IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
42 Kota Arkkana III


__ADS_3

Sorot mata yang memancarkan kecermelangan. Cukuran rambut pendek yang tidak melewati telinga. Kesan kuat muncul dari penampilannya. Tubuh gagah perkasa dalam balutan seragam hitam.


Dia kenakan jubah merah panjang dengan berlambang matahari emas yang memberitahukan posisinya berada di tingkatan tertinggi dalam organisasi ini. Sang Pembebas.


Senyum itu, hanya tiga orang yang memiliki senyum yang tak pernah luntur digerus waktu, si lelaki berambut perak, dokter, dan kapten.


“Kapten.” Ucap Arif keras-keras. Wajahnya nampak gembira sekali.


“Lama tidak bertemu Arif, Wira. Hei apa yang sedang dilakukan junior-juniorku di tempat ini.” Faga lalu memeluk keduanya. Melepaskan kerinduan yang tertimbun bertahun-tahun.


“Kami mencari Bunga Purnama.” Wira yang menjawab. Suaranya terdengar lebih gembira.


“Betapa hebatnya itu. Kalian membahayakan diri demi Bunga Purnama. Pasti ada hal penting yang ini kalian penuhi.” Balas Faga. Suaranya selalu kuat.


“Mereka hampir jadi makan siang Grinsekta.” Bara bercerita dengan diselingi tawa. “Untung aku datang tepat waktu. Dan kau Wira, berani sekali menantangnya.”


“Menantang Grinsekta. Wah kita punya calon prajurit baru.” Faga berseru bangga. Matanya yang lebar menatapa Wira lamat-lamat.


“Aku yakin dipendaftara berikutnya mereka pasti menerimamu.” Faga menyalurkan semangat dengan meletakkan kepalan tangan di depan dada Wira. “Aku yakin itu.”


Perlahan namun pasti senyum mulai terbentuk di wajah premannya.


“Mumpung aku dan Faga sedang jadwal istirahat, ayo kita lanjutkan percakapan ini di tempat yang lebih nyaman.” Saran Bara.


Keempatnya segera menepi, menuju salah satu tempat peristirahatan.


Sebuah tenda berwarna putih yang luas. Di dalamnya tergelar karpet panjang yang membatasi dengan tanah. Kondisinya ramai dan sedikit panas. Belasan orang di dalam yang sedang saling cakap. Suaranya seperti dengung lebah. Beberapa orang yang menutup wajah mereka dengan kain dalam posisi terlentang. Tidur siang.


Merekalah para pejuang disini.


“Halo semuanya!” Ucap Faga cukup keras. Semua mata seketika menoleh kearahnya dan balas menyapa. Kedatangan Faga disambu meriah oleh semua orang di dalam tenda peristirahatan itu. Sebagai Pembebas di sangat terkenal lantaran sangat berbeda dari Pembebas yang lain.


Dalam sudut pandang orang-orang, Pembebas adalah orang-orang yang memiliki wibawa tinggi dan pekerja yang sangat keras. Mereka tidak punya waktu untuk melakukan percakapan tanpa arah, juga mereka lebih sering keluar untuk menjalankan tugas sehingga keberadaanya nyaris tidak diketahui anggota Pasukan Pelindung Matahari yang lain.


Hanya sedikit orang yang mengenali wajah mereka.


Namun, berbeda dengan Faga. Dia sangat terbukadengan siapapun. Baik senior maupun juniornya. Meski sudah memiliki posisi tertinggi di Pasukan Pelindung Matahari, Faga tetap mengutamakan komunikasi. Terus membuat hubungan dan membuat orang lain bahagia.


Arif merasa sedikit gugup dengan keramaian ini. Apalagi semua pasang mata langsung menatapnya setelah menatap Faga. Pastinya semua bertanya-tanya siapa anak hilang yang berada di samping Sang Pembebas.


