IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
33 Siapa Pencurinya?


__ADS_3

Pagi hari ini terasa lebih dingin dari pagi-pagi yang lain. Hari masih gelap dan matahari belum terbit.


Angin yang dingin berhasil membangun orang-orang dari mimpinya. Begitu pun dengan Hamka. Lelaki itu menatap langit-langit rumahnya yang sudah tua sembari mengumpulkan kesadaran. Matanya lantas menatap keluar jendela, memperhatikan pohon-pohon yang berdiri di luar sana.


Hari-hari seperti biasa kembali berjalan.


Hamka melakukan rutinitas pagi sebelumnya melakukan pekerjaanya. Membuat bubur untuk kakaknya, olahraga, membersihkan rumah, dan pergi ke pasar sebagai pemberi jasa angkut barang.


Meski kehidupannya terdengar menyedihkan, Hamka berusaha untuk selalu mensyukurinya. “Selama bisa hidup pun itu sudah bagus.” Itulah hal yang dia yakini sejak hidupnya lebih buruk dari sampah.


“Mereka sudah sampai belum ya?” Gamamnya sambil menunggu bubur matang. Hamka mencoba tersenyum. Kata Dokter Jago, senyum membuat hati lebih baik dan cerah.


“Semoga doter baik-baik saja.”


Di tempat lain dalam waktu yang hampir bersamaan. Wilayah itu tertutup dedaunan lebat di atasnya. Alasnya penuh dengan bermacam tanaman dan semak belukar. Terlihat enam remaja yang sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.


Bara mematikan api unggun, Pala-lapa, dan Arif mengecek berbekalan, Wira, Faga, Fasih memeriksa peta dan memikirkan rencana kedepannya. Keenamnya nampak serius sekali.


Keenam remaja itu sangat siap dengan petualangan ini. Mereka membawa perbekalan penuh, Bara bahkan sampai menjahit tas baru yang nyaman untuk perjalanan ini.


Terlihat dalam pasang mata mereka, ambisi untuk menuju Hutan Mimpi.


“Dari sini kita tinggal berjalan ke utara. Hutan Mimpi terletak di seberang sungai besar.” Wira menjelaskan sambil menunjukkn jalur di peta.


Faga memperhatikan baik-baik lalu membuka kompasnya, memastikan arah utara. “Bagus.”


“Semuanya, apa kalian sudah siap.” Faga berbalik kepada teman-temannya yang lain.


“Sudah.”


“Perbekalan dan barang-barang, pastikan tidak ada yang tertinggal, api unggun pastikan benar-benar padam. Kita tidak akan meninggalkan jejak disini.” Ucap Faga sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. Matanya melebar, suaranya menegas.


“Beres kapten.” Balas yang lain bersamaan.


Perjalanan pun itu di lanjutkanya. Faga dan Wira yang paling depan. Keduanya pemimpin rombongan, merekalah yang memastikan tidak salah arah.


Arif dan Bara bertugas memperhatikan sekitar. Keduanya memiliki mata yang waspada sehingga tugas mengintai sekitar adalah yang paling cocok untuk mereka. Beberapa kali Arif melihat kera yang bergelantungan di langit-langit pohon.


Mereka itu menatap aneh kepada enam remaja itu. Mungkin pertama kalinya mereka melihat ada kera tak berbulu.


Fasih yang bertugas memutuskan tindakan dengan memperhatikan pendapat Wira dan Faga dan Pala-lapa. Dia adalah otaknya, berpikir cepat, berhitung kemungkinan, dan memprediksi alur perjalanan ini.


Sementara tugas Pala-lapa adalah bersantai, menikmati perjalanan ini. Itu membuatnya sedikit kesal. Tugas benar-benar tidak seru.


Rute hutan rimbun tidaklah mudah. Langit-langit hutan yang sempurna tertutup kanopi dedaunan membuat pencahayaan sedikit kurang. Dalam hutan pun sangat lebat, jarak pandang kekejuahan tertutup barisan pohon dan semak belukar.


Sulit untuk memperkirakan jika ada sesuatu yang datang dari titik buta.


Nekat dan bodoh menjadi satu dalam petualangan ini. Tanpa pemandu keenamnya sama saja memberikan nyawa untuk menjadi tumbal alam. Bukan tidak mungkin hewan buas akan menyerang.


