
Matahari mulai bangun di ujung timur, memberitahu semua orang bahwa semangat yang baru telah datang. Terdengar kokokkan ayam jago yang nyaring, suara-suara embikan kambing dan lenguhan sapi pun memenuhi peternakan.
Di depan peternakan itu terlihat seorang kakek yang seluruh rambutnya telah sempurna memutih. Dia kenakan kaos putih dan celana pendek seraya bersiap-siap untuk mencari rumput untuk ternaknya.
Dia kenakan juga topi jerami usang yang telah rusak, tidak tahu apa alasannya, tapi kakek itu selalu saja mengenakan topi jerami tersebut.
“Oh Haz, selamat bagi. Hey ternyata ada Sheiny dan Arif juga. Selamat pagi.” Sapa kakek itu dengan nada yang khas disertai senyum.
Giginya yang sudah ompong terlihat.
“Kakek Gunan, selamat pagi.” Balas Arif seraya melambai tangan dari kejauhan.
Kakek Gunan mendekat dengan langkah cepat. Meski usianya telah lebih dari delapan puluh, semangat dan kekuatannya masih muda.
“Hahaha, Sheiny cantik sekali hari ini. Kau tidak salah memilihnya semakin pendampingmu Arif.” Tawa Kakek Gunan lebar-lebar.
Kalimat kakek membuat Arif dan Sheiny saling membuang muka yang merona. “Kau harus menjaganya Arif, dan Sheiny kau harus patuh kepada Arif. Hahaha aku jadi ingin kembali ke masa kalian.” Ungkap kakek yang diteruskan dengan tawa keras.
Arif dan Sheiny saling berpandangan sambil menghela nafas pendek. Kakek Gunan memang senang sekali menggoda keduanya kalau bertemu di jalan, bahkan sebelum Arif dan Sheiny menjadi pasangan sah, Kakek Gunan malah sudah menjodoh-jodohkan keduanya.
“Ingin kemana, sepertinya akan melakukan perjalanan jauh?” Tebak Kakek Gunan.
“Benar, kami akan pergi ke kampung halaman Arif. Ada pasien yang harus kami urus.” Jawab Kak Haz seraya merogoh sakunya.
Di tangan kanan Kak Haz terlihat sesuatu yang terbungkus daun pingsan. “Ini racikan yang kakek minta.” Ujar Kak Haz menyodorkan racikan tersebut.
“Wah, kakek ini memang sudah pikun. Terimakasih Haz.” Balas Kakek Gunan senang, dia menerima dan langsung memasukannya ke dalam saku.
“Kakek mau mencari rumput dulu, silahkan teruskan perjalanan kalian. Semoga kalian sampai disana dengan selamat.”
“Terimakasih kakek.” Jawab ketiganya serentak dengan sedikit menundukkan kepala.
Ketiganya berjalan cukup jauh. Melalui pusat desa dan terus berjalan ke Timur sampai ke tempat pemberhentian kereta kerbau. Menuju kesana cukup memakan waktu, matahari telah tinggi, hembusan angin telah terasa panas.
Arif pun memenuhi apa yang telah ia katakan. Ia gerogi sekaligus malu luar biasa. Kak Haz memperhatikan menantunya itu dengan manahan tawa.
Arif benar-benar menggendong Sheiny. Melangkah perlahan-lahan, menahan perasaan tegang di hati. Ini pertama kalinya bagi Arif untuk menggedong istrinya itu. “Ini sangat berbeda daripada dulu sewaktu menggendong ibu.” Batin Arif.
__ADS_1
Sementara Sheiny pun demikian. Dia mencengkram pundak Arif kuat-kuat dengan wajah tertunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang sedang mekar disana. Rasa-rasanya hal ini membuat suhu tubuhnya naik drastis.
@@@
Ketiganya telah berada di atas kereta kerbau sekarang.
Duduk disana terasa sangat bergetar, Sheiny bahkan terpaksa menahan muntahnya. Wajahnya terlihat kasihan sekali.
Kereta itu memang sudah tua, di samping itu jalanannya pun tidak rata, banyak kerikil yang membuat kereta senantiasa bergetar dan menggoyangkan perut para penumpang. Arif pun meminta si kusir berhenti agar Sheiny bisa muntah terlebih dahulu.
Arif memijit tengkuk Sheiny agar hajatnya lebih cepat selesai. Kak Haz menepuk dahi, dia tidak memikirkan ini akan terjadi.
Setelah beberapa lama beristirahat Sheiny pun semakin baik dan perjalanan di lanjutkan. Beruntung jalanan sudah rata sehingga si kusir bisa sedikit mempercepat kerbaunya dan tidak ada guncangan mengganggu.
“Ini, terimakasih tumpangannya.” Ucap Arif seraya memberikan bayaran kepada si kusir.
“Tidak apa-apa, akulah yang seharusnya berterimakasih. Dengan begini aku bisa memberi makan anak istriku.” Balas si kusir senang. Dia pergi bersama kereta kudanya.