“Kenalkan semua. Ini sahabatku. Arif dan Wira. Mulai sekarang mereka akan membantu kita mencari Bunga Purnama. Aku yakin mereka tidak akan merepotkan kalian.” Ucap Faga yang kemudian menuntun keduanya berkumpul dengan yang lain.


Dalam sekejap Arif dan Wira menjadi pusat perhatian. Wajah preman Wira menjadi sorotan, beberapa berbisik yang aneh-aneh tentangnya. Begitu juga dengan Arif, tanda lahirnya terus diperhatikan semua orang.


Ini sedikit tidak nyaman.


“Halo salam kenal, namaku Martin.” Salah seorang mendekat pada Arif sambil memberikan tangan kanan. Arif menyalaminya.


“Aku Bella.” Seorang perempuan berambut pirang maju mengikuti Martin.


“Kau bisa memanggilku Jazk.” Ucap lelaki tinggi dengan gaya rambut mohawk.


Disamping Bella muncul perempuan lain yang mengenalkan diri. “Salam kenal. Aku Avin. Semoga kita menjadi teman baik.”

__ADS_1


Arif berusaha tenang dalam kegugupan ini. Setelah menstabilkan mental Arif menyalami satu persatu teman-teman barunya. Dalam waktu singkat dia bisa beradaptasi dengan suasana disana. Bercakap, saling balas senyum, dan menyambung cerita. Ini saat-saat paling membahagiakan.


Di luar kerumunan itu Bara dan Faga nampak saling bercakap. Bara meletakkan lengannya dibelakang kepala sementara Faga menyilangkan kedua lengan di depan dada, selalu dalam posisi yang gagah dan keren.


“Siapa yang menyangka ini bisa terjadi.” Ucap Faga.


“Yap. Awalnya aku ragu Arif dan Wira bisa memiliki banyak teman karena latar belakang mereka. Hahaha. Luar biasa. Aku akan berjuang lebih keras besok.”


“Setuju, Bara. Aku dan timku pasti segera mendapat Bunga Purnama.”


“Bara aku ingin bertanya. Kenapa Kota Arkkana bertekstur batuan tapi bermacam tanaman dapat tumbuh?” Wira bertanya. Dia terlihat belum punyca teman bicara.


“Kau mengamati ya. Hmmmm....Aku mendengar cerita ini dari seniorku. Jadi dulu ada sosok imajiner yang dijuluki Pangeran Kegelapan. Dia hanya ada di mimpi-mimpi. Maka dari itu Pangeran Kegelapan mencoba berbagai cara untuk keluar dari dunia mimpi dan dua ratus tahun yang lalu dia nyaris berhasil. Kebangkitan Pangeran Kegelapan membawa kehancuran dan malapetaka. Beruntung, tujuh pahlawan terpilih berhasil mencegah kebangkitannya dan mengembalikannya ke dunia mimpi. Kota Arkkana adalah satu kota yang terdampak dari kekuatannya. Dan inilah hasilnya.”


Wira tidak menunjukkan ekspresi berlebihan dari cerita Bara.


Malam datang dan seluruh anggota tim pencari berkumpul. Pencarian kali ini selesai tanpa merengut korban. Hanya luka yang bagi mereka kecil. Semuanya duduk melingkar dengan tatapan serius. Atmosfer disana terasa menindih. Rapat dilaksanakan malam itu.


Pembahasan utamanya adalah mengenai pemetaan wilayah, siasat untuk melawan Grinsekta, rencana untuk dua-tiga langkah kedepan dan tentang Arif dan Wira sebagai anggota non Pasukan Pelindung Matahari yang mendadak mendapat izin mencari Bunga Purnama.


Rapat memanas. Banyak yang tidak setuju karena pasti keduanya akan menghambat. Keputusan akhir adalah Wira dan Arif tetap masuk tim walau tetap ada beberapa yang tidak mau menerima keberadaan keduanya.