“Tetap fokus Arif, Bara. Nyawa kita bergantung pada indra super kalian.” Fasih memecahkan suasana yang sedari tadi tegang dan hening.


“Itu benar, benar sekali.” Faga menyaut sambil menepuk tangan. Bara mendadak menghentikan langkah.


“Kalian bisa mendengarnya?” Ucap Bara kepada yang lain. Tentunya yang lain mendengarnya.


Dalam satu detik, suasana berubah tegang dan mendebarkan. “Aku suka ini.” Ucap Pala-lapa dengan wajah menahan panik.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang bergemuruh. Ada hewan dengan rombongan besar yang bersiap lewat.


Suaranya semakin keras dan keras. Mereka semakin dekat, tanah di bawah Arif terasa bergetar.


“Semuanya, naik ke atas pohon.” Fasih memberi intruksi. Semua pasang mata lantas memandanganya untuk memastikan. Sorot mata Fasih mantap dengan pilihan itu.


Keenamnya lantas naik keatas pohon secepatnya.


Ketegangan bertambah ketika tanah semakin kuat bergoyang, suara langkah kaki sudah seperi badai. “Ayo cepat.” Bara memberikan tangannya pada Arif, Arif menggapainya namun karena panik tasnya malah jatuh.


“Tinggalkan saja, teriak Fasih dan Bara bersamaan.” Arif mengerti, merelakan tas kulitnya.


Dalam dua detik, dari balik semak-semak lebat muncul rombongan **** hutan dalam jumlah besar. Bulu mereka gelap-gelap dengan sula mengerikan muncul di depan mulut masing-masing. Tubuh mereka besar-besar dengan dan berwajah tidak bersahabat.


Pemandangan mengerikan.


Kaki-kaki mereka seperti mesin pencacah, apapun yang diinjak hancur lebur. Pohon yang keenamnya naikki pun terasa bergetar hebat seperti akan tumbang karena langkah kaki mereka. Fasih memperkirakan, jumlah **** hutan itu ratusan ekor. Rombongan mereka lewat sungai.


Fasih tidak mau membayangkan jika sampai terpeleset dari pohon.


Cukup lama keenamnya diatas pohon sebelum turun. Tanah yang baru saja dilintasi monster itu menjadi tandus, tanaman rusak, jejak-jejak mereka tidak terhitung. Pengalaman tak terlupakan.


Arif segera meraih tasnya. Kondisinya benar-benar mengenaskan. Terkoyak-koyak, isinya pun hancur berantakan. Tas kulit itu hanya tinggal potongan kain. Arif dengan wajah panik merohon tas yang sudah tidak berbentuk.


“Ada apa Arif?” Bara yang disebelahnya penasaran reaksi Arif. Semunya mendekat dan memperhatikan Arif.


“Warisan ibuku, warisan ibuku.” Kalimat Arif tercampur panik. Tangan Arif mulai mengais-ngais tanah untuk mencari benda paling berharga. Keringat mengalir dari wajah.


“Apa sedang kau cari Arif?” Fasih menawarkan bantuan dan disusul yang lain.


Sahabat-sahabatnya tentunya tidak paham apa yang Arif katakan, tapi mereka tahu itu adalah benda yang sangat penting.


Ciri-ciri, berbentuk batu dengan warna hijau. Baiklah, sahabat selalu siap untuk menolong.


“Tenanglah Arif.” Faga mendekat padanya. “Kau beristiratlah. Biarkan kami yang mencari.”


“Tapi...” Bola mata Arif bergetar.


Bagaimana kalau hancur? Arif seketika mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Kepanikan memuncak.


“Eh, Wira apa yang kau lakukan.” Faga di sebelahnya kaget dengan aksi yang baru saja Wira lakukan. Begitu pun yang lain. Keadaan tiba-tiba menjadi tidak terkendali.


Arif baru saja menerima pukulan tepat di pipi sampai terjungkal. Arif mengelus pipinya yang terasa panas. “Kenapa?”


“Tenanglah seperti kata kapten. Kepanikanmu hanya menghambat kita. Jika kau benar-benar mau benda itu kembali duduk manislah dan tunggulah kami menemukannya.” Setelah menyelesaikan kalimatnya Wira langsung ikut mengis-ngais tanah.


Arif belum sempurna mencerna kalimat Wira, telapak tangannya masih memegangi pipinya yang panas. Dia hanya tahu harus tenang.


“Tindakanmu lagi-lagi berlebiha Wira.” Pala-lapa mendekat pada Wira.


