adalah rambutnya seperti sekarang ini. Warnanya putih sebagaimana miliknya.


“Bagaimana rasanya?” Ibu Haz bertanya.


“Sangat segar dan manis.” Jawab Arif. Ibu Haz tersenyum, tidak salah dia memilih buah. Arif mengambil beberapa potongan daging buah lagi.


“Nenek, apa ini buah pir?” Arif ingin mengonfirmasi sesuatu.


“Iya, nenek tadi pagi membelinya di pasar. Kata orang-orang buah ini cocok dimakan waktu cuaca panas seperti ini.”


Jadi benar ya. Batin Arif. Buah ini mengingatkan pada memori-memori masa lampau. Ibu.


Pir adalah buah favorit ibu. Namun, Arif tidak pernah melihat ibunya memakan buah pir atau hanya sedikit. Apakah buah-buah pir itu diberikan kepadaku. Pikir Arif.


Arif melamukan hal itu beberapa saat, sepertinya banyak sisi dari ibu yang tidak Arif ketahui. Ibu Haz membiarkannya, tidak mau mengganggu.


Empat detik memikirkan hal itu mengundang kesedihan kecil di lubuk hati. Arif menepisnya kuat-kuat. Tidak boleh terlarut-larut. Arif sudah berjanji untuk menjadi anak yang membanggakan orang tua. Arif menggenggamkan jemarinya yang gemetaran. Ini menyedihkan.


“Apa nak Arif ingin punya banyak sahabat.” Ibu Haz mengalihkan topik. Beliau bisa melihat kesedihan di bola mata Arif.


Arif berpikir beberepa saat.

__ADS_1


Sahabat. Dalam kepalanya terbayang orang-orang dengan definisi baik menurut Arif. Orang-orang yang mau menerima sekalipun rambutnya putih.


Arif mengangguk kuat-kuat. Dia ingin sekali sahabat, khususnya yang seumuran. Dulu ketika di kampun halaman, Arif selalu iri terhadap anak-anak desa lain. Dirinya bekerja sementara mereka bermain bersama. Menyenangkan.


Arif ingin merasakan momen-momen itu.


Namun bercermin dengan dirinya sendiri, Arif merasa tidak akan bisa mendapatkannya.


“Ayo nak bersemangatlah.” Ibu Haz menepuk punggung Arif sedikit keras. Beliau memberikan senyum lebarnya.


“Nenek akan membantumu mendapat sahabat. Nenek janji.” Mendengar pernyataan itu, Arif menoleh segera kepada Ibu Haz. Mata Arif berbinar, menapilakan sejutan harapan yang terselip disana.


“Terimakasih nenek.” Ucap Arif. Pembicaraan ini sukses mengubah suasana hatinya yang sempat mendung.


“Jadi kapan?” Arif bertanya, sedikit kikuk.


Ibu Haz tersenyum kecil. Anak yang baginya sudah seperti cucu sendiri ternyata tidak sabaran dalam hal ini. “Sekarang pun tidak mengapa. Mari awali dengan latihan komunikasi.”


Rasanya seperti ada yang mengganjal dalam hati Arif. Komunikasi memanglah sesuatu yang tidak pernah Arif harapkan lebih baik lagi. Namun, jika tulah syarat untuk mendapat sahabat. Arif siap melakukannya. Atmosfer ini membuat dadanya berdegub kencang.


@@@


Sore harinya, ketika bertiup angin bersahabata.


Arif membuka catatan yang di buat tadi siang bersama Ibu Haz. Dia namakan catatan itu sebagai catatan persahabatan. Dalam catatan tersebut tertulis ungkapan-ungkapan atau kalimat untuk menyapa orang lain dan memperkenalkan diri. Arif membacanya baik-baik dan coba menghafalkan. Dia serius sekali.


Arif membacanyadi halaman belakang rumah. Dia sependapat dengan Ibu Haz bahwa ini adalah bagian rumah yang paling menarik dan indah. Lihat saja, di depannya berbaris pot-pot bunya berkelopak warna-warni. Menyegarkan pandang.


“Hey, kita bertemu lagi.”


Arif menoleh ke asal suara. Terdengar tidak asing. Arif juga mencium bau harum bunga.


Arif nampak terkejut dengan sosok dihadapannya. Lelaki tinggi berambut perak. Bau harum bunga berasal dari dirinya. Seketika sosoknya mengingatkan Arif terhadap kenangan pahit. Arif langsung mengalihkan pandangan, kembali dalam bacaanya.


“Jangan begitu Arif. Sahabatmu datang. Paling tidak sapalah.” Dia mulai sok kenal. Arif menjadi sebal. Dia langsung menunjukkan lewat dahi terlipat.


Lelaki berambut perak itu menyadari kehadirannya sedang tidak dinginkan Arif. Ya lapi pula dia juga sedang ada tugas penting. Tujuannya kesinin hanya untuk memberikan sebuah hadian kepada Arif.


Lelaki itu merogoh sakunya dan langsung meletakkan benda tersebut di hadapan wajah Arif tanpa bilang-bilang. Sontak Arif terkejut sampai terjungkal kebelakang. Lelaki berambut perak itu malah tertawa-tawa.


Arif bertambah jengkel. “Maaf-maaf. Aku hanya bercanda.” Ucapnya, dia tersenyum seakan tak berdosa pada Arif.


Arif membenarkan posisi duduk dan kembali tidak menghiraukan kehadirannya. Namun, benda yang ditunjukkan lelaki berambut perak itu sangat menarik bagi Arif.


“Apa itu.” Tanpa sadar Arif bertanya. Rasa penasarannya sangat besar terhadap benda dari kaca tersebut.

__ADS_1


“Kau pasti akan suka ini. Benda ini namanya cermin.” Ungkap lelaki berambut perak.


“Cermin?”


__ADS_2