@@@


Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terlihat semua orang sudah bangun. Kondisi tenda putih langsung ramai, semua orang sibuk dengan persiapan. Arif yang menatap kagum semua itu. Motivasi mereka untuk mendapat Bunga Purnama sangat besar.


Tim pencari yang sekarang terdiri tiga puluh dua orang dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok menjelajah tiga tempat berbeda.


Pembagian wilayah pencarian dibagi tiga sesuai jumlah kelompok. Pertama adalah wilaya tengah Kota Arkkana. Wilayah ini adalah yang paling banyak ditumbuhi bermacam vegetasi. Grinsekta cukup jarang ditemui disini.


Wilayah ketiga adalah bagian dasar atau bawah. Tim yang bertugas mencari disini berkontak langsung dengan tanah Kota Arkkana. Wilayahnya sangat gelap, nyaris tidak ada cahaya. Seperti melintasi gua-gua. Sangat sedikit tumbuh yang tumbuh bahkan beberapa mengalami evolusi demi menyesuaikan keadaan. Di wilayah ini paling rawan bertemu dengan Grinsekta.


Arif dan Wira berada di kelompok Faga. Keduanya mendapat jatah untuk menyusur daerah tengah.


Setiap anggota dengan tatapan mantap telah menyiapkan diri dalam barisan. Hari yang berat kembali datang. Semuanya mulai melangkah, menjalankan tugas sesuai wilayah masing-masing.


Arif bisa merasakan atmosfer petualang yang teramat pekat.


“Jagalah diri kalian. Jangan khawatir luka, aku bisa menyembuhkan luka kalian.” Pekik dokter dari tenda medis. Beliau terlihat sedang sibuk mengurusi pasien-pasien yang lukanya bisa membuat mental ambruk.


“Siap dokter.” Arif membalas dengan melambai tangan. Arif berbalik dan berjalan bersama kelompok.


Perjalanan berbahaya itu di mulai, walau Arif masih sedikit ragu dia berusaha untuk memantapkan setiap langakah.


Di mata Arif kesepuluh anggota tim pencari begitu luar biasa. Aura mereka sangat kuat dan tidak ada ketakutan sedikit pun di wajah. Berdiri di dekat mereka memberikan rasa aman dan nyaman bagi Arif. Selain itu mereka juga sangat fokus dengan tugas mereka.


“Hebat ya berteman akrab dengan Dokter Jago.” Ucap Bella, karena sedari tadi terus diam dia ingin bercerita sedikit. Gadis berambut pirang dengan wajah campuran antara keturunan barat dan timur. Blasteran, itulah Bella.


“Dulunya aku orang yang tertutup. Tapi karena jasa dokter aku bisa menjadi orang yang seperti ini. Menurutku dokter sangat hebat. Bagi Pasukan Pelindung Matahari, posisi dokter sebenarnya seperti apa?” Balas Arif.


“Nama beliau melegenda_”Bella melebih-lebihkan nada suaranya, sangat heboh. “Jasa beliau sangat besar. Karena beliau negeri barat terbebas dari wabah mematikan juga karena beliau banyak anggota organisasi ini yang selamat. Aku adalah salah satu penggemarnya.” Bella menjelaskan dengan sangat bersemangat.


“Dokter Yang Menaklukan Kematian. Begitu orang-orang di organisasi menyebutnya.” Kali ini Avin menyaut.

__ADS_1


“Semunya, mohon perhatian.” Setelah cukup jauh berjalan, dari depan Faga berkata lantang. Sebagai pemimpin ada beberapa hal yang akan dia sampaikan.


Semua langkah dihentikan. Sebelas belas pasang mata menatapnya, telinga menyimak baik-baik.


Tempat itu adalah area dengan langit-langit terbuka. Disekitar mereka adalah pepohonan dan semak lebat. Ada dua aliran sungai di sisi berbeda. Hewan-hewan pohon nampak melompat dari satu dahan ke dahan yang lain.