“Benarkah? Menurutku itu tindakan yang tepat untuk membuat Arif diam.” Jawab Wira seakan tidak peduli.


“Tapi bisakah gunakan cara yang lebih lembut, lihatlah! Arif jadi nampak murung sekali.”


“Cara yang lebih lembut, dengan menamparnya?”


“Ya ampun, hidupmu penuh dengan kekerasan.” Pala menepuk dahi.

__ADS_1


“Aku akhirnya punya alasan untuk memukulnya.” Jawab Wira dingin.


“Itu kejujuran mengerikan Wira.”


“Daripada membicarakan hal tak berguna itu, lebih baik selesaikan pencarian ini.” Ucap Wira. Dia semakin serius mengais-ngais tanah. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.


Pala memperhatikan tindakan sahabatnya itu, karena suatu alasan Wira tidak pernah menyukai manusia rambut putih. Itu mungkin alasan utama yang membuatnya selalu ingin memukul Arif. Namun, meski begitu dia tetaplah sahabat yang baik.


Dia punya alasan kuat dibalik tindakannya yang tidak masuk akal dan kasar.


Pencarian itu tetap tidak membuahkan hasil bahkan sampai sore menjelang. Cahaya kejinggan memenuhi angkasa dan hutan ini semakin gelap dengan minimnya cahaya yang mampu menembusnya.


Arif meremas-remas jemarinya, berusaha setenang mungkin. Nafasnya tidak beraturan.


Sebenarnya yang lain ini sedari tadi mengakhiri pencarian ini. Pencarian ini sangat memakan waktu. Jika hal ini tidak terjadi, pasti tadi siang semuanya sudah mencapai Hutan Mimpi.


Namun, tiada satu pun yang mau mengatakan hal tersebut. Mereka tahu betul masa lalu Arif, masa lalu seorang manusia rambut putih yang penuh derita. Mereka tidak ingin menambah deritanya.


Pencarian sia-sia itu tetap dilakukan meski keringat dan kegelapan malam sebentar lagi menyatu.


“Arif.”


Arif mendongak, dia mendengar panggilan yang samar-samar. Arif seketika menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada satu pun yang memanggilnya. Lantas siapa?


“Arif, disini.” Panggilan itu terdengar lagi, kini lebih jelas dan jernih. Tubuh Arif mendadak meremang. Tidak salah lagi. Itu suara ibu dari seberang alam sana.


“Arif, Keping Harapan ada disini.” Suaranya terdengar lebih keras lagi.


Kali ini tidak hanya suara, tiba-tiba mata Arif bisa menembus benda. Arif tersentak kaget. Benda-benda di hadapannya terlihat tembus pandang.


Dan dia melihat sesuatu yang bercahaya hijau dalam sebuah tas.


Setelah cahaya hijau itu bertemu matanya, penglihatan Arif kembali normal. Pengalaman ini pasti akan selalu diingatnya.


Arif mendekat, menuju kearah tas kulit tersebut. Langkah kakinya gemetaran. “Wira, boleh aku cek tasmu?”


Wira yang masih mengais-ngais tanah mempersilahkan. Tidak ada perubahan pada wajahnya. Wajah premannya tetap mengerikan dan dingin.


Arif merogoh dengan tangan bergetar, pelan-pelan dan hati-hati. Tangan Arif menyentuh sesuatu. Tidak salah lagi.


Arif mengangkat tangan perlahan.


“Wira, apa maksudnya ini.” Kalimat itu keluar dengan gemetar.


Dalam genggaman Arif, Keping Harapan itu kini berada setelah sebelumnya tersimpan dalam tas milik Wira. Faga, Bara, Pala-lapa, dan Fasih seketika berdiri di belakang Arif, menatap Wira dengan tatapan penuh tanya.


“Apa kau mencurinya Wira?” Ketika kalimat itu melintas dalam benak Wira, wajahnya mengalami perubahan dratis.


Belum pernah sekalipun Wira terlihat setakut itu.


“Tunggu-tunggu, aku bisa menjelaskan.”


Keadaan semakin membingungkan, bertambah ruyam. Dengan wajah tertunduk, Arif menarik nafas dalam-dalam.


“Aku tidak perlu penjelasanmu Wira.”


Pada detik itulah Wira sadar persahabatannya mengalami retakan besar.

__ADS_1


__ADS_2