Arif yang memimpin di depan.
Perutnya terasa mual.
Arif berusaha menahannya.
Langkah demi langkah mulai menapak tanah kelahirannya. Ada rasa senang sekaligus sedih yang datang bersamaan, yang pertama kali Arif datangi adalah rumahnya yang bobrok.
Beberapa lama dia menatapnya, Sheiny dan Kak Haz nampak heran dengan perilaku Arif. Kedunya membiarkannya.
Arif mematung di depan rumahnya yang masih utuh dan dirambati banyak tanaman sulur. Pasti penduduk sangat takut padanya sampai-sampai rumahnya pun tidak tersentuh sedikitpun.
Ketiganya melanjutkan perjalanan sampai di rumah yang dimaksud. Arif memasuki halaman rumah dengan langkah bergetar dan berkeringat. Sheiny dan Kak Haz disampingnya berusaha menyemanganti Arif.
Di dalam rumah itu terbaring seorang tua. Sudah putih rambutnya, keriput wajahnya, dan tiada tenaga yang tersisa darinya.
Lelaki tua itu melirik ke arah tamu-tamunya dengan sorot lemah. “Sudah datang?” Ucapnya lirih.
Orang-orang di dalam ruang itu pun melirik ke arah pintu masuk. Arif dan Kak Haz melangkah terlebih dahulu, Sheiny menuggu di pojok ruangan.
__ADS_1
Arif menjadi sedikit gugup ketika Kak Melati mendekat kepada Kak Haz. “Seharusnya Kak Melati tidak mengenalku.” Batin Arif, itu juga yang Arif harapkan.
Kak Melati lantas menjelaskan panjang lebar perihal bapaknya yang sakit-sakitan sejak lama. Kak Haz menyimak baik-baik sementara Arif mendapat tugas untuk mencatat beberapa hal penting. Setelah Kak Melati menghabiskan kalimatnya, dia dengan tertunduk kembali ke tempatnya semula duduk.
“Lihat catatannya Arif.” Pinta Kak Haz setelah keduanya duduk menghadap Bapak Melati. Lelaki tua itu nampak sangat buruk. Bibirnya sangat kering, jedan nafasnya tidak normal, dia juga sering sekali berhalusinasi.
“Agar kami lebih fokus, di mohon bapak dan ibu untuk berpindah dari ruang ini sementar.” Kata Kak Haz mengedarkan pandang ke arah orang-orang disana.
Semuanya bisa memahami, tanpa berlama-lama ruang itu hanya tinggal beberapa orang saja. Kak Haz, Arif, Sheiny, Melati, bapaknya, dan adik Kak Melati.
Arif dan Kak Haz mulai bekerja, sangat hati-hati.
Pertama-tama pengecekan untuk mendiagnosa penyakit apa yang mungkin sedang dihadapi beliau. Kak Haz melakukan berbagai cara seperti memeriksan detak jantung, aliran darah, pernafasan, dan juga dengan memasukan obat tertentu untuk melihat reaksinya.
Semuanya dilakukan serba hati-hati. Satu karen mungkin saja penyakit menular, dua tidak ada yang tahu penyaki t tersebut, tiga Kak Haz tidak mau ambil resiko.
Sebagai dokter dia mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan pasien-pasiennya khususnya dalam kondisi kritis seperti ini. Ditambah dalam kasus ini belum diketahui penyakit apa yang sedang dihadapi.
Kak Haz menyeka pelipis yang berkeringat, berusaha setenang mungkin untuk berpikir.
Disampingnya Arif membantu beberapa hal seperti menyiapkan keperluan dan bahan-bahan untuk obat-obatan yang akan dipersiapkan.
Mata Arif menatap lelaki tua yang terbaring tanpa daya tersebut.
Sebabnyalah Arif terusir dari kampung halamannya dan sebabnya juga Hanah, ibunya pergi meninggalkannya.
Segenap kebencian bertumpuk dalam hati, tapi seketika semuanya luruh melihat kondisi yang mengiris hati.
Dua belas jam telah terlewati semenjak pemeriksaan pertama. Bapak Melati belum menunjukkan tanda-tanda lebih baik. Kondisinya tetap buruk dengan wajah yang malahan kini semakin memucat.
Kak Haz tidak habis pikir mengenai penyakit yang menyerang Bapak Melati. Tantangan terberat seorang dokter adalah menangani sesuatu yang tidak diketahui.
Setiap tindakan menjadi beresiko, salah memasukan obat bisa membahayakan nyawa pasien.
Kak Haz meminta waktu untuk beristirahat. Berjam-jam dirinya dipacu oleh lelah dan pusing. Kak Haz terlihat sangat lemas.
“Maaf, untuk hari ini sampai sini dulu.” Ungkap Kak Haz dengan menghela nafas panjang.
__ADS_1