Di depan kedua belas orang tersebut terlihat jalan menurun gelap dan dua jalan berbelok kearah berbeda.


“Sebagaimana hasil rapat kemarin malam, kita akan sedikit merubah jalur. Mulai dari sini kita akan memilih jalan menurun, menuju daerah gelap dan lebih berbahaya. Hati-hatilah. Tetap saling terhubung dan jangan pernah biarkan ketakutan mengusai kalian. Kobarkan hati kalian. Kita pasti meraih kemenangan.” Faga berpidato gagah. Setiap kata yang dikeluarkannya seakan menyala-nyala.


Arif tidak pernah berpikir kapten akan berubah menjadi sosok yang sedemikian hebat.


“YAAAA!” Seluruh angggota menjawab lantang.


Jalan menurun gelap pun dipilih. Tiga orang menyalakan lampu minyak untuk pencahayaan. Jalan disana sedikit licin. Udara lebih dingin dan lebih minim tanaman. Hanya lumut yang tumbuh di dinding-dinding batu tinggi. Terlihat sebuah sungai disana.


“Selalu perhatikan langkah, prajurit!” Faga berseru lantang.


DUAR


Dari dinding tinggi terdengar suara ledakan. Batu-batuan mulai runtuh dari tempat asal suara.


DUAR-DUAR


Dua suara ledak mengikuti dari arah berbeda. Ketegangan mengisi raga, adrenalin terpacu kuat.


“Bentuk formasi, siapkan senjata!”


Sepuluh orang segera membentuk formasi melingkar, Arif dan Wira berada di tengah lingkaran. Empat orang dari tim segera mengeluarkan senjata api laras panjangnya. Memasukkan bubuk mesium dan peluru. Mata segera membidik posisi musuh.


Enamnya lainnya seketika menarik pedangnya. Bunyi gesek bilah pedang dengan sarungnya memberikan semangat tersendiri bagi pemegangnya. Dua kepalan segera menggenggam erat. Mata pedang yang tajam mengarah ke depan.


Dari masing-masing tempat jatuhnya batuan muncul tiga sosok raksasa. Kegelapan menghalangi wujud mereka.


Makhluk itu meraung keras dan berlari dengan posisi menghantam. Berat badan mereka membuat tanah di bawah Arif berguncang.


“Tiga Grinsekta mendekat dari arah berbeda. Mereka mengepung kita.” Ucap salah satu memberi informasi.


“Tetap tenang. Lakukan seperti biasa.” Balas Faga.


“Baik.” Kesembilan orang menjawab serempak.


Guncangan di bawah kaki Arif semakin kuat dan kuat. Ketakutan akan mati segera memenuhi jiwa. Arif terjatuh tanpa daya. Wajahnya pucat pasi. Wira lebih baik, tapi dia tidak bisa menyemmbunyikan ketakutan yang sekarang bersemayam di wajahnya.


“Jangan cemas Arif.” Ucap Faga dengan suara lantang, menandingi suara langkah kaki tiga Grinsekta. Pandangan cemas Arif menatap punggung gagah Faga.


“Kita disini bukan untuk mati, tapi untuk mendapatkan Bunga Purnama. Percayalah pada kami dan taklukan ketakutanmu. Tidak ada musuh yang lebih layak kau kalahkan kecuali dirimu sendiri!”


DUM


Dari balik kegelapan muncul tiga sosok raksasa tersebut. Wujudnya telah sempurna terlihat, Grinsekta kumbang badak.


Tubuh hitam legam seperti perisai. Berdiri dengan dua kaki kokoh sementara tubuh sedikit bungkuk. Wajahnya mengerikan, terdepat satu tanduk raksasa di atas bibir dan dua tanduk di atas telinga.

__ADS_1


Enam orang menghentakkan kaki, melompat tinggi. Bilah pedang terayun cepat, membelah udara dan memisahkan nyawa dari raga dalam sekejap.


__ADS_2